
Lirikan Ezra ternyata diketahui oleh Vika. Hal itu membuat Vika tersenyum sambil menggeleng.
Ezra buru-buru mengambil posisi duduk tegak, tak lupa menyeruput teh hangat buatan Vika.
"Gimana soal pekerjaan kamu?" tanya Vika basa-basi.
"Gitulah," sahut Ezra singkat.
"Gitulah gimana?" tanya Vika penasaran.
"Baik," sahut Ezra singkat.
"Syukurlah," lega Vika.
Ezra kembali diam, menatap kilauan bintang di langit.
"Ezra, apakah kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Vika ragu-ragu.
"Tidak. Bahkan sampai sekarang aku tidak terpikir untuk berkencan dengan wanita," sahut Ezra.
"Kenapa?" tanya Vika penasaran.
"Wanita itu menyebalkan. Macam kamu!"
Vika terdiam, tidak ingin memperlihatkan sedihnya atas ucapan Ezra, bibirnya mulai terbuka mengeluarkan tawa.
"Aneh. Kenapa ketawa?"
"Kamu lucu," kekeh Vika.
Tanpa Ezra sadari, saat melihat Vika terus tertawa, sudut bibirnya menggaris senyum.
'Vika ternyata cantik juga saat tertawa,' batin Ezra menunduk, kedua pipinya sedikit merasa karena dadanya merasakan debaran hebat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Brady dan Clay sedang asik menonton tv, ditemani beberapa bungkus kacang, snack dan minuman jus dingin.
__ADS_1
"Sepertinya aku akan segera pulang," ucap Brady memberitahu, pandangan mengarah ke siaran tv.
Clay mengeluarkan tangannya dari dalam bungkus snack kentang goreng.
"Kenapa pulang? Bukannya butik kakak belum ada mengeluarkan barang baru," tanya Clay pura-pura tidak tahu.
"Kasihan Mami dan Papa sendirian di rumah," sahut Brady memberi alasan. Aslinya Brady ingin pulang karena dirinya ingin sedikit menghilangkan rasa kecewanya atas penolakan Vika padanya. Agar nantinya Brady bisa kembali melihat Vika sebagai saudara saja tanpa menitipkan harapan di hatinya.
"Kakak berbohong. Aku sudah dengar semuanya waktu di pantai. Kakak menyatakan perasaan kakak, dan Vika menolaknya dengan alasan bahwa umur kakak tidak cocok dengannya!" celetuk Clay mengejutkan Brady.
Ezra baru saja datang terdiam, kedua nanar bola matanya membulat sempurna mendengar ucapan Clay.
'Brady yang baik dan pendiam saja di tolak dengan alasan umur. Apalagi aku,' batin Ezra, kedua kakinya menyerong hendak pergi meninggalkan ruang tv. Namun, Vika ternyata berdiri di belakangnya dengan masing-masing tangan membawa makanan dan minuman botol.
"Mau kemana?" tanya Vika pada Ezra.
"Ma-mau nonton," sahut Ezra gugup.
Mendengar suara Vika dan Ezra, Brady dan Clay spontan menoleh kebelakang.
"Apakah mereka mendengarnya kak?" tanya Clay berbisik.
"Is, matilah aku. Entah apa aja mulut ini suka kelepasan kalau duduk berdua sama kakak," gumam Clay memerahi dirinya sendiri.
"Eh, kalian berdua aja di sini. Aku ikut nonton boleh?!" tanya Vika agar situasi tidak kaku.
"Oh, bo-boleh," sahut Brady mengarahkan tangannya ke sofa single di sisi kirinya.
Vika melangkah, bukannya duduk di sofa single diarahkan oleh Brady untuknya, Vika malah memilih duduk di sebelah Clay.
Penasaran dengan kelanjutan cerita Clay dan Brady tadi. Ezra ikut bergabung di sana, mencoba melihat sendiri apakah Brady benar-benar di tolak oleh Vika atau hanya cerita fiksi mereka saja.
"Nenek tua tidak pantas duduk di antara pria," omel Ezra, tangannya menggenggam pergelangan tangan Vika.
Degser!
Mendapatkan tangannya di pegang oleh Ezra, aliran darah serta sorot mata Vika spontan mengarah ke tangan Ezra.
__ADS_1
'Ya ampun, ya ampun! Apakah aku tidak sedang bermimpi? Tanganku saat ini sedang dipegang oleh pangeran dingin dan cuek ku. Rasanya aku ingin melayang terbang tinggi ke langit gelap,' batin Vika, bibirnya senyum-senyum sendiri, dan hal itu terlihat oleh Brady.
Brady terus menatap wajah malu-malu Vika, lalu wajah serius Ezra terus memandang ke Vika.
'Jangan-jangan, lelaki yang disukai kak Vika itu adalah Abang Ezra. Abang Ezra juga, kenapa dia terus memandang wajah kak Vika dengan tatapan seperti itu. Oooh! Ternyata...' batin Brady terputus karena Ezra menarik Vika dan meletakkannya ke sofa single.
Vika tidak marah, ia hanya memberikan senyuman kepada Ezra. Dengan santai ia duduk di sana, tangannya mengambil beberapa cemilan, lalu memakannya dengan lahap. Brady, ia masih terus menatap dan seakan bingung melihat sikap tersembunyi di simpan oleh Vika.
"Apakah Abang menyukai kak Vika?" tanya Brady to the point.
Ezra, Clay dan Vika terdiam. Clay sudah pasti seperti orang linglung, bingung melihat sikap mereka. Ezra seperti mati kutu, perasaan yang seharusnya hanya dia saja yang tahu, kini dirasakan oleh Brady. Sebagai pria dewasa, Ezra langsung saja mengungkapkan perasaannya kepada Vika.
"Benar, aku menyukai Vika," sahut Ezra mengejutkan Clay, Brady dan Vika.
'A-apa ini? Apakah benar Ezra menyukai ku? A-apakah benar cinta ini akan berbalas?' batin Vika bertanya-tanya.
Suasana sejenak hening. Ada perasaan kecewa dan sakit hati dirasakan oleh Brady. Namun, ia harus mengubur hal itu dalam-dalam di dasar hatinya dan harus merelakan perasaannya kepada Vika, jika Vika juga menyukai Ezra.
"Wah! Kalau gitu sebentar lagi kita akan memiliki kakak ipar," cetus Brady menutupi rasa kekecewaan.
"Brady," panggil Vika.
"Iya, ada apa?" tanya Vika langsung menoleh.
Tidak ingin menutup kemungkinan dan menyangkal perasaannya kepada Ezra. Ia pun mencoba jujur kepada Brady, walau kejujuran itu pasti tidak akan disukai.
"Sebenarnya, aku juga menyukai Ezra. Apakah kamu tidak keberatan?" tanya Vika ragu-ragu.
"Oooh, te-tentu saja aku tidak keberatan. Yang penting kalian bahagia," sahut Brady.
Clay dengan polos seakan menutupi keterlibatan dirinya yang sempat melihat Brady menyatakan perasaannya kepada Vika. Mencoba mengalihkan suasana dengan merangkul Brady.
"Wiiis, keren nih! Kita harus lapor Mama dan Papa. Supaya kita bisa meminang Kak Vika," cetus Clay.
Brady hanya mengangguk disertai senyuman tulus.
***
__ADS_1
Setelah menyatakan perasaannya kepada Vika. Clay, Brady, dan Ezra pulang ke tanah air membawa Vika bersama mereka. Sesampainya di tanah air, Ezra menceritakan segalanya kepada Fransiska mengenai perasaannya sesungguhnya. Begitu juga dengan Vika.
Fransiska memakluminya, hanya saja ia sedikit kasihan melihat putranya yang satu lagi. Fransiska mencoba berbicara kepada Brady, bagaimana dengan hubungan mereka. Brady hanya bisa mengatakan jika dirinya telah mengikhlaskan Vika bersama dengan Ezra.