
Keesokan paginya.
Sebuah perjanjian untuk mengekang segala gerak-gerik Fransiska sudah terputus. Fransiska kini kembali bebas. Seperti biasa, ia lari pagi keliling kompleks rumahnya dan milik Daniel.
Daniel baru menyingkap kain gorden kamar miliknya tak sengaja melihat Fransiska lari pagi melewati rumahnya. Pandangannya pun mengarah ke beberapa bungkusan belanjaan milik wanita. Ia, itu adalah oleh-oleh Daniel untuk Fransiska sempat terjeda untuk memberikannya.
Tak peduli dengan ucapan kasar Fransiska beberapa hari lalu, tak ingin kehilangan Fransiska, Daniel bergegas mengganti pakaiannya. Ia pun mengejar Fransiska, berkeliling komplek dengan alasan lari pagi bersama.
“Sudah lama kita tidak lari pagi bersama,” ucap Daniel membuka topik pembicaraan.
“Maaf ya,” sahut Fransiska singkat, membuat Daniel terkejut dan menghentikan larinya. Sementara Fransiska masih terus berlari.
5 menit ia terdiam mengingat ucapan Fransiska. Tidak ingin menyerah begitu saja, Daniel kembali mengejar Fransiska kini berhenti di taman kompleks rumah mereka.
“Kalau aku boleh tahu, maaf untuk apa?” Tanya Daniel penasaran, ia pun mendudukkan dirinya di kursi kosong sebelah Fransiska.
“Maaf pernah berkata kasar kepada kamu. Mulai sekarang bisa tidak kita tidak terlalu dekat seperti ini,” sahut Fransiska lembut. Namun, Daniel kembali terkejut.
Kenapa? Ada apa ini?
Daniel terlihat tampak tenang, lalu ia kembali bertanya.
“Kenapa aku tidak boleh menyapa kamu dengan dekat?” Tanya Daniel semakin penasaran.
Fransiska mendekatkan bibirnya di daun telinga Daniel.
Dag dig dug
Debaran jantung Daniel tiba-tiba berdetak tak karuan. Aroma keringat dan harumnya tubuh Fransiska menyelusup ke indra penciuman Daniel. Ingin rasanya ia melahap bibir merah muda tak pernah di sentuh oleh sang suami itu. Tapi ia langsung sadar jika mereka saat ini berada di luar rumah.
“Sebaiknya kita diam-diam bertemu di luar,” lanjut Fransiska.
Untuk sekali lagi, Daniel kembali terkejut. Ada apa? Kenapa Fransiska terlihat sangat serius mengajaknya untuk jumpa di luar.
“Kenapa kamu berkata seperti itu? Apa suami kamu memarahi kamu kalau aku menjumpai kamu di kompleks rumah kita?” Daniel menyerbu Fransiska dengan ribuan pertanyaan.
__ADS_1
“Iya, tapi bisakan kita bertemu di luar?” sahut Fransiska tak lupa kembali bertanya.
“Maaf, aku tidak bisa. Aku takut banyak orang lain salah paham dengan perjumpaan kita,” tolak Daniel tegas, meski hatinya sangat ingin berkata, ‘Ia, aku sangat mau.’
“Hem, sayang sekali. Padahal aku sangat merindukan kamu,” hela Fransiska dengan suara manja, Daniel benar-benar ingin melahapnya habis.
“Apa tidak masalah kalau kita bertemu di luar?” Tanya Daniel sepertinya mulai terkecoh.
“Tidak, jika kamu ingin bertemu denganku di luar, maka aku sudah mempersiapkan tempat yang aman untuk pertemuan kita. Gimana?” sahut Fransiska berkata pelan di daun telinga Daniel, tak lupa menghembuskan lubang telinga Daniel sehingga Daniel semakin meremang.
Sabar, sabar, ucapan itulah di ingat oleh Daniel untuk bisa menahan hasratnya.
“Kenapa kamu diam. Apa kamu tidak setuju?” Fransiska kembali bertanya dengan suara manja.
“Eh, itu, anu…” Daniel menjadi gugup.
“Anu itu, ha ha ha. Sudah, kalau gitu aku pulang duluan nanti akan aku kabarin jika kita bisa bertemu di luar,” pamit Fransiska tak lupa tawa kecil keluar dari bibir manisnya.
Daniel terdiam, ia terus menatap kepergian Fransiska sudah menjauh dari bangku taman kompleks.
“Auw, auw! Ternyata benar, aku sedang tidak bermimpi,” gumam Daniel tak lupa mengelus pahanya.
Sore itu, Andreas menelopon Fransiska. Mengatakan jika dirinya tidak bisa pulang malam itu juga, karena sibuk mengunjungi proyek barunya.
Tidak seperti dulu selalu bersedih saat Andreas mengatakan dirinya lembur dan tidak bisa pulang dengan cepat. Kali ini Fransiska malah terlihat senang, bahkan dia sudah membuat janji temu di sebuah hotel cukup jauh dari kota Medan.
Tidak ingin terpuruk dan terjatuh dengan kebodohan yang sama. Fransiska merubah dirinya menjadi seorang wanita tegar, bahkan dia juga mulai menikmati sebuah permainan terlarang antara dirinya dan Daniel. Meski hanya sekali melakukannya, tapi Fransiska selalu teringat dengan perbuatan Daniel sehingga tubuhnya bergerak sendiri ingin mengajak Daniel kembali melakukan hal yang sama.
Pukul 20:30 malam.
Kini mobil Fransiska dan Daniel sudah terparkir di hotel private berada di kota S. Daniel dan Fransiska berjalan masuk ke dalam kamar hotel secara bergantian. Begitu sampai di dalam kamar hotel, Fransiska dengan agresif duduk di atas pangkuan Daniel.
Daniel menatap heran.
“Ada apa ini? Kenapa kamu tiba-tiba mengajakku ke sini, dan kenapa kamu duduk di atas pangkuanku. Apa kamu tidak takut aku melakukan hal terlarang itu lagi?” Tanya Daniel menepis hasratnya sebenarnya sangat ingin melakukan.
__ADS_1
“Aku lelah dengan tingkah suamiku. Aku lelah dengan perjalanan rumah tanggaku yang terusik oleh seorang wanita jahat seperti Anissa. Aku juga lelah menjadi seorang wanita yang baik,” memegang dagu Daniel, “Aku sudah menemukan kebahagianku sendiri saat ini. Entah kenapa aku merasa nyaman saat bersama kamu,” lanjut Fransiska serius.
“Kamu pasti hanya ingin memanfaatkan aku saja. Pasti kamu mengatakan hal itu agar kamu bisa menikmati hubungan itu yang jarang kamu rasakan oleh suami kamu,” ucap Daniel santai, ia berpikir jika Fransiska mendekatinya hanya untuk melampiaskan hasrat terpendamnya.
“Tidak, aku serius. Awal aku mendengar Mas Andreas berselingkuh, aku sudah memintanya untuk menceraikanku. Setelah bercerai aku berharap bisa memulai hubungan baru kita dari nol. Tapi harapanku sia-sia, Mas Andreas mengancamku untuk membuat bisnis kamu bangkrut. Mendengar hal itu hatiku sangat kacau, otakku buntu sampai membawaku nekad mengakhiri hidupku sendiri,” tepis Fransiska keceplosan.
Mendengar ucapan polos Fransiska, Daniel malah tertawa terbahak-bahak hingga perutnya pegal.
“Kenapa tertawa?”
“Kamu lucu,” sahut Daniel di sela tawa sisanya.
“Aku serius loh,” ucap Fransiska dengan wajah serius.
“Siska, Siska, tidak ada seorangpun yang bisa menghancurkan bisnisku. Aku memang terlihat lemah dan miskin, tapi sebenarnya tidak,” cetus Daniel di sela tawa kecilnya.
“Syurkurlah, dengan begini kita masih bisa terus bertemu dengan diam-diam tanpa kekuatiran,” hela Fransiska merasa lega setelah mendengar jawaban Daniel.
Daniel memegang dagu Fransiska, nanar mata serta hembusan nafas dari aroma obat kumur menyeruak masuk ke masing-masing indra penciuman dan terhenti di kepala mereka. Membuat Daniel dan Fransiska mulai merasakan gejolak aneh di dada dan perut mereka.
“Siska, apakah kamu masih mencintaiku. Apa kamu juga masih ingin memulai hubungan baru kita yang sempat tertunda saat di bangku SMA?” Tanya Daniel berbisik pelan di telinga Fransiska.
“Aku mau. Tapi…apa kamu tidak bermasalah melakukan hubungan terlarang denganku yang masih berstatus istri orang?”
“Tidak masalah. Aku yakin suatu hari nanti kamu juga pasti akan menjadi milikku seutuhnya,” ucap Daniel terdengar serius.
“Apa kamu akan membawaku pergi dari kekangan berat ini?” Tanya Fransiska memastikan ucapan Daniel.
“Tentu. Kali ini berjanji dengan sungguh-sungguh,” sahut Daniel semakin serius.
“Kalau gitu aku ingin kita melakukan hubungan itu tanpa pengaman,” ucap Fransiska tiba-tiba.
“Eh, melakukan hubungan apa?” Tanya Daniel pura-pura tidak tahu.
“Puaskan aku malam ini tanpa alat pengaman. Aku ingin merasakan sentuhan langsung dari kulit kamu,” bisik Fransiska semakin memperjelas tujuannya.
__ADS_1
Daniel terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Apakah ia harus mengatakan iya? Ataukan berpura-pura untuk menolaknnya, padahal hasratnya sudah berada di ujung ubun-ubun?