
Karena efek obat dari dokter, Fransiska terlelap sampai pagi, dan kini baru bangun karena merasa kepalanya sedikit pusing.
“Akh! Sakit sekali,” gumam Fransiska terbangun dari tidurnya sembari memegang jahitan di dahinya. Ia duduk di ranjang, memandang ke sekeliling kamar. “Ternyata Daniel masih belum membawa aku pulang ke rumah,” lanjutnya.
“Sudah bangun?” tanya Daniel setelah masuk ke dalam kamar.
“Bawa aku pulang,” pinta Fransiska sekali lagi ingin segera pulang karena perasaanya tidak enak.
“Aku akan mengantar kamu pulang setelah kita sarapan,” sahut Daniel.
“Baiklah,” angguk Fransiska patuh.
Sesampainya di ruang makan, Daniel menyediakan makanan di atas piring untuk Fransiska. Ia juga membuatkan teh herbal hangat untuk menambah stamina sang kekasih.
“Masih sakit?” tanya Daniel cemas saat melihat Fransiska terus memegang dahinya.
“Hem,” angguk Fransiska dengan wajah pucat nya.
“Setelah aku antarkan kamu pulang ke rumah, jangan lupa di minum obatnya. Satu lagi, jika wanita jahat itu melakukan hal buruk kepadamu, maka segera hubungi aku, ya!” ucap Daniel mengingatkan Fransiska.
“Aku bisa mengatasinya sendiri, kamu tenang saja. Lagian aku tidak enak melibatkan kamu dengan masalah pribadiku,” sahut Fransiska menolak dengan halus.
“Kamu jangan keras kepala seperti ini. Lihat, lihat apa yang sudah dilakukan wanita itu kepadamu? Apa kamu masih ingin terus diam seperti ini?” cetus Daniel mengingatkan Fransiska sambil menahan amarahnya akan perlakuan buruk Anissa.
“Tentu saja tidak, aku ingin wanita itu mendapatkan hal yang setimpal,” sahut Fransiska pelan.
“Kenapa saat ia melemparkan asbak rokok kamu tidak mengelak? Apa kamu benar-benar sudah bosan hidup?” omel Daniel cemas.
“Ya enggak lah, kamu tahu sendirikan kalau saat itu aku sedang sakit. Aku tidak mengelak karena pandanganku saat itu tiba-tiba menggelap,” memegang punggung tangan Daniel, “Sudah ya, kamu jangan cemas seperti ini lagi,” pinta Fransiska tak lupa memberikan senyuman manis di wajah pucat nya itu.
“Iya, kalau gitu kita makan dulu agar aku bisa mengantar kamu pulang,” sahut Daniel mulai menyuapkan makanan ke dalam mulut Fransiska.
Mungkin Daniel saat ini terlihat mengiyakan dan tenang, tapi tidak dengan hatinya.
‘Maaf Siska, kali ini aku tidak akan tinggal diam. Aku harus memberikan pelajaran yang terbaik untuk wanita itu.’
Selesai makan, minum obat, dan istirahat selama 5 menit.
Daniel akhirnya membawa Fransiska pulang ke kompleks mereka. Sesampainya di depan gerbang rumah Fransiska, bukan sambutan hangat di dapat oleh Daniel saat ia membantu Fransiska turun dari mobil. Andreas sedari tadi sudah menunggu di depan gerbang, berjalan cepat menghampiri Daniel. Tangannya memegang bahu belakang, memutar posisi tubuh Daniel, lalu memukulnya.
__ADS_1
Bam!
Fransiska tadi sedang dalam rangkulan Daniel terjatuh ke bawah.
“Berani sekali kamu menyentuh istri saya!” hardik Andreas memegang kerah baju bagian depan Daniel, bola mata melototnya terus menatap wajah datar dan tenang Daniel.
Daniel melepaskan cengkraman tangan Andreas, menghempas tangan itu dengan kuat.
“Jika aku tidak boleh menyentuhnya, maka sentuh dan jagalah Siska dengan baik dengan tanganmu!” tegas Daniel menekan nada suaranya.
“Kamu…” Andreas hendak melayangkan tinju, tapi kalah cepat dengan gerakan tangan Daniel.
Daniel menggenggam erat, menurunkan kepalan tinju itu dari hadapannya. Sorot mata tanpa rasa takut memandang lekat wajah suram Andreas.
“Jangan pernah coba menyentuh wajahku kembali, jika kau tak ingin kehilangan sesuatu yang sangat berharga!” ancam Daniel membuat Andreas langsung melirik ke Fransiska sedang berdiri dengan tubuh sempoyongan.
“Siska!” gumam Andreas, kedua kakinya langsung berlari mendekati Siska hampir terjatuh. Namun, kecepatannya sekali lagi masih kalah dengan Daniel, hingga kedua tangan Daniel lah menopang jatuhnya tubuh Fransiska.
“Kali ini aku serahkan Siska kepadamu, rawat ia dengan baik sebelum aku merebutnya dan merawatnya,” tegas Daniel menyerahkan Fransiska ke tangan Andreas.
Andreas terdiam, bibirnya seolah keluh tak bisa di gerakan saat melihat Daniel dengan tegas tanpa rasa takut berkata seperti itu kepadanya.
“Kenapa wajah kamu bisa seburuk ini?” gumam Andreas melihat wajah pucat, dahi di perban Fransiska ada dalam gendongannya. Andreas pun membawa Fransiska masuk ke dalam rumah, meletakkannya di dalam kamar mereka.
“Kenapa wajah nona terlihat pucat tuan?” tanya bibi sedari tadi menunggu Andreas di bawah anak tangga.
“Urus wanita lemah itu, buat wajahnya kembali segar dan bekas luka jahitannya hilang. Jika sampai bekas jahitannya tidak hilang, maka kalian semua akan saya pecat!” perintah Andreas tegas.
Bibi, pelayan 1 dan 2 terkejut mendengar ucapan Andreas. Bagaimana bisa seorang suami mengatakan hal seperti itu di saat istrinya sedang sakit. Ini masih luka kecil tidak mengalami kecacatan di tubuh. Bagaimana jika Fransiska beneran mendapatkan luka teramat dalam sehingga sulit di sembuhkan?
“Ba-baik tuan,” hanya jawaban itu bisa di keluarkan oleh bibi dan pelayan lainnya.
“Dimana Anissa?” tanya Andreas datar.
“No-nona ada di halaman belakang,” sahut bibi gugup.
Tanpa bertanya apapun lagi, Andreas melangkah besar menuju teras belakang. Wajahnya terlihat memancarkan aura kematian.
“ANISSA! ANISSA!” teriak Andreas begitu langkahnya sampai di teras belakang.
__ADS_1
“Kamu sudah pulang sayang,” sahut Anissa mendekati Andreas.
“Apa yang sudah kamu lakukan kepada Siska?” tanya Andreas meninggikan nada suaranya.
“Apa yang aku lakukan? Aku melakukan hal yang benar kok,” sahut Anissa dengan santainya.
“Kenapa bisa dahinya terluka?” tanya Andreas kembali meninggikan nada suaranya lebih tinggi.
“Oh, tanganku kepeleset. Aku tak sengaja melemparkan asbak. Lagian siapa suruh ia tidak mengelak, mungkin wanita itu beneran ingin tiada di dunia ini,” sahut Anissa kembali tanpa berpikir.
Plaak!
“Ringan sekali ucapanmu mengatkan hal seperti itu. Berapa kali saya katakan untuk tidak melakukan hal buruk apapun kepada Siska. Kamu tidak tahu kalau Siska adalah hoki di bisnis milikku. Jika seperti ini ceritanya, kamu tahu berapa duit yang harus saya keluarkan demi mengembalikan kecantikan wajahnya? Apa kamu sanggup memberikan perawatan itu?” celetuk Andreas terselut emosi memikirkan biaya perawatan pengobatan akan lebih mahal daripada perawatan kecantikan Fransiska.
Mendengar hal itu, Anissa semakin menggeram. Nyata nya di dunia seperti tidak ada seorangpun mengharapkan kehadirannya.
“SISKA, SISKA, SISKA. Semua kenapa harus memikirkan Siska, kenapa tidak ada seorangpun yang memikirkan perasaanku. Aku juga ingin di sayangi, di mengerti, aku juga ingin mendapatkan apa yang wanita mandul itu dapatkan. Aku….” protes Anissa terhenti saat Andreas memegang kedua pipinya dengan sangat kuat memakai sebelah tangannya.
“Ucapan bodoh apa yang barusan saya dengar? Apa baru saja kamu mengatkan jika Siska mandul?” tanya Andreas menekan nada suaranya.
“Iya, buktinya wanita mandul itu sampai sekarang tidak pernah hamil. Meski kalian melakukannya hanya sekali,” sahut Anissa.
“Jaga ucapanmu. Siska adalah seorang wanita yang sehat, miliknya juga sangat menggigit. Dia juga sering melakukan perawatan khusus area itu. Tidak seperti kamu!” sangkal Andreas membela Fransiska, tangannya melepaskan cengkraman nya dari wajah Anissa.
“I-itu semua karena kamu tidak memberikan aku uang lebih. Coba kamu memberikan uang yang sama dengan wanita itu,” ucap Anissa komplain masalah uang pemberian Andreas.
“Apa? Kamu bilang saya tidak memberikan uang bulanan yang adil untukmu?” Andreas mengambil ponsel miliknya, menunjukkan bukti transferan setiap bulan kepada Anissa dan Fransiska. “Sudah kamu lihat?” lanjut Andreas membuat Anissa terdiam.
“I-itu karena aku memiliki Vika,” ucap Anissa memberi alasan.
“Terlalu banyak alasan kamu. Lama-lama saya bosan melihat wajahmu!” ucap Andreas, ia pun melangkah pergi.
Anissa mendengus kesal, ternyata selama ini Andreas berlaku adil soal membagi uang bulanan dan uang lainnya.
Lantas kenapa Anissa masih tidak bisa merawat tubuhnya? kemana uang itu?
.
.
__ADS_1
Bersambung