
Tepat 19:30 malam, Fransiska sudah terlihat siap dengan gaun malam begitu sangat mempesona. Warna gaun serta tatanan rambut, mack up ia pakai selaras dengan kulit dan wajah teduhnya.
Fransiska berjalan dengan anggun menuruni anak tangga. Langkahnya terhenti saat Anissa berdiri di bawah anak tangga dengan wajah tak suka.
“Wah, nona besar kita cantik sekali. Kira-kira mau kemanakah nona besar ini?” Tanya Anissa dengan sebelah alisnya menaik.
“Sepertinya aku tidak perlu menjawab pertanyaan kamu,” sahut Fransiska melangkah melewati Anissa.
Anissa geram, ia menahan pergelangan tangan Fransiska dari belakang.
“Sombong sekali kamu. Oh..apa kamu ingin ketemu dengan seseorang di luar sana?” tuduh Anissa.
“Iya, aku memang mau bertemu dengan seseorang di luar sana. Apa kamu ingin melaporkan aku juga ke Mas Andreas? Kalau iya, silahkan. Cepat, laporkan aku sekarang juga,” sahut Fransiska menantang.
Mendengar ucapan Fransiska, Anissa semakin menggeram. Tak ingin banyak cekcok dengan Fransiska, Anissa pun melepaskan genggamannya dengan menghempaskan lengan Fransiska.
“Kenapa tidak jadi melaporkanku?” Tanya Fransiska tenang, tak lupa segaris senyum untuk Anissa.
“Ck, sekarang kamu sudah banyak berubah. Aku pikir Fransiska itu lemah lembut, penakut, dan tukang menangis. Ternyata…” ucapan Anissa terhenti saat Fransiska perlahan mendekat, menatap lekat wajah Anissa.
“Ternyata aku adalah orang yang santai dan tak takut apapun. Oh…jika memang itu yang ingin kamu katakan, mungkin memang benar. Mungkin sifatku yang pengecut dulu sudah hilang di ambil malaikat maut. Oohh..atau aku sudah bereinkarnasi, hahahaha…ternyata begini rasanya saat memiliki sifat dan sikap yang menyebalkan. Kamu pasti sebal denganku ‘kan?”
Tidak bisa menjawab, Anissa hanya menggeram dengan kedua tangan ia kepal erat, serta tatapan sinis terus memandang wajah tenang Anissa penuh teka-teki.
Fransiska melirik ke jam tangannya, lalu ia menoleh ke Anissa masih terlihat geram padanya.
“Aku pergi dulu, daaaa!” pamit Fransiska melambaikan tanganya kepada Anissa.
Anissa hanya bisa mendengus kesal serta menghentakkan kedua kakinya menatap kepergian Fransiska sudah memasuki ruang tamu.
Fransiska kini sudah mengendari mobilnya menuju tempat tujuannya, tak lupa ia menekan earpiece untuk menelepon suaminya, Andreas.
📲[“Hallo, Mas.”] salam Fransiska setelah Andreas mengangkat panggilan teleponnya.
📲[“Iya, ada apa sayang?”] sahut Andreas dari sebrang sana dengan begitu lembut.
__ADS_1
📲[“Aku izin pergi ke pesta pertunangan anak dari teman SMA ku yang ada di Johor.”] pamit Fransiska dengan suara manjanya.
📲[“Tidak ada Daniel di sana ‘kan?”] Tanya Andreas penuh curiga.
📲[“Tidak mungkinlah, kalaupun ada aku tidak mungkin menyapanya, dan sudah pasti di sana sangat ramai, tidak mungkin bisa saling sapa dengan ramah. Hem... Apa Mas masih curiga? Kalau Mas curiga, aku putar balik nih mobil. Dan…sudah pasti biaya perawatan kulit dan tubuhku untuk pergi ke pesta senilai 300 juta hari ini akan terbuang sia-sia.”] ungkap Fransiska di sela rayuan manjanya.
📲[“Jangan, pergilah sayang. Saya ingin semua orang melihat bagaimana istriku yang cantik itu. Orang-orang juga pasti akan terpikat dan takjub setelah melihat kecantikan di setiap lekuk tubuhmu. Orang-orang juga pasti akan mengatakan jika saya adalah suami yang baik dan royal kepada istrinya. Tahu kamu akan pergi seperti ini, pasti tadi aku sempatkan untuk membelikan barang branded edisi terbatas untuk kamu pamerkan di depan teman-teman mu.”] ucap Andreas seperti sangat memuja Fransiska.
📲[“Mas memang suami yang terbaik. Untuk barang branded yang akan aku pamerkan di depan orang banyak. Gimana kalau Mas membelikannya saja, atau pesankan saja jika ada brand akan melaunching barang baru. Jadi, kapan aku pergi, aku akan memakainya dan memerkannya. Gimana Mas?”] usul Fransiska dengan tenang, sorot mata lurus ke jalanan sedikit padat karena malam itu adalah malam minggu.
📲[“Kamu benar. Kalau gitu hati-hati di jalan. Saya tutup dulu panggilan teleponnya karena saya mau pergi makan malam dengan para klien.”] ucap Andreas dari kejauhan terdengar menghidupkan mesin mobil.
📲[“Daaa, suamiku. Muaach!”] sahut Fransiska tak lupa memberikan ciuman manisnya.
Setelah earpiece di matikan. Fransiska terus menghela nafasnya.
“Ha.ah. Ternyata lelah juga menjadi wanita seperti ini. Tapi kalau aku tidak bersikap sok manis dan menerima semua yang dilakukan Mas Andreas, mungkin aku tidak bisa mewujudkan balas dendamku. Anissa, nama yang anggun dan seperti penuh kebaikan di dalamnya. Tapi sayang, orang yang memiliki nama seperti itu memiliki hati busuk, dan sikap yang jahat. Aku rasa ibunya sangat menyesal memberikan wanita itu nama yang begitu indah,” omel Fransiska bergumam sendiri.
30 menit kemudian mobil Fransiska memasuki sebuah rumah cukup mewah. Walaupun terbilang cukup mewah, rumah Fransiska tetaplah nomor 1 mewahnya dari rumah mewah lainnya.
“Wah, cantik sekali. Siapa wanita ini?”
“Benar, kulit dan rambutnya sangat bercahaya. Apakah dia seorang aktris?”
“Sepertinya dia adalah Fransiska. Apa kalian tidak ingat dia adalah teman kita yang paling miskin dan anak yatim-piatu,” sambung lainnya.
Di sela mereka saling bertanya siapa Fransiska, seorang wanita dengan tubuh mungil berlari kecil dengan kedua tangan di lebarkan.
“Siska, bebeb ku, honey, darlingku,” panggil wanita itu memeluk erat Fransiska. Fransiska pun dengan tenang menyambut pelukan hangat dari wanita itu, tak lain Yessika, teman sekaligus sahabat dekatnya waktu SMA dulu.
“Sudah punya anak masih saja manja,” ejek Fransiska.
Yessika mengurai pelukannya, menatap sejenak wajah tedu Fransiska, lalu kembali memeluknya dengan menghentakkan kedua kakinya hingga kedua tubuh wanita cantik itu bergoyang.
“Kangen, kangen, kangen, pokoknya aku kangen bingits sama kamu!”
__ADS_1
“Iya deh, kangen bingits,” gumam Fransiska, sorot matanya memandang sekeliling tamu, berharap mendapatkan sosok seseorang di sana.
“Cari Daniel, sih lelaki bajingan itu?” Tanya Yessika langsung menebak saat melihat gelagat Fransiska mudah di tebak.
“Nggak, aku perhatikan daritadi semua orang memandangku. Apa aku terlihat jelek?” elak Fransiska mengalihkan pertanya Yessika.
“Bukan, itu karena kamu sekarang sangat cantik. Maklum saja bukannya kamu adalah istri konglomerat ternama itu,” cetus Yessika sembari menyikut perut Fransiska.
“Hem, begitulah,” angguk Fransiska tak bersemangat.
“Oh ya, sudah lama menikah kenapa kamu belum mempunyai anak?” ceplos Yessika penasaran dengan sahabatnya itu.
“Mas Andreas masih sibuk. Jadi maklumi saja,” sahut Fransiska tenang.
Meski ia sangat membenci suaminya itu, tapi Fransiska tidak ingin menjelekkan Andreas di depan orang banyak, sekaligus di hadapan sahabatnya sendiri. Pinsip Fransiska, biarlah orang yang mengetahuinya sendiri daripada berusaha membenarkan yang orang lain tidak tahu.
Yessika langsung menarik Fransiska menjauh dari kerumunan, ia pun berdiri tepat di hadapan Fransiska dengan wajah begitu serius.
“Eh, eh, kau tahu tidak?” Tanya Yessika sedikit merendahkan nada suaranya meski saat itu suaranya kalah dengan suara instrument musik.
“Nggak tahu. Emang aku tahu apa?” sahut Fransiska dengan tenang.
“Begini ceritanya, itu…emm..anu..ck, kenapa sulit kali untuk jujur!” gerutu Yessika sembari berjalan mondar-mandir dengan wajah cemasnya.
Pusing melihat Yessika jalan mondar-mandir, Fransiska menahan kedua bahu Yessika lalu menatap nanar mata memakai softlens berwanrna biru dongker.
“Ayo, kamu sedang merahasiakan apa denganku?”
Mendengar pertanyaan dan tatapan dari nanar mata indah Fransiska, Yessika langsung terdiam, perlahan menundukkan wajahnya berubah menjadi sendu.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung