
Sementara itu di rumah mewah milik Andreas. Fransiska turun dari mobil dengan rambut panjang acak-acakan nya setengah kering. Ia berjalan menuju teras rumah, dimana Andreas terlihat berdiri dengan kedua tangan berkacak pinggang.
“Sudah pulang Mas?” sapa Fransiska memberikan ciuman di pipi Andreas.
“Darimana saja kamu semalaman?” Tanya Andreas menahan emosinya.
Dengan santainya Fransiska menyelipkan tangannya di salah satu lengan Andreas, ia juga mengelus pundak Andreas dengan lembut.
“Tentu saja aku pergi…” ucapan Fransiska langsung di sela oleh Andreas.
“Pergi ke hotel, iya?”
Fransiska spontan terkejut, ia pun berpikir sejenak darimana Andreas bisa tahu. Apa Anissa membuntutinya?
“Jangan berbohong Siska. Saya melihat jejak kepergian kamu melalui GPS yang saya pasang di mobil kamu!” cetus Andreas sedikit meninggikan suaranya.
Fransiska mengurai pelukannya. Habislah dia, baru saja hendak membalaskan dendam, sekaligus menikmati kesenangannya sendiri. Eh, sudah ketahuan aja. Lain kali ia harus lebih waspada dan pintar-pintar agar tidak ketahuan.
“JAWAB SISKA!” bentak Andreas, akang tukang kebun, satpam dan karyawan di rumah itu terkejut mendengar suara bentakan Andreas. Namun, tidak berlaku dengan Fransiska.
“Kamu memang benar suamiku. Aku memang tidur di hotel,” sahut Fransiska tenang, ia juga bergelayut manja di lengan kekar Andreas.
“Sama siapa kamu tidur di hotel?” Tanya Andreas penuh curiga.
“Tentu saja aku tidur sendirian. Masak ia aku boking pria hidung belang,” sahut Fransiska berusaha menutupi perbuatannya.
“Bohong kamu. Katakan kamu tidur dengan siapa di luar sana?!” Tanya Andreas penuh penekanan.
Seolah tidak takut dengan pertanyaan dan perbuatannya ke bongkar, Fransiska malah mencari alasan baru dengan cara ia memarahi Andreas.
“Tega kamu ya, Mas. Bukannya kamu yang bilang jika aku bebas pergi kemanapun aku mau, asal aku tidak terlalu dekat dengan Daniel. Aku juga bebas melakukan apapun dengan uang yang kamu berikan kepadaku. Kamu harus ingat Mas, jika aku sering pergi dan tidur di luar. Semua itu karena ulah kamu, karena kamu membawa seorang wanita dan anak masuk ke istana rumah ku yang sudah 15 tahun hanya aku yang menempatinya. Apa kamu pikir aku ikhlas begitu saja setelah mendengar dan melihat kamu menikah bahkan memiliki anak sampai usianya 10 tahun!” Fransiska memberi tepuk tangan tepat di wajah Andreas. “Bagus! Apa perlu aku mengungkit dan meminta perceraian lagi. Jika memang Mas Andreas memang menginginkan hal itu, maka aku akan…”
__ADS_1
Mendengar ancaman Fransiska, Andreas terdiam, ia langsung memeluk tubuh mungil Fransiska.
“Jangan, maafkan saya sudah menaruh curiga kepada kamu,” maaf Andreas terpaksa. Lain dengan hatinya, Andreas malah menghina Fransiska habis-habisan di dalam hati, ‘Ck, Fransiska sekarang mulai berani mengancam ku. Mana ancamannya adalah kelemahanku. Baiklah, daripada saya di ancam hingga membuat jantung ini ingin lepas. Lebih baik percaya saja, lagian Fransiska juga tidak tahu bagaimana caranya menggoda pria apa lagi bermain di atas ranjang dengan gaya baru.’
Saat Andreas dan Fransiska masih berpelukan di teras rumah, Vika ternyata diam-diam mengintip dari pintu. Dahinya mengerut, hatinya benar-benar marah saat ini melihat Fransiska memeluk Papanya. Hasutan Anissa malam itu kini mulai tertanam dalam pikiran polos Vika. Ia pun mulai berpikir jika Fransiska benar-benar seorang wanita yang ingin merebut Papanya dari dirinya dan Mamanya.
Tidak tahan melihat Fransiska dan Andreas berpelukan serta memberikan ciuman di dahi. Vika segera meninggalkan pintu, ia berlari menuju kamarnya, melewati Anissa duduk di ruang tamu.
“Kenapa dengan Vika?” gumam Anissa meletakkan majalah di atas meja.
Penasaran kenapa Vika seperti itu, Anissa melangkah menuju teras rumah. Baru saja ia keluar pintu, kedua kakinya kini sudah ia tarik masuk kembali ke rumah. Segaris senyum kemenangan tercetak di wajahnya.
Berhasil, berhasil. Akhirnya Vika mulai percaya dengan ucapannya.
Belum puas melihat putrinya kecewa, Anissa melangkah menuju kamar Vika. Setelah mengetuk pintu, dan di persilahkan masuk oleh Vika. Anissa mendudukkan dirinya di tepi ranjang, mengelus punggung Vika dan berkata,
“Kamu pasti kecewa setelah melihat kejadian tadi?” Tanya Anissa dengan suara lirih.
“Sangat kecewa Ma,” sahut Vika dengan derai air mata.
“Tidak, tante Siska jahat. Tega, Papa juga tega melakukan hal itu di belakang kita. Vika sebagai anaknya tidak terima, Ma!” cetus Vika ingin rasanya melakukan sesuatu untuk Fransiska.
“Nah, kalau seperti ini ceritanya. Gimana kalau kita memulai rencana kita,” usul Anissa mengingat rencana sudah ia bisikan kepada Vika kemarin malam.
“Baik, Vika akan melakukan yang terbaik. Semua ini demi Mama dan Papa, Vika juga hanya ingin menjadi anak satu-satunya Papa,” ucap Vika sambil mengepal tangannya.
“Bagus. Kamu tahu ‘kan apa yang harus kamu lakukan?” Tanya Anissa dengan segaris senyum jahat mulai terpancar di wajahnya.
“Tahu, seperti yang Mama katakan. Vika harus berpura-pura baik kepada tante Siska untuk mengetahui apa saja yang akan tante Siska lakukan, lalu melaporkannya kepada Mama,” sahut Vika dengan polosnya mengingat ucapan Anissa.
“Anak Mama memang pintar,” puji Anissa dengan belaian lembut di puncak kepala putrinya itu.
__ADS_1
“Tapi Ma, kenapa kita tidak langsung usir saja tante Siska dari rumah Papa?” Vika balik bertanya saat mengingat jika Fransiska hanya numpang di rumah Andreas karena tidak memiliki rumah atau saudara. Itulah ucapan Anissa kepada Vika.
Wah, wah, luar biasa. Bukannya hanya berhasil masuk dan merusak rumah tangga Fransiska. Tapi, Anissa juga sangat ahli memanipulasi.
Sementara itu di kamar Fransiska dan Andreas.
Fransiska terlihat sedang duduk di tepi bathub, jari-jari lentiknya membuat gelombang kecil di dalam air rendaman milik Andreas. Sementara Andreas hanya tersenyum, menatap wajah cantik Fransiska tak pernah tua seperti wajah Anissa.
“Saya perhatikan setelah pulang dari rumah sakit wajah kamu lebih fresh. Apa kamu benar-benar menikmati uang yang saya berikan sekarang?” Tanya Andreas penasaran dengan kesenangan di raut wajah istrinya itu.
“Tentu saja. Sekarang aku menyadari, tidak ada hal yang lebih menyenangkan ketika mendapatkan uang pemberian suami,” sahut Fransiska berbohong. Padahal ia senang karena tadi baru saja mendapatkan pesan wa dari Daniel.
“Nah, gitu dong. Jadi saya tidak perlu capek-capek untuk melayani kamu di atas ranjang. Apa kamu sudah membeli alat itu? Jika belum maka biar saya pesankan agar kamu tidak merasa kesepian dan milikmu bisa merasakan kepuasan,” ucap Andreas kembali membuat Fransiska tersinggung.
Apa? Alat? Emang manusia hanya bisa melampiaskan hasratnya bermain dengan sebuah benda? Ha ha ha ha, lucu sekali. Jika ada barang asli, kenapa harus barang karet.
“Tidak usah Mas. Masa iya kamu tega membiarkan milikku bermain dengan sebuah barang. Yakin Mas nggak mau melakukan hal itu kepadaku? Apa Mas tidak menginginkan lidah ini bermain di sana?” goda Fransiska terpaksa.
“Kamu ini bisa juga merayu. Apa kamu sangat menginginkannya. Jika ingin, mari masuk ke dalam bak. Saya akan memberikan hal itu kepada kamu,” tawar Andreas seolah ia merasa ingin melakukannya.
“Hehe, aku hanya bercanda Mas. Bukannya Mas sedang lelah?”
“Kalau bermain selama 10 menit saja saya tidak akan lelah,” sahut Andreas cepat karena dirinya saat ini benar-benar membutuhkan saluran khusus untuk menumpahkan miliknya.
“Baiklah, aku masuk nih.”
Fransiska pun masuk setelah ia melepaskan semua pakaian miliknya. 2 gunung kembar tak pernah terjamah itu menjadi pusat perhatian Andreas.
Semenjak aliran hasratnya berada di rumah ini, dan entah kenapa Andreas tak tertarik lagi ke Anissa setelah mereka menikah. Baru kali ini juga Andreas benar-benar merasakan hasratnya memuncak saat melihat kemolekan tubuh Fransiska, istrinya. Andreas juga baru tersadar, jika milik Fransiska jauh lebih bagus dari milik wanita di luar sana.
.
__ADS_1
.
Bersambung