
Di tengah pembicaraan James dan Daniel. Vika telah berdiri di pintu, bola matanya membulat sempurna seakan tak percaya mendengar percakapan mereka. Perlahan kedua kaki Vika mendekat, berdiri di samping James.
“A-apakah benar yang baru saja Papa James dan Om Daniel katakan. Vi-Vika adalah anak kandung dari Papa James?” tanya Vika terbata-bata karena masih tidak percaya dengan kenyataan.
James dan Daniel terkejut mendengar pertanyaan Vika. James segera mendekati Vika, ingin membujuknya dengan cara membelai puncak kepala. Namun, Vika langsung menepis tangan James.
“Jawab pertanyaan Vika, Papa James!” desak Vika, kedua mata mulai dipenuhi air mata.
James melirik sejenak ke Daniel, Daniel mengangguk, memberi isyarat untuk menyatakan sebuah kebenaran.
Daniel pergi, membiarkan James memberitahu Vika tentang semuanya.
“Sebaiknya Vika duduk dulu di sini,” ajak James mengarahkan tangannya ke bangku kosong.
Vika menurut, ia duduk di bangku. James ikut duduk di sebelahnya.
“Sebelumnya maafkan Papa karena telah membohongi kamu,” ucap James lembut, wajahnya sedikit tertunduk merasa bersalah.
“Lanjutkan, Papa James,” pinta Vika menatap serius wajah James tertunduk.
Sejenak James menarik nafasnya, merasa cukup tenang James mengangkat wajahnya, menatap nanar kesedihan dari bola mata indah Vika.
“Vika memang benar adalah anak Papa James, bukan anak dari Andreas—”
James menghentikan ucapannya karena Vika terlihat syok.
“Vika, apakah kamu baik-baik saja? Kalau perasaan kamu tidak tenang lebih baik Papa akan menghentikan percakapan ini!” lanjut James bertanya karena cemas.
“Lanjut saja Pa. Vika ingin mendengar semua kenyataan yang dimana Vika tidak tahu,” sahut Vika lirih.
“Kalau kamu merasa sakit mendengar hal ini, Papa tidak akan melanjutkannya,” tolak James lembut, tangannya membelai puncak kepala putrinya agar kembali tenang.
“Vika mohon, beritahu semuanya, Pa!” desak Vika memohon, air matanya mulai membasahi kedua pipi tembemnya.
Tidak ingin membuat Vika terus bersedih dan terbebani. James melanjutkan ucapannya.
“10 tahun lalu, Papa menikah dengan Mama kamu, Anissa. Saat itu semuanya baik-baik saja, sampai perusahaan Papa tiba-tiba ada masalah. Entah apa yang membuat Mama kamu tidak menyukai Papa, saat kamu masih di dalam kandungan Mama kamu melarikan diri membawa surat-surat penting milik Papa. Papa sudah berusaha melacak keberadaan kalian. Namun, Papa tidak bisa menemukannya karena Mama kamu menyembunyikan kamu di tempat yang cukup jauh sehingga alat canggih susah mendeteksinya. Tapi Papa tidak menyerah begitu saja. Papa terus mencari kamu, sampai akhirnya Papa menemukan titik terang dimana kamu berada. Sebenarnya saat itu Papa sedikit kecewa oleh kebohongan yang di buat oleh Mama kamu. Mama kamu berpura-pura mengakui jika kamu adalah anak dari Andreas demi bisa menikah dengannya. Saat itu Papa tidak putus asa. Papa terus mengikuti kemana kamu pergi, Papa juga telah mengirimkan kamu uang bulanan di setiap bulannya dengan jumlah lebih dari cukup melalui Andreas. Namun, lagi-lagi Mama kamu melakukan hal jahat, sehingga Papa akhirnya turun tangan untuk mengambil kamu dari Mama Anissa,” jelas James panjang lebar, dan sedikit di potong pada bagian kalimat tidak penting karena Vika masih kecil dan belum pantas mendengarnya.
__ADS_1
“Pantes saja Papa Andreas tidak pernah tulus menyayangi Vika. Ternyata Vika bukan anak kandungnya,” gumam Vika lirih mengingat perlakuan Andreas kepadanya waktu itu.
James beranjak dari duduknya, ia berdiri di hadapan Vika, dan memeluk tubuh mungil putri tunggalnya demi menenangkannya.
“Maafkan Papa datang terlambat,” maaf James menyadari kesalahannya.
Vika mengangguk dengan isakan kecil terdengar lolos dari bibirnya.
Tidak ingin membuat putri tunggalnya terus bersedih, James mengurai pelukannya, menghapus jejak air mata di kedua pipi Vika.
“Karena Vika sudah tahu jika Papa James adalah Papa kandung Vika. Gimana mulai sekarang Vika tidak perlu terlalu segan untuk melakukan apa pun di hadapan Papa. Kamu boleh cerita, mengajak Papa liburan, atau hal lainnya. Gimana?” usul James.
“Hem! Vika tidak akan segan lagi dengan Papa James,” angguk Vika.
“Nah, gitu dong!”
“Oh ya, Pa. Kapan Vika memiliki adek seperti yang ada di dalam kandungan Mama Siska?” tanya Vika membuat James tidak bisa berkutik.
“I-itu? Oh! Haha, karena kamu sudah menganggap tante Siska sebagai Mama kamu. Lebih baik anak yang ada di dalam kandungannya juga kamu anggap sebagai adik saja,” sahut James mengusulkan.
“Eh, laki-laki sebanyak 3 orang? Vika tahu darimana kalau adik bayi di dalam kandungan Mama Siska itu adalah laki-laki?”
“Papa James ini. Tentu saja Vika tahu, biasanya kalau anak pertama itu adalah anak perempuan, anak selanjutnya adalah lelaki,” jelas Vika.
James mengernyitkan dahinya.
“Teori siapa yang dipakai oleh anak ini?” gumam James bingung.
“Pa, Papa James,” panggil Vika menarik pinggiran baju Vika.
“Iya,” sahut James menjawab cepat.
“Vika berencana ingin membelikan kado untuk anak Mama Siska. Menurut Papa James, gimana?” tanya Vika meminta saran.
“Tentu saja boleh. Tapi nanti, setelah dedek bayinya tumbuh besar dalam perut Mama Siska, lahir ke dunia. Untuk sekarang, sebaiknya Vika membelikan buah, atau minuman sehat agar dedek bayinya bisa segera tumbuh dengan cepat di dalam perut,” sahut James mengusulkan.
“Kalau gitu mari, mari temani Vika untuk memilih buah yang bagus untuk Mama Siska,” desak Vika menarik-narik tangan James.
__ADS_1
“Iya-ia! Sahut James sembari memberi pesan kepada salah satu anak buahnya untuk membooking salah satu minimarket kecil untuk membebaskan Vika berbelanja.
Melihat Vika senang seperti ini sudah cukup buat James bisa melanjutkan hidupnya tanpa menikah. Vika adalah jantung hatinya, meski terlambat untuk mengambilnya. Tapi, James tetap berusaha untuk membayar semua kesenangan tak pernah di dapat Vika selagi bersama dengan Anissa dan Andreas waktu itu.
Karena James memutuskan untuk menemani Vika berbelanja. Vika berlari kecil menuju kamar Fransiska, ia melompat girang naik ke atas ranjang untuk sekedar berpamitan kepada bayi dalam kandungan Fransiska.
Vika menempelkan daun telinganya ke perut Fransiska dan berkata:
“Adik-adikku yang ganteng-ganteng. Kakak Vika mau izin pergi keluar sebentar untuk membeli makanan buat kalian. Kalian bertiga yang ada di dalam perut Mama Siska, jangan nakal, ya! Tunggu Kakak Vika pulang. Muuaaach!” pamit Vika sembari mencium perut Fransiska.
“Baik, kak Vika, hati-hati di jalan, ya!” sahut Fransiska mewakili bayi dalam kandungannya.
Vika mengernyitkan dahinya menatap sinis ke arah Vika.
“Kenapa Vika menatap seperti itu?” tanya Fransiska bingung.
“Vika ingin memiliki adik cowok. Kenapa malah Mama Siska yang mengisi suara dedek bayi di dalam perut?” tanya Vika bingung.
“Hanya mewakili sayang,” sahut Fransiska di sela tawanya.
Vika mendengus mendengar jawaban Fransiska.
Daniel dan James hanya tersenyum melihat tingkah polos Vika saat melihat hal-hal baru.
“Sudah berpamitannya?” tanya James mendekati Vika.
“Sudah, Pa. mari kita pergi!” sahut Vika, ia pun turun dari ranjang, memegang salah satu tangan James.
“Kami pergi dulu,” pamit James ke Daniel dan Fransiska.
“Daaa!” pamit Vika melambaikan tangannya.
.
.
bersambung
__ADS_1