RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
BAB 16. Keimanan Setipis Tisu


__ADS_3

Rasa gelisah serta nafsu tersendat tidak pernah Fransiska rasanya membuat perut bagian bawahnya berputar-putar hebat. Jari-jemari lentik tak pernah menyentuh batang keras itu perlahan menyusup masuk ke dalam penutupnya.


“Hentikan Siska!” ucap Daniel membuyarkan pikiran dan menghentikan perbuatan Fransiska.


“Kenapa?” Tanya Fransiska dengan santainya, ia pun menatap wajah Daniel terlihat memerah seperti sedang menahan hasrat.


“Karena Fransiska yang aku kenal dulu tidak seperti ini. Ia lebih pendiam, lembut dan hangat,” meletakkan punggung tangan ke dahi Fransiska, “Aku rasa kamu masih dalam keadaan sakit sehingga kamu berpikir untuk melakukan hal gila ini kepadaku,” lanjut Daniel mengingat Fransiska baru saja keluar dari rumah sakit.


Fransiska turun dari pangkuan Daniel, ia duduk di sofa kosong sebelah Daniel.


“Tidak,” sahut Fransiska singkat.


“Lalu kenapa kamu ingin melakukan hal itu kembali padaku?” Tanya Daniel penasaran.


“Aku hanya ingin membahagiakan diriku sendiri. Memang perbuatanku ini salah dan… sudah pasti di larang oleh agama. Tapi, apakah aku bersalah jika aku ingin membahagiakan batin untuk diriku sendiri?” sahut Fransiska santai, ia pun menatap lekat nanar bola mata Daniel saat ini sedang memandangnya.


“Kenapa kamu tidak pisah saja agar hidupmu bisa bahagia?” usul Daniel.


“Begini ya, Daniel. Sejujurnya aku memang sangat ingin berpisah dengan Mas Andreas. Cuman…setelah aku pikir-pikir, aku timang-timang dan aku renungkan selama semalaman. Kok kayaknya aku bodoh banget melepaskan harta dan kekayaan itu hanya karena ingin mengalah dengan seorang wanita yang baru saja datang dan mengaku jika putrinya itu adalah anak dari hasil hubungan mereka berdua,” cetus Fransiska tak lupa tertawa kecil memeriahkan luapan emosinya.


“Jangan bilang kalau kamu benar-benar ingin menjadikan ku sebagai pelampiasan hasratmu?” Daniel bertanya dengan ragu, meski Fransiska mengatakan ‘Iya’, Daniel tetap saja mencintainya. Cinta Daniel untuk Fransiska sudah mentok, sudah tidak bisa di ganggu gugat, karena Fransiska adalah cinta pertama dan terakhirnya.


“Tentu saja tidak. Aku sudah nyaman dengan kamu, Daniel. Aku ingin tetap melakukan hubungan terlarang ini sampai kita bisa bersama,” sahut Fransiska penuh keyakinan.


“Kalau aku boleh tahu, kenapa kamu bisa mengambil kesimpulan jika anak yang di bawa wanita itu bukanlah anak dari hasil hubungan suami kamu dan wanita itu?” Tanya Daniel pura-pura, meski ia sangat tahu siapa Vika dan siapa Ayah biologisnya.


Fransiska terkekeh, lalu ia menatap lekat nanar mata Daniel.


“Hahaha, aku hanya ingin menebak saja. Karena menurutku, sikap dan karekter yang di miliki Vika tidak ada pada wanita itu dan Mas Andreas,” cetus Fransiska asal bunyi hanya karena melihat dari luar.


“Haih, aku pikir!” hela Daniel.


“Jadi gimana dengan hubungan kita?” Fransiska kembali bertanya karena sesungguhnya sisa nafsu masih berputar di kepalanya.

__ADS_1


“Oh, jangan bilang kamu ngotot seperti ini karena ingin balas dendam kepada suami kamu?” Daniel bertanya dengan mengambil kesimpulan saat melihat wajah Fransiska terlihat begitu ngotot.


“50% saja, selebihnya aku menyukai kamu,” bisik Fransiska, Daniel kembali meremang.


“Siska, aku bilang hentikan. Jika tidak!” ucap Daniel menggantung, tubuhnya bergerak sendiri untuk menyudutkan tubuh Fransiska di sofa.


“Yuk, tanpa pengaman ya,” bisik Fransiska.


Karena batas iman Daniel hanya setipis tisu, Daniel pun akhirnya menyerah untuk tidak tergerak mendengar rayuan dan bujukan Fransiska.


Daniel mencium Fransiska dengan penuh hasrat, lidah itu menyeruak masuk, menjelajah dalam mulut Fransiska, begitu pun dengan Fransiska. Pergulatan sengit pun terjadi.


2 insan terlarang itu terus menyatukan diri mereka. Berbagai macam gaya mereka buat sampai mendapatkan puncaknya. Tak lupa, semburan hangat itu di tebar di atas pusat.


Tuntas sudah perbuatan itu mereka laksanakan. Kini 2 insan itu membaringkan tubuh polosnya di atas ranjang dengan sisa nafas dan tenaga yang tersisa.


“Puas?” Tanya Daniel dengan nafas terengah-engah, keringat jagung masih perlahan turun dari wajah dan bagian tubuh lainnya.


“Aku ingin melakukannya sekali lagi sebelum kita kembali pulang. Tapi jangan di ranjang, berikan aku kepuasan batin itu di tempat lain, karena aku menginginkan sensasi yang tak pernah aku dapatkan dari suamiku,” pinta Fransiska menginginkan ronde ke sekian kalinya.


“Itu yang aku mau. Aku juga menginginkan kedua kaki ini bergetar hingga tak sanggup be diri,” sahut Fransiska yakin.


Tanpa pikir panjang, Daniel menggendong Fransiska, mengajaknya menempel seperti cicak dengan sebelah kaki terangkat. Ya, demi permintaan sang pujaan hati, Daniel rela melakukan apa saja.


Bukan itu saja, meski saat ini Daniel sedang melaksanakan permintaan Fransiska, pikiran Daniel tertuju pada Anissa. Ia sedang menyusun rencana untuk membantu Fransiska membuka kedok siapa Anissa sebenarnya. Bukan itu saja, Daniel juga menginginkan Fransiska berpisah dengan Andreas dan segera melamarnya karena Daniel benar-benar tak ingin berpisah kembali dengan Fransiska.


Berharap bisa pulang subuh, Fransiska dan Daniel malah ke tiduran di kamar hotel. Semua itu pasti karena rasa lelah telah menguras tenaga dari menenangkan pikiran.


Fransiska terbangun saat mendengar dering ponsel miliknya begitu nyaring sedari tadi terdengar.


“Mas Andreas!” gumam Fransiska menatap sang pemanggil telepon.


Fransiska tak langsung menjawab, ia melirik ke Daniel masih tertidur lelap. Tidak ingin mengganggu tidur nyenyak Daniel, Fransiska buru-buru mematikan ponselnya. Fransiska turun ranjang, ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, meski kedua kakinya benar-benar lemah.

__ADS_1


Selesai sudah ia membersihkan tubuhnya, melihat Daniel masih tertidur lelap, Fransiska mendekati ranjang, tak lupa kecupan manis di dahi Daniel sebelum ia pergi meninggalkan kamar hotel.


Saat pintu kamar hotel tertutup, Daniel membuka matanya, memandang lurus ke pintu hotel.


“Aku masih belum paham maksud dari tujuanmu. Tapi yang jelas, aku akan membantumu untuk membalaskan dendam kepada suamimu dan Anissa,” gumam Daniel serius.


Daniel bangkit dari tidurnya, ia duduk di tepian ranjang dengan sebagian tubuh polosnya tertutup selimut. Tangannya mengambil ponsel miliknya berada di atas meja, menekan nomor tidak di kenal.


📲 [“Hai, ada apa bro?”] Tanya seorang pria dari sebrang sana.


📲 [“Aku hanya ingin memastikan apakah kamu baik-baik saja di sana. Bagaimana dengan bisnismu James?”] balas Daniel balik bertanya kepada pria bernama James.


📲 [“Oh, tentu saja. Sekarang bisnis ku berkembang pesat. Bahkan aku juga sudah melakukan kontrak kerja sama dengan konglomerat ternama itu. Siapa namanya ya….mmmm…itu, itu..A..A…duh siapa, ya?”] sahut James lupa nama konglomerat itu.


📲 [“Andreas”] jelas Daniel.


📲 [“Nah, kamu memang hebat bro.”] puji James.


📲 [“Apa kamu ingat dengan seorang wanita bernama Anissa?”] Tanya Daniel. James terdiam.


📲 [“That demon woman? Kenapa lagi dengan dirinya?”] Tanya James, suaranya berubah menjadi dingin dan datar.


📲 [“Bolehkah aku memberikan ia pelajaran yang harus ia simpan di pikiran dan kenangannya untuk di masa depan?”] Tanya Daniel seperti meminta izin.


📲 [“Hey, hey bro! What is this. Try telling me the truth.”]


Daniel pun mulai menceritakan semuanya kepada James.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2