RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
Bab 56. Maksud senyuman Andreas dan Pihak berwajib


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan 20 menit, mobil Daniel memasuki kantor pihak berwajib. Selesai memarkirkan mobilnya di parkiran mobil, Daniel bergegas masuk ke dalam kantor, ia terus melangkah menuju ruang interogasi, tempat pria misterius itu di tahan.


“Selamat datang tuan Daniel,” sambut pihak berwajib berjaga di depan pintu.


Daniel melihat sekilas pihak berwajib, lalu ia duduk di kursi kosong sebelah pihak berwajib. Sorot mata ingin membunuh terus terpancar saat ia memandang lurus ke arah pelaku, tak lain adalah Andreas, mantan suami Fransiska.


“Kenapa kamu terus memandang wajah tampan saya dengan tatapan aneh seperti itu? Apa kamu ingin membalaskan semuanya kepada saya? Kalau memang mau membalasnya, silahkan saja. Saya akan menerimanya,” celetuk Andreas membuat Daniel bertambah geram.


“Selama ada seseorang yang harus aku jaga dan aku lindungi sampai aku mati. Maka selama itu aku tidak akan pernah mengotori kedua tanganku dengan darah kotor dari manusia seperti kau!” ucap Daniel menahan amarah.


“Hahaha, basi! Lakukan saja jika kau ingin melampiaskannya. Bukannya saat ini pasti kau akan marah setelah mengetahui jika bayi di dalam kandungan Siska telah tiada. Bahkan saya rasa rahimnya juga pasti sudah rusak, bukan?” Andreas kembali menantang agar Daniel bisa memukulnya.


“Sayangnya usaha kamu sia-sia. Baru belajar main pisau sudah belagak ingin membunuh orang. Aku kasih saran sama kau, sebelum mencobanya ke orang lain, lebih baik di coba dulu ke diri sendiri. Merasa diri sudah pantas menjadi seorang pembunuh, barulah bergerak membunuh orang,” ucap Daniel mengejek, tak lupa segaris senyum tercetak di wajahnya.


Brak!


Mendengar ucapan Daniel, Andreas spontan menggebrak meja sembari berdiri dengan sorot mata tajam.


“Jangan belagu kau! Kau pikir kau bisa lari dari incaranku. Kau sudah mengambil wanitaku yang paling cantik, kau juga sudah menghamilinya. Dan kau kira, kau bisa hidup bahagia begitu saja dengannya. Tidak! Sampai kapan pun Fransiska hanya milikku, dan hanya saya yang bisa menidurinya. Bukan pria miskin seperti kamu!” celetuk Andreas merasa Fransiska masih menjadi istrinya setelah melihat betapa cantiknya saat ini.


“Oh, gitu ya? Apa kau pikir Fransiska masih milikmu? Bukankah kau sendiri yang sudah menceraikannya waktu itu. Apa sekarang kamu sedang merasa menyesal akan kehilangannya?” tanya Daniel tenang.


“Sejak kapan saya menceraikannya. Kau saja yang tidak punya hati, tetangga yang sudah berani meniduri istriku. Pria sepertimu pantas di jebloskan ke penjara!” sahut Andreas terdengar ambigu.


Daniel mengernyitkan dahinya, sorot matanya beralih ke pihak berwajib duduk di sisi kirinya.


“Kenapa dengan dia? Apakah lelaki ini sedang depresi?” tanya Daniel menyimpulkan.


“Tadi sewaktu kami bertanya semuanya baik-baik saja tuan. Tapi, kenapa jadi begini. Untuk memastikan kondisi kejiwaannya, maka saya akan membawanya melakukan pemeriksaan di rumah sakit jiwa,” sahut pihak berwajib.


“Jika hasil pemeriksaan sudah keluar, pastikan pria ini mendapatkan hukuman yang setimpal. Aku permisi dulu,” ucap Daniel memberi pesan kepada pihak berwajib. Lalu ia beranjak dari duduknya pergi meninggalkan ruang interogasi.

__ADS_1


Setelah kepergian Daniel. Andreas terlihat tersenyum dengan kepala terus mengangguk, di sambut senyuman hangat dari pihak berwajib di sana.


Sementara itu di dalam mobil Daniel kini sudah melaju meninggalkan kantor pihak berwajib. Daniel terlihat menekan nomor kontak panggilan tanpa nama.


📲 [“Ada apa ini, tuan Daniel?”] tanya pria tersebut dari sebrang.


📲 [“Aku punya tugas untukmu.”] ucap Daniel tegas.


📲 [“Sepertinya tugasnya seru.”]


📲 [“Tentu saja, aku pastikan lebih dari seru. Aku akan tunggu kamu di rumahku besok siang.”] ucap Daniel.


📲 [“Siap. Secepatnya aku akan mendarat ke tanah air demi Anda.”] sahut pria itu.


Setelah mendapatkan salam penutup dari Daniel, pria tersebut menutup panggilan teleponnya. Daniel kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit, tapi sebelum ke sana, Daniel mengganti bajunya, dan membawa beberapa perlengkapan pakaian ganti untuk Fransiska.


2 jam kemudian.


Langkah kaki Daniel terhenti di kamar perawatan VIP. Namun, dengan ruangan khusus untuk merawat bibi, Akang tukang kebun, dan 2 pelayan lainnya dijadikan satu untuk mencegah kejahatan lain terjadi.


“Bagaimana dengan keadaan bibi, dan lainnya?” tanya Daniel setelah masuk ke dalam ruangan khusus itu. Daniel juga mendudukkan dirinya di samping ranjang bibi.


“Kami semuanya baik tuan. Bagaimana dengan nona Fransiska?” sahut akang tukang kebun di angguki 2 pelayan lainnya. Sedangkan bibi hanya menundukkan kepalanya dengan raut wajah penuh penyesalan.


“Alhamudillah baik, calon bayinya juga baik. Dan ada kabar gembira untuk kalian semua!” ucap Daniel menggantung untuk membuat asisten rumahnya itu penasaran.


“Kabar baik apa itu tuan? Cepat katakan tuan!” desak akang tukang kebun, dan 2 pelayan lainnya. Sedangkan bibi masih tertunduk dengan wajah penuh penyesalan.


“Dokter tadi mengatakan jika Siska mengandung anak kembar 3!” sahut Daniel semangat.


“Alhamdulillah! Syukurlah calon bayi tuan dan nona selamat!” ucap akang tukang kebun dan 2 pelayan bersyukur.

__ADS_1


Melihat bibi dari tadi tidak mengangkat wajahnya, Daniel mulai bertanya.


“Bi, kenapa bibi dari tadi diam saja. Apa yang sebenarnya terjadi pada bibi? Apakah tubuh bibi masih terasa sakit?” tanya Daniel cemas.


Bibi menggeleng dengan tetesan air mata perlahan jatuh di atas pangkuannya. Akang tukang kebun, dan 2 pelayannya terkejut. Namun, mereka paham mengenai tangisan itu. Sebuah tangisan penyesalan dari seorang asisten rumah tangga yang tak bisa menjaga nona rumahnya.


“Bi, coba katakan padaku kenapa bibi menangis?” Daniel kembali bertanya dengan lembut.


“Maafkan bibi, maafkan bibi tidak bisa menjaga nona Siska dari lelaki itu. Maafkan bibi yang lemah ini tuan,” maaf bibi berulang kali penuh derai air mata, kedua tangan menggenggam erat tangan Daniel.


Daniel membalas genggaman tangan bibi, segaris senyum tercetak di wajah tampannya, sorot matanya pun kini tertuju pada wajah tua terlihat lelah.


“Aku sudah maafkan bibi. Bibi jangan menangis dan menyalahkan diri sendiri lagi, ya! Semua ini murni kecelakaan. Bibi, akang tukang kebun, dan lainnya juga tidak bersalah akan kejadian ini. Semua ini murni kecelakaan, dan akan aku pastikan lelaki itu mendapatkan hukuman yang setimpal,” ucap Daniel memberitahu agar bibi, akang tukang kebun, dan dua pelayan lainnya tidak cemas lagi.


“Kalau boleh tahu, pelakunya siapa tuan?” tanya akang tukang kebun penasaran.


“Mantan suami Siska,” sahut Daniel singkat.


“Loh!” ucap akang tukang kebun histeris.


“Tuan Andreas memang gila! Tidak ada habis-habisnya ia terus mengusik nona Fransiska. Tapi kali ini perbuatannya sangat gila. Untung saja nona Fransiska dan calon bayinya selamat. Kalau tidak, mungkin kami semua akan…”


“Sudah, sudah! Sebaiknya kita tidak usah membahas lelaki itu lagi. Karena aku sudah merasa lega melihat kondisi akang tukang kebun, bibi dan 2 pelayan sudah membaik. Maka aku pamit dulu, aku yakin saat ini Siska pasti sedang menungguku. Aku permisi dulu!” ucap Daniel pamit berulang kali. Lalu berjalan meninggalkan ruangan.


“Kalau kami sudah di bolehkan keluar, kami akan menyusul ke ruangan nona. Titip salam untuk nona ya, tuan!” ucap akang tukang kebun dan 2 pelayan lainnya di balas anggukan dari Daniel.


Daniel hanya memberikan jempol tangannya.


.


.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2