
Begitu mobil terhenti di depan teras rumah. Vika, Brady dan Clay dikejutkan dengan seorang pemuda tampan duduk di kursi teras. Pemuda tersebut adalah Ezra.
“Bukannya itu kak Ezra!” gumam Brady tak percaya melihat Ezra duduk santai di teras rumah.
“Benar, itu adalah abang Ezra,” ucap Clay membenarkan.
Dengan baju setengah kering di badan Brady dan Clay turun dari mobil menghampiri Ezra.
“Ezra, akhirnya kau datang juga. Betapa rindunya aku melihat wajah cuek kamu itu. Namun apalah daya, aku hanya bisa mengagumi, dan menyukaimu dalam diam,” gumam Vika menatap lurus ke Ezra dari dalam mobilnya.
Vika turun dari mobil dengan baju kaos oblong milik Brady masih melekat di tubuhnya Vika berjalan ke arah mereka.
“Hai, sudah lama tidak berjumpa,” sapa Vika.
Ezra tidak menjawab, ia hanya memandang baju kaos oblong di pakai Vika begitu familiar di kedua matanya. Ezra memandang ke wajah senang Brady, lalu wajah santai Vika.
‘Bukankah itu baju kaos oblong kesayangan adek Brady. Kenapa bisa di pakai oleh Vika. Apakah Brady telah menyatakan perasaannya dan langsung di terima oleh Vika?’ batin Ezra bertanya-tanya.
“Seperti biasa. Pertanyaanku selalu dicueki oleh anak Mama Fransiska yang satu ini,” gumam Vika sudah terbiasa dengan sikap cuek Ezra.
Vika membuka kunci rumahnya, melangkah terlebih dahulu ke dalam rumah diikuti Clay, Brady dan Ezra.
“Ezra, kamar kamu seperti biasa, ya. Aku naik ke atas dulu, mau mandi karena tubuh ini sungguh tak nyaman lagi,” ucap Vika memberitahu.
Lagi dan lagi Ezra tidak menjawab, kedua kakinya melangkah pergi menuju kamarnya berada di lantai 2, bersebelahan dengan kamar Vika.
“Kalau gitu aku ke atas dulu, kalian berdua mandilah, setelah mandi kita akan makan malam bersama,” pamit Vika sekali lagi ke Brady dan Clay.
Brady dan Clay mengangguk, langkah kakinya pun berjalan ke arah kamar mereka masing-masing.
Sesampainya di depan kamar Vika, Vika melihat Ezra berdiri di depan pintu kamarnya.
“Ezra, ada apa?” tanya Vika penasaran.
“Kenapa kau memakai baju adikku? Lepaskan baju itu karena itu adalah baju kesayangan Brady!” tegas Ezra pada Vika.
“Oh, ini tadi—”
“Aku tidak ingin mendengar ucapanmu. Aku hanya ingin kau segera melepaskan baju itu, berikan padaku agar aku cuci di dalam!” sela Ezra antara kesal dan cemburu.
“Boleh tidak aku mandi dulu?”
“Tidak!” tegas Ezra membuat kedua bahu Vika menaik.
__ADS_1
Dengan terpaksa Vika membuka baju kaos oblong yang menutupi pakaian bikini miliknya.
Melihat kemolekan tubuh Vika terekspos jelas di kedua matanya, Ezra spontan berbalik badan. “Kenapa kau tidak bilang jika hanya memakai pakaian renang?!”
“Aku berusaha mencoba memberitahumu, tapi kamu tidak peduli,” sahut Vika lirih, tangannya mengulurkan baju kaos oblong milik Brady.
Ezra merampasnya dengan tubuh masih membelakangi Vika.
Merasa bersalah dengan sikapnya, Ezra melangkah meninggalkan pintu kamar Vika menuju kamar miliknya dengan membawa baju kaos oblong milik Brady.
“Apakah kamu sangat membenciku?” gumam Vika menatap punggung Brady telah hilang di balik pintu kamar.
Vika masuk ke dalam kamarnya, segera membersihkan tubuhnya dari bekas air pantai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam kamar Ezra
Sambil mengucek baju Brady dalam rendaman sabun, kedua mata Ezra masih terus terbayang lekukan tubuh, dan parit dua gunung kembar begitu sempurna.
“Mataku kini telah ternodai dengan kebodohanku sendiri. Dan kenapa pula Vika memakai pakaian renang begitu pro di depan banyak orang. Ah! Membuat aku kesal saja saat membayangkan begitu banyak orang yang menikmati lekukan tubuh indahnya,” gumam Ezra kesal.
Saking kesalnya Ezra sampai mengucek baju kaos oblong Brady sangat kuat sehingga membuat jahitan baju Brady terlepas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam kamar Brady
Sambil menggosok tubuhnya di dalam bathub, Brady masih teringat penolakan Vika padanya tadi.
“Siapa yang di sukai oleh kak Vika, ya? Apakah sudah ada lelaki lain yang mengisi hatinya. Kalau memang ada, aku berharap lelaki itu adalah lelaki yang baik. Bukan hanya baik, tapi juga memahami kak Vika dengan sepenuh hatinya,” doa Brady tulus untuk Vika.
Lelah dengan pikirannya, Brady membenamkan seluruh tubuhnya ke dalam air hangat
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di tanah air, di rumah Fransiska
Fransiska dan Daniel tengah asik berdua di depan tv. Kedua tangan Daniel terus memijat kedua kaki Fransiska yang diletakkan di atas paha Daniel.
“Memiliki 3 orang anak yang biasanya selalu berdebat di rumah ternyata tidak menjamin rumah kita selalu ramai oleh mereka bertiga ya, sayang,” ucap Fransiska merasa sunyi setelah kepergian Brady, Clay dan Ezra.
“Iya, ternyata begini rasanya yang dirasakan kedua orang tua kita dulu,” sahut Daniel menambahkan.
__ADS_1
Fransiska menyudahi pijatan Daniel, merubah posisinya duduk di sebelah Daniel dengan menyandarkan tubuhnya.
“Sayang. Kamu menyadari sikap Ezra dan Brady pada Vika tidak?” tanya Fransiska.
“Iya, sepertinya kedua putra kita menyukai Vika. Bedanya Ezra tidak bisa mengungkapkan perasaannya. Sedangkan Brady berani mengungkapkan perasaannya,” sahut Daniel menyadari perubahan sikap kedua putranya.
“Apakah Brady telah berhasil menyatakan perasaannya pada Vika. Dan apakah Vika menerima perasaan Brady?” tanya Fransiska cemas akan penolakan Vika pada putra keduanya.
“Apa pun keputusan Vika pada Brady, kita harus tetap mendukungnya. Jangan memaksakan kehendak kita, biarkan anak-anak yang menentukan jalan hidup mereka nanti, kita sebagai orang tua hanya bisa menasehati dan membimbing,” sahut Daniel memberitahu.
“Kalau Brady dan Ezra sudah jelas menyukai Vika. Kalau Clay, wanita seperti apa yang akan di pilihnya nanti. Hatiku mendadak cemas saat memikirkan ketiga putraku yang akan memilih wanita untuk masa depannya. Takutnya salah pilih wanita,” gumam Fransiska memikirkan karakter wanita pilihan ketiga putranya.
Gemas dengan kecemasan Fransiska, Daniel mencubit gemas hidung bangir Fransiska.
“Sakit, kenapa kamu mencubit hidungku?” tanya Fransiska memukul pelan cubitan Daniel.
“Habisnya, kamu tuh nggak henti-hentinya memikirkan mereka bertiga. Aku sebagai suami kamu dan sesama pria, kan jadi cemburu. Kenapa semenjak ada mereka perhatian kamu jadi berkurang,” sahut Daniel pura-pura cemburu.
“Jangan cemburu sayang. Kamu itu sudah ada di dalam hatiku yang paling terdalam. Jadi, bagaimana bisa aku melupakan semua kebutuhan suamiku,” ucap Fransiska mencoba merayu Daniel.
“Kalau gitu berikan aku ciuman sebanyak 100 kali,” pinta Daniel menyodorkan wajahnya.
“Baiklah, bersiaplah dengan ciuman dahsyat dariku,” sahut Fransiska menangkup kedua pipi Daniel dan menghujaninya dengan ciuman.
“Sudah, ampun, ampun sayang!” teriak Daniel mulai kehabisan nafas, seluruh wajahnya pun dipenuhi lipstick Fransiska.
“Kok nyerah. Padahal masih ada 50 kali ciuman lagi loh!”
“Kita lanjut di kasur gimana?” tanya Daniel mengusulkan.
“Ujung-ujungnya nggak enak,” gumam Fransiska.
Tanpa meminta izin Daniel menggendong Fransiska, membawanya pergi menuju kamar mereka.
“Ih, kita sudah tua loh. Seharusnya melakukan seperti ini harus di kurangi,” protes Fransiska dalam gendongan.
“Justru yang sudah tua itu, semua engsel-engsel harus selalu dilatih agar tidak berkarat dan berlumut,” sahut Daniel.
Fransiska tidak menjawab, dirinya hanya tersenyum malu.
.
.
__ADS_1
bersambung