
Di ruang makan.
Berbeda dengan siang ini, setelah melakukan hubungan intim dengan Fransiska, Andreas memilih untuk menghabiskan waktu beberapa jam untuk bisa menikmati pemandangan lekukkan tubuh Fransiska saat ini memakai baju dress berbahan satin sepanjang 10 jengkal dari lututnya, dan beberapa bagian terbuka lainnya.
Apa pun permintaan Fransiska di kabulkannya untuk hari ini, termasuk melakukan makan siang bersama. Sementara itu Anissa terus menatap keanehan Andreas, sifat berbanding terbalik pada dirinya.
Apa? Kenapa bisa seperti ini? Pertanyaan itu terus muncul di otak kecil Anissa.
Lain halnya dengan Vika, ia semakin benci dan benci melihat Andreas bersikap manis dan lembut kepada Fransiska. Apalagi Fransiska saat ini terlihat menggoda Andreas.
‘Tidak Vika sangka tante Siska benar-benar wanita jahat. Bisa-bisanya tante Siska mengambilkan nasi untuk Papa sambil melakukan canda-tawa, dan….dan apa ini? Kenapa Papa menarik tante Siska ke dalam pangkuannya?’ melirik ke Anissa, ‘Kenapa Mama malah diam aja. Kenapa Mama tidak memberontak saat tante Siska melakukan hal ini. Tidak akan aku biarkan tante Siska merebut Papa,’ batin Vika terpacu emosi.
Brak!
Vika menggebrak meja sambil beranjak berdiri dari duduknya.
“Vika,” panggil Fransiska lembut, ia pun berjalan mendekati Vika. Namun, langkahnya terhenti melihat Vika sudah berlari menuju kamarnya.
“Ini semua gara-gara kamu!” tuduh Anissa kepada Fransiska.
“Aku? Kenapa gara-gara aku?” Tanya Fransiska tenang seolah tidak tahu apapun.
“Bukannya kamu tahu jika Vika hanya mengetahui hubungan kalian sebatas saudara, bukan suami-istri,” jelas Anissa menahan emosinya.
“Uppss, aku lupa. Bagaimana ini?” celetuk Fransiska sambil menutup mulutnya, memberi ekspresi wajah panik.
Melihat Fransiska di tuduh oleh Anissa, Andreas bergerak cepat. Ia pun mulai membuka mulutnya dan membela Fransiska.
“Berani sekali kamu berkata seperti itu kepada istri saya. Seharusnya kamu bisa mengatakan yang sesungguhnya kepada putrimu. Kenapa pula kamu yang menuduh Siska, dan ada hak apa kamu melarang Siska bermanja denganku?” cetus Andreas sedikit meninggikan nada suaranya.
Mendengar Andreas memarahi Anissa, Fransiska menundukkan kepalanya, tak lupa drama baru mulai ia buat.
“Hiks..hiks, sudah Mas. Mas tidak perlu memarahi Anissa, yang di katakan Anissa benar. Aku lah yang salah di sini, seharusnya aku membiarkan dirinya mengakui jika aku adalah istri pertama Mas waktu pertama bertemu dengan Vika.”
Melihat Fransiska menangis, membuat Andreas beranjak dari duduknya mendekati Fransiska dan segera menghapus jejak air mata di pipi halus dan kencang milik Fransiska.
“Sayang, sudah jangan menangis. Apa kamu tidak merasa rugi meneteskan air mata di saat kamu sudah memakai serum seharga ratusan juta?” pujuk Andreas tak lupa menyebutkan nominal harga serum milik Fransiska.
“Hiks, Mas benar. Baiklah aku akan berhenti menangis,” ucap Fransiska dengan suara lirih, tangannya juga menghapus jejak air mata membasahi kedua pipinya.
Melihat reaksi Andreas serta tingkah tak biasa Fransiska terkesan aneh di matanya. Anissa semakin menggeram, ia mengepal kedua tangannya dengan erat hingga urat-urat di tangannya terlihat jelas.
__ADS_1
‘Ck, sudah pintar ia mengambil hati Andreas. Semenjak ia keluar dari rumah sakit, tingkahnya sangat aneh hingga membuatku ingin muntah. Awas saja kamu wanita bodoh, kamu pikir kamu bisa menang untuk merebut hati Andreas, tidak! Tidak akan aku biarkan,’ gumam Anissa dalam hati.
Merasa muak melihat tingkah Fransiska, Anissa beranjak pergi dari kursinya, ia pun melangkah menuju kamar Vika. Sementara itu, Andreas dan Fransiska lanjut menikmati makan siang mereka dengan hikmat tanpa beban.
“Maafkan saya,” maaf Andreas tiba-tiba di sela menikmati santap makan siang mereka.
“Maaf kenapa Mas?” Tanya Fransiska lembut karena khas suaranya memang sangat lembut, serta memiliki wajah teduh, hingga siapa saja melihatnya merasakan kesejukan dan kenyamanan.
“Mas baru sadar, kalau…” ucapan Andreas terhenti saat Fransiska langsung menjeda ucapannya.
“Sudah, makan dulu. Lagian aku sudah lama memaafkan Mas,” ucap Fransiska sembari mengelus punggung tangan Andreas.
“Kamu memang wanita yang sangat baik, tidak menyesal saya menikahi kamu,” puji Andreas membalas elusan tangan Fransiska.
Fransiska hanya tersenyum, lalu lanjut makan.
Bibi dan beberapa karyawan melihatnya sikap Fransiska berbanding terbalik dari biasanya merasa ngeri. Memang wajah dan suara lembut Fransiska saat berbicara tidak berubah. Tapi, jika kita melihat sikap berbanding terbalik Fransiska membuat mereka sangat ngeri. Seakan ada bom yang sudah tertanam di dasar tanah tertutup rapat, hingga orang berjalan di atas tanah itu tidak tahu jika tempat mereka berpijak sudah tertanaman sebuah bom siap meledakkan tubuh mereka.
.
.
Anissa terus membujuk putrinya dengan beberapa ucapan baru untuk menghasutnya.
“Kamu lihat tadi, lihat ‘kan? Sekarang tante Siska berani terang-terangan merayu Papa di depan kita,” memegang dadanya, “Sakit sekali hati Mama saat ini, hikss!” lanjut Anissa di sela tangis di buat-buatnya.
Vika memeluk Anissa, mencoba menenangkan Mamanya dengan tangan mungilnya itu.
“Ma, sepertinya Vika tidak bisa berpura-pura baik kepada tante Siska. Gimana kalau Vika langsung bertanya kepada tante Siska dan menyuruhnya untuk pergi dari rumah Papa,” ucap Vika meminta persetujuan kepada Anissa.
Anissa terkejut mendengar ucapan Vika.
“Ja-jangan nak, ka-kamu tidak boleh berkata seperti itu. Gimana kalau gara-gara ucapan kamu, Mama dan Papa pisah. Apa kamu mau kita hidup hanya berdua saja seperti dulu?” cetus Anissa kembali mengingat kisah mereka waktu Andreas hanya menemui mereka 3 kali dalam 1 bulan.
“Tidak, aku tidak mau!” tolak Vika menggeleng.
“Nah, kalau gitu kamu harus menjadi anak yang baik. Ikuti saja ucapan Mama. Mulai sekarang cobalah meredam amarahmu saat di hadapan tante Siska, setelah kamu bisa mengontrol emosi, kamu pura-pura baik dan perlahan selidiki semua kegiatannya. Gimana sayang?” usul Anissa memberi saran.
“Baik Ma,” angguk Vika patuh.
“Sekarang kamu cuci muka, Mama tunggu kamu di ruang makan. Karena Mama tidak ingin ketinggal satu hal penting dari mereka, begitu juga kamu agar bisa membantu Mama untuk menyingkirkan tante Siska dengan cepat dari kehidupan Papa,” pinta Anissa.
__ADS_1
“Hem,” angguk Vika.
Anissa pun beranjak pergi dari kamar Vika, menunggunya di ruang makan.
.
.
Sementara itu di salah satu kafe di kota B.
Daniel terlihat sedang duduk berdua dengan seorang pemuda berparas Pakistan. Wajah berewokan, rambut hitam, alis tebal dan rapih, tubuh tinggi tegap setara dengan tubuh Daniel.
Daniel dan pria itu tampak berbicara secara serius, sembari menyeruput teh dan kopi milik mereka.
“Jadi, kenapa dengan Anissa?” Tanya pria itu, James.
“Aku sungguh geram sekali melihatnya. Wanita itu tidak ada habis-habisnya merusak rumah tangga orang lain. Ingin sekali rasa nya aku…” ucapan Daniel terhenti saat James tertawa kuat.
“Hei, kenapa kamu malah tertawa. Aku beneran ingin menghukumnya,” cetus Daniel serius.
“Bro, kamu boleh-boleh saja menghukumnya. Tapi jangan hukum putriku, ya,” ucap James di sela tawanya.
“Ck, yang nggak mungkinlah. Lagian kenapa kamu bisa memiliki anak dari wanita seperti itu sih!” hela Daniel sembari menggelengkan kepalanya.
“Dan kenapa kamu malah menikah dengan seorang wanita yang jelas-jelas bekasku,” ejek James di sela kekehannya.
“Hei, bro! kalau aku tahu dia bekas kamu, aku juga tidak akan mau menikah dengannya. Akupun dulu di jebak olehnya. Bukannya kamu juga seperti itu?” tuduh Daniel kembali.
“Ha ha ha, sudahlah, intinya kita sama-sama lelaki yang sial. Waktu itu aku hanya khilaf karena terjebak dengan obat haram itu. Jujur saja nih, punyanya tidak enak, longgar dan tak menggigit. Benar tidak?” bisik James di kalimat terakhirnya.
“Bacot! Gitu-gitu keenakan juga sampai punya anaknya kau. Uuh!!” gertak Daniel geram dengan kemunafikan sahabatnya itu.
“Ha ha ha, habisnya tidak ada wanita yang gratis lagi di dunia ini. Tunggu dulu, waktu kamu menikah dengannya. Apa kamu juga sempat melakukan hal seperti itu kepadanya? Gimana rasanya?” kepo James.
“Rasanya macam kue lapis. Nggak enak, udahlah. Kenapa kita malah berdebat membahas bentuknya,” tepis Daniel menghentikan percakapa mereka.
.
.
Bersambung
__ADS_1