RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
S2. 06. 10 Tahun berlalu


__ADS_3

10 Tahun telah berlalu.


Siapa sangka ketiga putra kembar Fransiska dan Daniel telah tumbuh menjadi pria dewasa dan rupawan.



...ILUSTRASI...


...EZRA, BRADY DAN CLAY...


.......


.......


Ezra dan Clay memegang bisnis milik Daniel. Untuk Brady, ia lebih memilih membuka sebuah store butik memiliki brand atas namanya sendiri.


Di umur 20 tahun mereka sudah bisa memegang bisnis dan membuka bisnis demi meneruskan nama baik Fransiska dan Daniel.


Tidak hanya Ezra, Brady, dan Clay saja sukses dalam memajukan bisnis milik kedua orang tuanya. Vika juga sama. Namun, 3 tahun lalu saat Vika berumur 27 tahun, James mendadak terkena serangan jantung akibat kelelahan dan harus meninggalkan Vika seorang diri di dunia ini.


Berdiri, menangis, dan berjuang di negeri kelahiran sang Papa, tanpa adanya sosok sang Papa. Hanya Fransiska, Ezra, Brady, dan Clay menyempatkan diri untuk menjenguk dan melihat kabar Vika di sana.


.


.


Di ruang makan mewah milik Vika.


Vika telah duduk di kursi utama, dihadapannya telah tersaji begitu banyak makanan mewah memenuhi meja panjang. Perlahan air matanya menetes, kenangan tentang James memanjakan dirinya terus terlintas di pikiran tanpa di minta. Membuat dirinya terkadang sulit untuk menjalani hidup.


Berulang kali ia menarik nafas panjang untuk menangkan hati dan pikirannya. Namun tetap saja, kenangan manis, penuh kasih sayang dan cinta dari sosok sang Papa tidak bisa ia lupakan begitu saja.


Pelayan rumah hanya bisa memandang dan ikut bersedih melihat Vika bersedih seperti itu.


“Huh! Padahal sudah 3 tahun berlalu. Tapi kenapa aku masih belum bisa melupakan kesedihan akan kehilangan Papa,” hela Vika sambil menengadahkan wajahnya untuk menghentikan aliran air mata mengalir di pipinya.


“Karena menurutku, kau adalah wanita yang bodoh!” celetuk seorang pemuda, melangkah sambil menggeret koper mendekati Vika.


Seorang pemuda tampan memakai baju kaos oblong, jaket, topi, kalung besi putih, dan anting-anting di kuping kanannya. Pemuda tampan itu adalah Clay.


Clay berhenti di samping Vika. Clay membungkukkan sedikit tubuhnya, tangannya memegang dagu Vika, sehingga Vika menengadahkan wajahnya, menatap sangat dekat dan lekat wajah Clay.


“Aku tidak menyangka jika wanita berumur sepertimu masih sering menangis atas kepergian orang yang seharusnya sudah tenang di alam sana. Betapa bodoh, dan menyedihkannya kamu saat ini!” hina Clay dengan wajah dinginnya.


Vika masih diam dalam antara percaya atau tidak, melihat Clay malam ini berada di rumahnya.

__ADS_1


“Apakah benar, kamu adalah Clay?” tanya Vika dengan dagu masih di pegang oleh Clay.


“Kamu lihat!”


Clay melepaskan tangannya dari dagu Vika, ia pun duduk di kursi, menyeruput minuman dingin milik Vika tanpa segan.


Menyadari sikap angkuh, dingin, dan sombong itu adalah benar-benar Clay. Vika segera beranjak dari duduknya, dan duduk di atas pangkuan Clay.


“Clay! Calon suami kecilku yang kini telah tumbuh menjadi pria dewasa dengan mulut yang tidak bisa di kontrol dan tidak pernah mengeluarkan kata-kata sopan!” cetus Vika dengan sekali tarikan nafas.


Seperti biasa, kebiasaan Vika tak pernah berubah. Memeluk, mencium, bahkan setelah Ezra, Brady dan Clay menjadi pria dewasa dengan tubuh tegap, Vika dengan berani duduk di pangkuan mereka.


“Hentikan, hentikan dan menjauh lah dariku, VIKA!” teriak Clay mengganggap Vika seumuran dengannya.


“Tidak akan, aku tidak akan menghentikan semua perbuatanku!” tolak Vika masih terus memeluk dan menghujani Clay dengan ciuman.


Tidak suka terus dihujani dengan ciuman. Clay mengepal nasi dan memasukkannya ke dalam mulut Vika.


Vika berhenti menghujani Clay dengan ciumannya, mulutnya menguyah nasi kepal.


“Hem, nasinya kenapa terasa asin, ya?” tanya Vika dengan mulut masih mengunyah.


“Jelas saja asin. Orang aku habis pipis di pesawat dan lupa cuci tangan,” sahut Clay ikutan usil, tak lupa wajah dingin terus menghiasi wajah tampannya.


Vika berhenti menguyah, mual memikirkan hal jorok, kedua kakinya berlari menuju kamar mandi, memuntahkan sebagian nasi masih dalam mulutnya.


Ponsel Clay tersimpan di saku celananya berdering, melihat pemanggil nama adalah “MAMA”, Clay segera mengangkat panggilan telepon dari Fransiska.


📲 [“Assalamu'alaikum, kamu sudah sampai sayang?”] tanya Fransiska setelah Clay mengangkat panggilan telepon.


📲 [“Wa’alaikumsallam, sudah Ma.”] sahut Clay singkat.


📲 [“Gimana keadaan Vika di sana. Apakah dia baik-baik saja?”] tanya Fransiska terdengar cemas.


📲 [“Mama tenang saja. Vika terlihat makan teratur, kok.”] sahut Clay sedikit berbohong untuk tidak membuat Fransiska bertambah kuatir.


📲 [“Syukurlah. Clay, kamu harus ingat untuk bersikap sopan kepada kak Vika, ya!”]


📲 [“Vika bukan kakaknya Clay. Jadi, Clay tidak akan pernah mau memanggil Vika dengan Kakak!”] tegas Clay.


📲 [“Iya-ia. Kalau gitu, Mama tutup panggilan teleponnya dulu. Kamu hati-hati dan tetap terus jaga Vika di sana, ya!”]


📲 [“Hem!”]


Clay mengakhiri panggilan telepon Fransiska setelah mengucap salam penutup.

__ADS_1


“Mama ini,” hela Clay sambil memasukkan ponsel miliknya kembali ke dalam saku celananya.


“Kamu memang sangat jahat Clay!” gerutu Vika sambil berjalan menuju ruang makan, dan duduk kembali ke kursinya.


“Jangan bilang aku jahat, kalau kamu sendiri masih sering jahat kepadaku dan kedua saudaraku!” protes Clay, tangannya menciduk makanan dia atas mangkuk dan menyuapkan ke mulutnya.


“Kamu mau balas dendam nih, ceritanya?” tanya Vika penasaran.


“Ha! Buat apa. Sekarang aku lapar, aku ingin makan.”


“Benarkah kamu ingin makan bersama denganku?” tanya Vika seperti tidak percaya.


“Cerewet!” hanya itu keluar dari mulut Clay.


Tanpa banyak pertanyaan dan berbicara, Vika menyajikan makanan di atas piring Clay. Lalu mereka berdua menikmati makan malam bersama.


20 menit berlalu.


Clay dan Vika telah berpindah tempat, duduk di rooftop ditemani kopi hangat dan kentang goreng sebagai cemilan. Sambil menikmati indahnya langit bertabur bintang malam itu, Clay perlahan melirik wajah cantik Vika seolah menolak tua.


Penasaran dengan tekstur kulit wajah Vika tak pernah terlihat kerutan dan keriput, ujung jari Clay perlahan mendekat dan menekan kulit lembut pipi Vika.


“Clay!” bentak Vika langsung mengusap-usap sebelah pipi bekas sentuhan Clay.


“Aku hanya penasaran kenapa kau tak pernah tua. Padahal jika ku hitung-hitung umurmu saat ini sudah 30 tahun,” celetuk Clay santai, ia pun menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


“Jangan penasaran. Nanti kalau aku kasih tahu besar biaya perawatanku, kantong kecil kamu tidak akan bisa membayarnya,” ucap Vika seolah menyepelekan Clay.


“Untungnya kau bukan tipe wanitaku,” gumam Clay di dengar oleh Vika.


“Apa kau bilang tadi?” tanya Vika spontan merubah posisi duduknya.


“Kau…bukan..wanita..pilihanku!” jelas Clay kembali satu persatu dengan wajah dinginnya.


“Awas kau ya! Ku buat ketiga putra Fransiska dan Daniel bertekuk lutut kepadaku suatu hari nanti!” ancam Vika dengan penuh keyakinan.


“Oh ya?”


“Clay!”


“Vika!”


“Claaaayy!” panggil Vika panjang.


“Berisik! Bisa diam nggak, sih. Bawel!” bentak Clay.

__ADS_1


Vika hanya tertawa, seolah rasa sedih akan kehilangan James menghilang dari pikirannya.


__ADS_2