RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
S2. 04. Kartu Nama


__ADS_3

Ezra, Brady dan Clay dengan terpaksa di antar sekolah oleh Vika. Mobil telah terparkir di depan gerbang. Dengan langkah anggun, tangan membuka kaca mata Vika sembari membuka pintu mobil depan dan belakang.


Kemolekan dan kecantikan Vika membuat semua mata memandang ke arahnya, terlebih lagi melihat wajah tampan Ezra, Brady dan Clay.


“Silahkan turun calon-calon suami..ku!” goda Vika berdiri di samping mobilnya.


Ezra, Brady, dan Clay hanya menatap sinis dan mendengus kesal ke wajah puas Vika karena telah menggoda mereka terus menerus.


Begitu turun, bukan sebuah salaman atau ciuman di kedua pipi. Ezra, Brady, dan Clay saling pandang dan berkata.


“Kami pergi dulu, kak Vika. Assallamu’alaikum!” pamit Ezra, Brady dan Clay di kalimat terakhir sambil berlari berpegangan tangan memasuki gerbang sekolah.


“Uuuh! Gemes banget sih, mereka bertiga. Benar-benar membuat aku ingin menggigit dan menciumi mereka,” gemes Vika melihat sikap lucu Ezra, Brady dan Clay saat berlari.


Tidak puas hanya melihat dari kejauhan, Vika memutuskan untuk berjalan sedikit ke depan gerbang. Menajamkan penglihatannya menatap punggung Ezra, Brady dan Clay sudah berada sangat jauh dari gerbang sekolah.


“Ekhem!” dehem seorang pria mengejutkan Vika.


“Ada apa, ya?” tanya Vika sinis, sorot mata dingin memandang seorang pria bertubuh tinggi, berkulit sawo mata, dan berkumis tebal.


“Begini, saya dari tadi sudah memperhatikan Anda. Postur tubuh, rambut serta kedua mata Anda begitu indah. Anda sepertinya cocok menjadi seorang model brand di Perusahaan kami,” ucap pria tersebut.


Tangannya mengeluarkan kertas berisi alamat Perusahaan, dan mengulurkannya ke Vika. “Jika berkenan, hubungi nomor saya. Atau Anda bisa datang langsung ke Perusahaan saya yang tertera di dalam situ,” tambah pria tersebut.


Vika tidak menjawab, ia hanya mengangguk, menerima kartu nama untuk menghargai pria tersebut.


“Gimana, apakah Anda tertarik?” tanya pria itu penasaran.


“Akan aku diskusikan kepada orang tua. Terima kasih atau penawarannya,” sahut Vika tak lupa memberikan senyuman manisnya.


“Kalau gitu saya pamit pergi,” pamit pria tersebut melangkah pergi menuju mobil mewahnya terparkir tak jauh dari mobil Vika.


Vika menatap kartu nama tersebut, meletakkannya di dashboard mobil miliknya, kemudian melajukan mobilnya menuju rumah Fransiska.


.


.


Ruang santai di belakang rumah.

__ADS_1


Daniel telah turun, duduk santai bersama James di ruang santai di belakang rumah.


“Encok?” tanya James sambil menyeruput kopi miliknya.


“Iya, keasikan jadi seperti ini,” sahut Daniel sambil memijat ringan pinggulnya.


“Haha! Makanya, sebelum bermain pakai obat dulu, biar enjos!” usul James di sela tawanya, tangannya menunjukkan jempol tangan ke arah Daniel.


“Bukannya nikmat yang aku dapat, malah obat itu mengantarkan aku ke akhirat. Nggak bagus, ah, pakai-pakai obat. Yang di makan itu jantung.”


“Iya sih. Syukurnya aku, semenjak ada Vika, aku bisa melupakan hal seperti itu. Apa lagi mengingat Anissa yang meninggal akibat terserang HIV karena melakukan **** bebas. Kalau nafsu ku meningkat, paling aku menghabiskannya dengan boneka pemuas itu. Halal tanpa terserang penyakit aku,” curhat James.


“Kau membeli boneka itu? Apa Vika tidak memarahi mu?” tanya Daniel penasaran.


“Gila, tentu saja enggak tahu lah. Kalau Vika tahu aku melakukan hal itu dengan boneka, sudah habis. Hilang tempat charger ku,” sahut James semangat.


“Kenapa nggak nikah aja sih?” tanya Daniel sengaja.


“Nggak lah! Tugasku sekarang hanya fokus untuk membesarkan Vika. Aku juga ingin menebus semua kesalahanku yang dulu-dulu untuknya. Semua cinta dan kasih sayangku sekarang hanya untuk putriku, Vika!” sahut James tegas.


“Iya, sih! Sudah setua ini sebenarnya kita hanya fokus untuk membesarkan anak-anak. Kalau masih sibuk untuk mencari pasangan lain dan menelantarkan anak-anak, rasanya kita seperti orang tua yang egois,” gumam Daniel setuju.


Di tengah-tengah perbincangan mereka. Terdengar suara Vika memasuki ruang belakang.


“Iya, Papa di sini sayang,” sahut James sambil melambaikan tangannya.


Vika berlari, memasuki tempat James dan Daniel bersantai. Vika juga duduk di sofa kosong sebelah James.


“Sepertinya kamu sedang bertemu seseorang. Apakah itu benar Vika?” tanya James mengerti setelah melihat mimik wajah gusar Vika.


Vika mengangguk, ia mengambil kartu nama pria tadi dari tas tangan miliknya, memberikannya pada James.


“Saat mengantar Ezra, Brady dan Clay. Vika di samperin seorang pria, dia memberikan sebuah penawaran untuk menjadi seorang model di brand terbaru dari Perusahaanya. Pria itu juga memberikan kartu nama beserta alamat Perusahaannya,” jelas Vika.


James mengambil kartu nama dari tangan Vika. Karena James tinggal di luar Negeri dan kurang paham tentang pebisnis di tanah air, James memberikan kartu nama itu ke Daniel.


“Lihat dulu bro!” ucap James.


Daniel mengambil dan melihatnya, kemudian membuang kartu nama itu ke tong sampah. Vika heran, ia mengambil kartu nama tersebut dan melayangkan protes kepada Daniel.

__ADS_1


“Kenapa Om membuangnya?”


“Pria itu adalah seorang pembohong. Perusahaan yang diberikannya sudah lama bangkrut, dan pemiliknya saat ini sedang dikejar-kejar oleh penagih hutang,” sahut Daniel mengambil kartu nama itu kembali dan merobeknya.


“Syukurlah, untung saja aku bertanya sama Papa dan Om. Kalau aku langsung ikut bersama dengan pria tadi, aku yakin pasti aku akan di culik dan di mutilasi. OOOH! Itu sangat menyeramkan,” gumam Vika mendadak ngeri.


“Tingkahnya benar-benar mirip kamu, James!” bisik Daniel.


“Siapa dulu, James. Cuman 1 yang jadi, walaupun seorang putri, tapi foto copy nya 1000% mirip seperti aku,” sahut James bangga.


“Tentang kartu nama itu, nanti akan aku ceritakan saat di ruang kerja milikku,” bisik Daniel kembali.


Tak lama Fransiska datang, membawa makanan ringan dan jus dingin.


“Biar aku bantu Ma,” cetus Vika saat melihat Fransiska. Ia pun berlari kecil menghampiri Fransiska, mengambil ahli nampan dari tangan Fransiska.


“Kamu nggak nyasar saat mengantar mereka bertiga ke sekolah, kan?” tanya Fransiska setelah duduk di sofa single.


“Tidak dong! Khusus untuk calon suami, calon istri harus dengan sigap menghafal semua jalan yang akan di lalui calon suami,” sahut Vika mulai bercanda.


“Jangan keseringan bilang seperti itu, ah! Entar candaan kamu jadi doa,” tegur Fransiska lembut.


“Aku serius, Ma. Aku menginginkan ketiga putra kembar Mama menjadi suamiku,” sahut Vika lagi-lagi tidak berkata seperti itu.


James menghela nafas panjang, menatap serius ke Vika.


“Besok kita harus pulang ke rumah. Papa akan mengenalkan mu kepada seorang pengusaha muda yang tampan dan pastinya kamu akan menyukainya,” ucap James serius.


Vika mengernyitkan dahinya, sorot matanya menjadi datar.


“Aku tidak akan mau pulang ke rumah kalau Papa James mau menjodohkan aku dengan orang lain. Kalau Papa James ngotot mau menjodohkan aku dengan pria lain, maka aku akan kabur dan Papa akan menyesal untuk selama-lamanya!” ancam Vika membuat James menciut.


“I-iya, ka-kamu jangan kabur, ya. Pa-Papa akan menuruti semua yang kamu inginkan,” cetus James takut akan ancaman Vika.


“Kalau gitu, biarkan aku tetap menaruh doa untuk jodohku sendiri. Ya, Pa?” ucap Vika dengan kedua mata memelas.


"Iya, ia sayang!" angguk James pasrah.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2