RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
S2.07. Brady Ingin Melamar Vika


__ADS_3

Sementara itu di rumah Fransiska dan Daniel.


Seperti biasa, sebelum berangkat masing-masing ke lokasi tempat kerja, Fransiska menerapkan kepada anak-anak mereka untuk menyempatkan diri makan bersama, meski hanya 5 menit. Di tengah-tengah santap makan pagi mereka, Brady menyudahi makannya, lalu menatap Fransiska dan juga Daniel.


“Kenapa tidak dihabisi makanannya?” tanya Fransiska lembut. Ezra hanya melirik sembari menikmati santap sarapannya.


“Mi…Pa,” panggil Brady menatap secara bergantian wajah teduh dan tegas dari kedua orang tuanya.


“Iya, katakan saja,” sahut Daniel sembari menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


“Hem…”


Brady terlihat ragu akan penyampaiannya, sehingga berulang kali ia menarik nafas. Mencoba menenangkan hati dan pikiran, serta mencoba yakin menyampaikan sebuah keinginannya.


Fransiska, Daniel, dan Ezra masih menuggu Brady mengeluarkan isi hatinya.


“Mi…Pa. Kak Vika sudah tidak memiliki saudara atau pun tempat ia berlindung saat ini. 3 tahun semenjak kepergian Om James, Brady terus berpikir dan menimbang tentang apa yang Brady ingin ucapkan,” ucap Brady menggantung, ia menatap wajah Fransiska dan Daniel. “Pa..Mi, izinkan Brady menikahi kak Vika,” lanjut Brady membuat Fransiska, Daniel, dan Ezra terkejut.


“Kamu serius dek?” tanya Ezra tak percaya. Brady mengangguk.


“Jangan terburu-buru mengambil keputusan, dan jangan pula terlalu memasukkan ke dalam hati atas gurauan dari Vika selama ini,” cetus Daniel berfikir jika Brady tergesa-gesa dalam bertindak.


“Kalau Mami, apa pun keputusanmu asal itu baik pasti akan Mami dukung. Tapi balik lagi pada Vika. Apakah Vika mau menerima kamu?” Fransiska sekilas menoleh ke Daniel, lalu ke Brady. “Benar kata Papa kamu. Jangan terburu-terburu mengambil keputusan. Coba di pikir lagi,” tambah Fransiska mengingatkan Brady.


“Benar kata Mami dan Papa. Sebaiknya kamu pastikan saja sendiri ke sana. Ketika kamu ada waktu luang, berlibur lah ke rumah Vika. Jangan adek ungkapkan perasaanmu dulu, tapi lihat saja dulu bagaimana perasaan Vika kepada kamu,” sambung Ezra memberi saran.


“Abang Ezra tak menyukai Kak Vika, kan?” Brady malah bertanya untuk memastikan apakah tindakannya tidak akan menyinggung perasaan orang lain.


“Hahaha!”


Ezra tidak menjawab, ia hanya tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan polos dan jujur dari Brady. Melihat raut wajah Brady berubah menjadi malu. Fransiska langsung menegur putra pertamanya.


“Ezra…”


“Ma-maaf..” maaf Ezra menahan sisa tawa masih menggelitik di pikiran dan perutnya.


“Sudah, sudah!” Daniel melihat Ezra, mulai bertanya tentang bisnis di pegang oleh Ezra. “Ezra, gimana tentang bisnis di anak perusahaan yang kamu pegang?” tanya Daniel serius.

__ADS_1


“Aman, Pa!” sahut Ezra memberikan 2 jempol tangannya ke Daniel.


“Bagus. Papa sangat bangga dengan kamu!” puji Daniel, lalu ia memutar arah pandangan ke Brady dan bertanya. “Kalau bisnis butik yang kamu pegang. Gimana? Dengar-dengar kamu akan membuat sebuah pementasan desain terbaru bertema baju gaun malam.”


“Benar, Pa. Kalau acara itu sah diresmikan tanggal pertunjukkannya, Papa, Mami, Kak Ezra dan lainnya harus datang, ya?” sahut Brady semangat.


Ezra beranjak dari duduknya, mendekati kursi Brady, dan memukul pelan sebelah bahunya sembari berkata. “Tentu saja. Buat anak perawan Mami yang satu ini, apa sih, yang nggak.”


Marah di bilang anak perawan. Brady langsung membuang kasar tangan Ezra. “Apaan sih! Brady anak laki di bilang anak perawan,” kesal Brady.


Tak puas hanya mengatakan hal seperti itu, Ezra mencubit kedua pipi Brady, mendekatkan wajahnya ke wajah Brady, kembali berkata, “Kenapa abang berkata jika kamu adalah anak perawan. Karena wajah kamu itu sangat cantik, bulu mata lentik, alis tebal, bola mata hitam lekat, bibir bagian bawah tebal dan bibir bagian atas tipis. Benar-benar sempurna.”


Bug!


Kesal di bilang seperti itu, Brady memukul perut Ezra kuat.


“Berhentilah mengatakan Brady seperti itu, bang. Kalau masih menyebutku seperti itu, maka semua gigi venner abang akan segera rontok!” ancam Brady tegas, wajahnya berubah suram.


“Ouw! Baik-baik,” angguk Ezra mengangkat kedua tangannya ke atas.


Kasihan melihat Brady selalu dicandain terlalu berlebihan oleh Ezra. Fransiska melirik tajam, membuat Ezra meninggalkan ruang makan sambil tersenyum singkat.


“Tidak, Brady rencananya akan menyusul dek Clay ke sana,” sahut Brady mengejutkan Fransiska dan Daniel.


Masih berjarak 1 meter dari meninggalkan ruang makan, Ezra tak sengaja mendengar ucapan Brady langsung menghentikan langkahnya, melirik sekilas dengan wajah suram, lalu melanjutkan langkahnya.


“Kenapa mendadak?” tanya Fransiska bingung.


“Nggak apa-apa, Mi. Brady kepingin aja ke sana, sekalian ingin memastikan perasaan Kak Vika,” sahut Brady dengan senyuman.


“Papa tidak bisa berkomentar apa pun. Jika memang keputusanmu ingin pergi, ya sudah. Lagian di sana ada Clay. Siapa tahu dengan keberangkatan kamu bisa menghibur Vika di sana,” ucap Daniel.


“Kalau kalian berdua pergi. Di sini hanya tinggal Mami, Papa, dan juga Ezra. Sunyi deh!” gumam Fransiska lirih.


“Nggak apa-apa loh sayang. Bukannya lebih bagus mereka semua pergi. Jadi, kita berdua di sini bisa berduaan dan menikmati bulan madu seperti awal kita menikah,” celetuk Daniel genit.


“Sayang. Kamu ini, ah!” gumam Fransiska pelototi Daniel.

__ADS_1


Daniel hanya tertawa sembari menggaruk kepala tak gatal.


“Kalau gitu, Brady naik ke atas. Mau mengemas pakaian yang akan Brady bawa,” pamit Brady hendak melangkah.


“Mami temani, ya!” tawar Fransiska sembari beranjak dari duduknya.


“Baiklah,” sahut Brady menerima penawaran Fransiska.


“Aku ke atas dulu, ya,” pamit Fransiska, tak lupa memberikan kecupan ringan di bibir Daniel.


“Iya!” angguk Daniel.


Brady dan Fransiska melangkah bersama menuju kamar Brady berada di lantai 2.


Sesampainya di dalam kamar Brady.


Brady menurunkan koper miliknya dari atas lemari, meletakkannya di depan lemari pakaian miliknya.


Fransiska membuka lemari, satu persatu mengeluarkan pakaian penting akan di bawa oleh Brady.


Sambil duduk di lantai, menyusun pakaian dan beberapa benda penting milik Brady, bersama Brady. Fransiska menyempatkan diri untuk bertanya-tanya kepada putra keduanya itu menyukai Vika, mantan dari anak selingkuhan suami nya sekaligus sudah di anggap menjadi putrinya.


“Brady, kalau Mami boleh tahu. Apa alasan kamu memilih Vika untuk menjadi istrimu?” tanya Fransiska hati-hati.


“Alasannya bukan karena Kak Vika sering bercanda menginginkan kami bertiga menjadi suaminya. Tapi, alasan Brady menginginkan Kak Vika menjadi istri Brady adalah supaya Kak Vika tidak merasa sendiri di sana. Ketika menikah dengan Kak Vika, Brady berniat untuk tinggal bersama dengannya di sana. Tentang bisnis butik milik Brady di sini. Brady bisa menghandle dari kejauhan,” sahut Brady memberi alasan panjang lebar.


“Bagaimana kalau jika perasaan kamu tidak terbalaskan?” tanya Fransiska membuat Brady menghentikan kegiatan menyusun pakaiannya.


“Setidaknya Brady sudah mengungkapkan isi hati, dan sudah tahu tentang perasaan Kakak Vika kepada Brady,” sahut Brady memberi alasan.


“Apa kamu tidak sakit hati dan memusuhi Vika nantinya?” Fransiska memegang sebelah tangan Brady, dan menatapnya. “Brady, Mami tidak ingin kamu kecewa dan akan membuat semua kedekatan kalian nanti menjadi musuh,” lanjut Fransiska cemas.


“Mami tenang saja. Itu tidak akan mungkin Brady lakukan,” sahut Brady meletakkan tangannya di atas punggung tangan Fransiska.


Setelah mengemas barang-barang, Brady pergi ke Bandara, menuju negara tempat Vika tinggal.


.

__ADS_1


.


bersambung


__ADS_2