
Pukul 03:40 pagi dini hari.
Andreas semalam suntuk memikirkan kemana perginya Fransiska. Semua petugas khusus dengan bayaran cukup mahal sudah ia kerahkan untuk mencari dan melacak mobil di tumpangi Fransiska, namun tak kunjung ketemu.
“Kemana kamu pergi, Siska. Jika benar-benar kamu tidak menculik Vika, kenapa kamu tak kunjung pulang ke rumah. Apa sih, mau mu. Kalau saja saya tidak menjadikan kamu sebagai hoki di bisnis saya, mungkin saya tidak akan mau mempertimbangkan pernikahan ini sampai selama ini,” gumam Andreas sesekali menyugar rambut kusutnya.
Di sela kecemasan harus mencari dimana Fransiska berada, benda pipih di dalam saku celananya berdering nyaring. Buru-buru ia mengeluarkan benda pipih dari sakunya, dahi Andreas menyerngit saat melihat nomor panggilan dari pihak rumah sakit.
📞 [“Apa benar ini dengan tuan Andreas, suami dari nona Fransiska?”] tanya seorang wanita setelah Andreas mengangkat panggilan teleponnya.
📲 [“Benar, kenapa, ya?”] sahut Andreas balik bertanya.
📞 [“Kami dari rumah sakit Bahagia. Istri tuan tadi mengalami kecelakaan, keadaannya kritis dengan beberapa luka cukup dalam dan fatal.”] jelas perawat rumah sakit. Andreas tercengang dengan wajah tak percaya.
📲 [“Baik, saya akan segera ke sana.”] sahut Andreas segera mematikan sambungan telepon.
Dengan langkah besar Andreas mulai melangkah keluar rumah, detik selanjutnya melajukan mobil miliknya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit tak jauh dari rumahnya.
Tak sampai 30 menit. Mobil Andreas sudah terpakir di depan teras pintu utama rumah sakit. Kedua kakinya buru-buru melangkah masuk, dan menuju kamar perawatan Fransiska.
Langkah kaki Andreas terhenti tepat di hadapan Pak dokter dan 2 perawat.
“Di mana istri saya?” tanya Andreas, sorot matanya melirik ke ruang perawatan.
Pak dokter dan 2 perawatnya tertunduk sedih, membuat Andreas semakin bingung dan sedikit rasa cemas mulai menggerogoti pikirannya.
“Katakan bagaimana keadaan Fransiska sekarang?” tanya Andreas mencengkram kerah jas milik Pak dokter.
“Kondisi istri tuan sangat memprihatinkan. Bukan hanya patah tulang paha bagian kiri. Nona Fransiska juga mengalami patah tulang pada leher, dan pergelangan tangannya,” sahut dokter pria menjelaskan dengan tenang.
“Pa-patah? Kamu pasti bercanda ‘kan dok?”
__ADS_1
“Silahkan masuk dan lihat sendiri tuan. Saya tidak bisa menjelaskan apa pun saat ini,” ucap Pak dokter memberi saran.
Tanpa menunggu lama, Andreas masuk ke dalam perawatan milik Fransiska. Dahi Andreas mengernyit, pandangannya melihat kondisi miris Fransiska membuat tubuhnya lemas seperti tidak bertulang.
“Ti-tidak mungkin,” gumam Andreas. Pandangannya menatap lurus ke ranjang rawat inap. Terlihat di sana Fransiska terbaring lemah, 70% bagian tubuhnya di perban karena mengalami luka serius.
Tidak ingin melihat kondisi Fransiska dari depan pintu, Andreas membawa kedua kakinya melangkah mendekati ranjang perawatan Fransiska. Sepasang bola mata Andreas semakin membulat sempurna saat melihat di beberapa bagian wajah Fransiska terdapat bekas luka lebar, dan jahitan.
“Ka-kamu kenapa bisa jadi seperti ini?” tanya Andreas, tangan gemetarnya perlahan mendekati bagian pelipis di perban. Sorot mata Andreas juga beralih pada bagian leher terpasang Cervical Corral, lengan, dan kaki terpasang gips. Kedua kaki Andreas melemah, benar-benar tak percaya melihat kondisi miris Fransiska.
Lamunan Andreas terputus saat Fransiska terlihat bergerak. Buru-buru ia keluar dari ruangan rawat inap Fransiska untuk memanggil dokter.
“Dokter, dokter!” panggil Andreas dari depan pintu ruangan Fransiska.
Pak dokter terlihat berlari keluar dari ruangan bersama dengan 2 perawatnya.
“Iya, ada apa tuan?” tanya dokter setelah berdiri berhadapan dengan Andreas.
“Sa-saya melihat istri bergerak. To-tolong cekkan kondisinya sekarang juga,” sahut Andreas setengah panik.
“Ma-mas,” gumam Fransiska lemah.
“Sayang, tenanglah. Dokter akan memeriksamu,” ucap Andreas, tangannya membelai lembut puncak kepala Fransiska.
Dokter pun memeriksa kondisi Fransiska. 10 menit setelah pemeriksaan, dokter hanya menepuk sebelah bahu Andreas.
“Tenang tuan, kondisi istri Anda baik-baik saja. Kalau begitu kami pamit dulu,” pamit dokter setelah selesai memberikan keterangan mengenai keadaan Fransiska.
Setelah Pak dokter dan 2 orang perawat keluar dari dalam ruang rawat inap Fransiska. Andreas menarik kursi, dan duduk di samping ranjang. Sorot mata dan mimik wajah Andreas tiba-tiba berubah drastis menjadi datar dan dingin memandang wajah pucat Fransiska.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Andreas datar. Fransiska mendengar perubahan nada suara Andreas mulai mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
“A-aku sangat mengantuk sewaktu ingin menuju pulang ke rumah. Tanpa sadar aku sudah menabrak pembatas jalan,” sahut Fransiska menjelaskan sebagian kronologinya.
“Ck, siapa yang menyuruh kamu untuk pergi dan pulang di pagi buta, ha? Katakan padaku, habis bersenang-senang bersama siapa kamu malam itu sehingga lupa untuk pulang?” tanya Andreas mulai sinis.
“Aku pergi hanya untuk membuka perban di dahiku. Aku tidak pulang karena Mas dan Anissa menuduhku telah menculik Vika. Buat apa aku menetap di rumah kalau Mas dan Anissa selalu menuduhku atas hilangnya Vika. Bukan hanya itu, Mas juga main kekerasan seolah akulah yang bersalah, akulah pelakunya. Padahal bukan aku, Mas,” sahut Fransiska lirih dengan derai air mata.
“Kalau memang bukan kamu pelakunya, kenapa kamu harus pergi? Kenapa tidak di rumah saja!”
“Mas menyuruhku di rumah untuk mengintrograsiku? Jika aku tidak menjawab pertanyaan yang benar sesuai keinginan Mas dan Anissa, Mas akan memukuliku? Seperti memaksaku untuk mengaku jika aku pelakunya. Kenapa, kenapa Mas tidak percaya padaku? Apa gunannya kita hidup bersama selama 15 tahun, kalau Mas lebih percaya dengan ucapan orang baru,” protes Fransiska lirih.
“Kamu memang wanita yang kerasa kepala Fransiska. Tidak ada gunanya saya berbicara lagi kepadamu. Lihat, lihatlah semua luka membuat tubuh kamu jelek seperti ini. Apa kamu pikir saya akan menerimamu sebagai istriku kembali? Dan apa kamu pikir, saya akan mengeluarkan uang banyak untuk memberikan kamu sebuah perawatan yang cukup mewah. Tidak!” telapak tangannya di letakkan di puncak kepala Fransiska, “Mulai hari ini, Fransiska sudah saya talak, sudah tidak menjadi istri sah dari Andreas!”
Seeerrrr!!!
Aliran darah Fransiska terasa begitu panas mengalir bebas ke seluruh syaraf. Bola mata membulat sempurna dengan genangan cairan bening seolah tak mau tumpah dari pelupuk matanya.
Benar-benar suatu kejadian begitu sangat dramatis. Ucapan sederhana dari Daniel terlintas di pikiran Fransiska. Benar saja, ketika seluruh tubuhnya sudah tak secantik dulu, ia benar-benar di buang tanpa di beri kesempatan.
Kata talak sudah terlontar dari bibir Andreas, tangan tegap itu ia turunkan dari puncak kepala Fransiska.
“Kamu harus saya talak karena saya tidak membutuhkan wanita cacat seperti kamu. Tapi, saya minta satu hal kepadamu. Mengakulah di depan wartawan jika kecelakaan ini di akibatkan karena hukum karma dari ketidak setiannya kamu kepada saya. Kamu tenang saja, sebuah pengakuan palsu itu akan saya hargai dengan rumah mewah, mobil, dan salah satu toko kecil untuk kamu bisa merawat dirimu sendiri. Gimana, apakah kamu mau menerima tawaranku?”
Fransiska terdiam, sorot matanya masih terus memandang wajah tenang dan santai Andreas saat ini sedang menatap dirinya.
‘Benar-benar lelaki yang tak punya hati. Tega sekali kamu mencampakkan aku begitu saja. Sakit, rasanya sungguh sakit saat mendengar kalimat seperti ini. Awas saja kamu, Andreas,’ gumam Fransiska dalam hati.
“Siska, gimana soal pnawaran saya. Apakah kamu mau? Kalau kamu tidak mau, saya pastikan seluruh luka kamu akan membusuk, dan kamu akan mati secara perlahan,” ucap Andreas setengah mengancam.
Fransiska mengangguk, Andreas sangat senang melihat anggukkan Fransiska. Namun ada hal aneh, Fransiska sekilas terlihat tersenyum.
.
__ADS_1
.
Bersambung