RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
BAB 11. Diam-Diam Mengikuti


__ADS_3

Malam harinya, pukul 19: 30. Andreas sudah pulang dari menemani Anissa dan Vika pulang berbelanja untuk kerpeluan sekolah Vika. Penasaran dengan aktivitas Fransiska seharian di rumah setelah peraturan baru yang di buatnya. Andreas menuju ruang cctv, memantau kegiatan Fransiska satu hari ini di rumah.


“Mari kita lihat kegiatan apa saja yang sudah di lakukan oleh boneka saya,” gumam Andreas mulai menekan video rekaman cctv mulai dari pagi, siang hingga sore.


Luar biasa, permintaan Fransiska untuk menghapus semua jejak Daniel benar-benar di lakukan oleh para asisten rumahnya. Semua itu semata-mata karena Fransiska adalah sosok nona rumah terkenal baik dan tidak pernah membedakan para asistennya, tidak seperti Anissa. Baru beberapa menjadi istri kedua Andreas, gayanya sudah sombong, suka memerintah tanpa berpikir terlebih dahulu.


Puas dengan hasil rekaman cctv, Andreas beranjak keluar dari ruang cctv menuju kamarnya, dimana sudah pasti ada Fransiska telah menunggunya di sana.


Pintu kamar terbuka, terlihat Fransiska duduk di kepala ranjang, membaca sebuah novel. Baju pun sudah berganti menjadi baju piyama tipis.


“Sayangku,” panggil Andreas sembari menutup pintu kamar.


Fransiska hanya melirik sekilas, lalu ia kembali sibuk dengan buku novel di tangannya.


Tidak senang karena tidak mendapat jawaban dari Fransiska, Andreas segera melangkah lebar mendekati ranjang, tangannya segera menarik novel dari tangan Fransiska, lalu membuangnya ke lantai.


Seolah hatinya sudah mati saat berhadapan dengan suaminya, Fransiska hanya diam, bibirnya terkunci rapat seperti sulit untuk membukanya.


Fransiska turun ranjang, mengambil buku novel barunya tanpa menghiraukan Andreas. Siapa sangka, perbuatan Fransiska sangat-sangat membuat Andreas murka, ia menarik lengan Fransiska, menjatuhkan tubuh mungil itu di atas ranjang.


“SUAMI KAMU PULANG. APA KAMU BUTA DAN BISU? MANA SAMBUTAN HANGAT UNTUK SAYA, SISKA?!” teriak Andreas sembari menindih tubuh Fransiska, nanar bola mata hendak lepas menatap lekat pandangan kosong dari bola mata hitam lekat Fransiska.


“Sudah pulang Mas,” sahut Fransiska dingin, mengikuti kemauan Andreas.


“Aqh!” kepalan tinju hendak mendarat ke wajah Fransiska. Namun, Andreas menggantungnya.


Seolah taktakut kepalan itu mendarat di wajah mulus dan cantiknya, Fransiska terus menatap tanpa berkedip.


“Kenapa tidak jadi memukulku?” Fransiska menarik kepalan tinju Andreas. Namun, Andreas menahan tarikan Fransiska sehingga tarik-tarikan terjadi.

__ADS_1


Plak!


Andreas menampar sebelah pipi Fransiska untuk menghentikan tarik-menarik itu.


“Ma-maafkan saya,” ucap Andreas gugup.


Fransiska tidak menjawab, ia mendorong bidang dada Andreas, lalu ia beranjak turun, melangkah menuju kamar mandi.


“Aku akan menyiapkan air hangat untuk kamu mandi, Mas,” hanya itu, hanya itu yang keluar dari bibir Fransiska. Ia pun berjalan dengan sebelah pipi memerah, bekas tapak tangan terlihat jelas di kulit wajah putih mulusnya.


Sesampainya di dalam kamar mandi, Fransiska berdiri di depan cermin, menatap pantulan wajahnya terlihat begitu menyedihkan. Perlahan tangan mungilnya meraba pipinya memerah, bekas tapak tangan Andreas.


Seolah sudah lupa bagaimana caranya menangis, air matanya pun menjadi kering seketika ketika mengingat begitu kasarnya Andreas sekarang padanya.


“Kenapa engkau tidak sekalian membunuhku saja Mas. Apa sebaiknya aku membunuh diriku sendiri?” gumam Fransiska, tangannya perlahan mengambil botol sabun cair dan memecahkannya ke pinggiran wastafel cuci muka.


Mendengar suara pecahan kaca dari dalam kamar mandi, Andreas buru-buru lari, masuk ke dalam kamar mandi. Bola mata Andreas membulat sempurna saat ia melihat Fransiska sudah tergeletak di atas lantai dengan tubuh bersimbah darah.


“Siska, kenapa kamu melakukan hal ini?” tanya Andreas sendiri.


Melihat Fransiska sudah tak berdaya dengan beberapa bekas luka begitu dalam, serta darah terus menetes. Andreas bergegas membawa Fransiska ke rumah sakit. Kepergian itu sempat di lihat Daniel yang berpapasan mobilnya dengan mobil Andreas.


Daniel pun segera memutar stir kemudinya dengan begitu cepat sehingga debu di jalan berterbangan, lalu ia melaju pesat mengikuti mobil milik Andreas.


“Kenapa? Kenapa tadi aku melihat ada darah di pintu tempat Fransiska duduk. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa Andreas melukai Fransiska. Tidak akan ku biarkan hal buruk mengancam kehidupan Fransiska,” gumam Daniel penuh kecemasan.


1 jam melewati jalan malam di kota medan terlihat lengang. Akhirnya mobil milik Andreas terparkir di parkiran rumah sakit diikuti mobil Daniel. Namun, Daniel tidak keluar sampai melihat Fransiska dan Andreas keluar dari dalam mobil.


Pintu mobil terbuka, terlihat Andreas menggendong tubuh lemah dan bersimbah Fransiska berlari masuk ke dalam rumah sakit.

__ADS_1


“Haaa, ke-kenapa tubuh mungil yang lemah itu bersimbah darah?” tanya Daniel sendiri, ia pun membuka seatbelt, berlari mengikuti langkah Andreas dari belakang secara diam-diam.


Melihat Fransiska di bawa masuk ke ruang perawatan, Daniel memilih untuk menunggu di balik tiang koridor rumah sakit. Cukup lama ia menunggu hingga sang dokter yang merawat Fransiska keluar dari ruangan. Daniel segera menghadang dokter itu.


“Kenapa dengan wanita yang berada di ruangan itu, dok?” tanya Daniel terlihat cemas mengingat dari kedua lengan Fransiska meneteskan banyak darah.


“Kalau boleh tahu, Anda siapanya pasien?” tanya dokter sebelum memberikan informasi tentang pasiennya kepada orang lain.


“Aku sahabatnya.”


“Pasien bernama Fransiska sepertinya mengalami tekanan batin yang begitu berat hingga menimbulkan depresi dan berujung melakukan bunuh diri,” menggelengkan kepala, “Melihat begitu banyaknya luka sayatan yang terlalu dalam di kedua lengannya. Sepertinya Fransiska benar-benar sudah tak ingin hidup. Saya berpesan kepada Anda dan pihak keluarga, hiburlah ia setelah sadar. Karena saya sangat yakin jika percobaan itu akan kembali di ulangnya,” pesan dokter.


“Baik dok,” sahut Daniel, kedua tangan mengepal erat, sorot mata ingin membunuh memandang lurus ke ruangan Fransiska.


“Saya permisi dulu,” pamit dokter.


Tak lama dokter pergi, pintu ruangan Fransiska terbuka, Andreas terlihat keluar sambil menerima panggilan telepon. Melihat kesempatan bagus untuk melihat konidisi Fransiska secara langsung. Daniel berlari cepat, masuk ke dalam ruang rawat inap Fransiska.


Daniel tertegun setelah melihat kondisi begitu mengenaskan pada pujaan hatinya itu. Kedua tangan Fransiska terlihat penuh perban, entah seberapa banyak atau seberapa dalam luka sayatan itu.


Dengan tangan gemetar menahan emosi, Daniel mengelus ubun-ubun Fransiska, tanpa terasa air matanya menetes, membasahi punggung tangan Fransiska.


“Aku janji akan membahagiakanmu. Aku tidak peduli dengan ucapan kasarmu tadi pagi. Yang jelas aku ingin terus dan menerus melihatmu dengan tawa dan senyum yang ada di wajahmu itu,” janji Daniel terlihat serius.


Belum puas ia berbicara dan melihat kondisi Fransiska, bayangan serta suara Andreas sudah berada di depan pintu ruangan. Ia buru-buru hendak pergi dari ruangan itu. Namun, tangannya tertahan oleh genggaman tangan Fransiska. Meski Fransiska belum sadarkan diri.


“Siska!” gumam Daniel terkejut, spontan ia menoleh ke ranjang Fransiska.


Perlahan pintu ruangan terlihat terbuka, Daniel masih berusaha melepaskan genggaman tangan Fransiska menjadi gugup dan bingung.

__ADS_1


__ADS_2