
“DANIEL! DANIEL!” teriak Anissa dan Andreas bersamaan, menatap punggung Daniel terus menjauh dari mereka. Namun, Daniel tidak menghiraukan panggilan mereka, ia terus berjalan.
Kini di rumah tua itu tinggal Anissa dan Andreas bersama para bodyguard dan beberapa pria bertubuh kekar lainnya.
“Daniel, oh Daniel!” ejek salah satu bodyguard sambil mendekati Anissa dan Andreas.
‘Gawat! Jika aku mati konyol di sini, maka aku tidak bisa merebut Siska dari lelaki miskin itu. A-aku harus segera kabur darinya,’ batin Andreas, sorot matanya memandang ke seluruh sudut ruangan, berharap ada celah untuknya bisa kabur.
“Apa kau sedang mencari celah untuk bisa kabur dari kami?” tanya salah satu bodyguard menangkap basah gelagat aneh Andreas.
“Ti-tidak, a-aku…” elak Andreas gugup.
“Kalau begitu mari ikut kami,” ajak salah satu bodyguard sambil menggenggam erat lengan Andreas dan juga Anissa.
“Ma-mau kemana kalian bawa aku pergi?” tanya Anissa panik.
Para bodyguard tidak menjawab, mereka terus membawa paksa Anissa dan Andreas masuk ke dalam mobil, lalu mobil mereka pun mulai melaju meninggalkan rumah tua itu.
.
.
Sementara itu, di rumah sakit tempat Fransiska di rawat.
Di dalam ruang rawat inap Fransiska telah berkumpul bibi, akang tukang kebun, dan 2 pelayan lainnya. Mereka berdiri di samping kanan kiri ranjang rawat inap Fransiska.
“Nona, hari ini kita akan pulang ke rumah. Aduh, duh! Bibi jadi tidak sabar untuk merawat nona di rumah,” ucap bibi diangguki 2 pelayan dan akang tukang kebun.
“Terimakasih ya, bi, akang tukang kebun, dan kalian berdua yang sudah menolongku,” terimakasih Fransiska tiba-tiba membuat akang tukang kebun dan 2 pelayan terharu hingga meneteskan air mata.
“Ja-jangan berkata seperti itu nona. Lagian kami tidak melakukan apa pun kepada nona dan calon penerus tuan Daniel,” ucap bibi lirih.
“Menurutku bibi dan yang lainnya sudah sangat bertanggung jawab kok. Jadi, jangan terus menyalahkan diri sendiri,” ungkap Fransiska ingin menenangkan hati dan pikiran asisten rumah tangganya itu.
Di sela-sela obrolan mereka, pintu ruangan terbuka, masuk Daniel ke dalam ruang rawat inap Fransiska.
“Loh, kenapa semuanya berkumpul di sini?” tanya Daniel seolah terkejut dan tak tahu apa-apa.
“Hari ini kami sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Jadi, sebelum kami pulang, kami singgah ke ruangan nona Siska dulu. Tapi, setelah kami sampai di sini, ternyata nona Siska juga mau pulang,” sahut bibi.
__ADS_1
“Iya, aku yang menginginkan Siska pulang hari ini, sebab…aku ingin merawatnya berduaan di rumah!” celetuk Daniel tidak ada rasa segan.
“Kamu ini!” gumam Fransiska cubit perut Daniel karena malu melihat sikap sok romantis. Bibi, akang tukang kebun, dan 2 pelayan lainnya hanya tertawa geli.
Setelah pembayaran rumah sakit selesai. Daniel, bibi, akang tukang kebun, Fransiska, 2 pelayan, beserta 3 bodyguard menjaga Fransiska meninggalkan rumah sakit. Ketiga mobil berjalan beriringan dengan pengawalan ketat dari para bodyguard.
.
.
Di dalam mobil Fransiska dan Daniel.
“Apa semua ini kamu yang mengaturnya?” tanya Fransiska bingung.
“Iya, kali ini aku memberikan pengawalan ekstra untuk kamu. Semua itu aku lakukan agar kamu dan calon bayi kembar tiga kita selamat sampai tujuan,” sahut Daniel, tangannya tak lupa mengelus perut langsung Fransiska.
“Aku tahu kamu kuatir, tapi sepertinya tidak perlu seketat ini,” ucap Fransiska merasa tak nyaman.
“Jika kamu tidak suka dengan apa yang aku lakukan, maka aku akan kecewa ini?” celetuk Daniel ingin berpura-pura ngambek.
“Ja-jangan ngambek seperti itu dong! Ba-baik, aku akan terima semua yang kamu lakukan kepadaku. Aku minta maaf, ya?” bujuk Fransiska bingung melihat Daniel merajuk.
“Hem, peyuk!” pinta Daniel manja seperti anak kecil.
“Aku sayang banget sama kamu. Sayaaaaaaang buanget!” ungkap Daniel dengan sekilas kecupan di perut langsing Fransiska.
Lain dengan pikiran Fransiska. Sampai sekarang ia masih menyimpan sebuah tanda tanya besar tentang panggilan telepon Andreas. Tidak ingin terlalu larut dalam kebingungan dan pertanyaan di dalam hatinya. Fransiska mulai mengajukan pertanyaan sedari tadi di simpannya di dalam hati.
“Kalau aku boleh tahu, apa yang akan kamu lakukan kepada Mas Andreas dan Anissa?” tanya Fransiska lembut.
Daniel melepaskan pelukannya, mengangkat wajahnya dari atas paha Fransiska. Ia pun kini duduk dengan tegak, dengan sorot mata memandang lurus ke arah jalan raya penuh dengan kemacetan.
“Sesuai janjiku pada diriku sendiri. Aku tidak akan melakukan kejahatan buruk apa pun selagi aku masih ingin menjaga kamu dan calon anak-anak kita. Aku memang sangat ingin membunuh mereka berdua, membalaskan semua atas perbuatannya kepada kamu dulu. Namun, saat aku menyadari akan segera menjadi seorang Papa sekaligus sudah menjadi kepala keluarga. Rasanya aku tidak sanggup jika harus menyentuh kalian dengan kedua tanganku yang kotor nantinya. Makanya, aku memutuskan untuk membawa Anissa dan Andreas ke salah satu tempat yang cukup jauh dari kota. Di tempat itu juga ada seseorang yang akan menggembleng mereka menjadi manusia lebih baik nantinya. Tapi, jika suatu saat mereka tidak juga berubah, maka bersiaplah akan kehancuran mereka sendiri,” sahut Daniel menjelaskan.
Fransiska mengangguk, merasa lega mendengar keputusan Daniel terdengar bijak tanpa memikirkan egois dan rasa ingin balas dendam.
“Terimakasih untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan,” ucap Fransiska sambil memberikan kecupan sekilas di bibir Daniel.
Berhubung sudah lama tidak mendapatkan ciuman. Di tengah kemacetan, Daniel kembali mencium Fransiska tanpa memperdulikan sang supir.
__ADS_1
‘Bos ini,’ batin pak supir dengan memutar spion tengah ke sisi lain agar tidak kelihatan olehnya.
2 jam berlalu, akhirnya mobil di kendarai bibi, akang tukang kebun, 2 pelayan. Kemudian milik Daniel, Fransiska, dan 2 mobil bodyguard akhirnya sampai di halaman rumah mereka. Namun, ada satu pemandangan begitu membuat Fransiska tidak mengedipkan kedua matanya. Pemandangan itu adalah Vika. Terlihat sosok Vika dan James berdiri menyambut kedatangan mereka di teras rumah.
Tanpa memikirkan kehamilan dan bekas lukanya belum kering, Fransiska spontan berlari keluar dari mobil, memeluk dan menciumi Vika.
“Vika, Vika, Vika sayang. Tante kangen sekali sama kamu!” ungkap Fransiska terus menciumi Vika hingga bekas lipstiknya memenuhi wajah Vika.
“Aku nggak di cium?” celetuk James iri.
Ctak!
Daniel langsung menjitak puncak kepala James.
“Aduh, duh! Aku hanya bercanda bro,” elak James sembari mengelus puncak kepalanya. Daniel membalasnya dengan dengusan.
Fransiska mengurai pelukannya, merangkul Vika berdiri di sisi kirinya.
“Vika, bagaimana sekolah kamu di sana?” tanya Fransiska.
“Baik! Cuman, awalnya aku bingung dengan logat bahasa mereka. Namun, setelah Papa James terus mengajariku untuk berbahasa asing, aku pun akhirnya bisa berbahasa asing,” sahut Vika.
“Wah, bagus kalau gitu.”
“Oh ya, Papa James mengatakan jika Mama Siska saat ini sedang hamil anak kembar, ya? Berarti, Vika akan memiliki adek dari Mama Siska dong!” celetuk Vika mengingat ucapan James saat berada di dalam pesawat menuju tanah air.
“Iya,” angguk Fransiska.
“Vika, kamu juga harus menyuruh Papa kamu ini untuk mencari wanita agar kamu juga bisa memiliki adik kandung sendiri dari Papa kamu!” sambung Daniel tak mau kalah.
“Kenapa tidak minta adik sama Mama Anissa dan Papa Andreas saja. Bukannya Mama Anissa itu adalah Mama kandung Vika. jadi, Papa James tidak perlu mencari wanita lain lagi,” ucap Vika dengan polosnya.
"Haha! Sudah, sudah! sebaiknya kita masuk dulu. Lebih enak berbicara di dalam. Bukannya begitu, Vika?" ajak Fransiska menyela pembicaraan.
"Benar!" angguk Vika.
Mereka pun akhirnya masuk ke dalam rumah, duduk santai di ruang tamu sambil mengobrol ringan.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG....