
1 Hari kemudian, Fransiska sudah kembali ke rumah karena dokter menyatakan jika dirinya sudah bisa pulang.
Baru saja sampai di depan pintu rumah, bibi menyambut hangat ke datangan Fransiska.
“Nona, nona muda akhirnya pulang juga,” sambut bibi mengikuti langkah Fransiska.
Anissa melihat keharmonisan Fransiska dan bibi cemburu. Kenapa para karyawan di rumah Fransiska bisa bersikap hangat dan sopan kepadanya, tapi tidak dengan dirinya. Apa karena dirinya merasa belum tegas dan kejam? Itulah yang ada di pikiran Anissa.
Fransiska perlahan berjalan bersama dengan bibi menuju kamarnya berada di lantai 2, tak lupa lirikan penuh maksud menatap Anissa berdiri di belakangnya, masih memandang kepergian Fransiska sudah semakin jauh di depan mata.
Sementara itu Andreas kembali ke ruang kerjanya karena masih ada beberapa berkas yang harus ia kerjakan untuk meeting besok pagi.
Sesampainya di depan pintu kamar Fransiska, sebuah tangan mungil menarik rok dres pakaian miliknya dari belakang. Tangan mungil itu tak lain adalah milik Vika, sudah lama menunggu kepulangannya di koridor menuju kamar milik Fransiska.
“Kenapa Vika?” Tanya Fransiska menolehkan pandangannya ke Vika berada di samping kirinya.
“Apakah tante sudah sembuh?” Tanya Vika dengan raut wajah terlihat cemas.
“Kamu tahu darimana kalau tante sakit?” Fransiska balik bertanya, ia penasaran kenapa Vika tahu jika dirinya masuk rumah sakit.
“Karena Vika tidak melihat tante Siska di rumah. Vika bertanya sama bibi. Kata bibi, tante masuk rumah sakit karena kelelahan,” sahut Vika menunjuk ke bibi berada di samping kanan Fransiska.
“Maafkan saya lancang membahas tentang nona muda,” maaf bibi sedikit menundukkan kepalanya.
“Apalah bibi, tidak usah menundukkan kepala juga,” cetus Fransiska lembut, tak lupa segaris senyum tercetak di wajah cantiknya.
“Terimakasih, terimakasih nona,” peluk cium bibi keceplosan.
“Ha ha, bibi dan tante Siska ternyata lucu juga,” kekeh Vika melihat bibi memeluk dan mencium Fransiska seperti anak kecil.
__ADS_1
Tak lama terdengar suara Anissa membentak putrinya, Vika.
“VIKA! Sini kamu!” panggil Anissa dari depan anak tangga.
Fransiska dan bibi terdiam, menatap kedatangan Anissa terlihat begitu tidak senang. Anissa menggenggam pergelangan tangan Vika, menariknya menjauh dari Fransiska dan juga bibi.
“Kamu jangan dekat-dekat sama tante ini!” ucap Anissa menggantung. Fransiska dan bibi melihat dengan tatapan penuh tanya.
“Kenapa Ma?” Tanya Vika polos.
“Sudah, mari ikut biar Mama jelaskan di dalam kamar kamu!” ajak Anissa menarik tangan Vika menuju kamarnya berada di lantai 1.
Fransiska dan bibi tidak menghiraukan ucapan Anissa, memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Bibi juga membantu membereskan pakaian Fransiska, memilah-milih pakaian bersih atau harus di cuci.
Selesai sudah tugas bibi, bibi berpamitan untuk meninggalkan Fransiska di dalam kamar, agar Fransiska bisa mengistirahatkan tubuhnya. Setelah bibi pergi, Fransiska mendudukkan dirinya di tepian ranjang. Pandangannya mengarah ke jendela kamar.
“Kalian pikir aku tidak mendengar semua percakapan kalian waktu aku tidak bisa membuka mataku. Kamu memang seorang suami yang buruk Mas, Andreas. Teruntuk kamu, Anissa. Kamu benar-benar seorang penyihir yang jahat, bisa-bisanya kamu mencoba melakukan percobaan membunuhku. Kalian pikir aku tidak tahu. Cukup, sudah cukup bagiku untuk selalu sabar dalam menyikapi sikap kalian berdua. Mulai hari dan detik ini juga, Fransiska yang dulu suka mengalah dan lembut akan hilang dari pandangan kalian berdua. Siap-siap saja untuk bertemu dengan karakter baruku,” gumam Fransiska sembari mengingat perbuatan Anissa dan ucapan kasar Andreas di rumah sakit sewaktu dirinya tak mampu membuka kedua matanya.
Anissa dan Vika duduk di tepi ranjang milik Vika. Sorot mata serius menatap lekat nanar bola mata polos dan indah milik Vika. Tidak ingin anaknya dekat-dekat dengan Fransiska, Anissa pun mulai merasuki pikiran polos Vika.
“Vika, kamu tahu ‘kan apa penyebabnya Mama dan Papa selalu cekcok?” Tanya Anissa ambigu.
“Tidak tahu Ma, emang Papa dan Mama cekcok gara-gara apa?” Vika balik bertanya.
Air mata buatan perlahan mentes, membasahi pangkuan Anissa. Vika melihat Mama nya menangis menjadi bingung.
“Mama kenapa menangis?” Tanya Vika tak lupa menghapus jejak air mata di kedua pipi Anissa dengan tisu.
“Tante Siska…hikss…” ucapan Anissa terputus karena ia sibuk menangis.
__ADS_1
“Kenapa dengan tante Siska, Ma?” Tanya Vika bertambah bingung.
“Jika Mama bilang yang sesungguhnya tentang tante Siska, apakah Vika akan mempercayai ucapan Mama?” Anissa balik bertanya. Vika semakin bingung mendengar ucapan Anissa selalu menggantung dengan wajah terlihat sedih.
“Kenapa dengan tante Siska, Ma? Katakan saja, Vika akan tetap percaya dengan ucapan Mama kok,” sahut Vika dengan polosnya.
“Sebenarnya tante Siska mencoba merebut Papa kamu dari Mama. Tante Siska melakukan banyak cara untuk menarik perhatian Papa kamu. Ketika Mama menegur Papa untuk menjauhi tante Siska dan tidak usah terlalu perduli dengan semua hal yang di buat olehnya. Papa kamu selalu membentak Mama. Makanya kalau Vika melihat Mama dan Papa selalu cekcok, semua hal itu karena kami sedang berdebat masalah tante Siska,” jelas Anissa berbohong.
Ia mulai meracuni pikiran polos Vika, menanamkan sebuah kebencian agar bisa menambah kekuatannya untuk menyingkirkan Fransiska dari rumah ini.
“Ti-tidak mungkin. Tante Siska mana mungkin melakukan hal itu, tante Siska mana mungkin ingin merebut Papa dari Vika dan Mama. Mama pasti salah paham,” elak Vika mencoba berpikir positif kepada Fransiska.
Mendengar ucapan putrinya seperti tak percaya kepadanya. Anissa kembali menangis dengan tangisan di buat-buat sedramatis mungkin. Melihat sang ibu menangis tersedu-sedu hingga sesenggukan, Vika memeluk sang ibu, mencoba menangkannya.
“Ma, maafkan Vika karena tidak percaya dengan ucapan Mama. Memang sekilas Vika tidak percaya dengan ucapan Mama, karena mana mungkin seorang wanita begitu baik, dan selembut tante Siska bisa melakukan hal seperti itu. Jika tante Siska ingin merebut Papa dari Vika dan Mama, bukannya tante Siska sama seperti seorang wanita yang jahat. Vika tidak akan membiarkan hal itu terjadi Ma,” gumam Vika lirih.
“Mama ada cara untuk menyingkirkan tante Siska,” ucap Anissa tiba-tiba semangat.
“Apa itu Ma?” Tanya Vika ikutan semangat.
Anissa pun membisikan sebuah kalimat dan rencana ajaib kepada sang putri. Dengan mudahnya, ucapan itu di terima oleh sang anak masih sangat polos hingga menimbulkan aura kebencian di benih bola mata indah itu.
Berhasil sudah merasuki pikiran sang putri, Anissa tersenyum lebar, tertawa puas dalam hati.
Mudah, memang sangat mudah untuk menghasut seseorang yang masih berhati polos. Puas, hati pun terasa sangat puas untuk menantikan sebuah jawaban atas rencananya.
Sementara itu, Vika masih menggeram, kedua tangan mungil ia kepal dengan sangat erat. Ingin rasanya gadis mungil itu melancarkan aksinya sesuai dengan ucapan sang ibu.
.
__ADS_1
.
Bersambung