RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
BAB 13. Tidak Untuk Anak


__ADS_3

Pukul 20:30 malam. Anissa menemani Vika belajar sambil mengerjakan tugas sekolah di ruang tamu.


Tak lama terdengar suara teriakan Andreas memenuhi ruang tamu.


“NISSA, NISSA!”


Vika melirik ke asal suara, “Ma, bukannya itu suara Papa. Tapi kenapa Papa berteriak seperti itu?” Tanya Vika.


“Bukannya Papa sudah terbiasa berteriak seperti itu kepada Mama. Kamu tunggu di sini, jika tugas sekolah sudah selesai, sebaiknya kamu kembali ke kamar,” sahut Anissa tenang.


“Oh iya juga, ya. Tugas Vika sudah selesai kok, sebaiknya Vika kembali ke kamar saja,” ucap Vika, ia membereskan buku-buku pelajarannya, melangkah masuk ke dalam kamar miliknya berada di lantai 1.


Andreas muncul, wajahnya terlihat sangat suram, pandangan seperti hendak membunuh terus menatap wajah panik Anissa.


Tidak enak di tatapan seperti itu oleh Andreas, Anissa perlahan mendekat.


“Sayang, kamu kena…” pertanyaan Anissa terhenti saat tamparan keras mendarat di pipi Anissa.


Plaaak!!


Anissa terdiam, tangannya memegang sebelah telinganya berdengung.


“Ke-kenapa kamu menamparku?” Tanya Anissa pelan, bulir air matanya sudah memenuhi kedua bola mata sedang memakai softlens bermotif batik.


“Berani sekali kamu bertanya kenapa saya bisa menampar kamu?”


Andreas menarik rambut berwarna kuning bagian belakang Anissa, membuat kepala Anissa mendongak ke atas, wajah meringis kesakitan terlihat jelas di wajah pucat Anissa.


“Kenapa kamu tadi ingin mencoba membunuh istriku, Fransiska?!” lanjut Andreas bertanya dengan tersulut emosi.


“Ma-mana ada. Ka-kamu salah…” bantah Anissa terhenti saat Andreas menjatuhkan tubuh Anissa ke lantai.


“Masih bisa berbohong kamu? Apa perlu saya tunjukkan rekaman cctv di rumah sakit?” bentak Andreas kembali.


Fransiska terdiam, ia menunduk.

__ADS_1


“Sebenarnya, sebenarnya Daniel lah yang menyuruhku. A-aku mana mungkin bisa melakukan hal seperti itu kepada Fransiska. Istri kamu itu sudah sangat baik kepadaku, mengizinkan Vika bisa merasakan kasih sayang seorang papa. Bisa tinggal dan hidup bersama dengan kamu di sini. Ma-mana mungkin aku tega melakukan hal buruk itu kepada Fransiska,” elak Anissa membela diri sekali lagi. Ia berlutut, wajah memelas terlihat begitu sempurna di hadapan Andreas.


“Tapi tadi saya melihat Daniel lah yang telah menghentikan kamu. Pasti kamu berbohong, Nissa!” cetus Andreas mengingat rekaman cctv di rumah sakit.


Kali ini Anissa sudah tak bisa mengelak kembali. Ia memeluk kedua kaki Andreas, tangisannya di buat semakin kuat hingga bibi, dan Vika keluar dari dalam ruangan mereka masing-masing.


“Iya, ia, aku mengaku salah. Aku khilaf, aku khilaf Andreas. Aku mohon maafkanlah aku!”


Malu terlihat marah di depan para pekerja rumahnya. Andreas mencoba meredam amarahnya, ia pun meninggalkan Anissa di ruang tamu.


Anissa terduduk, memulai dramanya dengan menangis sesenggukan, berharap semua karyawan pekerja di rumah itu berbelas kasih kepadanya. Namun, usahanya untuk mendapatkan perhatian dan berbelas kasih sia-sia. Semua para pekerja kembali ke ruangan mereka masing-masing.


Kenapa Andreas tidak melanjutkan amukannya kepada Anissa? Itu karena prioritas nama baiknya harus tetap terjaga. Ia tak ingin para pekerjanya berpikir atau membongkar sifat kasarnya kepada para wartawan atau orang lain di luar sana.


Bisa hancur bisnis dan nama baiknya.


1 jam kemudian. Andreas mendapatkan panggilan telepon dari rumah sakit, mengatakan jika Fransiska sudah sadarkan diri.


Dengan kecepatan penuh, Andreas melaju di jalan lintas kota Medan malam itu tidak terlalu ramai.


“Siska, sayang. Ka-kamu sudah sadar?” Tanya Andreas, tangan gemetarnya mencoba menyentuh wajah Fransiska. Namun, tangan mungil masih menempel selang infus menepis tangan Andreas.


Andreas terdiam, ia merasa geram saat dirinya merasa di permalukan di depan umum karena Fransiska menolak untuk di sentuh olehnya.


“Sayang, kamu kenapa seperti ini?” Tanya Andreas lirih.


Pak dokter menepuk bahu Andreas dari belakang, memberi kode untuk sedikit menjauh dari ranjang perawatan Fransiska, karena ada hal yang ingin di bicarakan oleh pak dokter. Setelah berdiri di depan pintu ruangan, pak dokter mulai menyampaikan sebuah pesan.


“Mohon maaf pak. Kemungkinan sifat kasar istri Anda karena saat ini masih merasa tertekan. Saya minta bapak sedikit lebih bersabar untuk menghadapinya. Jangan lupa sering-sering buat hati istri bapak senang dan merasa dirinya tak sendirian…” ucapan pak dokter terhenti karena Andreas menepisnya.


“Baik pak dokter,” padahal dalam hati Andreas, ‘Berani sekali dokter bodoh ini mengatakan jika istri saya tidak merasa senang. Cih, dasar manusia rendah. Kalian hanya bisa menilai dari luar saja. Mentang-mentang Fransiska melakukan percobaan bunuh diri, kalian pikir Fransiska tidak merasa senang hidup berumah tangga denganku.’


Pak dokter menepuk bahu Andreas sekali lagi. Kali ini Andreas hanya melirik sinis ke tangan pak dokter.


“Kalau gitu saya permisi dulu. Jangan lupa berikan obat penenang dan vitamin untuk istri Anda,” ucap pak dokter lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan rawat inap Fransiska.

__ADS_1


Andreas kembali mencoba menyapa sang istri.


“Saya kupas 'kan buah apel untuk kamu, ya?” Tanya Andreas sambil mengambil buah apel dari keranjang buah di atas meja.


“Tidak, aku tidak ingin memakan apa pun,” tolak Fransiska, ia kembali merebahkan tubuhnya, mengubah posisi tidur membelakangi Andreas.


Andreas menarik nafas panjang, mencoba sabar untuk menghadapi Fransiska.


“Jadi kamu mau apa?” Tanya Andreas dengan suara lembut tapi menahan emosi.


“Tidak ada, aku hanya ingin beristirahat dan menginginkan kebebasan, Mas,” sahut Fransiska dengan suara lemah, karena tubuhnya memang masih sangat lemah.


“Jika saya membebaskan kamu, apakah kamu akan berjanji untuk tidak menemui pria itu lagi?”


“Pria mana, Mas?” Tanya Fransiska, ia memutar badannya, menatap wajah datar Andreas.


“Daniel. Apa kamu akan berjanji tidak bertemu dengannya kembali. Dan kamu juga akan berjanji tidak menuntut kata pisah kepadaku?”


“Aku hanya ingin bebas. Jangan kurung aku di dalam rumah seperti burung. Aku juga ingin bebas seperti kamu, Mas,” Fransiska kembali menawarkan sebuah perjanjian baru kepada sang suami.


Apa? Kenapa Fransiska tiba-tiba ingin membuat perjanjian baru dan ingin bebas dari Andreas?


“Baiklah, asal kamu tidak menuntut ini dan itu,” Andreas membelai puncak kepala Fransiska, mengecup ringan dahi Fransiska.


“Maafkan aku, Mas. Aku terlalu suntuk saat itu, sampai-sampai aku…” ucapan Fransiska terhenti saat Andreas memeluk erat tubuh mungilnya.


“Saya sudah memaafkan kamu asal, asal kamu terus berada di samping saya. Saya lah yang harusnya meminta maaf, karena saya lalai dan terlena akan bujukan Anissa. Sampai-sampai saya memiliki seorang anak darinya,” maaf Andreas setengah-setengah. Ucapan itu semata untuk menenangkan hati dan menyakinkan Fransiska jika dirinya tak bersalah, justru perselingkuhan itu terjadi karena godaan Anissa.


“Semua sudah terjadi. Biarkan masa lalu itu tenggelam dengan masa depan yang akan kita lewati saat ini. Mari kita buat rumah tangga yang lebih baik lagi asal Mas berubah. Aku juga ingin memiliki seorang anak yang aku lahir 'kan dari rahimku sendiri,” pinta Fransiska kembali menginginkan seorang anak dari rahimnya.


Andreas segera mengurai pelukannya, ia duduk tegak, tatapan tidak suka terus memandang wajah serius Fransiska.


“Sampai kapan pun saya tidak mengizinkan kamu hamil dan melahirkan seorang anak. Saya akan memuaskan kamu di ranjang, tapi tidak untuk menciptakan sebuah keturunan. Biarkan tubuh bagus dan hal luar biasa milikmu terus bermain untuk saya di atas ranjang. Saya akan mewujudkan semuanya, tapi tidak dengan seorang anak. Apa kamu paham? Kalau kamu tidak mau, maka saya akan kembali mengurung kamu di dalam rumah,” sahut Andreas tak lupa sebuah ancaman terlontar dari bibirnya.


Fransiska hanya menunduk, mengangguk patuh.

__ADS_1


__ADS_2