
Pukul 17:30 sore.
Anissa benar-benar mengantarkan Vika ke tempat khusus les cukup terkenal di kota Medan.
Sore itu Vika sudah selesai les, ia terus menunggu dan menuggu Anissa untuk menjemputnya di depan gedung les tersebut. Hingga akhirnya sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan Vika berdiri. Perlahan kaca jendela mobil itu turun, terlihatlah seorang pria berwajah tak asing menoleh ke arahnya, melepaskan kaca mata miliknya.
“Vika,” panggil pria itu tak lain adalah James.
Vika hanya menoleh, ia mengangguk serta membalas sapaan James dengan sopan.
“Sore Om.”
James turun dari mobilnya, kini ia berdiri di samping Vika.
“Kamu kenapa masih di sini?” tanya James basa-basi.
“Menunggu Mama, katanya Mama akan langsung jemput Vika setelah ia pulang kebugaran,” sahut Vika sesuai dengan ucapan Anissa.
“Kebugaran? Bukannya tempat kebugaran itu cukup jauh dari gedung les ini. Gimana kalau Om antar kamu pulang?” tawar James sopan.
“Hem, tidak usah Om,” tolak Vika lembut.
“Kenapa? Apa kamu takut Om menculik kamu?” tanya James berusaha menyakinkan Vika jika dia bukanlah orang jahat, melainkan seorang Papa yang ingin menjemput putrinya cukup lama ia rindukan.
“Mama bilang tidak baik jika kita menerima seseorang yang bukan kita kenal. Jadi, maafkan Vika tidak bisa menerima tawaran Om,” jelas Vika sekali lagi menolak dengan lembut.
“Hem, gimana kalau Om minta izin ke Papa kamu. Tunggu sebentar, ya,” ucap James mulai menekan nomor kontak Andreas.
Panggilan suara James pun langsung di terima oleh Andreas. Setelah mendapat izin oleh Andreas, Vika pun menerima tawaran James. Tanpa banyak menolak tawaran James, Vika kini sudah masuk dan duduk bersebelahan dengan James.
Rasa senang tak karuan kini James rasakan saat dirinya berada dekat dengan putrinya. Ingin rasanya ia memeluk, cium kedua pipi putrinya itu dan berkata, aku, aku adalah Papa kamu yang sesungguhnya, bukan lelaki serakah itu. Peluk dan panggil aku dengan sebutan Papa, putriku. Aku sangat menginginkan kata-kata itu keluar dari bibirmu.
Mobil milik James mulai melaju secara pelan menuju kediaman mewah Andreas. Sejenak di dalam mobil itu hening, James sangat bingung harus membuka percakapan apa kepada putrinya itu, karena James belum pernah berbasa-basi kepada seorang anak.
Hingga keheningan itu terpecah saat Vika mulai menoleh dan mengeluarkan suaranya.
“Om,” panggil Vika.
__ADS_1
“Iya, ada Vika,” sahut James dengan cepat, ia pun menoleh menatap wajah polos putrinya itu.
“Apa Om beneran sudah berteman lama dengan Papa?” tanya Vika tiba-tiba.
“Bu-bukan berteman, Om dan Papa kamu hanya rekan bisnis. Kamu kenapa bertanya seperti itu?” sahut James.
“Om, apakah Papa memiliki wanita lain di luar sana?” tanya Vika mengejutkan James.
“Maksudnya?”
“Maksud Vika, apakah Papa menyukai wanita lain selain tante Siska?” Vika balik bertanya dan sekali lagi sukses membuat James terkejut hingga bingung.
“Suka? Bukannya bagus jika seorang suami menyukai istrinya,” sahut James dengan santainya.
Vika terkejut bukan main. Bola mata di penuhi cairan bening membulat sempurna. Selama ini ia hanya tahu jika Fransiska hanya sepupu bukan suami-istri. James melihat ekspresi wajah putrinya seperti itu, iapun mendadak panik.
“Vi-Vika, ka-kamu kenapa?” tanya James menggoyangkan lengan Vika saat ini sedang diam mematung.
“Su-suami, istri? Ma-maksud Om, Papa dan tante Siska adalah suami-istri?” tanya Vika dengan suara gemetar serta rasa bingung teramat dalam.
“Iya, seharusnya Vika sudah tahu jika tante Siska itu adalah istri pertama dari Papa kamu. Emang selama ini Vika mengetahui tante Siska sebagai apa?” jelas James masih dalam keadaan polos.
Jika Vika bertanya terus, maka James akan terus menjawab dengan keadaan dan kenyataan sebenar-benarnya hingga Vika semakin terdiam dan bingung. Jawaban berbeda dari James dan Anissa cukup membuat ia bingung hingga kepalanya berdenyut hebat.
Vika pun terdiam dengan wajah tertunduk, bulir air matanya perlahan membasahi pangkuannya.
“Apa yang sebenarnya yang terjadi. Kenapa Vika tidak tahu apapun, bahkan Vika bingung harus mempercayai ucapan siapa. Tante Siska bilang jika dirinya adalah sepupu, Mama bilang jika tante Siska ingin merebut Papa dari Vika dan Mama, dan Om…Om mengatakan jika tante Siska adalah istri pertama Papa,” Vika menolehkan wajahnya, memandang wajah James saat ini terlihat bingung. “Ucapan mana yang harus Vika pegang, dan fakta mana yang harus Vika pegang?” lanjut Vika bertanya.
Dengan polos dan bodohnya James kembali membenarkan ucapan dan fakta sesungguhnya.
“Tante Siska itu sebenarnya istri pertama Papa kamu, dan Mama kamu itu adalah istri keduanya. Masih kurang percaya dengan ucapan Om?” James mengeluarkan sebuah foto pernikahan berada di sosial media milik Andreas, menunjukkannya kepada Vika. “Lihat, kamu pasti sudah percaya dengan ucapan Om ‘kan?” lanjut James membenarkan kenyataan.
Sekretaris dan supir pribadinya James hanya bisa menghela nafas panjang.
“Ternyata kita memiliki tuan cukup bodoh dan lebih polos dari anak TK,” gumam Sekretaris sembari menggeleng.
“Kasihan anaknya harus menerima kenyataan dari kedua orang tuanya yang bodoh,” sambung supir pribadi ikut bergumam.
__ADS_1
"Kamu benar," angguk Sekretaris cantik itu.
Mobil milik James sudah berhenti di depan gerbang rumah mewah milik Andreas. Vika segera membuka seatbelt, tak lupa ia berterimakasih kepada James. Lalu kedua kaki mungil itu dengan cepat berlari memasuki gerbang rumah. James melihatnya hanya bisa mendengus kesal, ia belum puas menatap wajah foto copy dirinya pada putrinya.
“Kenapa wajah Vika bersedih seperti itu?” gumam James benar-benar tidak peka, di dengar oleh supir pribadi dan sekretarisnya.
“Gimana tidak sedih, tuan sudah membocorkan rahasia tentang siapa nona Siska kepada putri tuan sebelum nona Siska yang memberitahunya,” sahut sekretarisnya geram.
“Biarkan ajalah, lagian aku tidak perduli tentang rahasia mereka kepada Vika. Terpenting bagiku saat ini ialah merebut hati Vika. Aku ingin Vika segera hidup bersamaku. Kalian lihat tadi ‘kan, bisa-bisanya wanita itu mementingkan dirinya sendiri daripada keselamatan putriku. Bagaimana jika Vika tadi itu di culik, di perkosa, lalu bagian organnya….” Ucapan James terhenti saat sekretarisnya langsung menyela.
“Stop tuan, berhentilah berfikir buruk tentang nasib putri Anda. Lebih baik Anda fokus untuk merebutnya kembali!”
“Iya, kamu benar juga. Sekarang mari kita pulang,” hela James sembari menyandarkan tubuhnya.
Mobil milik James perlahan melaju meninggalkan rumah mewah Andreas.
.
.
Sementara itu di dalam rumah mewah Andreas. Vika kini berdiri di ruang tv, menghadap Siska dan Andreas saat itu sedang menonton tv.
“Tante, apa benar tante itu adalah istri pertama Papa?” tanya Vika dengan derai air mata.
Fransiska terkejut, ia hanya bisa menghela nafas lalu kembali menatap Vika. Sementara Andreas tidak peduli dengan pertanyaan Vika, ia kini sibuk dengan ponsel miliknya.
“Tante, cepat jawab!” tegas Vika memaksa.
“Kamu kenapa bertanya tentang ini kepada tante, kamu tahu darimana soal itu?” tanya Fransiska santai dan lembut.
“JAWAB TANTE?” bentak Vika mengejutkan Andreas.
Plaak!
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG.....