RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
BAB 30. KAU HANYA WANITA MANDUL


__ADS_3

Plaaak!


Vika terdiam saat menerima tamparan dari Andreas. Fransiska juga ikut terdiam, tak menyangka jika Andreas bisa setega itu menampar putrinya sendiri, apalagi Vika itu masih kecil. Itulah saat ini di pikiran Fransiska.


“Kau memang putri saya. Tapi kau tidak saya izinkan untuk membentak istri kesayangan saya. Hoki yang kamu bawa tidak sepadan dengan hoki milik Fransiska. Sekali lagi saya mendengar kamu membentak Fransiska, maka mulut mu akan saya buat…” ucapan Andreas terhenti saat Fransiska segera menggenggam pergelangan tangan Andreas.


“Jangan teruskan Mas. Vika masih kecil, jangan buat dia merasakan hal kejam seperti ini,” pinta Fransiska lembut dan tulus.


Andreas terdiam, ia hanya mendengus dan beranjak pergi meninggalkan Fransiska.


“Maafkan Papa Andreas, ya,” bujuk Fransiska sembari memeluk, dan menghapus jejak air mata Vika.


“Tante, Vika saat ini sedang bingung. Kepala Vika hampir pecah memikirkan semua ini. Tolong jelaskan kepada Vika apa yang sebenarnya terjadi. Vika mohon tante,” pinta Vika benar-benar sangat tertekan.


“Karena Vika sudah terlanjur mengetahuinya, maka tante akan memberitahu semuanya. Sebenarnya tante adalah istri pertama dari Papa Andreas, dan Mama kamu adalah istri kedua. Tante sengaja berbohong waktu itu karena tante tidak ingin melukai hati dan perasaan Vika saat itu. Tante sebenarnya berencana ingin memberitahu Vika saat umur Vika sudah lebih dari cukup. Tapi karena sekarang Vika sudah mengetahuinya, maka tante tidak perlu menutupi hubungan apapun dari Vika,” sahut Fransiska menjelaskan dengan tenang dan suara lembutnya membuat Vika mudah mengerti.


Kebenaran apa ini? Kasihan Vika, masih kecil sudah harus mendapatkan sebuah keadaan cukup menyulitkan di hidupnya.


“Maafkan selama ini Vika sudah salah paham kepada tante,” maaf Vika mengingat dirinya pernah ingin membuat rencana buruk untuk Fransiska.


“Maaf? Ha ha ha…sudahlah sayang. Lagian semua itu salah tante yang tidak jujur sama kamu dari awal,” Fransiska melirik ke tas sekolah masih melingkar di pundah Vika. “Kamu baru pulang sekolah?” lanjut Fransiska bertanya.


“Mama menyuruh Vika untuk les,” sahut Vika polos.


“Les? Kenapa tidak belajar di rumah saja. Mama kamu kemana?” tanya Fransiska mulai memandang sekeliling ruang tv.


“Mama sedang pergi ke tempat kebugaran. Mama ingin langsing katanya,” sahut Vika kembali dengan polosnya.


“Loh, kenapa harus pergi ke luar. Tante sudah memiliki semua alatnya di rumah ini,” cetus Fransiska terkejut.


“Entahlah tante,” gumam Vika menaikkan kedua bahunya.

__ADS_1


“Ya sudah, karena baru pulang dan bau keringat, sebaiknya kamu mandi dulu. Tante harap kamu juga tidak mengingat peristiwa tadi ya. Sekarang anggap saja tante sebagai Mama kamu,” ucap Fransiska menawarkan dirinya untuk di anggap sebagai Mama.


“Tante baik sekali. Vika jadi merasa sangat bersalah karena pernah menaruh kebencian kepada tante,” maaf Vika kembali sembari memeluk Fransiska.


Saat Vika masih memeluk hangat Fransiska, ada tangan wanita melepaskan pelukan Vika dari samping. Tangan wanita itu tak lain adalah milik Anissa.


“Apa-apaan ini Vika?” tanya Anissa, tangannya menarik Vika untuk berdiri di sampingnya.


“Mama!”


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Anissa sinis.


“Aku mengatakan yang sejujurnya kepada Vika,” sahut Fransiska santai.


“Mengatakan apa?” tanya Anissa mulai cemas.


“Jika tante Siska adalah istri pertama papa,” Vika menyahut lirih.


“Om yang tadi datang ke rumah. Dia mengatakan jika tante Siska adalah istri pertama Papa, dan Mama adalah istri kedua Papa,” sahut Vika dengan polosnya.


Anissa mengepalkan kedua tangannya, dahinya mengernyit tak suka.


‘Lelaki tak berbobot itu benar-benar ingin menghancurkan rencanaku. Tidak akan ku biarkan. Aku harus mencapai puncaknya sebelum semua rencanaku gagal. Awas saja kamu, James, kamu menginginkan Vika bukan? Maka aku akan mempersulit kamu untuk bertemu dengan Vika,’ batin Anissa dengan rencana buruknya.


Tidak ingin membuat putrinya itu kembali bingung, dan sebuah kenyataan lain akan terbongkar. Anissa hanya bisa tersenyum manis.


“Maafkan Mama ya, sayang. Pasti kamu sangat sulit untuk mencerna semua kenyataan pahit ini,” maaf Anissa tulus, tangannya membelai lembut puncak kepala Vika.


Karena Vika masih berusia 10 tahun, nalar tentang kehidupannya juga belum begitu sempurna. Vika hanya mengangguk dan berusaha mencerna semua kenyataan kejam itu agar kepalanya tidak kembali terasa berdenyut.


“Iya, Ma. Kalau gitu Vika sekarang sudah tidak pusing lagi. Vika juga sekarang sangat senang karena Vika mengetahui jika Vika memiliki 2 orang Mama sekaligus,” angguk Vika dengan polosnya.

__ADS_1


Fransiska tersenyum, ‘Bocah polos dan begitu tulus, bersihnya hatimu. Anak siapa sih kamu Vika. Aku rasa kamu bukan keturunan Andreas dan Anissa. Atau mungkin kamu bukan darah dagingnya Andreas. Soalnya sikap lembut, teduh, dan polos kamu seperti seseorang yang pernah aku jumpai. Tapi siapa ya? Ah…sudahlah, yang terpenting sekarang Vika sudah mengetahui siapa aku,’ batin Fransiska lega karena ia tak perlu lagi menyembunyikan siapa dirinya di hadapan Vika.


“Vika, kamu ‘kan baru pulang les. Gimana kalau kamu mandi dulu,” usul Anissa mencoba membuat Vika untuk segera pergi ke kamarnya.


“Baik Ma, Vika pamit dulu ya, tante,” pamit Vika, ia pun berlari menuju kamarnya.


Setelah Vika pergi, Anissa menatap Fransiska dengan tatapan sinis.


“Ada apa, ya?” tanya Fransiska santai.


“Jangan pernah bermimpi menjadi seorang ibu. Dan jangan pernah bermimpi di panggil Mama dari bibir seorang anak!” tegas Anissa sedikit menyinggung hati Fransiska.


“Jika aku tidak boleh bermimpi di panggil dan menjadi seorang Ibu. Maka aku minta kepada kamu untuk tidak bermimpi menggeser posisi ku di rumah ini!” ucap Fransiska tegas, tak mau kalah dengan Anissa.


“Ha ha ha…jangan kepedean kamu. Siapa juga yang mau menggeser posisimu di rumah ini. Dasar, wanita mandul!” elak Anissa tak lupa memberi hinaan kepada Fransiska.


Fransiska mengepal kedua tangannya, ingin rasanya ia menampar mulut Anissa, tapi ia masih harus menahan amukannya karena ia tidak ingin melihat Andreas marah kepadanya.


“Kok diam? Berarti benar kamu mandul? Ha ha ha…berlagak Andreas tidak ingin mempunayi anak dari kamu. Omong kosong tak bermutu!” cetus Anissa kembali sesuka hatinya.


“Terimakasih atas pujiannya. Aku menerima segala semua ucapan itu,” ucap Fransiska di sela senyum paksanya.


Anissa berbalik, “Bye! Akan aku pastikan jika Vika tidak akan mendekati wanita mandul dan bodoh seperti kamu. Iiihh…memandang wajah kamu saja sudah membuatku bergidik ngeri. Bisa-bisa aku terkena sialnya kamu!” hina Anissa sesuka hatinya.


Setelah merasa cukup puas menghina, Anissa pun pergi meninggalkan Fransiska di ruang tv.


Perlahan bulir air mata Fransiska lolos begitu saja. Namun tangan mungilnya dengan cepat menyeka tetesan air mata membasahi kedua pipinya. Berulang kali ia menarik nafas panjang untuk meredakan hatinya terlanjur sakit.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2