RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
S2. 03. Papa sedang sibuk di kamar


__ADS_3

Selesai berbincang hangat dengan Fransiska dan Daniel, James dan Vika kembali ke apartemen milik mereka.


Di dalam ruang tv apartemen milik mereka. James dan Vika duduk sejenak untuk sekedar berbincang.


“Pa,” panggil Vika.


“Iya, ada apa?” tanya James sembari meletakkan ponsel miliknya di atas meja.


“Aku sudah mendengar semuanya tentang kejadian Mama yang telah meninggal dunia. Kenapa Papa tidak memberitahu aku saat itu?” ucap Vika ingin mendengar langsung dari bibir James.


James terkejut. Cepat-cepat ia memberi jawaban untuk putrinya.


“Maafkan Papa. Semua itu Papa lakukan untuk membuat kamu tetap fokus dalam pelajaran. Lagian, sekarang almarhum Mama kamu telah tenang di sisi sang pencipta. Tidak merasakan sakit lagi seperti waktu di rawat di rumah sakit,” sahut James, tangannya mengelus rambut bagian belakang Vika. “Besok pagi, kalau kamu ingin melihat makan Mama kamu, dan bekas mantan Papa bohongan kamu. Papa akan membawa kamu ke TPU,” tambah James menawarkan.


“Serius, Pa?” tanya Vika seolah tak percaya.


“Iya! Sekarang kamu tidur, beristirahatlah di dalam kamar karena Papa masih ada pekerjaan yang harus Papa selesaikan,” sahut James.


“Oh ya Pa. Hem…lamar Ezra, Brady dan Clay untukku dong! Walaupun aku nanti sudah tua, aku tetap setia menunggu mereka sampai besar,” celetuk Vika mengejutkan James.


“VIKA!” panggil James sembari hendak memberi pelarajan ringan ke Vika. Namun, Vika lebih dulu lari menuju kamarnya sembari berkata.


“AKU SERIUS PA! MEREKA SANGAT IMUT DAN AKU INGIN MEMILIKI MEREKA BERTIGA!” teriak Vika berlari masuk ke dalam kamarnya.


Tidak bisa berkutik, James hanya bisa menghepaskan tubuhnya di sandaran sofa sembari memijat pelipisnya terlihat tegang, pusing melihat sikap aneh putri semata wayangnya.


“Kelakuan siapa yang di tiru oleh Vika,” gumam James.


.


.


Sementara itu di kamar ketiga putra Fransiska dan Daniel.


Fransiska duduk di kursi menghadap ranjang bertingkat 2 dan satu ranjang berukuran 4x4 meter.


Ezra merebahkan tubuhnya di ranjang bagian tingkat 2, Brady duduk di ranjang lantai 1 nya, sedangkan Clay duduk di ranjang tunggal. Mereka bertiga menatap Fransiska duduk menghadap ranjang mereka.


Penasaran dengan percakapan Vika dan Fransiska tadi. Brady mulai bertanya.


“Mami, apakah benar Mama kandung Kak Vika telah lama meninggal dunia?” tanya Brady takut-takut.


“Apa kalian bertiga tadi menguping pembicaraan Mami?” Fransiska balik bertanya ingin memastikan.


“Iya! Maaf Mi. Maafkan, Clay juga Mi!” sahut ketiga putranya serentak meminta maaf dengan wajah tulus, meski terlihat datar dan dingin.

__ADS_1


“Benar. Kak Vika dari kecil tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibu kandungnya seperti Mami menyayangi kalian bertiga. Jadi, Mami minta kalian bertiga harus menyayangi Kak Vika dan lindungi dirinya dari orang-orang yang ingin berbuat jahat kepadanya,” sahut Fransiska sekaligus memberitahu.


“Baik, Mi!” sahut ketiga putranya serentak.


Fransiska beranjak dari duduknya, mendekati ranjang Brady, naik sedikit ke ranjang Ezra dan terakhir ke Clay. Memberikan ciuman selamat malam kepada ketiga putranya, kemudian mengganti lampu terang menjadi lampu tidur.


Sesampainya di dalam kamar. Fransiska merebahkan tubuhnya di samping Daniel.


“Apa anak-anak sudah tidur?” tanya Daniel meletakkan ponsel miliknya di atas meja lampu.


“Sudah,” sahut Fransiska terdengar tidak semangat.


“Kamu kenapa tidak semangat seperti itu? Apa kamu sakit, atau…”


“Aku hanya memikirkan Vika. Pasti hati anak itu saat ini sedang terluka setelah mendengar kabar jika Anissa ternyata telah lama meninggal dunia,” sela Fransiska lirih.


“Mau gimana lagi. Kalau keputusan menyakitkan itu membuat Vika akhirnya berhasil mencapai cita-citanya, maka keputusan James adalah yang paling tepat. Berduka, dan kecewa itu sudah pasti akan terjadi. Tapi, kamu tahu gimana karakter Vika, bukan. Anak itu adalah anak yang kuat dan pemaaf. Aku sangat yakin jika Vika bisa menerima semua kenyataan yang ada,” ucap Daniel mencoba menenangkan Fransiska.


“Kamu benar juga. Aku yakin Vika akan baik-baik saja saat ini,” hela Fransiska tedengar sedikit lega.


“Hem…anak-anak sudah besar. Apa kamu tidak ingin menambah 1 anak lagi. Mana tahu kita mendapatkan anak cewek,” rayu Daniel dengan alasan menginginkan seorang anak.


“Alah! Bilang aja kalau kamu mau minta jatah, yakan?”


“Ssst! Jangan kuat-kuat, entar anak-anak mendengarnya. Jadi, kamu mau nih kita main kuda-kudaan sampai encok?” bisik Daniel.


“Keduanya aja. Pintu kamar sudah di kunci, kan?”


“Sudah dong!”


“Kalau gitu mari kita mulai!”


Setelah mendapatkan bujukan maut. Daniel dan Fransiska akhirnya melakukan hubungan suami-istri mereka.


.


.


Keesokan paginya, pukul 06:40 pagi.


Di ruang makan dengan beberapa piring terisi nasi goreng seaffod telah tersaji di meja. Tak lupa nasi goreng seafood untuk tambahan tersaji di mangku kaca.


Ezra, Brady, dan Clay sudah turun dengan memakai baju seragam sekolah dasar mereka, dan duduk di kursi mereka masing-masing.


“Mami, Papa mana?” tanya Brady tak melihat Daniel ada di kursinya.

__ADS_1


Sejenak bibir Fransiska menggaris senyum penuh arti, kemudian ia menjawab pertanyaan Brady.


“Oh, Papa masih bersiap di kamar. Kata Papa, kita makan duluan saja,” sahut Fransiska berbohong.


Sebenarnya, Daniel sedang memijat ringan pinggul dan punggungnya encok karena ulah dia sendiri tadi malam. Semakin tua, Daniel semakin bernafsu sehingga melupakan batas gerak untuk usia belia seperti Daniel.


“Clay lihat dulu ke atas, ya?” pamit Clay hendak beranjak dari duduknya. Namun, di tahan oleh Fransiska.


“Eh, nggak usah. Papa sedang sibuk sayang. Sekarang kamu makan dulu, ya!”


“Baiklah, Mi,” sahut Clay kembali ke kursinya.


Di tengah-tengah nikmatnya santap sarapan pagi mereka. Terdengar suara langkah sandal dan suara Vika memasuki ruang makan.


“Assalamualaikum. Pagi, adik-adikku yang tampan!” sapa Vika memberikan ciuman di masing-masing pipi Ezra, Brady, dan Clay.


“Ah! Kami mau pergi sekolah, tapi kenapa Kakak mencium kami? Lipstiknya bisa menempel di pipi tahu!” keluh Clay dan Ezra bersamaan. Lain dengan Brady, ia mengambil tisu basah dan membersihkan wajahnya.


“Biar orang tahu, kalau kalian bertiga itu milik Kak Vi-ka!” sahut Vika mengucapkan namanya dengan satu-satu.


“Haih!” dengus Ezra, Brady, dan Clay tak bisa berkata apa pun lagi.


Fransiska hanya menggeleng dengan tawa kecil di bibirnya.


“Kamu sama siapa ke sini?” tanya Fransiska melihat ke pintu ruang makan. Namun tak melihat James bersama Vika.


“Sama Papa James. Tapi, Papa James langsung ke kamar Om Daniel karena di suruh langsung ke kamarnya saja,” sahut Vika jujur.


“Apa Papa sakit, Mi?” tanya Clay kuatir.


“Tidak sayang,” sahut Fransiska.


“Yang sakit itu hati Kakak. Pagi-pagi harus melihat calon suami yang cakep-cakep memakai seragam sekolah dasar. Aduuh! Hati ini benar-benar meleleh,” sambung Vika dengan gaya lebai nya.


Jijik mendengar ucapan lebay Vika. Ezra, Brady, dan Clay menyudahi santap makan mereka. Mendekati Fransiska untuk menyalami, kemudian berpamitan pergi ke sekolah.


“Eh, eh! Jangan pergi sama Pak supir. Biar calon istri saja yang mengantarkan kalian bertiga!” desak Vika menghadang jalan mereka.


“TIDAK!” teriak Ezra, Brady, dan Clay sembari berlari keluar.


“TUNGGU!” Vika ikutan berteriak dan mengejar sampai ke teras rumah.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2