RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
S2. 08. Kedatangan Brady


__ADS_3

Ding dong ding dong!


Suara bel pintu rumah begitu nyaring terdengar di keheningan pagi buta di rumah Vika.


Masih setengah mengantuk dan memakai baju piyama Vika turun ke bawah. Membuka pintu rumah dengan kedua mata masih setengah terpejam dan rambut acak-acakan.


“Pagi kak Vika,” sapa Brady.


Tak percaya dengan kedatangan Brady, Vika berulang kali mengucek matanya, lalu mencubit lengannya.


“Auw!” teriak Vika merasa kesakitan karena cubitannya begitu kuat.


“Kenapa harus mencubit diri sendiri?” tanya Brady sambil tersenyum.


“Serius ini Brady?” Vika mendekati Brady, memegang wajah Brady sambil mengacak-acak rambut Brady.


Brady hanya diam, membiarkan Vika dengan kejahilannya tak pernah hilang.


Puas telah memastikan apakah itu Brady atau bukan. Vika memeluk Brady.


“Brady. Calon suamiku yang paling baik budi, kalem, dan rendah hati!” teriak Vika kembali dengan gombalan mautnya tak pernah hilang.


Lagi dan lagi Brady terdiam, bibirnya tersenyum melihat Vika terlihat begitu gembira menyambut kedatangannya.


Mendengar suara berisik dari teras rumah. Clay baru saja siap mandi, hanya memakai celana kolor, rambut setengah basah dan handuk kecil di atas kepala, langsung melangkah keluar, melihat suara berisik apa di depan rumah Vika.


“Berisik sekali, sih!” omel Clay sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil, dan langkahnya terhenti di pintu.


“Pagi Clay,” sapa Brady mengejutkan Clay.


“Loh, loh, loh! Ke-kenapa kakak bisa di sini?” tanya Clay menunjuk Brady.


“Lelah bekerja, jadi harus sesekali merilekskan diri,” sahut Brady.


“Benar juga. Kakak, kan tahunya cuman kerja, dan kerja saja,” angguk Clay.


Merasa senang karena kini ada Brady bersamanya. Vika mengambil alih genggaman koper Brady, membawanya masuk.


“Di luar dingin, ayo masuk,” ajak Vika sambil terus melangkah ke dalam, menggeret koper Brady.


Tidak mau merepotkan Vika, Brady berlari mengambil alih kopernya.


“Biarkan aku saja yang membawanya, kak,” ucap Brady telah menggenggam kembali koper miliknya.


“Baiklah, kalau gitu taruh barangmu di kamar milikmu. Beristirahatlah di dalam, dan aku akan membuatkan makanan untuk kalian,” sahut Vika memberi perintah.


Brady mengangguk, kakinya melangkah menuju kamar. Namun di tengah kaki melangkah terdengar suara Clay berbicara. Brady pun menoleh, melihat Clay dan Vika berjalan bersama menuju dapur.

__ADS_1


“Apakah adik Clay juga memiliki perasaan pada kak Vika?” gumam Brady.


Tidak ingin terus berpikir buruk tentang adiknya, Brady bergegas meletakkan kopernya di dalam kamar, lalu ia keluar menyusul Vika dan Clay di dapur.


Begitu sampai di dapur, melihat Clay sibuk memotong sayuran, dan Vika mencuci bahan makanan lainnya. Brady bergegas mengambil alih pekerjaan Vika.


“Biar aku saja, kakak duduklah di sana,” pinta Brady setelah tangannya memegang bahan sayuran untuk di cuci.


Vika berdiri sambil tersenyum. “Akh! Ternyata seperti ini rasanya kalau memiliki suami 2. Aku bisa duduk santai tanpa memikirkan masak apa hari ini,” hela Vika senang, mendudukkan dirinya di kursi depan meja masakan.


“Weuy, siapa juga yang mau jadi suami mu. Aku ke sini karena kasihan mengingat mu tinggal sendiri di Negeri orang!” tepis Clay cepat.


“Iya-ia, aku juga bercanda. Sebenarnya aku sudah memiliki kekasih,” sahut Vika mengejutkan Brady.


“Serius, siapa pria itu?” tanya Clay cepat.


Brady sendiri menghentikan aktivitasnya, lalu meletakkan sayuran telah di basuhnya di samping Clay.


“Berarti Kakak tidak akan mengganggu kami lagi dengan gombalan-gombalan maut itu, kan?” tanya Brady lirih, namun bibir tetap tersenyum.


“Suamiku itu adalah kalian berdua lah. Satu lagi, sih Ezra, kemana anak itu? kenapa dia tidak ikut datang bersamamu?” tanya Vika kembali bercanda.


“Ada urusan di perusahaan,” sahut Brady singkat, tangannya memasak sayuran telah di potong oleh Clay.


“Kak Ezra dan kak Brady, mereka berdua itu sama. Sama-sama sibuk bekerja sampai lupa urusan percintaan mereka berdua,” ceplos Clay begitu saja.


“Sebenarnya aku juga sih,” hela Vika lirih, wajahnya berubah mejadi masam.


Melihat Vika menunduk sedih, Brady langsung menginjak kaki Clay.


“Aih, sakit kak!” keluh Clay sambil mengelus kakinya.


“Bisa tidak bersikap sopan. Lihat atas perbuatanmu itu,” bisik Brady, pandangannya mengarah pada wajah tunduk Vika.


“Maaf,” maaf Clay menyesal.


Vika mengangkat kepalanya, bibirnya tersenyum seolah rasa sakit atas ucapan Clay telah hilang.


“Tidak perlu minta maaf. Lagian benar yang dikatakan oleh Clay. Siapa juga yang mau sama wanita berumur seperti ku,” ucap Vika membenarkan perkataan Clay.


‘Aku mau. Aku mau menjadi pendamping hidupmu,’ sahut Brady dalam hati, pandangannya mengarah ke wajah sendu Vika.


Lelah karena terus meratapi kehidupannya. Vika beranjak dari duduknya.


“Sepertinya aku akan menata meja, dan kalian masak saja dulu,” ucap Vika bagi tugas.


Clay dan Brady mengangguk.

__ADS_1


Vika melangkah menuju meja, menata piring dan gelas di sana.


30 menit kemudian, makanan telah tersaji di atas meja. Brady, Clay dan Vika telah duduk di kursi mereka masing-masing.


“Ini masakan kalian berdua?” tanya Vika menatap begitu banyak menu makanan di atas meja.


“Iya, spesial untuk kak Vika,” sahut Brady diangguki Vika.


Merasa tak percaya jika hari ini dirinya tidak makan sendiri. Tanpa terasa bulir air mata Vika menetes, membasahi kedua pipinya.


“Wanita tua tidak boleh menangis,” ucap Clay, tangannya mengulurkan tisu.


Vika mengambil tisu dan menghapus air matanya.


“Terima kasih, ya!”


“Kalau gitu mari makan sebelum makanannya dingin,” ucap Brady.


Brady, Vika, dan Clay menghentikan gurauan mereka, dan melanjutkan sarapan pagi.


1 jam kemudian, selesai sarapan, dan membersihkan sisa makanan. Vika mengajak Brady dan Clay ke pantai.


Tanpa penolakan, Brady dan Clay menuruti ajakan Vika. Begitu sampai di pantai, Vika meminta izin ke Brady dan Clay untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian renang, membiarkan mereka menunggu di tepi pantai.


Begitu sampai di tepian pantai, kedua bola mata Clay dan Brady membulat sempurna saat melihat banyak pengunjung memakai bikini.


“Ya allah, mataku telah ternodai!” celetuk Brady menutup kedua matanya.


“Kalau tahu seperti ini jadinya, lebih baik aku tidak mengiyakan ajakan wanita tua itu!” tambah Clay ikut memejamkan kedua matanya.


Sikap Brady dan Clay menjadi pusat perhatian pengunjung.


“Hai, apakah kalian berdua baik-baik saja?” tanya pengunjung wanita memakai bikini warna kuning.


“Baik, kami hanya menunggu,” sahut Brady hendak membuka kedua matanya. Salah sasaran, sorot matanya mengarah pada dua gunung kembar tanpa penghalang tebal. “Astaghfirullah,” gumam Brady kembali menutup kedua matanya.


“Kenapa kak?” tanya Clay masih menutup kedua mata mereka.


“Ada pemandangan nggak bagus,” sahut Brady berbisik.


“Kenapa di sini banyak kali pabrik susu berserakan,” gumam Clay.


“Entahlah, sebaiknya kita cari kak Vika,” ajak Brady. Clay mengangguk.


Baru hendak berbalik badan, tangan Brady di genggam oleh wanita. Membuat Brady terkejut, spontan membuka kedua matanya. Namun, harus kembali ia pejamkan karena wanita di sampingnya memakai pakaian yang sama dengan pengunjung lainnya.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2