RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
BAB 47. Membawa Vika Pergi


__ADS_3

Bagi manusia memiliki sikap serakah, haus akan uang dan ketenaran, pasti hatinya mulai tertutup rasa kemanusiaan. Tidak perduli saat ini ia kehilangan orang tercinta di kehidupannya. Terpenting baginya adalah, tetap bisa menikmati tahta, dan uang.


Anissa dan Andreas sudah meninggalkan teras rumah dengan pintu utama ia kunci dari dalam. Membiarkan jasad Vika di urus oleh akang tukang kebun, dan Pak satpam.


“Kamu sungguh tega padaku,” gumam Anissa setelah mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang, pandangan kosong menatap lurus ke Andreas berganti pakaian.


“Istilah mengatakan jika hidup di dunia ini hanyalah sementara, dan saya tidak ingin membuang waktu tak penting demi mewujudkan keinginan seperti tadi. Buang-buang waktu dan tenaga saya!” sahut Andreas mulai melangkah mendekati ranjang, membaringkan tubuhnya di ranjang empuk itu.


Anissa ikut memutar posisi duduknya menjadi di samping kiri Andreas. Cairan bening masih bertahan di pelupuk matanya hingga rasa sesak di dada mulai menyeruak ke otak kecilnya.


“Tapi Vika itu anak kita. Satu-satunya anak kita, pewaris tunggal kamu. Kenapa kamu tega bersikap dingin seolah tak punya hati seperti ini?” isak Anissa.


“Tega? Kenapa kamu bisa berpikir jika aku tega? Kalau kita sudah kehilangan seseorang, sang pencipta pasti akan memberikannya yang baru. Jika kamu tidak bisa melahirkan, maka saya akan menanam benih di rahim wanita lain. Sudahlah, hal kecil seperti ini saja kamu buat ribet. Lebih baik tidur sana, saya pusing!” celetuk Andreas, memutar tidurnya membelakangi Anissa.


“Apa kamu pikir uang bisa membeli segalanya?” tanya Anissa lirih.


“Oh, tentu saja. Percuma saya bekerja keras tapi tidak bisa menikmati uang hasil banting tulang saya sendiri,” sahut Andreas dengan kedua mata terpejam.


Anissa tidak bisa menjawab apa pun, ia hanya bisa menggenggam erat selimut, dan berteriak dalam hati.


“Sudah jangan terus memikirkan Vika, lebih baik kamu tidur. Jika kamu masih menginginkan anak, maka kita akan melakukan bayi tabung, gampang ‘kan?” ucap Andreas dengan entengnya.


‘Sungguh gampang bagi bibirmu untuk mengatakan hal seperti itu. Asal kau tahu aja, Vika itu bukan anakmu. Vika itu adalah anak dari James! Ck, bagaimana kedepannya dengan aku tanpa adanya Vika. Jika Andreas bangkrut, aku sudah tidak memiliki bidak untuk memaksa James menerima kami. Kehidupan mewah dan rasa nyaman ini pasti selesai sudah,’ geram Anissa dalam hatinya.


Seolah hati di rasuki rasa haus akan kemewahan dan kemegahan. Rasa sakit akan di tinggal sang putri perlahan hilang dari tubuhnya, di ganti dengan rasa kantuk teramat dalam. Apa lagi saat ini hatinya mendadak senang setelah mendapatkan sebuah perkataan menjanjikan dari bibir Andreas.


.


.


Di sisi lain.


Vika masih tertidur lelap diam-diam di bawa masuk ke dalam pesawat telah James boking. Begitu nyenyak nya Vika tertidur hingga tidak merasakan suara mobil, dan mesin pesawat.


Sebelum berangkat, James terlihat sedang menunggu seseorang di depan pintu pesawat. 5 menit berlalu, terlihatlah orang di tunggu James memasuki landasan pesawat. Orang itu tak lain adalah, bu polwan, dan 4 pihak berwajib tadi mengantarkan kantung jenazah palsu Vika ke rumah Andreas.

__ADS_1


“Sudah mau berangkat tuan?” tanya bu polwan setelah berhadapan dengan James.


“Dari raut wajahmu, sepertinya kau berhasil mengelabuhi mereka. Apakah benar dugaanku?” tanya James di sela senyumannya.


“Terimakasih atas pujiannya. Itu memang sudah tugas kami untuk meloloskan rencana yang tuan inginkan,” sahut bu Polwan.


“Kalau gitu, mari kalian ikut bersamaku pulang ke rumah. Aku menyerahkan tugas penjagaan Vika kepada kamu dan anak buahmu, Chyntia,” tegas James memberikan tugas baru untuk Chyntia.


“Aku sangat terharu dan banyak-banyak terimakasih untuk tugas baru yang tuan berikan kepada tim milikku,” Chyntia dan keempat anak buahnya berdiri tegak, kepalan tangan kanan di letakkan di depan dada. “Aku mewakili keempat anak buahku, memastikan akan terus menjada nona muda dari bahaya ataupun ancaman apa pun,” lanjut Chyntia memberi sumpah janji.


“Aku percaya, kalau gitu mari masuk!” ajak James mengulurkan tangannya ke dalam.


Chyntia dan keempat anak buahnya melangkah masuk ke dalam pesawat tanpa ragu.


.


Sementara itu di sisi lain.


Fransiska masih dalam kepura-puraan menjadi wanita cacat tengah terbaring di rumah sakit.


Di sela gumamnya, pintu ruangan terbuka, terlihat seorang pria tua masuk dengan kedua tangan memegang bungkusan berisi makanan.


Nyit!


“Siapa kamu?” tanya Fransiska mulai panik.


Pria tua mengunci pintu ruang rawat inap Fransiska dari dalam, membuat Fransiska semakin ketakutan dan panik.


“Katakan apa yang ingin kau lakukan di sini?” tanya Fransiska menyudutkan tubuhnya di kepala ranjang.


“Ingin meniduri mu,” sahut pria tua itu dengan suara begitu familiar di telinga Fransiska.


Fransiska mengerutkan dahinya, kedua kakinya turun dari ranjang, dan mulai melangkah mendekati pria tua itu.


“Apakah kamu ini, Daniel?” tanya Fransiska, tangannya mulai meraba wajahnya. Namun, pria tua itu menahan pergelangan tangan Fransiska.

__ADS_1


“Apa kamu penasaran?” bisik pria tua itu.


“Kamu Daniel, ‘kan?” tanya Fransiska menyakinkan pendengarannya jika suara di miliki pria tua adalah milik Daniel.


“Wah, penyamaran aku terbongkar,” ucap Daniel sembari melepaskan topeng kulit dari wajahnya.


“Kenapa pakek menyamar segala sih?” cetus Fransiska dengan wajah cemberut.


Daniel membawa Fransiska menuju sofa, dan memaksa Fransiska untuk duduk di sisi kirinya.


“Mulai hari ini kamu harus berhati-hati, karena di luar banyak wartawan diam-diam menyamar sebagai pengunjung, perawat atau lainnya demi bisa mendapatkan update berita terkini tentang kamu,” jelas Daniel merendahkan nada suaranya.


“Iya, terus apa hubungannya dengan kamu yang memakai topeng wajah palsu ini?” tanya Fransiska masih penasaran.


“Itu karena aku tidak ingin kamu mendapatkan gossip miring sebelum Andreas melakukan pertemuan besar beberapa hari lagi,” sahut Daniel cemas.


“Lah, bukannya ia memang akan menuduhku berselingkuh di waktu acara itu tiba.”


“Iya, walaupun hal itu akan terjadi, tapi tetap saja kamu harus lebih waspada agar nama kamu tidak di nilai buruk oleh orang lain. Dan kamu juga harus berhasil dengan rencana kita saat hari itu tiba,” ucap Daniel memberitahu.


“Baik, kamu memang pacarku yang sangat perhatian,” gemas Fransiska mencubit kedua pipi Daniel.


“Jangan memancingku untuk melakukan hal lebih,” bisik Daniel.


“Coba saja kalau kamu bisa melakukannya di rumah sakit,” tantang Fransiska.


Tanpa banyak bicara, Daniel mengangkat enteng tubuh Fransiska ke atas pangkuannya. Energi cinta dari masing-masing nanar mata saling bertemu membuat aliran darah naik turun tak karuan.


“Aku mencintaimu,” bisik Daniel tak lupa menciumi Fransiska dengan buas.


“Aku juga mencintaimu,” bisik Fransiska terengah-engah karena Daniel menciumnya sangat buas.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2