
Saking kesalnya karena pagi-pagi sudah berdebat dengan Fransiska. Anissa memutuskan untuk merilekskan sejenak pikirannya dengan cara bersenang-senang ke tempat SPA, dimana karyawannya adalah para lelaki muda dan tampan.
Anissa berada di sebuah ruangan VVIP, tubuh polosnya hanya berbalut handuk kecil. Di samping ranjang SPA terdapat seorang pria muda memijat betis Anissa dengan lulur.
“Akh, enaknya. Ternyata aku tidak sia-sia datang ke sini,” gumam Anissa merasakan nikmat saat di pijit.
“Terimakasih telah merasakan kenyamanan dari pijitan saya,” terimakasih karyawan muda itu sopan.
“Selain pijat tubuh, melakukan hal lain boleh tidak?” tanya Anissa dengan segala pikiran kotornya.
“Tidak boleh, tapi kalau nona ingin memanggil saya secara pribadi, saya siap bersedia,” sahut karyawan muda itu, kedua tangannya mulai memijat bagian punggung, tak lupa pemuda itu menekan di titik tertentu sehingga Anissa mengeluarkan suara *******.
“Kalau gitu aku akan meninggalkan nomor teleponku untukmu. Datanglah ke tempat yang aku kirimkan nanti, setelah kamu pulang kerja. Karena aku benar-benar membutuhkan pijat plus darimu,” ucap Anissa memberitahu.
“Baik, mau saya sendiri atau menambah orang lain?” tawar karyawan muda itu.
“Berdua juga boleh, asal aku terpuaskan,” ucap Anissa menerima tawaran lelaki itu.
.
.
Di sisi lain.
Bel berbunyi tanda pelajaran telah usai. Anak SD terlihat berlarian keluar dari pagar sekolahnya. Vika terlihat berdiri di depan gerbang, menunggu kedatangan Anissa sudah berjanji akan menjemputnya hari ini.
“Mama kok belum datang juga, ya,” gumam Vika melirik ke jalan, berharap bisa menemukan Anissa di kerumunan orang tua.
Melihat Vika seperti seorang kebingungan, Pak satpam menghampiri Vika.
“Mama belum jemput ya, dek?” tanya Pak satpam.
“Iya, Pak,” sahut Vika sedih.
“Kalau kamu mau menunggu sebaiknya di pos bapak aja. Oh, bentar ya, dek. Bapak permisi dulu, bapak masih ada tugas. Kamu hati-hati ya,” ucap Pak satpam lalu beranjak pergi menuju gerbang sekolah.
“Hem!” angguk Vika.
Vika memutuskan untuk terus menunggu Anissa di depan gerbang sekolah, berharap Mamanya tidak kesulitan untuk mencarinya ketika sudah sampai.
__ADS_1
Detik dan menit berlalu, mobil Anissa tak kunjung terlihat, hingga tiba saatnya muncul mobil Inova berwarna hitam berhenti di depan Vika. Vika melirik sekilas, lalu ia mencoba sedikit menjauh dari pria bertubuh tegap keluar dari dalam mobil dan berjalan ke arahnya.
“Adek pasti menunggu Mama Anissa ‘kan?” tanya pria tegap dengan wajah sangar setelah berdiri di hadapan Vika.
“I-iya, kok Om tahu?” sahut Vika bertanya.
“Mama Anissa saat ini sedang SPA, kebetulan pijatan masih lama sehingga Om di suruh untuk menjemputmu,” ucap pria bertubuh kekar itu.
Seolah tak yakin, Vika terus memandang pria itu dari atas sampai bawah, lalu berhenti menatap wajah sangar tanpa senyuman.
“Kalau Om bukan penculik, maka coba Om yakin ‘kan aku dengan cara menelepon Mama,” pinta Vika ingin menyakinkan.
Pria bertubuh sangar itu mengambil benda pipihnya dari dalam saku celananya, membuka galeri video, menekan salah satu video Anissa terlihat sedang di pijat dengan tempat SPA sama tempat ia berada saat ini.
“Lihat, ini video Mama Anissa sedang menikmati pijitan di tempat SPA,” ucap pria bertubuh kekar menyakinkan Vika akan bukti video tersebut adalah nyata.
Vika menatap sejenak pria bertubuh kekar tersebut, memastikan apakah ucapan pria bertubuh kekar itu bisa di percaya.
‘Tapi kenapa Mama tidak pernah memberitahu jika memiliki teman seperti Om ini,’ gumam Vika dalam hati sorot mata masih menatap pria bertubuh kekar tersebut.
“Masih belum percaya dengan ucapan Om?” tanya pria bertubuh kekar lembut.
“Hem, percaya. Tapi Vika masih belum tahu Om itu siapanya Mama. Teman atau pesuruh Papa Andreas,” ucap Vika polos.
.
.
Sementara itu di rumah mewah milik Andreas.
Fransiska masih merasa dahinya berdenyut memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya di dalam kamar. Menghabiskan waktunya dengan membaca sebuah novel edisi terbaru dengan judul ‘Kompleks Janda’. Sesekali bibirnya terlihat tertawa saat membaca setiap kalimat di dalam bab nya mengisi kegaduhan antara janda dan seorang pemuda tampan.
Fokus bacaannya terpecah saat ponsel di atas nakas bergetar hebat. Fransiska melirik sejenak, memastikan isi pesan wa dari siapa. Begitu melihat nama pengirim dari sang pujaan hati, Fransiska langsung membaca isi pesan wa tersebut.
📨 {“Hai, gimana keadaan kamu sekarang. Apakah bekas jahitan di dahimu masih berdenyut?”}
Segaris senyum saat membaca isi pesan wa dalam hati membuat rasa denyut di dahi sedikit mereda.
Oh, inikah yang dinamakan obat tiada duanya?
__ADS_1
Cinta itu memang begitu sulit di tebak. Kadang setiap kalimatnya mengandung racun membuat pembacanya bisa merasakan kenyang, dan bahagia. Kadang setiap kalimatnya ada mengandung bawang, membuat orang membacanya ingin menangis sampai tak nafsu makan.
Jari-jemari lentik itu dengan cepat membalas isi pesan wa Daniel.
📨 {“Denyutnya masih terasa. Tapi sudah tidak terlalu sakit karena saat ini kamu sedang memikirkan aku.”} balas Fransiska sedikit menggombal.
📨 {“Kamu ini, mulai berani menggombal ku.”}
📨 {“Kalau menggombal sama kekasih sendiri ‘kan tidak apa.”}
📨 {“Awas saja jika kamu sudah sembuh nanti. Akan aku, ekhem…”} balas Daniel menggantung.
📨 {“Ekhem, apa itu? ayo! Jangan berpikir yang macam-macam kamu, ya!”}
📨 {“Hehehe, sudah dulu ya, sayang. Kebetulan sekali aku sedang ada tamu. Sampai jumpa di lain waktu.”} pamit Daniel menyudahi percakapan wa.
Tidak ingin ketahuan saling membalas wa dengan Daniel. Fransiska buru-buru menyepam nomor Daniel. Tak lupa ia menghapus semua isi pesan Daniel agar tidak ketahuan oleh Andreas. Meski Andreas tidak perduli dengan ponsel milik Fransiska, dan semua isi di dalam ponselnya. Tapi tetap saja, Fransiska harus menutup rapat-rapat hubungan mereka agar tidak di ketahui Andreas.
.
.
Sementara itu di ruang kerja di perusahaan milik Daniel.
Masuk seorang pria dengan 2 orang bodyguard menunggu di luar pintu ruangan. Pria itu tak lain adalah James.
“Sepertinya kamu sedang senang?” tanya James setelah mendudukkan dirinya di sofa empuk kulit buaya.
“Tentu saja aku selalu senang. Bukannya kau tahu jika aku sudah memiliki tambatan hati,” sahut Daniel dengan sombongnya.
“Cih, tambatan hati kok istri orang. Kalau berani buat wanita itu bercerai dengan suaminya. Lagian suami dari wanita itu juga bukan suami yang baik,” ejek James.
“Aku tahu. Tapi untuk merebutya dari suaminya aku harus memiliki celah agar tidak merusak nama baikku. Kau tahu ‘kan saat ini aku sedang tidak ingin berdebat atau berkelahi dengan siapapun,” sahut Daniel sembari menyeruput kopi hitam.
“Apa nggak salah dengar aku saat kau bilang tidak ingin berdebat dengan siapapun. Buktinya apa ini?” cetus James menunjukkan bukti rekaman video.
“Oh, itu. Kau lambat sekali sehingga aku harus turun tangan sendiri. Tapi tenang aja, aku akan mengantarkannya ke tempatmu dengan selamat tanpa licet sedikitpun,” sahut Daniel dengan santainya, membuat James tersenyum dan mengangguk.
.
__ADS_1
.
Bersambung....