RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
Bab 49. Aku Mohon Bawalah AKU!


__ADS_3

Andreas berlari terburu-buru masuk ke dalam rumahnya.


“Kamu kenapa?” tanya Anissa melihat Andreas terburu-buru saat masuk ke rumah.


“Sial, wanita cacat itu masih bisa mencoba menjelekkan saya di muka umum,” sahut Andreas terus melangkah menaiki anak tangga menuju kamar miliknya.


“Menjelekkan gimana maksud kamu?” tanya Anissa penasaran.


“Banyak hal buruk pokoknya. Yang buat saya bertambah kesal itu adalah darimana dia tahu kalau Vika telah meninggal dunia, di bunuh sama penculik-penculik itu!” cetus Andreas kesal, kedua tangannya memasukkan beberapa baju ke dalam koper besar.


“Loh, apa Satpam dan tukang kebun itu yang telah membocorkan rahasia kita? Kalau gitu mereka berdua harus kita pecat sebelum semuanya terbongkar habis di hadapan publik,” usul Anissa.


“Gila, kalau mereka kita pecat akan lebih mudah lagi buat mereka membongkar semua perbuatan kita kepada awak media,” seru Andreas, berdiri tegak, tangan memegang gagang koper.


“Jadi, kamu mau kemana ini?” tanya Anissa penasaran.


“Saya mau pergi ke luar Negeri sampai semua berita tentang saya hilang,” sahut Andreas sambil menukar baju kemejanya dengan baju kaos.


“Aku ikut, ya!” ucap Anissa, kaki kanannya hendak melangkah menuju lemari pakaian miliknya. Namun, Andreas langsung menahan pergelangan tangan Anissa.


“Jangan!”


“Kenapa jangan?” tanya Anissa semakin bingung.


“Saya saja membawa diri sendiri bingung. Apa lagi saya membawa kamu pergi ke luar Negeri. Kamu juga harus tahu jika biaya hidup di luar itu sangat mahal daripada hidup di sini. Dan saya tidak ingin mengeluarkan uang lebih di setiap bulannya untukmu! Wanita bertubuh melar,” celetuk Andreas tak lupa menyelipkan hinaan di kalimat terakhirnya.


Bukannya sakit hati, Anissa malah berlutut, memohon kepada Andreas untuk membawanya ikut pergi bersamanya.


“Aku mohon, aku mohon bawa aku bersama kamu. Aku juga ingin menjalani hidup tenang tanpa adanya masalah seperti ini. Aku mohon!”


Andreas melepaskan secara kasar genggaman tangan Anissa pada celananya, ia pun mulai melangkah tanpa melontarkan sepatah kata apa pun untuk Anissa. Seolah tak punya muka dan harga diri, Anissa terus mengejar dan memohon kepada Andreas untuk bisa membawanya pergi bersama. Namun, lagi-lagi permohonan Anissa kembali di tolak.


“Andreas, aku mohon jangan tinggalkan aku sendirian di sini!” teriak Anissa lirih, kedua kakinya masih ikut berlari sampai ke teras rumah.


“Saya akan kirimkan uang lebih untuk kamu setiap bulannya, asal kamu bisa menangani setiap wartawan yang datang untuk sekedar bertanya mengenai saya. Saya pamit pergi dulu,” perinta Andreas, lalu ia pergi di antar supir pribadi menuju bandara Kualanamu.


“Andreas! ANDREAS!” teriak Anissa semakin meninggikan nada suaranya setelah mobil Andreas keluar dari gerbang rumah mereka.

__ADS_1


Anissa menggeram, tidak pernah terpikirkan olehnya jika nasib ingin menjadi Ratu malah berujung menjadi seperti seorang pengemis.


Memang benar, seorang pria berselingkuh akan sangat mencintai selingkuhannya ketika hubungan haram masih terus berjalan. Menganggap selingkuhannya seperti sebuah pil yang harus di telan setiap detik untuk tetap membuat tubuhnya semangat. Sedangkan pasangannya di anggap seperti pisau tajam, selalu di jauhi agar tidak terluka, di pakai ketika sedang di butuhkan.


Anissa balik badan dengan hati teramat geram akibat ulah Andreas. Ia terus melangkah menuju ruang tamu, mendudukan dirinya di sofa, pikirannya mulai terbang entah kemana.


Sementara itu di tempat berbeda.


Daniel terlihat terus melajukan mobilnya menuju bandara Kualanamu. Fransiska terus memandang wajah serius Daniel, sorot mata mengarah lurus ke pusat jalan Batang kuis tidak terlalu ramai.


“Kamu mau bawa aku kemana?” tanya Fransiska penasaran.


“Aku ingin bawa kamu bulan madu ke luar negeri,” sahut Daniel tenang, Fransiska terkejut bukan main.


“Bu-bulan madu? Ta-tapi kita belum menikah!”


“Kita buat anak dulu, positif hamil aku tanggung jawab,” sahut Daniel dengan entengnya.


Bam!


Kepalan tinju dari tangan mungil mendarat di bidang dada Daniel.


“Kalau kamu hanya ingin bermain padaku, maka turunkan aku di sini. Enak aja muncungmu itu bilang kalau aku hamil kamu akan menikah denganku. Jadi, kalau aku nggak hamil-hamil, milikmu akan bebas keluar masuk dari wadahku, iya?!” celetuk Fransiska menganggap serius ucapan Daniel.


“A-aku hanya bercanda. Mana mungkin aku benar-benar pergi meninggalkan kamu. Aku tetap akan menikahimu setelah semua perceraian kamu selesai dengan sah,” sahut Daniel mulai bingung melihat sang pujaan hati mulai cemberut.


“Apa pun candaan kamu, itu semua tidak lucu. Aku benci kamu!”


“Aku mencintai kamu!” sahut Daniel di sela senyum manisnya.


“Aku nggak, aku benci, benci!”


Bingung harus berkata apa lagi untuk membujuk wanitanya. Daniel menggenggam salah satu tangan Fransiska, mengelus lembut punggung tangan berkulit halus seperti bayi.


“Maaf ya! Lain kali aku tidak akan bercanda seperti itu. Kamu jangan marah lagi, ya. Kalau kamu marah, aku bingung mau berbicara sama siapa lagi,” rengek Daniel lirih.


“Hem!” dengus Fransiska menahan kekesalannya.

__ADS_1


Mobil di tumpangi Daniel dan Fransiska akhirnya sampai juga di parkiran bandara Kualanamu. Di sana salah satu anak buah Daniel sudah menunggu untuk membawa pulang kembali mobil miliknya. Sedangkan dari jarak 10 meter, terlihat Andreas turun dari dalam mobilnya, melangkah terburu-buru masuk ke dalam bandara.


“Eh, bukannya itu Andreas,” ucap Fransiska mengarahkan jari telunjuknya ke seorag pria memakai kaos biru, tangan menggeret koper besar masuk ke dalam bandara.


“Aku sangat yakin saat ini ia pasti ingin kabur dari kejaran wartawan,” sahut Daniel menjelaskan.


“Apakah Anissa yang akan menjadi tamengnya?”


“Tentu saja, di dunia ini kalau tidak ada timbal balek dengannya. Maka jangan harap bisa berdampingan hidup bersamanya,” sahut Daniel sembari membantu membuka gips dan penyanggah di jenjang lehernya untuk di tinggalkan di dalam mobil.


“Bukannya kalau aku pergi, pihak wartawan akan mencurigaiku dan Andreas, kalau kami sedang mencari sensasi dengan pura-pura mengumumkan bahwa kami ini bercerai?!”


“Bukannya itu adalah hal yang bagus. Kamu tidak perlu membuat Anissa panas. Cukup duduk tenang, dan biarkan aku yang melanjutkannya,” sahut Daniel santai, sorot matanya mengarah pada punggung Andreas terus berlari terburu-buru.


“Ternyata kamu ini jahat juga, ya!”


“Kalau jahatnya untuk orang lain, bolehkan?”


“Hem, boleh lah,” angguk Fransiska.


“Ayo, mari kita berangkat menuju ke suatu tempat untuk bertemu dengan seseorang yang sudah sejak lama mencemaskanmu,” ajak Daniel menggenggam pergelangan tangan Fransiska, dan mulai melangkah pergi menuju landasan pesawat.


.


.


Sementara itu di rumah mewah Anissa.


Kehebohan terjadi setelah bibi mendapatkan panggilan telepon dari pihak rumah sakit tempat Fransiska di rawat, mengatakan jika Fansiska tidak ada di ruangannya. Anissa menggeram, pikiran buruk mulai menyerangnya saat ini Andreas sudah pergi ke luar negeri.


Apakah saat ini Andreas dan Fransiska bersekongkol untuk melarikan diri?


Tanda tanya itulah terus tersirat di pikiran Anissa.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2