RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
BAB 39. Drama Anissa dan Sakit hati Fransiska


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju entah kemana, air mata terus bercucuran membasahi pangkuan Fransiska. Bekas serpihan rasa sakit hatinya kini kembali di siram dengan air cuka dan jeruk nipis, pedih teriris seolah tak bisa terobati lagi.


Tidak tahan terus melaju dengan keadaan dada terasa sesak seakan sulit memompa oksigen ke seluruh paru-paru. Fransiska menghentikan laju mobil miliknya di tepi jalan.


“AAAAA!” teriak Fransiska sekuat mungkin mengeluarkan semua kegundahan dan rasa sakit masih menyerang hatinya.


Puas sudah meluapkan sesak di dalam dada. Fransiska kembali melajukan mobilnya menuju tempat rahasia pertemuan ia dan Daniel. Tak lupa, Fransiska mengirimkan pesan singkat kepada Daniel untuk menunggunya di tempat pertemuan mereka.


📨 {“Saat ini aku sedang membutuhkanmu. Aku tunggu kamu di tempat rahasia kita, sayang.”}


.


.


Di ruang kerja Daniel.


Bif bif


Pesan wa masuk ke ponsel, Daniel segera melirik, segaris senyum tercetak saat melihat nama pengirim pesan wa.


“Istri orang, bro?” tanya James saat melihat Daniel senyum-senyum sendiri membalas chat wa Fransiska.


“Bising!”


“Memang seperti itu bro, awal-awal menyukai istri orang rasanya dada kita menggebu-gebu ingin selalu jumpa dan ekhem…aakh! Coba kalau kau nanti sudah menikah dengannya, apa rasamu masih sama seperti saat ini?” cetus James mulai bertanya akan ke sungguhan cinta sahabatnya itu ke Fransiska.


“Masih lah, gila aja kalau aku berputar haluan mencintai wanita lain. Beberapa tahun lalu aku hanya bodoh saja bisa menikahi mantan binikmu, itupun karena aku di jebak berhubungan intim samanya. Ibarat kata sama sepertimu, bedanya kau bodoh bisa kebobolan. Untung aja aku pintar melakukannya agar tidak jadi anak waktu di jebak itu,” sahut Daniel tak mau kalah.


“Eleh, jangan bangga dulu bro. Gimana kalau saat kamu dan Siska, ekhem…akh! Langsung tuing? Ayo! Apa kau langsung menikahinya, dan membiarkan reputasi perusahaan sedang naik daun miliknya terjun payung dengan bebas?” menaikan sebelah alis saat melihat dahi Daniel mengerut. “Nah, bingung kau ‘kan?” lanjut James kembali menggali rasa suka Daniel ke Fransiska.


“Jika itu terjadi aku tidak akan peduli dengan apa pun lagi. Kekayaan, dan jabatan bisa aku cari kembali. Tapi, jika Siska dan calon anak di dalam perutnya menghilang, mungkin aku akan sangat menyesali perbuatanku. Seperti kamu! Yang bodoh, bisa-bisanya di tipu sama wanita seperti itu, kha!” jelas Daniel serius.

__ADS_1


“Iya aku bodoh,” gumam James pasrah, kala telak berdebat dengan Daniel.


Percakapan mereka harus terputus saat James mendapat panggilan telepon dari rumahnya, mengatakan jika ada seorang wanita sudah sampai di rumah. Wajah James langsung terlihat berbinar cerah, ia pun beranjak dari duduknya.


“Thanks bro, pesanan kau sudah sampai dengan selamat di rumah,” menepuk sebelah bahu Daniel, “Jangan sungkan meminta bantuanku jika kau sudah tidak bisa berbuat apa pun. Aku pamit dulu, dan untuk saat ini kau bebas melakukan balas dendam kepada Anissa,” lanjut James senang.


“Iya, aku juga saat ini mau pergi menemui Siska sudah pasti sedang menungguku di sana,” sahut Daniel ikutan beranjak dari duduknya.


“Sepertinya akan ada pertempuran sengit nih,” goda James.


“Ikut campur aja urusan orang. Sudah, mari kita pergi bersama menuju parkiran,” ajak Daniel mulai melangkah keluar ruangannya.


Kini mobil milik Daniel dan James keluar dari gerbang perusahaan menuju ke lokasi tempat tujuan mereka masing-masing.


.


.


Andreas terlihat berdiri mondar-mandir di ruang tamu. Anissa duduk dengan menundukkan kepalanya seolah sedang meratapi bagaimana keadaan putrinya di luar sana, dan siapa pelakunya.


“Saya masih tidak habis pikir kenapa Vika bisa menghilang. Bagaimana caramu menjaga putrimu sendiri?” tanya Andreas berdiri di hadapan Anissa.


“A-aku tadinya hanya pergi ke SPA sambil menunggu Vika pulang sekolah. Aku juga sudah menyuruh Vika untuk menunggu kedatanganku untuk tidak pergi kemanapun sampai aku datang,” sahut Anissa jujur.


“Apa saat anak masih di jam sekolah kamu masih sempat memikirkan SPA? Dimana pikiranmu, Anissa?” omel Andreas meninggikan nada suaranya.


“Sayang, aku yakin ini pasti ulah Siska. Bukannya kamu tahu jika dia tak menyukai kehadiranku. Siska juga sangat menginginkan anak darimu. Aku sangat yakin Siska menyingkirkan Vika agar aku bisa merasakan betapa suramnya hidup ini tanpa kedatangan seorang anak di dalam rumah tangga,” tuduh Anissa mengkambing hitamkan Fransiska agar ia tidak terus di maki dan di marahi oleh Andreas.


Seakan terhasut ucapan Anissa, Andreas terdiam, bola matanya terlihat melotot sampai ingin keluar dari tempatnya.


“Siska. Apa benar ini semua ulah kamu!” gumam Andreas dengan seluruh tubuh gemetar karena menahan amarah.

__ADS_1


Merasa berhasil telah menghasut Andreas, segaris senyum sekilas melintas di raut wajah Anissa. Lalu ia berpura-pura menangis demi mendapatkan perhatian dari Andreas.


“Hiks, hiks, hiks! Sungguh tega sekali kamu padaku, Siska. Apa salahku padamu. Bukannya tadi pagi kamu terlihat memeluk tubuh putriku saat ia memanggil namamu dengan sebutan Mama. Jahat sekali kamu, hiks…hiks!” isak Siska.


Mendengar isakan Anissa, Andreas terlihat sedang menelepon seseorang. Namun, nomor tersebut tidak aktif sehingga membuat Andreas kembali mendengus kesal sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa empuk.


“Dimana kamu, Siska. Kenapa masih tidak membalas wa dan mengangkat panggilan teleponku,” gumam Andreas suntuk.


Lain dengan hati Anissa, ‘Siapa yang telah mencuri Vika? Dan kenapa Vika mau saja ikut dengan penculik itu. Bukannya aku pernah menanamkan peringatan kerasa kepada Vika untuk tidak mau ikut jika di ajak oleh seseorang yang tak di kenal. Vika juga bukanlah anak yang bodoh. Ah! Aku baru ingat, apa penculiknya itu adalah James. Jika memang benar dia telah merebut Vika dariku, bisa gawat hubunganku dengan Andreas. Bisa-bisa aku di cerai olehnya, dan sudah pasti aku tidak bisa menikmati uang yang terus mengalir tanpa limit. Akh, bodohnya aku!’ gerutu Anissa dalam hati.


“Kamu kenapa?” tanya Andreas saat melihat Anissa memukul pelan kepalanya.


“I-ini karena aku sedang merasa pusing. Harus kemana lagi kita mencari Vika? Ingin melapor ke pihak berwajib, belum 1 x 24 jam,” menyandarkan kepalanya di bahu Andreas. “Aku cemas, aku takut,” lanjut Anissa di sertai air mata buatan.


“Jangan menangis lagi, saya akan menyuruh seseorang untuk mencari dimana Vika berada. Kamu sebaiknya tunggu di rumah saja, kabari saya jika Siska sudah kembali,” ucap Andreas lembut.


“Baik,” sahut Anissa dengan suara serak.


Andreas beranjak dari duduknya, tak lupa mengecup singkat dahi Anissa, lalu beranjak pergi untuk menemui seseorang.


Setelah kepergian Andreas, Anissa terlihat tersenyum lebar, kedua tangannya terus menghapus jejak air mata di kedua pipinya.


“Hahaha, bodoh!” hina Anissa di sela tawanya.


Bibi, akang tukang kebun, dan kedua pelayan lainnya sedang memantau secara diam-diam mulai bergidik ngeri. Mereka saling pandang, lalu pergi dengan cepat meninggalkan tempat pantauan mereka.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2