
Benar saja ucapan Fransiska. Di luar Fransiska dan Anissa sedang berdebat, sedangkan di dalam ruangan Andreas menghitung nominal kekayaannya seperti tiada habisnya dengan angka terus bertambah. Semua itu karena hasil investasi dari James terus meningkat setiap detiknya.
“Ha ha ha…saya kaya. SAYA BENAR-BENAR KAYA RAYA, bahkan artis pesohor dan konglomerat lainnya tidak bisa menandingi kekayaan yang ada di ATM ini!” teriak Andreas begitu bangga dengan angka rekening jumlah nolnya tidak terhitung.
Merasa berisik mendengar teriakan Anissa dan Fransiska terus berdebat di depan pintu ruangannya. Andreas pun beranjak dari duduknya, melangkah menuju pintu.
Dahi Andreas mengerut saat melihat rambut Fransiska dan Anissa kusut.
“Apa yang sedang kalian lakukan di depan ruangan saya? Dan kenapa dengan rambut kalian berdua?” tanya Andreas dengan wajah tak suka.
“Tidak ada!” sahut Fransiska singkat.
“Bohong, kamu tadi menghinaku!” sambung Anissa meninggikan nada suaranya.
“Menghina gimana maksud kamu?” tanya Andreas penasaran hinaan apa baru saja terlontar dari bibir Fransiska.
“Dia menyebut tubuhku melar. Tubuh ini melar ‘kan karena aku melahirkan Vika. Bukannya aku juga berusaha untuk melangsingkan tubuh ini dengan minum teh hijau bahkan teh pelangsing lainnya. Kamu juga ‘kan tahu sayang,” jelas Anissa mengadu dengan nada lirih berharap Andreas merasa kasihan padanya.
Bukannya kasihan, Andreas malah tertawa puas.
“Ha ha ha, memang yang di katakan Siska itu benar. Lantas kenapa kamu marah!” berbalik badan, sedikit menolehkan pandangannya ke Anissa, “Makanya, jadi wanita itu harus pandai merawat diri. Punya suami banyak uang tidak tahu memanfaatkan uangnya dengan benar, bodoh. Jika tubuh kamu bertambah melar, maka saya akan menceraikan kamu. Buat apa memiliki 2 istri tapi tidak bisa untuk di perlihatkan kecantikannya untuk para rekan bisnis saya,” lanjut Andreas ketus.
Anissa tertegun, ia benar-benar tidak biasa mendengar ucapan Andreas seperti itu. Berarti selama ini Andreas hanya mencintai seorang wanita karena wanita itu cantik dan bisa di manfaatkan olehnya untuk kepentingan bisnis.
Jika wanita itu sudah tidak memiliki ke indahan lagi, maka wanita itu akan di campakkan seperti serbet kotor?
Fransiska sendiri hanya bisa menghela nafas, ia pun melangkah pergi seolah sudah terbiasa melihat sikap dan perbuatan Andreas saat berkata seperti itu.
Di depan ruang kerja tinggal Anissa dengan pikiran dan pertanyaan anehnya mengenai ucapan Andreas mulai bermunculan.
“Ja-jadi aku tidak akan bisa mendapatkan apa pun jika tubuh ini semakin gemuk dan tidak kencang lagi. Tidak, aku tidak ingin usahaku sia-sia. Aku harus bisa merebut semuanya, aku tidak ingin menjadi wanita miskin lagi. Aku harus menjadi wanita kaya raya, aku harus kaya raya dan menjadi konglomerat,” gumam Anissa penuh keyakinan.
__ADS_1
Lamunan Anissa terpecah saat tangan kecil menarik tangannya dari sisi kiri.
“Ma, Mama kenapa melamun?” tanya Vika menatap wajah bingung Anissa.
“Oh, ti-tidak nak. Ka-kamu kenapa ke sini?” sahut Anissa mengalihkan pembicaraan.
“Vika ada tugas yang sulit di kerjakan. Bantuin Vika ya, Ma?” pinta Vika penuh pengharapan.
“Tidak bisa, Mama mau pergi ke tempat ke bugaran. Kamu minta tolong ajarin sama bibi atau pelayan yang ada di rumah ini,” tolak Anissa tegas.
“Tapi Ma…”
“Ini ya, Mama kasih tahu ke kamu. Baru saja Papa kamu mengatakan akan menceraikan Mama jika Mama tidak bisa mengurus tubuh. Jadi Mama minta kamu harus belajar sendiri, kalau bisa kamu ikut les aja agar tidak mengganggu kegiatan Mama,” sela Anissa menjelaskan niat barunya.
Mimik wajah Vika berubah menjadi sendu, bola matanya pun mulai berkaca-kaca. Pikiran buruk mulai mengarah pada Fransiska.
“Apa itu semua karena tante Siska? Apa Papa ingin menikahi tante Siska karena tante Siska itu cantik? Jika memang benar seperti itu, Vika dan Mama akan hidup berdua seperti dulu dengan hinaan teman-teman Vika?” Vika menghujani Anissa dengan banyak pertanyaan.
“Iya, kalau gitu Vika akan mulai hidup mandiri mulai sekarang. Mama berjuanglah untuk bisa merebut hati Papa dan menyingkirkan tante Siska,” ucap Vika memberi semangat dengan wajah polosnya.
“Sekarang kamu bersiap sana, Mama akan mengantar kamu ke tempat les, sekalian Mama pergi ke tempat kebugaran,” ucap Anissa menyuruh Vika untuk bersiap.
“Baik Ma,” sahut Vika, ia pun berlari menuju kamar miliknya. Anissa sendiri kembali ke kamarnya untuk mengganti pakaian senam.
Saat Vika dan Anissa sudah pergi, ada seorang wanita mulai keluar dari balik dinding. Wanita muda memakai pakaian pelayan itu berjalan santai menuju dapur. Sesampainya di dapur, wanita itu pun mendatangi bibi.
“Bi, negeri kali ya wanita jahat itu,” cetus nya tiba-tiba.
Bibi dan lainnya sedang meracik bahan untuk makan malam seketika menghentikan aktivitasnya. Mereka menatap serentak wajah pelayan muda itu.
“Apa yang kamu dengar?” tanya Akang kebun tiba-tiba masuk ke dapur.
__ADS_1
“Eh, nyambung aja sih akang ini. Macam netizen,” ejek bibi.
“Namanya juga dengar. Siapa suruh kalian membahas ini di dapur. Gimana kalau kalian kepergok dengan wanita jahat itu? Bisa habislah kalian semua terkena fitnah oleh bibir berbisa miliknya. Kalian juga akan di keluarkan dari pekerjaan, anak dan keluarga kalian tidak akan mendapatkan baju baru, karena sebentar lagi akan memasuki bulan puasa!” akang kebun menakut-nakuti dengan suara horornya.
“Ish, akang ini. Jangan nakut-nakuti dong. Kami ‘kan jadi was-was,” gumam beberapa pelayan sembari memegang dada.
“Oh ya, kalian tahu tidak kalau tadi nona Siska berdebat bahkan mereka saling jambak di depan pintu ruangan tuan besar?” tanya akang kebun serius.
“Kami nggak ke dengaran. Kenapa, kenapa bisa seperti itu?” tanya pelayan lainnya penasaran.
“Jangan di bahas, apa kamu mau di pecat kang?” tegur bibi kembali meracik sayuran.
“Tenang saja, wanita itu dan putrinya sudah pergi. Nona muda juga sedang renang di belakang. Sedangkan tuan besar berada di dalam kamarnya. Jadi…kalian mau dengar tidak?” jelas akang kebun kembali menawarkan gossip hangat.
“Maulah, cepat katakan kang,” sambung pelayan lainnya.
“Begini, tadi sewaktu saya lewat hendak ke kamar mandi umum. Saya mendengar teriakan dari wanita jahat itu. Saya lihatlah kenapa ia berteriak memanggil nama nona kita. Eh…gitu saya lihat, wanita jahat itu dan nona muda kita saling menarik rambut. Mau saya tolong, tapi kayaknya mereka sedang sangat kesal. Daripada saya kenapa-kenapa, lebih bagus saya diam aja, menguping pembicaraan,” jelas akang kebun mengingat kejadian perkelahian Fransiska dan Anissa.
“Intinya kenapa nona kita bisa berkelahi?” tanya bibi masih kurang paham dengan penjelasan akang.
“Awalnya nona ingin mengajak wanita jahat itu untuk renang bareng karena lemak di pinggiran tubuhnya mulai terlihat jelas. Eh…sih wanita jahat itu malah salah paham. Merasa tersindir di ajak oleh nona kita. ‘Kan ada gila-gilanya ku rasa,” sahut Akang tukang kebun menjelaskan titik awal permasalahan.
“Iya, juga sih. Lagian kenapa wanita itu pula yang marah. Sukur di ajakin dan di ingatkan, jika tidak. Maka tubuhnya akan melar seperti permen karet,” celoteh lainnya geram.
"Itu 'kan. Sudah dulu ya, sebaiknya saya pergi ke kebun dulu. Ingin menyelesaikan pekerjaan lainnya," pamit akang kebun mengakhiri percakapan.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1