
Di tengah-tengah hempasan gelombang laut, berdiri sebuah menara tinggi di kelilingi burung-burung di puncak menaranya. Di dalam menara tersebut ternyata terdapat sebuah kamar-kamar khusus untuk orang-orang akan di hukum sesuai dengan perbuatannya.
Sebuah tempat khusus tidak bekerjasama dengan pihak berwenang. Tempat ini memang khusus di buat untuk para pemilik uang yang ingin menghukum orang mereka anggap musuh dan tidak pantas untuk hidup di dunia.
Kletang tang tung tang!!
Begitulah terdengar suara dari halaman di menara itu. Sebuah aktivitas para tahanan membelah batu besar untuk dijadikan batu krikil. Sedangkan hukuman untuk perempuan seperti memasak atau lainnya.
Andreas berdiri bersama 2 orang penjaga di depan gerbang halaman khusus pemecah batu. Sedangkan Anissa berdiri di depan gerbang khusus wanita kerajinan tangan.
Di tempat Andreas berdiri.
“Bersyukurlah kau hanya di kirim ke tempat seperti ini oleh tuan Daniel. Kalau aku jadi dia, mungkin aku akan membuat kulitmu menjadi kerupuk kulit!” hardik salah satu penjaga.
Bukannya takut, seolah masih ingin berbuat jahat dan memiliki banyak uang, Daniel menolehkan wajahnya, menatap penjaga tersebut.
“Udara lembab dan dingin, serta berbau amis ini membuat indra penciuman saya menjadi buruk. Maka, saya ingin mengajak kamu bekerjasama dengan saya. Kamu tenang saja, saya masih sanggup membayar kamu berkali-kali lipat melebih Daniel,” ucap Andreas masih bersikap angkuh, mengajak penjaga tersebut untuk menjadi pengkhianat.
“Ck, kau pikir kau bisa membayar kami? Lagian, kami tidak suka makan uang dari manusia seperti kau!” tolak penjaga itu kasar, tangan tegapnya menggenggam lengan Andreas. “Jangan banyak bicara kamu sekarang. Mari ikut kami, agar kau bisa merenungi semua perbuatanmu di sini!” lanjut kedua penjaga tersebut sambil menarik Andreas menuju tempat perkumpulan para tahanan.
Bam!
Kedua penjaga tersebut mendorong punggung Andreas kuat hingga tubuh Andreas terjatuh di tengah-tengah para pekerja.
“Kasar sekali kalian?” gumam Andreas menatap kedua para penjaga tersebut.
Puluhan tahanan menghentikan pekerjaannya, menolehkan pandangan sinis nya ke Andreas kemudian menoleh ke penjaga masih berdiri di tempatnya.
“Kalian semua harus dengarkan kami!” ucap salah satu penjaga meninggikan nada suaranya.
Seolah merasa takut, puluhan tahanan berdiri rapih. Pandangannya menatap serius ke para penjaga tersebut, dengan tatapan sinis.
“Ajarin anak baru ini untuk melakukan pekerjaan yang sama seperti kalian!” lanjut salah satu penjaga memberitahu.
“SIAP!” sahut sebagian tahanan, sebagian tahanan berwajah seram hanya menatap sinis ke punggung Andreas.
Kedua penjaga tersebut berbalik badan, melangkah pergi dari tempat tersebut. Namun, Andreas mengejarnya.
“To-tolonglah keluarkan saya dari tempat buruk ini. Saya…”
Permohonan Andreas terhenti saat 3 orang tahanan menahan kedua lengannya, kemudian menariknya ke tengah-tengah lapangan. Kedua penjaga tersebut kembali melanjutkan langkahnya, menutup pintu besi tersebut.
“A-apa yang ingin kalian lakukan?” tanya Andreas ketakutan.
__ADS_1
“Tentu saja kami ingin mengajari anak baru!” sahut salah satu tahanan bertubuh tinggi, kepala botak, bola matanya besar seperti hendak keluar.
“Pe-perawatan tubuh saya sangatlah mahal. Sa-saya mohon jangan rusak tubuh saya!” ucap Andreas memohon, kedua kakinya perlahan mundur kebelakang, kedua tangannya separuh ke depan seperti memohon untuk tidak dianiaya.
“Hahaha! Kau kira kau siapa? Kalau sudah masuk sini, semuanya sama!” ejek tahanan lainnya. Tangannya melambai seperti mengajak. “Ayo! Kita ajarin dulu anak baru ini bagaimana caranya menjadi anak yang baik di sini!”
Sebagian tahanan mengepung Andreas, tawa, dan cacian untuk Andreas terdengar menggema di halaman tersebut.
Bam bug bam!
Andreas dipukuli secara bergilir.
.
.
Di ruang dapur khusus tahanan wanita.
“Potong sayur itu yang benar! Dasar pelacu*r. Taunya kau cuman menunjukkan paha kau saja kepada suami orang!” omel tahanan wanita, bibir hitam, rambut ikal, sorot matanya tajam.
“I-iya!” sahut Anissa ketakutan, ia kembali memotong sayuran itu kecil-kecil. Namun, tubuhnya di dorong oleh tahanan lainnya sehingga pisau tersebut mengenai jarinya.
“Auw!” keluh Anissa langsung menekan jarinya agar darah tidak keluar terlalu banyak.
Bukannya kasihan, Anissa malah ditertawakan oleh tahanan lainnya.
Anissa tidak bisa menjawab, ia hanya menggeram dan mengumpat dalam hatinya.
Seolah tak puas, tahanan lainnya memberikan satu baskom cabai merah di hadapan Anissa.
“Kamu blender itu cabai caplak dan cabai merah!” perintah tahanan bertubuh gempal berambut pendek.
“Blender dan sendok untuk mengambil cabainya di mana?” tanya Anissa patuh.
“Kau blender aja pakek mulutmu! Hahaha!”
Setelah puas mengerjai Anissa, beberapa tahanan pergi meninggalkannya. Kemudian salah satu tahan memiliki wajah culun mendekati Anissa.
“Di-disana tempat blendernya. Aku bantuin mau?”
“Terima kasih,” sahut Anissa.
Meski wanita tersebut berwajah culun, namun tatapan dari wanita itu terlihat berbeda. Wanita itu terus memandangi darah terus mengalir di jari Anissa. Sesekali tangannya menyeka air liur mengalir di bibirnya. Hal itu membuat Anissa ngeri.
__ADS_1
‘Jangan-jangan wanita ini adalah seorang psikopat. A-aku harus segera mencuci darah ini dan menutup lukaku,’ batin Anissa berjalan menuju wastafel kuning.
Byuur!
Suara air keluar dari wastafel.
“Eh, hati-hati jika sih cupu itu mendekati kau!” tegur salah satu tahanan mendekati Anissa saat mencuci darah di jarinya.
Anissa melirik sekilas ke wanita cupu sedang menatapnya tajam dan suram. Melihat tatapan mengerikan dari wanita cupu itu, Anissa segera mematikan kran airnya. Meninggalkan wanita tahanan di sisinya, dan melangkah mendekati meja blender.
.
.
Sementara itu di rumah Daniel dan Fransiska.
Karena Fransiska butuh istirahat total, Vika jadi bermain di dalam kamar Fransiska. Daniel dan James duduk santai di halaman belakang sambil membicarakan Andreas dan juga Anissa.
“Sudah nggak waras ku rasa kau, Daniel!” celetuk James sembari menyeruput kopi hangatnya.
“Kenapa?” tanya Andreas bingung.
“Kenapa kau hanya membuat mereka mendekam di tahanan itu. Kasih tempat yang lebih bagus dan percaya dong!” ucap James terbalik.
“Maksudnya apa bego? Aku nggak paham. Katakan saja yang sebenarnya jangan melebih-lebihkan,” celetuk Daniel.
“Kenapa kamu tidak memberikan mereka tempat yang sesuai dengan perbuatan mereka. Andreas dan Anissa ingin membunuh calon bayimu! Masa iya kau hanya membuat mereka menebus kesalahannya di tempat yang seperti itu,” protes James.
“Oh! Aku berpikir mereka pantas di beri kesempatan kedua,” sahut Daniel membuat James geram.
“Persetan dengan kesempatan kedua. Sekali manusia jahat, tetap saja jahat! Walaupun mereka mau bertaubat, aku rasa itu hanya kiasan di bibir saja!”
“Sudahlah, kenapa kau pula yang sepertinya tidak terima dengan keputusanku. Kenapa tidak kau saja yang menghukum mereka kemarin?”
“Gila aja kau! Vika sudah ada bersamaku, mana mungkin aku melakukan hal sekejam itu. Masa iya aku menyentuh kulit suci anakku dengan tangan kotor,” sahut James merendahkan nada suaranya.
“Nah, itu kau tahu. Tapi, tadi banyak kali bacot mu. Kau pikir aku tidak memikirkan hal yang sama. Intinya kita berdua sama,” ucap Daniel mengingatkan.
“Hem, begini rupanya rasanya seorang pria jahat tiba-tiba bertaubat hanya ingin membesarkan anak-anaknya dengan tangan yang bersih,” gumam James menatap kedua telapak tangannya.
“Kapan kamu akan jujur ke Vika, jika kamu adalah Papa kandungnya?” tanya Daniel mengejutkan James.
.
__ADS_1
.
Bersambung