
1 Hari setelah kepergian Andreas ke kota S, Luar Negeri.
Di kamar apartemen, di kota S. Andreas duduk santai bersama dengan seorang wanita bergelayut manja di tubuhnya. Bukan Andreas namanya, kalau tidak melakukan perselingkuhan dengan beberapa wanita cantik, dan tentu saja bayaran untuk setiap berhubungan akan memakan uang cukup besar.
Tidak perlu memikirkan perasaan Anissa sedang berjuang seorang diri menjawab setiap pertanyaan, dan beberapa hinaan dari tetangga mereka, atas perbuatannya. Terpenting bagi Andreas saat ini adalah bagaimana jika dirinya harus tetap mendapatkan kesenangan, kepuasan tanpa memikirkan hal-hal membuat kepalanya pusing.
Drrt drrrrt!
Berulang kali ponsel di atas meja berdering, terlihat nama panggilan adalah Anissa. Terusik dengan deringan ponsel, Andreas mengambil ponsel miliknya, dan langsung saja mematikan ponselnya agar ia bisa menikmati surga dunia saat ini.
“Sayang, kenapa di matikan?” tanya salah satu wanita memakai dress hitam berkilauan dengan bagian punggung terbuka.
“Oh, asisten rumah tangga terus menelepon,” sahut Andreas berbohong.
“Aku pikir istri kamu!” sambung wanita memakai baju berwarna putih berkilauan.
“Saya baru saja bercerai dengannya. Wanita yang suka berselingkuh dan diam-diam bermain gila saat suaminya tidak ada di rumah memang pantas untuk di ceraikan. Apalagi saat ini wanita itu sedang menikmati karma atas perbuatannya,” sahut Andreas masih dalam kebohongan di buat olehnya sendiri.
“Bukannya kamu juga sering berselingkuh?” cetus wanita memakai dress hitam.
“Menurut saya, seorang pria yang sudah mapan dan memiliki uang banyak memang pantas berselingkuh. Kalian pikir saja, buat apa banting-tulang untuk mencapai puncak kemegahan. Namun, hanya ada satu wanita yang itu-itu saja yang harus menikmati hasilnya. Tidak adil ‘kan? Bagaimana dengan wanita cantik seperti kalian berdua? Apakah saya harus diam memandingi kalian dari kejauhan sedangkan hasrat di puncak kepala kian membara?” Andreas menggeleng, melanjutkan ucapannya, “Bagi saya tidak adil hanya bisa diam memandangi wanita-wanita indah seperti kalian. Begitu banyak uang di saku saya, maka saya juga harus memanfaatkan surga dunia yang sudah disediakan oleh Sang Pencipta untuk saya!”
“Kami dengar mantan istri kamu itu sangat cantik. Bahkan banyak pengusaha rela melebihkan uang mereka dalam berinvestasi atau melakukan kontrak kerjasama dengan kamu agar bisa melihat mantan istri kamu!” ucap wanita memakai dress berwarna putih.
“Cantik sih cantik. Tapi, semua kecantikan itu telah hilang menjadi sebuah cacat yang sulit untuk di sembuhkan. Ck, kecantikan wanita itu ternyata hanya bersifat sementara. Susah payah saya menjaga semuanya agar body, serta mesin dalam tubuhnya tidak turun dan tetap kencang seperti awal saya menikahi dengannya,” gerutu Andreas sembari memijat pelipisnya terasa tegang.
“Jadi, mantan istri kamu itu sudah cacat, dan tidak bisa di pakai lagi, makanya kamu menceraikannya?” tanya wanita memakai dress berwarna hitam.
“Tentu saja. Buat apa saya mengeluarkan banyak uang hanya untuk melakukan pengobatan. Malas banget! Mending uang pengobatan itu saya buat untuk mencari wanita yang pantas menjadi istri baru saja,” sahut Andreas tenang.
Kedua wanita panggilan itu saling bersitatap muka untuk sementara, lalu mereka menatap wajah Andreas penuh harap untuk di pilih menjadi istri selanjutnya.
__ADS_1
“Bagaimana dengan kami berdua! Apakah kamu tertarik menjadikan kami istri kamu?” tanya kedua wanita itu bersamaan.
“Maaf, tentu saja bagiku kalian tidak pantas dijadikan seorang istri. Bagaimana mungkin, seorang pelacur bisa naik jabatan. Jika saya ingin mencari istri, mungkin saya akan pergi ke desa-desa untuk mencari kembang desa masih perawan dan masih sangat mulus.”
“Kasar sekali!” gerutu kedua wanita itu kesal. Namun, kekesalan kedua wanita itu hilang saat Andreas memegang secara bersamaan dagu kedua wanita itu.
“Wanita seperti kalian memang tidak pantas saya jadikan istri, karena saya akan membuat kalian menjadi wanita simpanan yang istimewa!” lanjut Andreas kembali.
“Benarkah?” tanya kedua wanita itu seolah mendapatkan angin segar.
“Tentu saja!” angguk Andreas.
“Kalau gitu kami akan melakukan servis yang akan membuat kamu tidak bisa melupakan kami berdua,” ucap kedua wanita itu serentak.
“Coba saja, kebetulan sekali saya saat ini sedang membutuhkan hal segar seperti itu!”
Tak butuh waktu lama, Andreas dan kedua wanita itu saling melecuti baju mereka, menaburnya di atas lantai. Tunggu dulu, karena faktor umur semakin tua. Andreas tidak lupa meminum obat kuat agar bisa merasa terpuaskan dalam hal bertarung nantinya.
Angin segar bercampur suhu udara sangat dingin membuat kepalan asap keluar dari bibir Andreas. Penasaran kenapa Anissa terus menelepon dirinya, Andreas menghidupkan ponsel miliknya.
Baru 5 menit ponsel di aktifkan kembali, Andreas sudah mendapatkan banyak panggilan telepon dari sekretarisnya. Pesan notifikasi, dan pesan-pesan lainnya mengenai bisnis miliknya.
“Apa-apaan ini?” gumam Andreas terkejut saat melihat grafik saham miliknya turun sebanyak 60%. Terlihat juga bahwa James telah menarik investasi miliknya sebesar 1 trilliun dari perusahaan milik Andreas.
Dengan menahan rasa amarah karena James mengambil keputusan secara sepihak, Andreas menekan nomor panggilan James. Setelah mencoba melakukan panggilan telepon sebanyak 5 kali, barulah James mengangkat panggilan telepon dari Andreas.
📲 [“Hai, hai! Kenapa tuan terhomat mengganggu aku sepagi ini?”] tanya James setelah mengangkat panggilan telepon Andreas.
📲 [“Tidak perlu berbasa-basi. Kenapa Anda tega melakukan hal ini ke Perusahaan milik saya? Apa salah saya?!”]
📲 [“Oh! Hem, begini…apakah kamu tahu tentang Vika?”] James malah mengalihkan pembicaraan ke Vika.
__ADS_1
📲 [“Iya, Vika sudah meninggal dunia. Kenapa?”] sahut Andreas ketus, sebelah tangannya terlihat mengepal menahan amarah.
📲 [“Temui aku nanti pagi, pukul 09:30, di salah satu kafe pinggir jalan dengan makanan terkenal enak di sana.”] ucap James datar. Tanpa berpamitan dan meminta izin, James langsung mematikan panggilan telepon Andreas.
“AAAAA!” teriak Andreas meluapkan kekesalannya.
Andreas membuka kontak nomor telepon milik sekretarisnya, lalu melakukan panggilan telepon.
📲 [“Kenapa ini bisa terjadi?”] tanya Andreas setelah panggilan teleponnya masuk.
📲 [“Maaf, tuan James terus ngotot ingin mengambil sebagian saham dari perusahaan milik tuan. Jika saya tidak memberikannya maka ia tidak akan segan-segan membongkar di mana tuan berada saat ini!”] sahut sekretarisnya dengan suara gemetar ketakutan.
📲 [“Bodoh! Aturan biarkan saja dia mengancam kamu seperti itu. Karena aku sangat yakin pengusaha bodoh seperti dia tidak akan bisa melakukan apapun!”] maki Andreas meninggikan nada suaranya.
📲 [“Ma-maaf, habisnya saya sangat ketakutan saat tuan James juga mengancam keluarga saya yang tidak bersalah di sini.”] ucap sekretaris itu lagi membuat Andreas semakin murka.
📲 [“Terus, apa urusannya saya dengan keluarga kamu. Jika keluarga kamu ikut dalam masalah besar karena tugasmu, bukannya itu hal yang wajar. Paling-paling keluarga kamu akan di tembak, atau meninggal karena kamu tidak mau menurutinya.”] celetuk Andreas seolah tak punya hati.
📲 [“Tuan sungguh tega!”]
📲 [“Oh, tentu saja. Ini namanya bisnis, dan seorang pebisnis itu memang wajib memberikan suatu pengorbanan dari orang lain.”] ucap Andreas dengan bangganya.
📲 [“Maaf, saya akan berhenti bekerja!”] tegas karyawannya.
📲[“Baik, silahkan pergi dari perusahaan saya. Tapi, jangan berharap kamu mendapatkan pesangon dari saya!”] ancam Andreas lalu mematikan panggilan teleponnya.
"Dasar tidak berguna!" teriak Andreas sekuat-kuatnya.
.
.
__ADS_1
Bersambung