RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
S2. 11. Ezra, apa kamu membenciku?


__ADS_3

Setelah mengeringkan baju Brady, dan ketepatan jam makan malam. Di tengah nikmatnya menyantap makanan masakan Vika. Ezra mengulurkan baju telah dilipat rapih ke Brady.


"Nah!" ucap Ezra mengulurkan tangannya, wajahnya berpaling ke sisi lain.


Vika dan Clay menatap Ezra.


"Loh, kenapa baju adek bisa sama Abang?" tanya Brady bingung, tangannya mengambil baju tersebut.


"Bukannya ini baju favoritmu, jadi aku minta langsung kepada Vika, lalu ku cuci," sahut Ezra cuek, padahal saat ini dia menahan malu setengah mati.


"Apa Abang mengambilnya langsung dari kak Vika?" tanya Brady penasaran.


Ezra mengangguk.


"Ya, ampun. Mata Abang Ezra ternyata kini sudah ternodai. Sama seperti kami berdua!" celetuk Clay.


"Dia nggak melihat apa pun," sabar Vika membela Ezra.


"Aku melihatnya," ucap Ezra jujur. Namun dengan wajah datarnya.


"Ya ampun Berarti kita bertiga senasib sekarang. Apalah kata Mami dan Papa nanti, kalau mereka tahu kita sudah melihat aurat wanita!" gumam Clay menggeleng.


"Aku tidak akan memberitahu Mama Fransiska dan om Daniel," janji Vika.


"Bagus kalau begitu," gumam Ezra kembali menikmati santap makanannya.


"Oh ya, maaf soal bajumu, Brady. Tadi saat aku cuci, bajumu robek. Mungkin efek terkena air pantai," ucap Ezra berbohong.

__ADS_1


Brady segera membuka lipatan bajunya, dan dilihatnya baju kaos kesayangannya benar-benar robek besar pada bagian jahitannya.


"Loh! kok bisa robek?!" tanya Vika penasaran.


"Makanya, kalau mau ke pantai itu harus mikir. Sudah dewasa, masa ke pantai saja harus memakai pakaian membuka aurat. Percuma kerja keras sampai umur tua, tapi untuk beli baju pantai yang sopan saja tidak bisa!" celetuk Ezra tanpa sadar.


Vika terdiam, hatinya sedikit sakit mendengar nada bicara Ezra begitu tinggi padanya.


Clay dan Brady spontan menoleh ke Vika, terlihat raut wajah menunduk seperti menahan tangis.


"Abang, kenapa Abang berkata begitu kasar ke kak Vika?" bisik Brady.


Ezra diam, menjawab dalam hatinya 'Bukannya aku ingin menyakiti perasaan Vika. Saking kesal dan cemburunya hati ini, bibirku pun tak mampu mengontrol isi hatiku. Aku sungguh keterlaluan.'


Ezra buru-buru menghabisi makanannya, lalu meninggalkan meja makan.


"Aku juga minta maaf atas ucapan Abang Ezra kepada kakak," tambah Brady ikut meminta maaf.


Vika menarik nafas panjang, di usapnya tetesan air mata menggenang di ujung ekor matanya. Merasa cukup tenang, Vika mengangkat wajahnya, tersenyum paksa pada Clay dan Brady.


"Bukannya sikap Ezra padaku memang seperti itu. Sudah, lupakan hal tadi dan mari kita lanjut makan," sahut Vika dengan senyuman palsunya.


"Kakak yakin tidak apa-apa?" tanya Brady cemas.


"Iya, aku tidak bersedih," sahut Vika bohong.


Vika, Brady dan Clay lanjut makan.

__ADS_1


Merasa bersalah, Ezra memutuskan untuk pergi ke rooftop, duduk memandang bintang demi bisa melepaskan rasa cemburu, kekecewaan, dan kekesalannya.


Di saat sedang memandang bintang, Vika datang membawa 2 cangkir teh hangat.


"Kenapa kamu sendirian di sini?" tanya Vika duduk di sebelah Ezra.


Ezra tidak menjawab, ia hanya diam terus memandang bintang di langit gelap malam itu.


"Melihat bintang di malam hari itu memang pas untuk membuat kita nyaman," gumam Vika sembari menyeruput teh miliknya.


Ezra masih diam, sesekali dirinya hanya melirik ke Vika, lalu kembali fokus ke langit bertabur bintang.


"Ezra, kalau aku boleh tahu. Seberapa besar kamu membenciku?"


"Aku tidak membencimu!" sahut Ezra singkat, Vika senang mendengarnya.


"Lalu, kenapa kamu begitu ketus dan cuek padaku?"


"Entah!" sahut Ezra singkat.


"Baiklah, kalau gitu aku sekarang lega karena kamu tidak membenciku," hela Vika, kembali menyeruput tehnya.


Ezra kembali melirik. 'Syukurlah kalau kamu senang. Aku jadi lega,' batin Ezra.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2