RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
BAB 36. Kamu adalah Ibu yang buruk


__ADS_3

Keesokan paginya.


Setelah beristirahat selama satu malam, tubuh Fransiska sudah sangat membaik meski rasa denyut akibat bekas jahitan sesekali terasa di dahinya.


Pagi itu, Fransiska sedang membantu bibi di dapur, menyiapkan sarapan untuk Andreas.


“Gimana kondisi tubuh nona? Kalau belum sembuh sebaiknya nona istirahat dulu,” tanya bibi.


“Sangat baik kok,” sahut Fransiska tak lupa tersenyum.


“Sudah non, biar kami aja yang menata makanan ini di meja. Nona sebaiknya duduk di kursi,” ucap pelayan 1 mengambil piring dari tangan Fransiska, membawa Fransiska duduk di kursi.


“Iya-ia, daripada membuat bibi dan lainnya kuatir lebih baik aku menunggu di sini,” ucap Fransiska pelan, ia pun mendudukkan dirinya di kursi.


“Gitu dong,” ucap serentak bibi dan kedua pelayan lainnya.


“Oh ya, bi. Kenapa guci di ruang tv itu tidak ada, ya?” tanya Fransiska mengingat guci kesayangan dan koleksi paling mahal milik Andreas tidak ada berdiri di ruang tv.


Bibi dan pelayan lainnya saling pandang. Mereka ingin sekali menceritakan kejadian buruk setelah ia masuk ke rumah sakit. Namun mereka teringat akan sebuah ucapan Andreas waktu itu. Tidak ingin mengambil resiko, bibi dan lainnya hanya bisa berbohong.


“Itu…anu…tuan..” ucapan bibi ingin menjelaskan terhenti saat Andreas memotong pembicaraan.


“Guci itu sudah saya jual. Sebaiknya kamu jangan pikirkan hal itu, jika terlalu banyak berpikir mungkin wajah kamu akan menimbulkan kerutan, dan saya tidak suka,” ucap Andreas sembari mendudukkan dirinya di kursi makan utama.


“Aku hanya penasaran kok bisa Mas menjualnya,” sahut Fransiska merasa masih belum puas sebelum mendapatkan jawaban pasti. Karena ia sangat tahu jika guci itu adalah guci kesayangan Andreas, dan hanya ada beberapa orang mengoleksinya.


“Saya bilang kamu tidak perlu memikirkannya. Apa susahnya sih, sayang menuruti ucapan suami kamu,” ucap Andreas menekan nada suaranya.


“Baiklah,” sahut Fransiska tidak ingin banyak bertanya lagi.


“Bi, makanan sudah siap semuanya?” tanya Andreas menatap bibi berada di hadapannya.


“Su-sudah tuan,” sahut bibi gugup.


“Mana Anissa dan Vika? Kenapa mereka belum juga datang untuk sarapan?” tanya Andreas saat menyadari Anissa dan Vika tidak ada di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


Baru saja namanya di sebut, batang hidung Anissa membawa putrinya, Vika sudah nongol aja.


“Hay, sayang. Selamat pagi,” sapa Anissa tanpa berdosa di depan Fransiska. Anissa juga tak lupa memberi cium pipi kiri dan kanan Andreas.


“Pagi Pa, pagi Mama Siska,” sapa Vika memanggil Fransiska dengan sebutan Mama.


Bibi, pelayan lain, Fransiska dan Andreas terkejut mendengar ucapan Vika. Sorot mata mereka langsung mengarah pada Anissa.


Drama apa lagi ini?


“Ma-mama?” gumam Fransiska seolah tak percaya mendengar dirinya di panggil Mama.


“Iya, Mama bilang kalau Mama Siska sering masuk rumah sakit karena depresi,” mengambil tangan Fransiska, “Mama Siska jangan depresi lagi ya. Kalau Allah belum memberikan Mama seorang anak, maka Vika akan siap menjadi anak Mama Siska,” melirik Anissa, “Bukan begitu Ma?” lanjut Vika dengan polosnya.


Anissa hanya memberikan senyuman paksa.


‘Sial, kenapa aku punya anak mulutnya macam ember gini sih. Padahal aku mengatakan hal itu agar dia tidak banyak bertanya tentang Siska. Ya nggak mungkin pula aku ceritakan jika Siska masuk rumah sakit karena ulahku. Bisa-bisa Vika membenciku,’ batin Anissa.


Saking senangnya ada seorang anak memanggil namanya dengan sebutan Mama. Fransiska spontan memeluk Vika berdiri di samping kursi Andreas.


“Mama Siska,” sahut Vika mengulang kembali ucapannya.


“Ya, ampun….” rasa senang Fransiska harus terhenti saat Anissa langsung melepaskan pelukan Fransiska dari tubuh mungil putrinya.


“Vika sayang, cepat sarapan. Kalau kamu terus berpelukan dengan tante Siska, maka kamu akan terlambat ke sekolah,” bujuk Anissa menyuruh anaknya untuk segera sarapan.


“Iya Ma,” sahut Vika menuju kursi miliknya.


Menit dan detik berlalu, Anissa, Vika, Andreas, dan Fransiska sedang menikmati santap sarapan mereka. Sesekali Anissa melirik ke Fransiska, begitu juga dengan Fransiska, lirikan tajam penuh arti dari kedua wanita itu.


30 menit berlalu, Anissa, Vika, Andreas, dan Fransiska selesai makan. Saat ini mereka juga sedang berdiri di teras rumah. Fransiska mengantarkan kepergian Andreas, Anissa sendiri mengantarkan kepergian Vika.


Setelah mobil Andreas dan Vika keluar dari gerbang, Anissa dan Fransiska berdiri berhadapan dengan sorot mata memandang satu sama lain tanpa berkedip.


“Hentikan drama yang kamu buat Anissa. Jangan libatkan Vika di dalam masalah kita!” tegas Fransiska mengingatkan.

__ADS_1


“Eh, drama? Aku tidak menyuruh Vika melakukan drama apapun untukmu. Aku hanya mengatakan jika kamu masuk rumah sakit karena terlalu depresi tidak juga bisa hamil. Jika aku mengatakan kamu masuk rumah sakit karena ulahku, apa kamu mau Vika membenci ibu kandungnya sendiri?” cetus Anissa mencoba membela diri.


“Itu bukan urusanku. Tapi, aku paling tidak suka ada orang dewasa melibatkan seorang anak kecil masih polos ke dalam masalah dewasa. Bukan itu saja, apa kamu pikir aku tidak tahu caramu membuat aku buruk di hadapan Vika waktu itu!” mendekatkan bibirnya ke daun telinga Anissa, “Kamu adalah ibu paling buruk yang aku kenal. Pelacur sekalipun mungkin tidak akan tega mencuci otak anaknya sedalam ini. Kamu adalah ibu penghancur masa depan anakmu sendiri,” lanjut Fransiska berbisik.


Anissa tersulut emosi, tangannya hendak mendorong tubuh Fransiska. Karena sudah terbiasa, Fransiska segera mencekal tangan Anissa, menggenggamnya dengan sangat erat.


“Apa kamu tidak suka mendengar gaya berbicara ku?” tanya Fransiska dingin.


“Ka-kamu sudah gila! Lepaskan tanganku, SISKA!” teriak Anissa ketakutan saat melihat sorot mata Fransiska seperti seorang psikopat.


“Iya, kegilaan aku di mulai di hari pertama aku mendapatkan kabar jika suamiku telah memiliki seorang anak dari wanita lain. Selama 15 tahun kami menikah, baru kali ini hidupku sangat menyedihkan seperti ini. Mungkin kamu tidak akan pernah merasakan hal yang sama, karena saat ini kaulah dalangnya. Tapi di lain waktu, aku pastikan suatu kejutan terbesar akan menghantui kehidupanmu,” ancam Fransiska tenang.


“A-aku tidak takut,” ucap Anissa berusaha menahan ketakutannya.


“Baiklah, teruslah berbuat semaumu kepadaku dan keluarga kecilku. Maka di saat itu pula kamu akan mendapatkan apa yang seharusnya kamu dapatkan!”


“Jangan coba-coba mengancam ku. Karena aku pastikan sampai akhir cerita ini hidupmu tidak akan pernah damai,” Anissa balik mengancam dengan jari telunjuk mengarah ke wajah Fransiska.


Fransiska perlahan menurunkan jari telunjuk Anissa, segaris senyum tercetak di wajah cantiknya.


“Jika sang penulis tidak merubah jalan takdirku di serial ceritanya. Maka aku akan merubah tulisan itu sendiri dengan sesuka hatiku,” sahut Fransiska tak mau kalah.


“Oh, bagaimana caranya? Apa kau seorang penyihir?”


“Iya, aku memang adalah seorang penyihir. Seorang penyihir cantik tiada duanya di muka bumi ini. Kau pun tidak bisa menyangkal kecantikanku,” sahut Fransiska membuat hati Anissa semakin panas.


Bingung harus mengatakan apa lagi, Anissa berbalik, kedua kakinya melangkah masuk ke dalam rumah.


“Uh…syukurlah ia masuk. Padahal saat aku berbicara seperti itu, akupun tidak yakin dengan jalan hidupku ke depannya,” hela Fransiska lega.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2