RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
BAB 22. Bukannya Enak Jika Aku Mendapatkan Posisi Di Bawah


__ADS_3

Tak kunjung mendapatkan jawaban dari Yessika, Fransiska berulang kali menggoyang tubuh Yessika masih menundukkan kepalanya.


“Ayo, katakan apa yang sedang kamu ketahui dan tidak aku ketahui,” paksa Fransiska berulang kali mengatakan hal seperti itu.


Yessika menghentikan Fransiska terus menggoyang tubuhnya, dan dengan cepat memeluk erat tubuh mungil padat dan bohay Fransiska.


“Aku melihat Andreas pernah jalan beberapa kali dengan seorang wanita membawa seorang anak perempuan. Aku juga pernah bertanya kepada anaknya saat aku mengikutinya membeli es krim. Apakah lelaki yang bersama mereka Papanya? Anak perempuan itu menjawab, ‘Iya’,” tangannya memegang dadanya, “Sakit, rasanya hatiku hancur seperti debu saat mendengar hal itu. Hikss…hikss,” lanjut Yessika dengan suara gemetar dan menangis tersedu-sedu. Wajah cantik alami itu pun di penuhi dengan cairan bening.


Karena hati Fransiska sudah mati untuk mendengar berita buruk itu, bahkan hatinya juga sudah mati untuk Andreas dan orang lain, terkecuali Daniel. Fransiska dengan santainya mengambil tisu di meja minuman, dan menghapus air mata Yessika.


“Maafkan kelakuan Mas Andreas yang tidak sengaja mempertunjukkan keburukannya di depan mata kamu. Sudah ya, Yessika ku yang cantik jangan menangis lagi. Sayang loh wajah cantik ini di penuhi air mata,” pujuk Fransiska tenang.


Yessika terdiam, ia terus menatap wajah cantik dan teduh Fransiska sangat tenang saat ini.


“Kenapa kamu tidak menangis, atau…atau kamu berteriak dan berlari untuk menampar dan mendatangi pelakor itu? Wanita murahan yang tidak tahu diri itu?” Tanya Yessika hanya sekali tarikan nafas.


“Kejam sekali kamu. Masa iya sahabat ingin melihat sahabatnya menderita seperti itu,” mencubit perut samping Yessika, “Ih, kamu jahat!” lanjut Fransiska malah menghibur Yessika.


“Berhenti Fransiska, apa kamu…kamu sudah tahu jika suami kamu seperti itu?” Tanya Yessika tegas.


“Bahkan aku menyuruh mereka untuk menikah,” sahut Fransiska dengan santainya.


“Sudah gila kamu!”


“Iya, aku memang hampir gila mendengar dan melihat kenyataan itu. Bahkan aku juga sudah pernah mengakhiri hidupku. Tapi Sang Pencipta masih memberikanku kesempatan untuk hidup. Dan di kesempatan kedua inilah aku ingin memanfaatkan semuanya dengan sebaik mungkin tanpa beban pikiran,” jelas Fransiska tak memberitahu Yessika jika dirinya telah merencanakan kehancuran besar untuk Anissa dan Andreas.


Mendengar ucapan Fransiska benar-benar begitu tenang, Yessika berulang kali mengeliling Fransiska, mengecek, apakah ada organ hilang dari tubuh sahabatnya itu. Lelah mencari, Yessika kini berdiri berhadapan dengan Fransiska.

__ADS_1


“Kenapa bisa kamu berkata seperti itu dengan sangat tenang?” Tanya Yessika histeris.


“Ra-ha-si-a!” bisik Fransiska tegas, ia pun mulai melangkah memasuki kerumunan tamu.


Yessika hanya bisa terdiam dengan dahi mengernyit. Pandangan Yessika teralihkan saat seorang anak laki-laki berusia 17 tahun menghampirinya. Anak laki-laki itu adalah anak Yessika.


Pesta ulang tahun sekaligus perjodohan putranya pun di selenggarakan dengan meriah dan berjalan dengan lancar.


Selesai sudah acara itu di gelar, para tamu undangan termasuk Fransiska berpamitan pergi meninggalkan rumah mewah Yessika.


Fransiska sebenarnya senang saat bisa bertemu dengan teman sekaligus sahabatnya sewaktu SMA dulu. Tapi ada hal lebih penting lagi seharusnya bisa membuat Fransiska senang. Namun, kesenangan dan harapan itu harus padam saat Daniel tidak hadir, bahkan chat wa dari Fransiska juga tidak di balas.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Fransiska sedikit terganggu akan kelakukan Daniel tiba-tiba seperti ini. Hingga ia berpikir apakah Daniel sama seperti Andreas, hanya ingin menikmati lekukkan tubuhnya saja. Namun, di tengah pikiran kalutnya, kakinya harus menekan rem secara mendadak saat melihat seorang pria memakai topi dan masker serba hitam tengah menghadang jalannya tepat di tengah jalan raya cukup sunyi malam itu.


“Sudah gila. Kenapa pria itu menghadang jalanku seperti itu?” gumam Fransiska dengan jantung terus berdebar, sorot mata menatap pria misterius kini berjalan ke mobilnya.


Tok tok!


Fransiska hanya melirik takut, sebab mobil di kaca jendela mobilnya belum di ganti menjadi kaca pelindung. Fransiska terus melirik dengan sorot mata ketakutan.


Pria misterius itupun kembali mengetuk jendela kaca mobil Fransiska, dan berkata, “Ini aku!”


Mendengar suara begitu familiar di telinganya, Fransiska segera membuka pintu mobilnya, dan berdiri menghadap pria misterius itu.


“Ke-kenapa kamu memakai baju seperti ini?” Tanya Fransiska gugup.


“Bagaimana kalau kita mengobrol di suatu tempat. Ikuti aku dari belakang, ya,” jawab pria itu tak lain adalah Daniel.

__ADS_1


Setelah mendapat anggukan dari Fransiska, Daniel menuju sepeda motor sportnya dan melajukannya diikuti oleh Fransiska melajukan mobilnya menuju jalan di tuju oleh Daniel.


Tak sampai 1 jam sepeda motor Daniel memasuki garasi besi sebuah gudang terbuka otomatis diikuti Fransiska memasukkan mobilnya ke dalam. Fransiska segera membuak seatbelt, berlari kecil mendekati Daniel masih duduk di atas sepeda motor nya membuka jaket kulit miliknya.


“Kenapa tadi kau tak datang?” Tanya Fransiska tanpa sadar memeluk Daniel dari belakang.


Daniel terkejut mendapat reaski spontan Fransiska terlihat begitu gelisah dan pelukannya juga menandakan dirinya sedang cemas.


“Aku hanya tidak ingin menunjukkan hubungan kita di depan orang lain. Bukannya kamu sendiri yang memintaku untuk tidak mempublis hubungan kita di depan orang lain? Daripada aku berjumpa dengan kamu di sana dan aku takut tidak bisa menahan diri agar tidak mendekati kamu, lebih baik aku tidak hadir dan menunggumu,” sahut Daniel tenang sembari menoleh ke Fransiska masih memeluknya dari belakang.


“Tapi kamu juga tidak membalas pesanku. Apa kamu mulai bosan dan akan meninggalkanku kembali seperti waktu dulu?” Tanya Fransiska lirih mengingat Daniel pernah meninggalkan dirinya saat ia sedang sayang-sayangnya.


“Tentu saja tidak. Aku sudah cukup jauh melangkah demi mu,” Daniel mengurai pelukan Fransiska, menarik Fransiska hingga berdiri di hadapannya. Tangan kekar masih berbalut sarung tangan sepeda motor membelai lembut rambut menutupi sebagian wajah Fransiska, “Jangan pernah ragukan kesetianku. Meski aku tahu perbuatanku ini salah, tapi aku pastikan kamu akan mendapatkan kebahagian yang sesungguhnya dari seorang pria yang mencintai dirimu,” lanjut Daniel tulus.


“Terimakasih,” ucap Fransiska lembut dengan wajah merona karena dirinya merasa malu.


Daniel pun turun dari sepeda motornya, menggenggam tangan Fransiska.


“Mari ikut aku,” ajak Daniel menuju ke pintu lift.


“Kita mau kemana, dan ini tempat apa?” Tanya Fransiska mengikuti langkah Daniel berada di depannya.


“Ini adalah markas baru kita yang aku buat khusus untuk bertemu dan melepaskan kerinduan. Memang terlihat begitu sumpek dan kecil, tapi tidak isi di dalamnya. Kamu pasti akan suka setelah kita sampai ke lantai itu,” sahut Daniel singkat, iapun melangkah masuk ke dalam lift diikuti Fransiska.


Tombol lift di tekan tombol 3 untuk turun. Heran melihat Daniel menekan tombol ke bawah tidak ke atas, Fransiska pun bertanya.


“Kenapa kamu menekan tombol ke bawah, tidak ke atas?”

__ADS_1


“Bukannya enak jika aku mendapatkan posisi di bawah dan kamu di atas,” sahut Daniel mengartikan hal lain.


Fransiska mencubit perut samping Daniel hingga terdengar suara teriakan dari mulut Daniel.


__ADS_2