RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
BAB 26. WAJAH OM ITU SANGAT MIRIP DENGANKU, MA


__ADS_3

2 Hari kemudian.


Andreas mendapat sebuah e-mail dari seseorang. Seorang pebisnis berinisial J, meminta pertemuan secara pribadi ke rumahnya untuk membahas bisnis. Karena sudah cukup lama mengenal orang itu, Andreas pun tidak menolaknya, ia pun mulai mempersiapkan penyambutan hangat untuk pebisnis itu dengan secara sederhana.


Pukul 13:20 siang.


Mobil mewah memasuki gerbang rumah mewah Andreas, di depan teras rumah sudah berdiri Andreas dan Fransiska. Untuk Anissa sendiri di suruh Andreas membantu bibi dan karyawan lainnya menyajikan teh dan cemilan di dapur.


Pintu mobil terbuka, keluar seorang pria muda dengan perawakan luar negeri. Pria itu adalah James, James berjalan santai menuju teras rumah di temani bodyguard dan seorang sekrestaris cantik.


“Halo, selamat siang tuan Andreas,” sapa James mengulurkan tangannya saat sudah berdiri di hadapan Andreas, matanya melirik genit ke Fransiska.


Bukannya marah ada pria lain melirik ke istrinya, Andreas malah tersenyum bangga.


Dalam hatinya, ‘Wah, sepertinya tuan muda ini menyukai istri saya. Jika saya telesuri tuan muda ini adalah seorang tuan muda cukup kaya raya di negerinya. Boleh juga lah untuk menarik simpatinya agar tetap memilih bisnis saya menjadi rekan kerjanya.’


“Ehem, di luar sini sangat panas. Boleh tidak kami masuk ke dalam?” tanya James membuyarkan pikiran Andreas.


“O-oh, tentu saja. Mari masuk ke rumah kami,” sahut Andreas mencoba menenangkan pikirannya kembali ke model normal.


“Mari,” Fransiska mulai melangkah menuntun masuk ke dalam rumahnya.


Langkah kaki Fransiska, James, sekrestaris James dan sekrestaris Andreas, sudah berada di ruangan khusus pertemuan. Mereka duduk di kursi sudah di sediakan oleh bibi.


Baru saja hendak mengobrol, Anissa masuk membawa teh dengan beberapa pelayan lainnya.


Tanpa Anissa sadari, ia berdiri di samping kursi James. James hanya melirik, segaris senyum penuh arti terlihat di wajahnya saat melirik ke Anissa sedang sibuk menyajikan teh.


“Terimakasih,” ucap James.


Mendengar suara begitu familiar di telinga Anissa, lehernya bergerak sendiri, menoleh ke asal suara James. Bola mata Anissa membulat sempurna saat mengetahui jika suara itu adalah suara James. Suara seorang mantan suami.


Eh, di bilang mantan suami, Anissa dan James belum bercerai secara resmi. Jadi kita bilang saja seorang suami tapi menggantung.


Puas sudah melihat ekspresi kaget dari Anissa, James kembali menolehkan wajahnya menatap wajah Andreas berada di hadapannya.

__ADS_1


‘Gi-gimana bisa pria ini bertemu dengan Andreas. Ja-jangan…Vi-Vika..’ gumam Anissa ketakutan, sorot mata gemetar ketakutannya melirik ke pintu ruangan. Ia ingin melangkah pergi . Namun, James menahan pergelangan tangannya.


“Jangan buru-buru pergi, saya ingin kamu sediakan minum sampai selesai,” melirik ke Andreas, “Bolehkan saya meminta di layani oleh wanita ini?” lanjut James meminta izin kepada Andreas.


“Tentu, kenapa tidak,” sahut Andreas dengan cepat. Padahal dalam hatinya, ‘Tidak saya sangka jika wanita rendah ini bisa memikat hati tuan muda ini. Sepertinya saya benar-benar di dalam kemujuran. Ha ha ha.’


Fransiska hanya melirik, ia pun memancarkan senyuman aneh menatap wajah Anissa terlihat panik dan pucat.


‘Kenapa dengan wajah Anissa. Apa ia kenal dengan tuan James. Atau jangan-jangan….ah, masa bodoh, itu bukan urusanku. Lagian jika dia mengenali banyak lelaki bukannya itu hal yang wajar,’ batin Fransiska langsung menepis pikirannya untuk memikirkan Anissa.


“Kalau gitu, apakah bisa kita membahas bisnis baru yang sedang tuan pegang saat ini?” tanya James langsung ke intinya.


“Oh, tentu saja,” sahut Andreas dengan cepat.


Andreas pun dengan cepat menyuruh sekretarisnya untuk memberikan dokumen mengenai bisnis baru apa saja di milikinya. Andreas dan Sekrestaris nya juga mulai menjelaskan secara rinci bagaimana perkembangan dan cara bekerja bisnis miliknya.


Setelah merasa sudah cukup puas dan sudah 2 jam juga Andreas, dan sekretaris nya menjelaskan kepada James. Akhirnya selembar kertas berisi kontrak kerja sama untuk kedua kalinya keluar, dan kini sudah di tanda tangani.


Tidak ingin terlalu lama dan target tujuan James sudah di dapatkan. James pamit pergi.


James melirik ke seorang gadis tanggung saat ini sedang turun dari mobil. Bola mata James sesaat membulat sempurna menatap Vika sedang berjalan ke arah mereka, tanpa James sadari bibirnya pun bergerak sendiri.


“Putriku,” gumam James di dengar oleh Andreas saat itu berdiri di samping James.


“Putri, maksud tuan muda?” tanya Andreas langsung.


Anissa mendengar ucapan itu hatinya langsung berdebar tak karuan, serta wajahnya juga terlihat semakin memucat sampai keringat dingin bercucuran membasahi seluruh wajah bahkan bajunya juga ikut basah.


James langsung mengalihkan ucapannya.


“Oh, begini tuan. Saya jadi teringat dengan putri saya yang berada di luar negeri,” sahut James berbohong.


“Loh, tuan muda sudah menikah dan memiliki putri ternyata,” cetus Andreas tak tahu tentang kehidupan pribadi James.


“Ha ha ha, maaf. Saya memang sudah memiliki putri dan istri. Tapi sayangnya istri saya membawa kabur anak saya waktu di dalam kandungan. Mungkin karena saya waktu itu kurang mapan dan kaya kali, ya,” celetuk James di sela ketawa serta menyindir Anissa.

__ADS_1


“Syukurnya saya memiliki 2 istri tidak seperti itu,” ucap Andreas sombong.


“Oh, saya baru tahu jika tuan memiliki 2 istri. Apakah gadis remaja tanggung ini putri tuan juga?” tanya James seolah tak tahu apa pun.


“I-iya,” sahut Andreas gugup.


“Oh,” angguk James tak ingin banyak tanya kembali.


“Se-sebaiknya saya antarkan tuan sampai ke mobil,” tawar Andreas ingin mengakhiri percakapan mereka karena tak ingin James banyak lebih mengetahui tentang dirinya.


“Terimakasih tuan,” sahut James mulai melangkah menuju mobil siap jalan diikuti Andreas.


Sementara Andreas mengantar James menuju mobil, Vika mulai melirik ke Anissa. Hatinya mulai bertanya-tanya tentang wajah James sangat mirip sekali dengannya.


“Ma, Ma,” panggil Vika menarik tangan Anissa.


“Iya,” sahut Anissa mulai menoleh. Fransiska hanya melirik singkat, lalu kembali fokus menatap lurus ke depan.


“Ma, jika Vika perhatikan. Kenapa wajah, hidung, rambut, dan kulit Vika mirip sekali dengan Om itu. Siapa Om tadi, Ma?” tanya Vika polos


Mendengar pertanyaan Vika, Anissa dan Fransiska terkejut.


“Sayang, dia hanya rekan bisnis Papa. Lagian itu hanya mirip saja, bukannya manusia ini memiliki kembaran di mana-mana. Masa gitu aja Vika lupa,” sahut Anissa mengalihkan ucapannya.


“Oh, iya. Kalau gitu Vika masuk dulu,” pamit Vika lalu berlari masuk ke dalam rumah.


“Hampir saja,” hela Anissa bergumam.


Fransiska sedang menguping semakin heran. Hatinya pun mulai bertanya-tanya, dan kembali mengingat wajah James. Benar saja, paras mereka memang sangat mirip, bahkan bisa di bilang Vika seperti foto copy James.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2