
Keesokan paginya.
06:00 pagi, seperti biasa, Fransiska menyempatkan dirinya untuk berlari kecil keliling kompleks. Menghirup udara segar, sekaligus menyegarkan pikirannya dari belenggu ucapan Anissa kemarin sore.
Langkah kaki Fransiska terhenti di taman, ia membungkuk, buliran keringat menetes ke tanah.
“Hosh, hosh, hosh!” berdiri, menyeka keringat memenuhi dahinya, “Lumayan, setelah menghabiskan 50 putaran hati ini perlahan menjadi tenang,” gumam Fransiska lega.
“Emang kenapa hati kamu?” tanya seorang pria mengejutkan Fransiska. Ia pun menoleh, bola matanya membulat sempurna saat melihat orang itu adalah Daniel.
“Daniel!” gumam Fransiska, tubuhnya spontan ingin memeluk Daniel. Namun, tangan tegap itu spontan mengulur, menahan dahi Fransiska.
“STOP!” teriak Daniel menghentikan Fransiska.
“Kenapa?” tanya Fransiska lupa kalau mereka saat ini masih di tempat umum.
“Masa harus aku jelasin juga. Kalau lelah sebaiknya kamu pulang, aku mau lanjut lari lagi,” sahut Daniel.
“Kangen,” gumam Fransiska manja.
“Kalau ada waktu kita kangen, kangenan ya?” sahut Daniel ingin mengajak jumpa, melepaskan kerinduan sudah lama di pendam.
“Hem,” angguk Fransiska semangat.
Daniel dan Fransiska lari bersama. Lari mereka berdua harus terhenti saat mobil Andreas perlahan keluar dari dalam gerbang rumah, dan berhenti di tepat Fransiska dan Daniel berhenti.
“Pemandangan apa ini?” tanya Andreas sinis.
“Pagi, tuan Andreas. Jangan salah paham saat melihat aku mengikuti Fransiska,” jelas Daniel tenang.
“Oh, jadi kamu masih terus mengikuti istri saya?” tanya Andreas sinis.
“Mohon maaf, aku tidak tertarik dengan istri Anda. Aku hanya ingin menyapa tetangga saja, tidak enak kalau bertemu tetangga tidak menyapanya,” sahut Daniel berbohong.
“Awas kamu, kalau sampai ingin…” ucapan Andreas terhenti saat Fransiska memberikan ciuman di sebelah pipi Andreas.
__ADS_1
“Sudah, Mas jangan marah seperti ini kepada tetangga kita. Mas tenang aja, aku tidak akan mungkin tertarik, bahkan menyukai lelaki lain selain Mas,” cetus Fransiska berbohong demi menenangkan hati dan pikiran Andreas.
Andreas hanya melirik singkat ke Fransiska, lalu ia melirik sinis ke Daniel.
“Kenapa masih di sini? Pergi sana! Jangan pikir jika kamu dulu teman sekolah Siska, kamu bisa akrab dan berteman dengannya. Ingat kalau kamu tidak selevel dengan Siska ataupun saya!” tegas Andreas tak lupa menyindir sedikit kasta.
Fransiska hanya diam, ia menghela nafas sesekali untuk tetap tenang dan ikut campur.
“Baik, aku pamit dulu,” sahut Daniel singkat.
Daniel pun melangkah menuju rumahnya bersebrangan dengan rumah Fransiska. Setelah kepergian Daniel, Fransiska menatap langsung nanar bola mata suaminya terlihat masih memendam amarah.
“Lain kali jangan seperti itu ya, Mas. Tidak bagus jika seorang Presdir marah-marah kepada orang lain,” ucap Fransiska lembut, berusaha menenangkan hati Andreas.
“Saya tidak akan marah lagi, asal kamu beneran tidak menaruh hati kepada lelaki lain selain saya,” sahut Andreas memberitahu.
“Sip! Suamiku yang paling tampan dan gagah sedunia. Mas tenang aja, ya!” sahut Fransiska kembali merayu sembari memberikan sekali lagi ciuman untuk Andreas.
Andreas tersenyum, ia kini merasa sedang terbang melayang ke udara setelah mendapatkan ciuman dari Fransiska. Wajah amarahnya perlahan pudar, berganti wajah ceria dan penuh semangat.
“Siap!” sahut Fransiska memberikan jempol tangannya.
“Jangan lupa siapkan pakaian dan bahan-bahan lainnya untuk saya bawa nanti. Saya ingin bertemu dengan seseorang dulu sebelum berangkat. Saya pamit, ya!” pamit Andreas sembari menaikkan kaca jendela mobilnya.
“Daa…hati-hati ya, Mas!” sahut Fransiska memberikan lambaian sambil menatap kepergian mobil Andreas sudah berada 5 langkah dari tempat ia berdiri.
Baru saja Fransiska masuk ke dalam gerbang, ia sudah di hadang oleh Anissa.
“Berapa kamu di transfer uang oleh Mas Andreas?” tanya Anissa mengejutkan Fransiska.
“Mana ku tau!” sahut Fransiska sembari terus melangkah.
“SISKA!” panggil Anissa meninggikan nada suaranya, membuat Fransiska menghentikan langkahnya.
“Ada apa lagi?” tanya Fransiska lembut.
__ADS_1
Anissa berjalan dengan langkah tegap mendekati Fransiska.
“Katakan, berapa Andreas mengirimkan kamu uang?” tanya Anissa sekali lagi.
“Kenapa?” tanya Fransiska tetap tenang, meski dalam hatinya ia malas sekali meladeni Anissa.
“Aku mau melihatnya aja. Soalnya Mas Andreas hanya mengirimkan aku uang sebanyak 200 juta selama ia pergi,” cetus Anissa dengan nada sombong.
“Oh, aku entahlah! Mungkin aku di bawah kamu,” sahut Fransiska asal bunyi.
“Mana mungkin. Kamu itu ‘kan adalah istri kesayangannya. Aku ingin melihat M-bangking milik kamu. Jika Andreas tidak adil membagi uangnya, maka aku akan meminta lebihan itu dari kamu!” tegas Anissa ingin serakah dengan uang Fransiska.
“Oh, baiklah. Mari ikut ke kamar,” sahut Fransiska tanpa penolakan.
Fransiska mulai melangkah menuju kamarnya di ikuti oleh Anissa. Sesampainya di depan pintu kamar Fransiska, Anissa bukannya menunggu di luar pintu, ia malah ikut menerobos masuk ke dalam kamar.
“Ck, Andreas itu benar-benar tidak adil. Masa kamar kamu lebih besar dari kamarku. Padahal kamu bukanlah wanita yang mampu memberikan keturunan untuk Andreas,” gumam Anissa kembali menghina Fransiska.
Fransiska hanya diam, ia hanya bisa menghela nafas panjang untuk ketentraman hatinya. Tidak ingin melihat Anissa terus mendumel tak penting di dalam kamarnya, Fransiska segera menunjukkan total saldo M-banking miliknya ke Anissa.
Bola mata Anissa membulat sempurna, saat melihat total saldo milik Fransiska berada di 10 M.
“Ke-kenapa total saldo kamu bisa lebih banyak dari milikku?” tanya Anissa di sela kegugupannya.
“Kenapa kamu harus memiliki anak jika memang ingin memiliki total saldo seperti milikku,” sahut Fransiska tanpa perasaan.
Anissa mengepalkan kedua tangannya.
“Lantam sekali mulutmu, wanita mandul!”
“Terlalu maju kali bibirmu untuk terus bertanya tentang total saldo pemberian Mas Andreas kepadaku. Jika tidak ingin di senggol, maka jangan senggol aku,” celetuk Fransiska tanpa memikirkan sakit hati Anissa.
“Berikan aku sebagian uang dari ATM kamu!” tegas Anissa tak tahu malu.
“Hahaha…berani sekali kamu meminta uang milikku seperti itu. Emang kamu siapanya aku? Terus jika saldo uang milikku lebih banyak dari milikmu, aku harus turut prihatin gitu? Jika memang kamu mau di perhatikan dan mendapatkan uang lebih banyak lagi dari Mas Andrea, maka kamu harus bisa merawat diri. Kamu harus tahu, tidak semua orang menikah itu harus memiliki anak. Tidak semua wanita belum hamil itu adalah wanita mandul. Jika memang istilah kasar kamu mampu melukai hatiku, maka kenapa aku tidak langsung bertanya kepada kamu. Kenapa wanita yang sudah memiliki anak harus memiliki tubuh melar dan berwajah jelek? Ck, pasti kamu tidak bisa menjawab dan menyakinkan pendengar untuk percaya dengan ucapanmu ‘kan?”
__ADS_1
Anissa terdiam, ia hanya bisa mengepal kedua tangannya sembari menggeram.