
Selamat datang di “RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU”.
Selesai sudah Season ke-1, dan kali ini memasuki Season ke-2. Dimana 10 tahun sudah berlalu dari semua masalah dilalui Fransiska dengan mantan suaminya Andreas. Seperti sudah diketahui jika Fransiska telah menikah dengan Daniel, cinta pertama sewaktu duduk di bangku SMA dulu. Bukan itu saja, Fransiska dan Daniel telah di karunia seorang anak kembar 3 semuanya berjenis kelamin laki-laki.
Ternyata doa Vika dikabulkan.
Langsung saja ke Season 2
...----------------...
BAB 01.
Tak tak tak!
Terdengar suara langkah kaki dari sepatu hak tinggi wanita memasuki rumah Daniel. Wanita berusia 20 tahun dengan paras begitu cantik. Wajah runcing, rambut ikal panjang sepinggang, kulit sawo mata, bibir merah muda tanpa polesan lipstik, alis terukir rapih dengan pensil alis dan bola mata berwarna coklat.
Wanita cantik itu adalah Vika.
Kini Vika telah tumbuh menjadi wanita dewasa, gaya berpakaian begitu anggun dan juga sopan. Semua karakter itu diperolehnya dari James. James mendidik Vika untuk menjadi wanita anggun dan penuh dengan kewibawaan, benar-benar seperti seorang pemimpin.
Langkah kaki Vika terhenti di ruang tv, di sana duduk tiga anak laki-laki berusia 10 tahun sambil bermain playstation.
Vika menarik nafas panjang, kedua tangan diletakkan di belakang, dan berteriak.
“SELAMAT SORE ADIK-ADIKKU YANG TAMPAN?!”
Tiga anak laki-laki tersebut menoleh ke belakang, dua anak laki-laki mengernyitkan dahinya, dan satu anak memasang wajah gugup.
“Kami bukan adikmu!” sahut serentak 2 anak laki-laki berwajah masam. Sebut saja Clay Daffin, di panggil Clay. Dan Elard Ezra, di panggil Ezra.
“Se-selamat sore Kak Vika!” sahut bocah laki-laki satunya dengan wajah gugup. Sebut saja, Agler Brady, di panggil Brady.
Vika berlari kecil mendekati Brady, lalu memeluknya dari belakang dengan sangat erat.
“Brady memang sangat berbeda. Wajah kamu sungguh aku sukai daripada kedua kembaran kamu yang berwajah datar, cuek dan dingin itu!” celetuk Vika sembari mengelus pipinya ke pipi Brady.
“KAMI JUGA TIDAK MENYUKAI KAK VIKA!” cetus serentak Ezra dan Clay dengan tatapan sinis mereka.
“Tapi, aku juga senang mendengar dan melihat kalian berdua memarahiku. Aku cinta kalian bertiga. Bagaimana kalau kita menikah saja,” ucap Vika menukar posisi pelukannya, memeluk tubuh Clay dan Ezra dari belakang sehingga tidak bisa berkutik.
__ADS_1
“MAMI!” teriak Ezra dan Clay.
.
.
Jeda untuk perkenalan.
Benar saja, meski mereka terlahir di hari sama. Tapi menit, detik, dan jam kelahiran mereka berbeda.
Elard Ezra, Ezra adalah putra pertama dilahirkan Fransiska dengan cara normal tanpa jahitan. Ezra memiliki karakter cuek. Di balik sikap cuek itu tersimpan sifat peduli, baik, dan saling menolong.
Agler Brady, Brady adalah putra kedua dilahirkan secara normal tanpa jahitan. Brady adalah memiliki karakter polos, baik, dan mudah berbaur dengan siapa saja.
Clay Daffin, Clay adalah putra ketiga. Clay memiliki sikap dingin. Di balik sikap dingin menyimpan kebaikan dan rasa peduli tinggi.
Selesai perkenalan, dan kembali lanjut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terlihat seorang wanita cantik berusia 45 tahun, memakai gaun bunga-bunga dengan rambut di cepol berlari memasuki ruang tamu. Wanita tersebut adalah Fransiska.
“Gorila wanita telah datang ke rumah kita, Mi,” sahut Ezra, lirikan matanya ke samping karena Vika masih memeluk mereka.
Vika melambaikan tangannya dengan senyum manisnya.
“Hai, Mama Siska. Semakin lama Mama Siska semakin cantik saja,” sapa Vika tak lupa pujiannya.
“Vika! Ka-kapan kamu datang?” tanya Fransiska sembari mendudukkan dirinya di sofa karena lelah berlari.
“Baru saja,” sahut Vika.
Vika melepaskan pelukannya dari Ezra dan Clay, kemudian duduk di sofa sebelah Fransiska.
“Mama Siska…” panggil Vika menggantung, lirikan matanya mengarah ke Ezra, Clay dan Brady sedang menatapnya dari bawah.
Menyadari ada hal penting ingin dibicarakan oleh Vika, Fransiska berinisiatif untuk menyuruh ketiga putranya pergi dengan alasan meminta mereka membuatkan mengambil makanan ringan dan membuatkan minuman dingin.
“Kamu ingin berbicara apa?” tanya Fransiska setelah ketiga putranya pergi.
__ADS_1
“Aku tahu semua kejadian masa lalu yang di buat oleh Mama Anissa kepada Mama Siska dan semuanya adalah sangat buruk. Aku juga tahu kalau saat ini Mama Anissa telah dihukum dalam sebuah Menara di tempat paling jauh dari dunia ini. Aku sangat bersyukur Om Daniel tidak menjebloskan Mama ke dalam penjara dan memilih dengan cara menghukum yang benar. Tapi…” ucapan Vika terhenti, kepala tertunduk, jari-jarinya saling mencubit.
“Tapi?”
“Tapi, entah kenapa saat ini aku sangat merindukannya. Walau aku tahu jika Mama Anissa tidak pernah merindukan dan peduli padaku. Sebagai seorang anak, aku ingin sekali melihat wajahnya. Sekali saja! Tanpa sepengetahuan Papa James,” lanjut Vika memohon.
“Sebelumnya Mama minta maaf. Sebenarnya…sebenarnya Mama kamu, Anissa telah meninggal dunia 5 tahun yang lalu. Maaf telah merahasiakannya, semua itu karena kamu sedang memasuki tahap ujian kuliah. Agar kuliah kamu tidak terganggu, James menyuruh kami untuk diam sampai waktu yang tepat tiba, barulah kami memberitahu kamu. Hem... Kamu mau tahu kenapa Mama Anissa tidak pernah peduli dengan kamu lagi?”
“Ke-kenapa?”
“Ternyata selama sisa hidup Mama kamu, Anissa sedang mengindap HIV tingkat rendah. Bukannya berobat rutin ke dokter. Anissa malah memikirkan menghilangkan virus itu dengan cara menyebarkannya ke semua lelaki yang diajaknya tidur. 1 bulan kemudian Anissa di tangkap oleh tim Om Daniel. 1 tahun dalam tahanan, Anissa mengalami perubahan suhu tubuh yang tidak normal, saat di cek ternyata virus HIV dalam tubuh Anissa semakin mengganas. Mengetahui hal itu Anissa di rujuk ke rumah sakit ternama di luar negeri. Om Daniel dan Papa kamu, James terus mengirimkan uang untuk biaya pengobatan. James juga sering berkunjung melihatnya di rumah sakit tersebut,” jelas Fransiska terjeda.
Fransiska menarik nafas panjang kemudian melanjutkannya.
“Setelah segala upaya yang dilakukan oleh tim dokter. Ternyata Anissa tidak bisa diselamatkan lagi, karena semuanya terlambat.”
Vika tercengang, cairan bening memenuhi kedua matanya sampai pandangan di hadapannya itu menjadi buram. Suara tangis tercekat di tenggorokannya sehingga hanya bibir saja bergerak. Perlahan tetesan air mata itu menggelinding di kedua pipi mulusnya dan terjatuh di atas pangkuannya.
“Ma-Mama…” gumam Vika di sela tangisannya tercekat di tenggorokan.
Fransiska menarik tubuh Vika, memeluk dan mengelus tubuh gemetar karena menangis.
“Menangislah sekuatnya karena hanya itu yang bisa kamu lakukan saat ini. Sekarang kamu hanya bisa mendoakan Mama Anissa dari sini, minta yang baik agar almarhum Mama kamu bisa tenang di sisi Sang Pencipta,” saran Fransiska lembut.
Ezra, Clay dan Brady menghentikan langkah kaki mereka di belakang sofa tempat Fransiska dan Vika duduki. Menatap punggung Vika terus bergerak dan suara tangis Vika begitu lirik terdengar di kedua telinga mereka bertiga.
“Kasihan wanita gorilla itu,” bisik Ezra.
“Ja-jangan berkata kasar seperti itu dek,” tegur Brady.
Clay hanya terdiam, kedua tangan meremas pinggiran nampan.
“Sebaiknya kita pergi, biarkan mereka berdua saling menyemangati,” usul Clay merendahkan nada suaranya. Clay berbalik badan, melangkah terlebih dulu meninggalkan ruang tv di susul Ezra dan Brady.
.
.
Bersambung
__ADS_1