RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
BAB 46. KANTUNG JASAD


__ADS_3

Pukul 22:30 malam.


Ding dong!


Tombol bel pintu gerbang terus berbunyi.


“Siapa?” tanya Pak satpam membuka pintu gerbang.


“Apa benar ini kediaman tuan Andreas dan nona Anissa?” tanya seorang wanita memakai baju seragam pihah berwajib.


“Benar, kalian semua siapa, ya?” tanya Pak satpam melirik 4 orang lelaki bertubuh besar berdiri di belakang wanita tersebut, memegang kantung jenazah.


“Kami adalah pihak berwajib. Kami menemukan jenazah seorang gadis berusia 10 tahun bernama Vika. Dan di samping tubuh jenazah almarhum Vika terdapat amplop berisi pesan dari sang penculik,” jelas wanita tersebut.


“Apa? No-nona kecil….”


“Maaf, bukan untuk waktunya kami mendengar kehisterisan dari bibir Anda. Sebaiknya antarkan kami untuk bertemu dengan tuan Andreas!” perintah wanita tersebut.


“Ba-baik,” sahut Pak satpam langsung berlari menuju rumah.


Tok tok


“Tuan, nona Anissa, di sini ada pihak berwajib membawa nona kecil Vika,” teriak Pak satpam dari depan pintu rumah terkunci dari dalam.


Ceklek


Anissa keluar dengan binar mata bahagia. Namun, binar mata itu harus meredup setelah kantung jenazah di letakkan di hadapan Anissa.


“Ka-kantung apa itu Bu?” tanya Anissa kepada bu Polwan.


“Coba lihat dulu, apakah benar jika jenazah ini adalah putri Anda?” sahut bu Polwan memberi perintah.


Anissa hendak berjongkok, membuka kancing kantung jenazah. Namun, tangan tegap Andreas menahan lengan Anissa dari belakang.


“Jangan buka kalau kamu tidak memakai sarung tangan,” sorot mata beralih ke bu polwan dan pihak berwajib berdiri di belakangnya. “Coba kalian buka!” sambung Andreas memberi perintah ke pihak berwajib.


“Buka!” tegas bu polwan memberi perintah ke pihak wajib lainnya.

__ADS_1


Keempat pihak berwajib membuka resleting kantung jenazah, lalu melangkah mundur demi memberi ruang untuk Anissa.


“A-anakku,” gumam Anissa dengan cairan bening hampir memenuhi pelupuk matanya terlihat kosong. Anissa berjongkok, tangan gemetarnya perlahan menyingkap kantung jenazah menutup bagian wajah Vika. “Tidak mungkin!” gumam Anissa histeris saat melihat separuh wajah Vika tak terbentuk lagi.


Andreas mengernyitkan dahinya, bola mata tak percaya terus memandangi jasad Vika terlihat begitu mengerikan.


“I-ini tidak mungkin terjadi pada Vika,” gumam Andreas seolah tak percaya.


“Ada surat dari sang penculik,” ucap bu polwan memberikan amplop putih berisi pesan dari sang penculik.


“Apa isi pesan dari sang penculik itu!” cetus Anissa sembari merampas amplop putih berisi pesan dari sang penculik.


Tubuh Anissa terhuyung, surat dalam genggaman tangannya terjatuh ke lantai.


“Nona Anissa!” ucap bu Polwan dan Andreas secara bersamaan melihat tubuh Anissa terhuyung dan hampir jatuh.


“Apa tulisan di dalam kertas tersebut?” tanya bu Polwan penasaran, tangannya mengutip selembar kertas tergeletak di lantai. Dahi bu polwan mengernyit setelah membaca isi pesan di selembar kertas tersebut, sorot matanya mengarah pada Andreas. “Sesibuk apa pun kedua orang tua, seharusnya tuan dan nona harus tetap memperhatikan anak kalian. Jika sudah terjadi seperti ini, menyesal hanyalah menjadi jalan satu-satunya untuk mengikhlaskan,” lanjut bu Polwan memberi saran.


“Saya sebagai Papa kandungnya ingin meminta tolong kepada pihak berwajib. Saya ingin jenzah Vika di kebumikan dengan layak. Tentang biaya penguburan saya akan memberikan uangnya kepada Anda,” pinta Andreas tiba-tiba.


Mendengar ucapan seperti tanpa hati terlontar dari bibir Andreas. Anissa langsung beranjak berdiri berhadapan dengan Andreas.


Tangan kanan Anissa ringan melayang ke sebelah pipi Andreas.


“Kamu!” gumam Andreas menekan nada suaranya. Menahan emosi di depan pihak berwajib.


“Tega kamu! Vika itu adalah putri kita, sudah seharusnya kita yang menguburkannya dengan layak, bukan pihak berwajib,” celetuk Anissa memberitahu.


“Saya tidak ingin rumah indah saya di nodai dengan bau-bau bangkai seperti Vika. Saya memiliki uang, saya juga memiliki kekuasaan. Kenapa itu tidak saya gunakan,” bisik Andreas sangat pelan hingga Anissa saja bisa mendengar ucapan Andreas.


Anissa tidak bisa berkata apa pun, memang benar ucapan Andreas. Dia itu memiliki segalanya di banding dirinya, dan pengusaha lainnya. Sorot mata Anissa berpaling ke bu polwan dan empat bawahannya masih setia berdiri di belakang bu polwan.


“Ada yang bisa kami bantu lagi?” tanya bu polwan memahami mimik wajah cemas bercampur bingung dan juga sedih terukir jelas di wajah Anissa.


“Hem, begini bu……” ucapan Anissa terhenti karena Andreas langsung menyelanya.


“Untuk sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada ibu dan bapak, karena sudah menemukan jasad putri kami. Karena waktu mulai larut, bisa tidak ibu dan petugas lainnya segera tinggalkan rumah kami sedang berduka?” pinta Andreas kembali mengejutkan Anissa.

__ADS_1


‘Apa-apaan Andreas ini. Tadi ia mengatakan jika pihak berwajib saja yang akan menguburkan Vika karena tidak ingin mengotori rumahnya. Tapi, 10 menit kemudian haluan pikirannya berubah menjadi seperti ini. Apa yang sebenarnya di pikirkan lelaki ini?’ Anissa bertanya-tanya dalam hati.


“Apakah tuan tidak ingin mencari siapa pelakunya?” tawar bu polwan.


“Oh, hehe. Ti-tidak perlu, saya bisa menyuruh orang untuk menuntaskan kasus ini. Hem, saya boleh minta satu permintaan tidak?” sahut Andreas masih bia tersebut dan meminta sesuatu di hadapan bu polwan.


“Apa itu?” tanya bu polwan.


“Saya minta kasus ini tidak di publikasi. Saya ingin hanya ibu, dan rekan-rekan lainnya saja yang mengetahui jika putri saya meninggal karena korban penculikan. Gimana?” sahut Andreas mengutarakan permintaannya.


Sejenak bu polwan mengernyitkan dahinya, sorot mata tak percaya memandang lurus ke wajah tenang Andreas.


‘Biasanya orang tua yang kehilangan anak semata wayangnya akan merasa sedih dan juga terpukul. Ini, kenapa tuan Andreas terlihat biasa saja. Bahkan sudut bibirnya masih bisa tertawa puas,’ gumam bu Polwan dalam hati.


“Bu,” panggil Andreas melambaikan tangannya ke wajah bu polwan.


“Oh, hem, baiklah!” angguk bu polwan kembali tenang. Sorot matanya mengarah keempat pihak berwajib lainnya. “Mari kita pulang,” ajak bu polwan melangkah terlebih dahulu meninggalkan teras rumah Andreas.


Setelah mobil pihak berwajib pergi dari lingkungan rumah Andreas. Andreas segera memanggil satpam dan tukang kebun.


“Ada apa tuan?” tanya Pak satpam dan tukang kebun bersamaan.


“Kalian cari pemandi jenazah, dan tukang keburan yang akan menguburkan jasad Vika, mala mini juga!” tegas Andreas memberi perintah, akang tukang kebun, pak satpam terkejut bukan main.


“Sungguh tega kamu. Kenapa kamu tidak membiarkan aku melihat, merawat putriku untuk yang terakhir kalinya? KENAPA?!” Anissa memberontak.


Plaak!


“Berulang kali aku katakan untuk tidak berteriak di hadapanku! Kamu tahu kenapa aku melakukan ini semua?” tanya Andreas dingin, tangannya gemetar hebat.


“Tidak! Bahkan aku tidak ingin mengetahui apa pun tentang pikiranmu!”


“Oh, baiklah. Kalau gitu saya akan tegaskan. Jika masih ingin tinggal di sini, dan menikmati uang dari dompet tak pernah tipis milik saya. Maka turuti semua yang saya katakan!”


Anissa terdiam, ingin memberontak dan melawan, namun apalah daya. Andreas lebih kuat dari dirinya. Anissa hanya bisa diam, mengikutinya semua permintaan Andreas.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2