RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
BAB 20. KESAL


__ADS_3

2 hari setelah berubahnya sikap Fransiska. Rumah tangga Fransiska biasa di liputi dan di penuhi dengan cekcok kini berubah menjadi tenang. Karena Fransiska tidak lagi menuntut untuk memiliki anak dari rumah tangganya.


Hari ini Andreas meminta izin kepada Fransiska untuk pergi perjalanan bisnis ke luar negeri kurang lebih akan memakan waktu selama hampir 30 hari lamanya. Mendengar hal itu Fransiska langsung bersemangat, ke bebasan benar-benar ada di tangannya.


Anissa juga sudah memulai membuat sebuah rencana untuk menyingkirkan Fransiska, kalau bisa, Anissa akan membuat Fransiska mati secara perlahan sebelum Andreas kembali pulang.


Setelah mengantarkan Andreas pergi hanya sebatas sampai di teras rumah. Fransiska melangkah santai ingin masuk ke dalam rumah, meninggalkan Anissa dan Vika masih berada di teras rumah. Namun langkah Fransiska terhenti saat Vika menggenggam tangan Fransiska.


“Tante, tante Siska,” panggil Vika menarik ringan tangan Fransiska.


“Iya, ada apa Vika?”


“Tante hari ini mau pergi?” Vika bertanya seolah ia ingin melancarkan aksinya sesuai permintaan Mamanya, Anissa.


“Hem, siang ini tidak. Tapi entar malam ia. Emang kenapa?” sahut Fransiska lembut.


“Ya, padahal Vika ingin mengajak tante nonton bioskop. Kalau gitu Vika nggak jadi nonton deh!” cetus Vika seolah patah hati.


“Kamu nonton sama Mama kamu saja,” usul Fransiska melirik ke Anissa tampak berwajah masam.


“Kalau nonton sama Mama sudah biasa. Kalau nonton sama tante ‘kan belum pernah,” sahut Vika sendu, wajahnya pun di pasang sedemikian sedihnya.


“Maaf, ya. Tapi tante tidak bisa, lain kali saja ya, sayang,” ucap Fransiska kembali menolak ajakan Vika dengan lembut.


“Hem, baiklah,” gumam Vika semakin sendu.


“Tante masuk dulu, ya,” pamit Fransiska mengelus puncak kepala Vika, lalu ia melangkah pergi meninggalkan Vika dan Anissa masih di teras rumah.


Begitu Fransiska masuk ke dalam rumah. Vika mulai mendengus kesal, bahkan tangannya mengacak rambut bekas belaian dari tangan Fransiska.

__ADS_1


“Berani sekali tante Siska membelai rambutku dengan tangan kotornya itu, Ma. Jijik sekali Vika mendapatkan belaian dari tangannya,” keluh Vika terlihat benar-benar jijik.


“Nanti akan Mama bantu membersihkannya dengan shampo. Sekarang mari kita atur rencana baru untuk membuat tante Siska mau menerima tawaran kamu,” usul Anissa.


“Ma, kenapa tidak di usir aja sih tante Siska. Vika benar-benar jijik melihatnya terus bersikap mesra seperti tadi sama Papa. Mama juga kenapa diam aja sih, Vika jadi bete melihat Papa tadi mencium tante Siska dengan mesra, sedangkan Mama hanya mendapat belaian saja,” keluh Vika mengingat cara Andreas berpamitan dengan Fransiska seperti sepasang kekasih.


‘Anak ini, bagaimana aku bisa marah kepada Fransiska saat Andreas melakukan hal seperti itu. Fransiska ‘kan memang istrinya. Kalau aku bisa merebuat hak dari Siska, mungkin aku akan melakukan hal yang sama kepadanya. Bahkan aku akan membuat Siska menjadi wanita yang tak pernah di inginkan,’ batin Anissa.


Kesal karena tidak bisa membujuk Fransiska ikut bersamanya, Vika mulai melangkah dengan tersulut emosi. Anissa melihat langkah Vika tergesa-gesa seperti itu menuju kamar mulai berteriak memanggil nama sang putri.


“Vika, Vika!”


Teriakan Anissa tidak di dengar, sampai Vika kini sudah berdiri di depan pintu kamar Fransiska sudah ia buka lebar. Terlihat Fransiska seperti menerima panggilan telepon. Karena Vika berdiri di depan pintu, Fransiska langsung menutup panggilan teleponnya dan mulai melangkah mendekati Vika.


“Kenapa Vika?” Tanya Fransiska lembut.


Belum lagi Vika membuka mulutnya, Anissa langsung membungkam mulut Vika, dan membawanya meninggalkan kamar Fransiska.


Sementara itu di kamar milik Vika.


Vika nampak duduk di tepian ranjang dengan kepala tertunduk, Anissa berdiri di hadapan Vika dengan raut wajah tampak kesal.


“Apa kamu sudah tidak waras? Apa kamu tadi hendak membongkar siapa tante Siska. Apa kamu pikir jika kamu menuduhnya, tante Siska akan mengatakan ‘iya’ dengan mudahnya ke kamu?” menunjuk kepalanya sendiri, “Pakai otak Vika. Tidak ada seorang wanita jahat akan mengakui perbuatannya. Mereka akan terus berkilah jika kamu langsung menanyakan hal itu,” omel Anissa, sementara Vika semakin menundukkan kepalanya.


“Maafkan Vika, Ma,” maaf Vika sekali lagi.


“Haah, hampir saja. Lain kali jangan seperti ini, ya. Soal balas dendam untuk menyingkirkan tante Siska, sudah biar Mama saja yang melakukannya. Kamu sekarang hanya perlu fokus untuk pergi ke sekolah dan belajar saja,” cetus Anissa mulai sadar akan rencananya bisa merusak mental anaknya.


“Baik Ma,” agguk Vika patuh.

__ADS_1


“Maafkan Mama sudah membawamu ke dalam masalah yang seharusnya tidak perlu kamu rasakan,” maaf Anissa sembari memeluk tubuh mungil Vika.


Vika hanya mengangguk tanda memaafkan.


Di sisi lain, Fransiska terlihat begitu anggun keluar dari dalam kamarnya. Bibi dan beberapa karyawan pekerja di rumah tangga menyambut Fransiska turun dari anak tangga.


“Wah, nona muda cantik sekali.”


“Nona muda mau kemana?” Tanya karyawan lainnya.


“Pasti nona muda mau pergi shopping,” sambung Bibi tak mau kalah dengan bawahan pelayan lainnya.


Fransiska tersenyum manis, ia pun berdiri tepat di hadapan para karyawan lainnya.


“Aku mau ke spa, memanjakan diri karena nanti malam aku akan pergi ke sebuah acara reunion teman SMA ku,” sahut Frasiska santai dengan suara lembah lembutnya.


“Gitu dong non. Sekali-kali pergi habiskan uang tuan, jangan wanita itu saja yang bisa menghabiskan uang tuan!” cetus lainnya.


“Ha ha, kalian ini. Sudahlah, sebaiknya aku pergi dulu. Tidak baik menggosipkan orang jahat, entar kita ketularan jahatnya. Sebaiknya para wanita cantik ini pergi bertugas atau istirahat juga,” Fransiska melambaikan tangannya, “Daaaa..”


Fransiska pun pergi menuju tempat SPA langganan miliknya. Tidak lama Fransiska pergi, Anissa terlihat keluar dari kamar Vika menuju ruang tamu. Terlihat para karyawan berkumpul dengan tawa senang. Melihat para asisten tertawa begitu lepas, Anissa menghampiri serta memarahi mereka.


“Hei, dasar pembantu. Kenapa kalian semua berada di sini! Apa kalian ingin aku pecat?!” hardik Anissa berkacak pinggang.


“Adu aja kalau berani,” sahut bibi, ketua para pelayan rumah.


“Ck, dasar wanita tua. Kamu beneran tidak takut?” tantang Anissa kembali dengan bola matanya hampir lepas sata menatap wajah tenang bibi.


Seolah tidak ada manfaatnya melawani Anissa dalam hal berdebat. Bibi mengajak semua bawahannya kembali bekerja, meninggalkan Anissa masih berdiri dengan sorot mata tak suka.

__ADS_1


“AWAS KALIAN SEMUA! AKAN AKU LAPORKAN KEPADA ANDREAS!” teriak Anissa saat bibi dan lainnya mulai memasuki ruangan masing-masing tempat mereka bekerja.


“Dasar manusia-manusia rendah yang jorok. Bisa-bisanya kalian tidak mematuhui ucapanku. Awas saja, kalian pikir kalian akan bertahan lama bekerja di sini. Akan aku pastikan jika Andreas nanti pulang, kalian semua sudah aku pecat,” lanjut Anissa bergumam.


__ADS_2