
Mendengarkan ucapan Andreas, langkah kaki Fransiska terhenti. Ia menunduk merasa bersalah, mengingat Daniel sangat baik padanya, apalagi hatinya mulai tertaut dan merasa nyaman saat bersama Daniel. Bukan karena mereka pernah tidur dan melakukan hal terlarang selayaknya suami-istri. Tapi, mengingat hanya Daniel lah yang mampu membuat dirinya nyaman dan memperlakukan dirinya layak seorang wanita pada umumnya. Apa lagi Fransiska sudah tidak memiliki kedua orang tua ataupun sanak saudara tempat ia berlindung dan mengadu.
Lamunan Fransiska terhenti saat tangannya di genggam oleh Andreas.
“Gimana? Apa kamu masih ingin minta pisah dan pergi dari kehidupan saya?” tanya Andreas menekan nada suaranya. Membuat Fransiska semakin tertekan, dan akhirnya memutuskan untuk menyerah.
“Baiklah, aku tidak akan pergi dan menuntut apa pun dari kamu. Asal kamu benar-benar berjanji untuk tidak akan pernah menganggu bisnis ataupun yang sedang di kerjakan Daniel,” sahut Fransiska datar, sorot mata kosong memandang ke jari kuku kaki lentiknya dengan hiasan kutek berwarna putih bening.
Andreas merangkul Fransiska, membawanya masuk ke dalam rumah. Fransiska berjalan. Namun, sorot matanya menerawang lurus ke gerbang rumah menjulang tinggi, memandang jendela kamar Daniel berada di sebrang rumahnya.
Andreas membawa Dania masuk, melewati Anissa, Vika, dan guru private sudah selesai mengajari Vika. Guru privat itu terlihat menyusun buku pelajaran ke dalam tas, lalu berpamitan pulang kepada Anissa karena tugas mengajarnya sudah selesai.
“Tante Siska kenapa, Ma?” tanya Vika saat melihat Fransiska berjalan dengan wajah sendu, sembari di rangkul oleh Andreas.
“Mungkin sedang sakit karena semalaman tidak pulang ke rumah,” sahut Anissa tak lupa segaris senyum terpancar dari raut wajahnya.
‘Siapa bilang istri sah bisa menang dari godaan seorang wanita penghibur sepertiku. Buktinya saat ini aku sudah memenangkan hati Andreas. Fransiska, Fransiska, sebentar lagi hubunganmu dengan Andreas akan segera padam. Akan aku pastikan, akulah istri sah Andreas, beserta semua harta yang di milikinya,’ batin Anissa senyam-senyum sendiri.
Sementara itu di dalam kamar Fransiska.
Fransiska duduk di tepian ranjang, pandangan kosong lurus ke depan. Pikirannya saat ini terasa penuh dengan tanda tanya tentang hubungan terlarang Andreas bersama dengan Anissa. Fransiska terus menarik dirinya sendiri, bertanya salah apakah dirinya sehingga Andreas tega berselingkuh bahkan sampai memiliki anak bersama dengan Anissa.
Bukan hanya itu, Fransiska saat ini juga sedang memikirkan apakah ucapan Andreas untuk tidak menghancurkan bisnis Daniel bisa di pegang setelah dirinya memutuskan untuk tidak meninggalkan dan meminta cerai dengan Andreas.
“Siska,” panggil Andreas, ia berlutut dengan kedua tangan memegang kotak perhiasan berukuran 5 cm berisi cincin berlian berwarna merah maroon.
__ADS_1
“Apakah cincin itu untuk pelakor itu?” tanya Fransiska datar.
“Anissa maksud kamu?”
“Entahlah, sepertinya aku tak ingin tahu siapa nama wanita itu,” gumam Fransiska pelan.
“Wanita itu tidak pantas mendapatkan yang berharga dariku. Cincin ini saya belikan spesial hanya untukmu, sayangku,” jelas Andreas berusaha membujuk Fransiska untuk bisa memaafkannya.
“Oh, begitu ya!” dalam hati Fransiska, ‘Kamu telah berbohong. Anting-anting yang wanita itu pakaian adalah anting-anting edisi terbatas yang baru saja di pamerkan di Eropa.’
Andreas memegang tangan Fransiska, memasangkan cincin itu di jari manisnya. Entah kenapa, saat tangan Andreas menyentuh kulitnya Fransiska merasa jijik teramat dalam kepada suaminya. Hingga bola matanya membulat sempurna seakan ingin lepas dari tempatnya.
“Sangat indah. Benda mahal memang sangat cocok untuk wanita mahal seperti kamu,” puji Andreas sembari memutar-mutar cincin di jari manis Fransiska, hingga pantulan kilau mata berlian bersinar di kedua matanya.
Ting
Hempasan besi cincin berbunyi lembut.
Bola mata Andreas seketika membulat sempurna, ia pun perlahan berdiri, memandang cincin itu berputar-putar di bawah jendela kamar. Hembusan angin kencang menerbangkan kain korden menjuntai di lantai.
Andreas mengambil cincin tersebut, kembali ia mendekati Fransiska, bertanya kenapa istrinya itu tega membuang cincin seharga miliaran rupiah itu.
“Apa kamu tidak suka motifnya?” tanya Andreas berusaha tenang, meski saat ini ia sangat ingin memakai Fransiska.
“Buat apa memiliki barang mewah tapi tidak pernah di rawat. Buat apa membeli dan mengoleksi barang mahal tapi tidak pernah di hargai. Jika memang barang murah lebih di minati dan di cari banyak orang untuk di pamerkan dan merasa puas akan barang tersebut. Kenapa aku tidak memilih barang seperti itu,” ucap Fransiska datar.
__ADS_1
Andreas terdiam, ia berdiri dengan wajah terlihat suram.
"Apa kamu masih ingin membahas hal ini? apa kamu masih belum bisa menerima hubunganku dengan Anissa? apa kamu juga tidak mau menerima Vika? bukankah kamu sangat menginginkan seorang anak? APA YANG SEBENARNYA KAU INGINKAN SISKA! KENAPA KAU TIDAK BERSYUKUR. SAYA SUDAH MEMBERIKAN ANAK DARI WANITA LAIN UNTUKMU. HAAA!" teriak Andreas di kalimat terakhir nya. Membuat Fransiska di sebelahnya terdiam.
Menyesal sudah membentak sang istri, Andreas terduduk di sebelah Fransiska. Kedua tangannya mengacak-acak rambutnya semakin kusut.
Tidak puas karena Fransiska hanya diam dengan tatapan kosong. Andreas merubah posisi duduknya, ia pun berlutut, meletakkan wajahnya di pangkuan Fransiska.
"Sayang, saya mohon bicaralah padaku. Saya tidak sanggup jika melihat kamu terus mematung seperti ini. Katakan saya harus apa?"
Sekuat dan sesendu apa pun suara Andreas memohon kepada Fransiska untuk membuka mulutnya. Fransiska tetap diam membisu. Semua itu karena saat ini hatinya benar-benar hancur seperti debu.
Ibarat mimpi buruk yang tiada berujung. Itulah saat ini Fransiska rasakan. Ingin rasanya ia berlari sekuat dan sekencang-kencangnya. Namun apalah daya, ia merasa kedua kakinya teratai dengan beban begitu berat, bibirnya seperti terkunci rapat hingga lidahnya seperti menyatu dengan langit-langit mulutnya.
Sementara itu di kota lain. Daniel terlihat memasuki pusat perbelanjaan di mana toko tersebut menjual semua kebutuhan wanita. Mulai dari aksesoris, tas, pakaian, bahkan kebutuhan lainnya dengan brand ternama.
Daniel berhenti di depan stand aksesoris, ia mengambil sebuah gelang tangan dengan butiran berlian halus menambah kesan mewah di setiap ukirannya.
Salah satu penjaga toko datang.
"Pilihan yang pas, apakah gelang tangan ini untuk wanita yang tuan sukai?"
"Lebih dari suka," sahut Daniel, ia pun mengingat senyuman manis Fransiska.
Tidak butuh waktu lama, Daniel pun mengambil gelang tangan tersebut. Setelah melakukan pembayaran, Daniel berkeliling masuk dari toko ke toko untuk melihat oleh-oleh mana yang pantas untuk di berikan kepada pujaan hatinya itu. Meski Daniel tahu jika Fransiska adalah istri dari konglomerat ternama, Daniel tidak memperdulikan hal itu, yang terpenting baginya adalah kebahagiaan Fransiska.
__ADS_1