
Pintu kamar ruang rawat inap Fransiska terbuka, Andreas menghentikan panggilan teleponnya saat melihat tangan mungil Fransiska menjuntai ke bawah. Andreas membenarkan posisi tangan Fransiska, lalu ia duduk di samping ranjang, menatap wajah pucat Fransiska.
“Kamu pikir bisa meninggal begitu saja dengan cara melakukan percobaan bunuh diri. Tidak Siska, saya tidak akan pernah membiarkan kamu pergi dengan begitu mudah. Kamu adalah istriku, boneka ku, dan…kamu juga adalah sebuah hoki bagi bisnisku. Tanggal lahir, dan primbon kamu sangat bagus untuk bisnisku. Saya memang mengaku salah karena saya khilaf melakukan hal itu kepada wanita liar di luar sana. Tapi, saya mengatakan hal yang sejujurnya. Hanya kamu, kamu lah wanita yang selalu memberikan kepuasan tersendiri untuk diri saya,” gumam Andreas dengan pikirannya sendiri.
Sementara itu, Daniel masih bersembunyi di balik kain gorden di ruang rawat inap Fransiska, mencoba menahan geram mendengar kejujuran Andreas. Ingin rasanya ia mengajar habis-habisan Andreas saat mendengar jika Fransiska hanya di jadikan sebuah boneka, dan kehadirannya hanya untuk hoki bisnis milik Andreas.
Mendengar ucapan Andreas, berarti Andreas tidak mencintai Fransiska dengan tulus, melainkan memiliki sebuah maksud untuk menunjang bisnis miliknya agar bisa lebih maju dan berkembang. Sungguh picik.
Pintu kamar ruang rawat inap Fransiska kembali terbuka, terlihat Anissa berjalan santai memasuki ruangan rawat inap.
“Ada apa ini sayang?” Tanya Fransiska pura-pura cemas.
“Fransiska mencoba mengakhiri hidupnya. Untung saja saya cepat mengetahuinya, dan Fransiska masih bisa mendapatkan pertolongan pertama oleh pihak rumah sakit," sahut Andreas lirikan mata mengarah pada Fransiska masih belum sadarkan diri.
“Ya ampun, kenapa kamu melakukan hal itu Siska,” cetus Anissa sembari memeluk Fransiska, dan berbisik pelan hingga Andreas tak bisa mendengarkannya. “Kenapa tidak mati sekalian saja kau. Kalau kau mati dengan begitu aku bisa menguasai semua harta milik Andreas. Atau…aku akan mewujudkan impian kau jika nanti Andreas sudah pergi.”
Seperti keberuntungan sedang berada di pihak Anissa, ponsel Andreas kembali berdering. Terlihat nama panggilan dari sekretaris perusahaan.
“Saya lupa, siang ini saya ada rapat di luar kota. Saya titip Fransiska. Kabari saya jika Fransiska sudah sadar,” pesan Andreas, setelah itu ia berlalu pergi saat mendengar jawaban Anissa mengatakan ‘Ia’.
Di ruangan itu tinggallah Anissa, sementara Daniel masih bertahan di tempat persembunyiannya.
“Wah, wah, sepertinya Tuhan selalu mewujudkan keinginanku. Seperti yang aku bisikan barusan tadi, aku akan membantu kau untuk menemui Sang Pencipta,” gumam Anissa, perlahan ia mengambil bantal di pakai oleh Fransiska dan menutup wajah Fransiska.
Saat Anissa melancarkan aksinya, tangan Anissa di tahan oleh tangan seorang pria dari belakang. Tangan itu tak lain adalah milik Daniel.
“Berani sekali kamu!” hardik Daniel menekan nada suaranya.
Anissa menoleh, bantal dari genggaman tangannya terjatuh ke bawah, bola mata Fransiska membulat sempurna, wajahnya juga berubah menjadi pucat.
“Ka-kamu…”
“Kenapa? Pasti kamu tidak percaya jika kita bisa bertemu di sini?” sela Daniel langsung memutus ucapan Anissa.
“Ke-kenapa kamu bisa di sini?” Tanya Anissa dengan suara gemetar.
__ADS_1
“Karena kamu telah mengganggu, serta sudah merusak rumah tangga seorang wanita yang begitu baik,” Daniel memegang lengan Anissa, membawanya paksa keluar ruangan rawat inap Fransiska.
Begitu sampai di depan ruangan rawat inap Fransiska, Daniel terus menatap Anissa dengan tatapan suram.
“Cepat pergi dan tinggalkan kehidupan rumah tangga wanita yang sudah kamu rusak!” perintah Daniel tegas.
“Ha ha ha…apa? Enak saja mulutmu berkata seperti itu, kamu kira kamu siapa? Haa!”
“Aku memang bukan siapa-siapa kamu!”
“Nah, itu kamu tahu. Apa kamu masih ingin ikut campur dengan urusan ku?” Anissa malah balik bertanya seperti sedang mengejek Daniel.
“Memang bukan urusanku. Tapi wanita yang kamu sakiti saat ini adalah….” Ucapan Daniel terhenti saat mendengar suara Andreas memekik kepadanya.
“BERANI SEKALI KAU DATANG!”
Tak ingin membuat keributan di depan ruang rawat inap Fransiska, Daniel berlari kencang, meninggalkan Anissa masih terdiam berharap bisa mendengar sisa kalimat Daniel.
“Kenapa pria itu bisa berada di sini?” Tanya Andreas ketus.
“Saya Tanya. KENAPA PRIA ITU BISA BERADA DI SINI?!” Andreas balik bertanya dengan nada suara tinggi.
Semua pengunjung spontan menoleh ke arah keribuatn di buat Andreas. Satpam berkeliling mendekati Andreas, menegur dengan lembut hingga perdebatan terhenti. Merasa di permalukan di depan orang banyak, Anissa pergi meninggalkan ruangan rawat inap Fransiska.
Andreas membuka pintu kamar ruang rawat inap Fransiska, melihat bantal Fransiska terjatuh di lantai, serta posisi tidur Fransiska terlihat kacau. Andreas segera memanggil dokter, ia pun pergi ke ruang cctv untuk mengecek apa yang terjadi tadi.
Andreas terkejut bukan main saat melihat Anissa ternyata mencoba melakukan aksi membunuh ke Fransiska, sedangkan Daniel mencoba menghentikan Anissa.
Niat hati kembali karena kunci mobil miliknya tertinggal di dalam ruangan rawat inap Fransiska, ia malah mendapati kekacauan terjadi kepada sang istri.
Untuk mengantisipasi Fransiska selamat dan Daniel tak kembali mengunjungi Fransiska, Daniel memutuskan untuk menelepon bodyguard untuk menjaga ruangan rawat inap Fransiska.
Karena tidak memiliki banyak waktu untuk kembali ke rumah, menghajar Anissa. Andreas memutuskan untuk melakukan rapat terlebih dahulu.
Sementara itu di rumah mewah milik Andreas.
__ADS_1
Anissa terlihat gelisah, mondar-mandir di ruang tamu.
“Ada hubungan apa Daniel dengan Siska. Kenapa, kenapa, dan kenapa lelaki itu selalu muncul saat aku hampir mencapai puncaknya. Apa sebenarnya yang ia inginkan. Apakah Daniel ingin melakukan balas dendam kepadaku. Tidak…itu tidak mungkin. Aku tahu, aku sangat tahu jika Daniel saat ini sudah tidak memiliki apa pun. Tapi kenapa, dan ada hubungan apa mereka berdua,” gumam Anissa sedikit pusing karena tidak mendapatkan jawaban tepat untuk semua pertanyaannya.
Dari kejauhan terlihat bibi, tukang kebun sedang mengintip di balik tiang menuju dapur.
“Kang, nama Daniel yang sedari tadi di sebut oleh wanita jahat itu, bukannya Daniel, tuan muda yang tinggal di sebrang rumah nona Fransiska?” bisik bibi bertanya sama kang kebun rumah Fransiska.
“Benar. Tapi kenapa wanita jahat ini bisa mengetahui tuan Daniel. Apa sebelumnya wanita jahat ini juga pernah menghancurkan rumah tangga tuan Daniel?” jawab kang kebun malah balik bertanya.
“Loh, akang kok malah balik bertanya sama bibi. Lah, bibi mana tahu kang!”
“Oh iya juga,” kekeh kang kebun sembari menggaruk kepalanya tak gatal. “Oh ya, bibi tadi ada melihat kondisi nona muda tidak?” lanjut kang kebun mengingat kejadian Fransiska di gendong dengan kedua lengan bersimbah darah.
“Enggak, bibi tadi lagi ke pasar jadi tidak tahu kejadian apa pun di rumah ini, kang,” sahut bibi menggeleng.
“Nona muda melakukan bunuh diri. Pasti nona muda melakukan hal itu karena sangat tertekan. Kasihan banget, ya?”
“Astaqfirullah al-adzim. Masa ia nona muda kita yang terlihat tegar, pendiam dan murah senyum itu ingin melakukan percobaan bunuh diri. Pasti akang salah dengar,” ucap bibi tidak percaya.
“Tidak, nona Fransiska memang mencoba melakukan percobaan bunuh diri. Bibi lihat saja setelah nona keluar dari rumah sakit, pasti di kedua lengannya banyak bekas sayatan,” sahut kang kebun serius.
“Ya Allah, pasti kedua tangan nona Fransiska tidak akan mulus lagi. Kasihan bibi melihatnya,” ucap bibi sampai menyebut nama Allah.
“Eh, sudah dulu. Mari kita kembali bekerja sebelum wanita jahat itu mengadu yang tidak-tidak kepada tuan besar,” putus kang kebun.
Kang kebun dan bibi membubarkan diri mereka, kembali ke aktivitasnya masing-masing.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1