
Pesawat sudah mendarat di Bandara Internasional Luar Negeri S. Mulai turun dari pesawat, sampai berjalan menuju parkiran bandara, telapak tangan Daniel seperti terkena lem, terus menggandeng tangan Fransiska seakan tak ingin terpisahkan sedetikpun.
“Lepaskan kenapa?” bisik Fransiska terus melangkah di samping Daniel.
“Tidak, aku tidak ingin kamu tersesat di negeri orang,” sahut Daniel semakin mengeratkan genggaman tangannya.
“Kamu ini!”
Langkah kaki Daniel terhenti di teras parkiran mobil diikuti Fransiska. Baru saja pandangannya menoleh ke depan, Fransiska di kejutkan dengan sosok seorang gadis berusia 10 tahun memakai jaket tebal telah berdiri 5 langkah darinya dengan senyuman manis terukir jelas di wajah polosnya.
“Mama SISKA!” teriak gadis itu, Vika berlari kecil menghampiri Fransiska.
Fransiska tecengang, tidak percaya dengan kenyataan saat ini dia lihat. Setahu Fransiska, Vika sudah meninggal dunia akibat korban penculikan. Tapi, apa ini? kenapa Vika bisa hidup kembali?
“Mama Siska, Vika kangen sama Mama,” sambut Vika memeluk erat Fransiska.
Fransiska masih saja diam seribu bahasa dengan cairan bening mulai memenuhi pelupuk matanya. Ia menoleh ke James, lalu ke Daniel.
“I-ini siapa?” tanya Fransiska bingung.
“Vika,” sahut James dan Daniel serentak.
“Apa! Vika?” ucap Fransiska histeris.
“Iya, ceritanya panjang. Setelah sampai ke rumahku maka aku akan ceritakan semuanya,” sahut James cepat.
“Oh,” angguk Fransiska.
“Mama Siska, Mama Anissa mana?” tanya Vika tiba-tiba, pandangannya mengarah ke sekeliling lobi bandara, berusaha mencari sosok sang Mama. Namun, tidak terlihat sama sekali.
“Hem, maaf ya, sayang. Aku tidak tahu lagi mengenai kabar Mama kamu,” maaf Fransiska sedikit membungkukkan tubuhnya agar bisa menatap dekat wajah sedih Vika.
“Kenapa? Apa Mama Siska dan Mama Anissa kembali berantem?” tanya Vika penasaran.
“Tidak. Sudah 2 hari, aku tidak lagi menjadi istri Papa Andreas. Maaf ya,” sahut Fransiska lembut, Vika hanya diam dalam bingung.
Tidak ingin membuat Vika bertambah bingung, James memutuskan untuk memutus percakapan Vika dan Fransiska.
“Sayang, sebaiknya kita kembali ke rumah saja yuk! Suhu udara terasa semakin dingin di luar sini, Papa tidak mau kamu sakit,” ajak James lembut. Vika mengangguk patuh, tangannya bergerak menggenggam pergelangan tangan James.
“Mama Siska mau berkunjung ke rumah, Vika ‘kan?” tanya Vika menolehkan pandangannya ke belakang, dimana Fransiska masih berdiri dengan hati terus bertanya-tanya ada apa sebenarnya ini?
__ADS_1
Fransiska hanya bisa menjawab dengan anggukan.
Daniel, James, Vika, dan Fransiska meninggalkan parkiran mobil di bandara menuju rumah milik James sambil menunggu apartemen milik Daniel di bersihkan oleh cleaning servis.
2 jam kemudian.
Mobil James terpakir di halaman cukup besar dengan banyak pepohonan di sekeliling rumah. Bahkan di halaman luas itu terdapat sebuah danau kecil berisi ikan hias. Daniel dan Fransiska mengikuti langkah James memasuki taman belakang, dimana pemandangannya langsung terekspos ke lapangan golf, tembak, dan ada beberapa hewan peliharaan di dalam kandang besar.
“I-ini rumah kamu?” tanya Fransiska tak percaya.
“Iya, ini adalah rumahku. Indah bukan?” tanya James penuh percaya diri.
“Aku akui indah, mungkin karena aku tidak memiliki rumah seperti tuan. Mungkin, suatu saat kalau aku memiliki rumah yang sama, rumah tuan ini biasa saja di mataku,” sahut Fransiska malas mengakui keindahan rumah James, karena ia tahu gimana sikap James setelah di beri pujian.
James melirik ke Daniel, Daniel membalas lirikannya dengan mengalihkan lirikannya ke sisi lain.
“Vika, apa boleh tinggalkan Papa bersama dengan Om Daniel dan Mama Siska?” James meminta izin.
“Boleh! Vika balik ke kamar dulu, Pa, Mama Siska, dan Om Daniel!” pamit Vika melambaikan tangannya, lalu beranjak pergi meninggalkan Siska, Daniel, dan James.
“Nanti Papa ke kamar kamu!” teriak James sesaat Vika telah menghilang di balik pintu.
Setelah kepergian Vika. James menekan tombol pintu belakang berubah menjadi sebuah dinding kedap suara, hanya ada Fransiska, Daniel dan James di sana.
Fransiska, dan Daniel duduk di sofa, di susul James.
“Ada apa ini sebenarnya?” tanya Fransiska.
“Tentang kematian palsu Vika, itu semua memang akal-akalanku, karena aku ingin merebut kembali putriku,” sahut James terputus.
“Pu-putri? Apa Vika putri kamu?” tanya Fransiska menyelidik.
“Sepertinya tidak perlu aku jelaskan, nona juga sudah tahu jawabannya setelah melihat raut wajah Vika terlihat sama percis dengan ku,” sahut James dengan sombongnya.
“Idih, dari dulu sikap pede Anda tidak pernah berubah. Iya sih! Aku memang sering bertanya-tanya mengenai karakter Vika terlihat sangat jauh berbeda dengan Mas Andreas dan Anissa. Vika di mataku adalah anak baik dan sopan. Tapi kenapa bisa memiliki orang tua seperti mereka berdua. Dan akhirnya semua pertanyaanku di dalam hati terjawab sudah. Vika ternyata adalah anak dari Anda, tuan James!” ucap Fransiska.
“Oh, hahaha. Sudah cukup atas pujian Anda, nona Fransiska. Aku jadi grogi nih, kalau Anda terus memujiku. Berarti aku tidak sia-sia menggoyangnya dengan sangat kuat dan menyemburkan benih itu cukup jauh ke dasar Atlantis,” ucap James dengan bangganya, tak lupa tawa kecil terus keluar dari bibirnya.
Fransiska mengerutkan dahinya, sedangkan Daniel menggelengkan kepalanya, memaklumi sikap random dari sahabatnya itu.
“Ternyata di balik sikap wibawa tuan James tersimpan sikap terlalu pede yang tidak bagus untuk di publikasikan,” bisik Fransiska ke Daniel.
__ADS_1
“Iya, dia memang seperti itu. Mulai sekarang kamu harus memaklumi dirinya, ya!”
Melihat Daniel dan Fransiska saling berbisik, James mulai melirik tajam ke arah mereka.
“EKHEM!” dehem James kuat, Fransiska dan Daniel terkejut hingga merubah posisi duduknya menjadi tegak. “Kalian pasti sedang membicarakan aku?” lanjut James.
“Iya,” angguk Fransiska.
“Rencana apa yang selanjutnya akan kamu kirimkan ke Andreas?” tanya Daniel penasaran.
“Kalau Vika sudah berada di tanganku, kamu pasti tahu ‘kan, rencana selanjutnya apa?” sahut James, tangannya menggoyangkan tab berisi berkas-berkas keuangan miliknya.
“Jangan bilang kalau tuan ingin menarik saham milik tuan dari Perusahaan Andreas?” sambung Fransiska langsung menebak.
“Pintar!” sahut James mengangguk.
“Pantas saja tuan James selalu menginvestasikan saham, dan melakukan kontrak kerja sama dengan jumlah uang cukup besar. Bahkan tuan juga selalu melebihinya dengan alasan untuk aku. Ternyata semua alasan itu adalah Vika. Apakah itu benar tuan?”
“Yup! Semua itu hanya untuk Putri tersayangku. Masa iya, di sini aku hidup bermewah-mewah, putri kesayanganku tidak.”
“Sayangnya, menurut apa yang aku lihat, Vika tidak pernah mendapakan kehidupan mewah ataupun istimewa dari Anissa. Anissa selalu membelikan barang-barang, makanan di bawa standar uang yang telah Mas Andreas kasih untuknya,” ceplos Fransiska mengingat perlakuan Anissa kepada Vika.
“Pantes saja aku melihat mulai dari tas sekolah, dan buku-buku tulis milik Vika terlihat di bawah 50 ribu. Sudah bagus aku merelakan perbuataannya sangat jahat padaku waktu itu. Aku pikir beneran akan membuat putriku menjadi seorang anak yang akan menikmati kemewahan. Ternyata…akh!” ucap James terputus, menahan amarah mendengar kenyataan baru mengenai Vika.
“Tapi, sekarang aku sangat bersyukur karena Vika bisa menikmati semuanya dari Papa kandungnya,” lega Fransiska.
“Aku juga mau berterimakasih kepada nona, karena nona telah mengizinkan Vika menawarkan dirinya sebagai anak,” ucap James membungkukkan sedikit tubuhnya.
“Sama-sama. Aku juga berterimakasih berkat Vika aku bisa merasakan gimana rasanya di panggil Mama!”
James melirik ke Daniel, “Kalau gitu apalagi, buatlah!” kode James untuk Daniel.
“Buat apa?” tanya Fransiska bingung.
“Buat….”
Daniel langsung membungkam mulut James.
“Dasar mulut tak berbobot, bisa diam tidak kau!”
.
__ADS_1
.
Bersambung