RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
S2. 05. Sebaiknya Kita Harus Kembali


__ADS_3

Malam harinya.


Selesai makan malam, Daniel mengajak James menuju ruangan pribadi miliknya untuk membahas tentang kartu nama tadi pagi di dapat oleh Vika dari pria misterius.


Di dalam ruangan Daniel telah duduk berhadapan dengan James.


“Katakan siapa pemilik sebenarnya?” tanya James penasaran.


“Pemilik dari perusahaan tersebut adalah almarhum Andreas. Aku kurang tahu kenapa dia membuat Perusahaan dengan nama PT berbeda dan nama pemilik berbeda,” sahut Daniel memberitahu dengan santai.


“Lalu, apa hubungannya dengan Vika dan kartu nama itu?” tanya James semakin penasaran.


“Untuk merusak citra nama orang yang telah tiada,” sahut Daniel singkat.


“Dunia ini sungguh kejam. Demi merusak citra orang lain, orang tersebut rela mengorbankan orang lain demi rencana jahatnya,” gumam James.


Daniel mengangguk, menyeruput kopi hangat, lalu kembali menatap James.


“Aku sarankan sebaiknya kalian kembali saja,” ucap Daniel ambigu.


“Loh, kenapa? Apa kau tidak senang aku sering-sering datang ke rumahmu?” tanya James penasaran.


“Bukan itu masalahnya. Aku hanya tidak ingin Vika terus menerus menggoda ketiga putra kecilku!” sahut Daniel sembari memijat pelipisnya terasa tegang.


Bukannya tersinggung mendengar kejujuran Daniel. James malah tertawa kuat sambil memukul-mukul sebelah bahu Daniel.


“Lucu! Aku tidak menyangka jika kamu memasukkan ucapan Vika ke dalam hati dan pikiran. Vika itu hanya gadis remaja yang baru puber, baru kali ini juga Vika bersikap genit kepada seorang pria. Dan aku sangat yakin jika sikap Vika itu hanya gurauan semata,” cetus James membela Vika.


“Terserah kau saja lah!” hela Daniel sambil menghempaskan tubuhnya ke sandaran sofa.


“Karena kita sudah sama-sama tua, gimana anak-anak kita jodohkan saja. Biar mereka saling menjaga sejak—” ucapan James terhenti karena Daniel langsung menjitak kepala James.


Ctak!


“Aduh! Sudah tua kenapa main jitak-jitak kepala sih!” protes James sambil mengelus puncak kepalanya.


“Papa sama anak sama saja. KETIGA PUTRA KU MASIH KECIL, BODOH!” omel Daniel di kalimat terakhirnya meninggikan nada suaranya.


James hanya menutup kedua telinganya dengan bibir tertawa puas.


“Eh, kalau jodoh bagaimana?” tanya James kembali.


Daniel mendengus kesal.


“Hahaha!” tawa James sambil memukul punggung Daniel. “Aku serius, aku serius!” lanjut James di sela sisa tawanya.


“Berhentilah bercanda seperti itu. Aku takut ketiga putra ku menjadi tertekan akibat kedatangan kalian berdua,” gumam Daniel menatap serius wajah James.


James tidak menjawab, ia hanya tertawa dan tertawa.

__ADS_1


.


.


Sementara itu di ruang tv.


Vika dan Fransiska duduk sejajar sambil menonton siaran tv digital anak-anak. Ezra, Brady dan Clay duduk di ambal.


“Mama, apa tidak ada siaran lain selain film kartun yang membosankan ini?” tanya Vika sedikit berbisik.


“Ezra, Brady dan Clay telah selesai mengerjakan tugas sekolahnya. Jadi, sebagai hadiah istirahat di setiap tugas mereka memang mengharuskan menuruti semua keinginan mereka bertiga. Asal hal itu positif. Dan…tidak ada satu orang pun yang bisa mengganggu gugat hal itu,” sahut Fransiska berbisik, sorot mata memandang ke tiga putranya sedang merubah posisi duduk menjadi tiduran di ambal.


“Hem, baiklah. Semua kesenangan ini demi calon suami idamanku,” hela Vika di dengar oleh Clay.


Clay menolehkan pandangannya ke atas, melihat Fransiska.


“Mami, Clay tidur duluan, ya!” pamit Clay meminta izin.


“Cium Mami dulu,” sahut Fransiska sembari merentangkan kedua tangannya.


Clay beranjak dari tidurnya, mendekati Fransiska, memeluk dan mencium kedua pipi Fransiska.


“Jangan lupa baca doa tidur ya, sayang?” pesan Fransiska.


Clay mengangguk, kedua kakinya hendak melangkah. Namun, Vika segera menarik pelan tangan Clay, memeluk dan menciumi seluruh wajah Clay.


“Vika…” panggil Fransiska lembut.


Bukannya berhenti, Vika semakin mencium Clay berulang kali sampai seluruh pipi Clay memerah karena menahan amarah.


Takut akan terkena kejahilan Vika, Ezra dan Brady pelan-pelan bangkit dari tidurnya, memberi ciuman selamat malam kepada Fransiska, lalu berlari pergi meninggalkan ruang tamu dan Clay masih dalam pelukan Vika.


Puas sudah mencium Clay. Vika melepaskan Clay, tak lupa mengacak puncak kepala Clay.


“Selamat malam calon suamiku!” ucap Vika dengan senyuman puasnya.


Clay tidak membalas ucapan Vika, ia mendengus kesal, melangkah pergi menuju kamar mereka sembari mengusap-usap seluruh wajahnya.


Sesampainya di dalam kamar.


Ezra, dan Brady duduk di atas ranjang mereka sambil menunggu Clay datang.


Blam!


Begitu masuk ke dalam kamar Clay menutup pintu kamar dengan kuat. Melangkah dengan raut wajah dingin naik ke ranjangnya.


“Dek, apakah Kak Vika telah menyiksamu terlalu banyak?” tanya Ezra penasaran.


“Clay sangat-sangat membenci Kak Vika!” sahut Clay sambil menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Brady naik ke tangga ranjang, berdiri di anak tangga, menatap Clay terbungkus selimut.


“Yang sabar ya, dek!” tambah Brady sambil membelai puncak kepala Clay dari selimut menutupi kepalanya.


“Sebaiknya kita tidur dan jangan membahasnya lagi,” ucap Clay semakin menarik selimutnya sampai tidak terlihat ujung rambutnya.


.


.


Sementara itu di ruang tamu.


James dan Daniel telah keluar dari markas mereka, menuju ruang tamu. James menghentikan langkahnya di samping sofa Vika. Daniel mendudukkan dirinya di sofa single sisi kanan Fransiska.


“Sudah malam, kita pulang yuk!” ajak James kepada Vika.


“Kenapa kita tidak tidur di sini saja, Pa?” tanya Vika menatap James.


“Semua barang-barang kita, kan ada di apartemen. Lagian, Papa masih ada pekerjaan yang harus segera di selesaikan sebelum besok malam,” sahut James.


“Hem, padahal niat hati datang ke tanah air ingin menghabiskan waktu untuk bertemu calon suami. Tapi, malah kesehariannya sibuk bekerja dan bekerja,” hela Vika sambil beranjak dari duduknya.


Setelah memberikan ciuman selamat malam dan berpamitan kepada Daniel dan Fransiska. Vika melangkah diikuti Fransiska dan Daniel mengantarkan sampai di teras rumah, kemudian mereka masuk ke dalam.


.


.


Di dalam mobil.


“Vika, sepertinya kita besok harus segera pulang,” ucap James tiba-tiba.


“Loh, kenapa harus pulang?” tanya Vika penasaran.


James mengambil ponsel miliknya, menunjuk sebuah e-mail berserta sebuah foto dari rekaman cctv kepada Vika.


“Kamu baca dan lihat sendiri,” ucap James serius, pandangannya masih fokus ke jalan.


Vika membaca isi e-mail dan melihat rekaman cctv. 10 menit melihat raut wajah Vika berubah drastis menjadi suram.


“Berarti mereka dalang di balik ini semua. Benar-benar karyawan tak tahu diri, bisa-bisanya mereka melakukan semua ini di belakang kita, Pa!” gumam Vika menggeram.


“Papa awalnya sudah mulai curiga. Tapi, untuk mendapatkan sebuah bukti cukup sulit di dapat. Mereka sepertinya bermain dengan salah satu hacker dan it di sana,” cetus James serius, pandangan masih fokus ke jalan.


“Kalau gitu kita harus segera pulang. Harus memberikan pelajaran kepada mereka semua!”


“Iya!” angguk James.


.

__ADS_1


__ADS_2