
Dengan menunjukkan video Anissa berada di dalam SPA, Vika pun yakin. Tanpa banyak bertanya Vika ikut masuk bersama dengan pria bertubuh kekar itu ke dalam mobil.
5 menit kemudian, mobil milik Anissa sampai tepat di tempat Vika tadi menunggu.
“Loh, kemana Vika? Bukannya aku tadi pagi bilang akan menjemputnya dan dia harus menungguku di depan gerbang ini,” gumam Anissa melihat gerbang dan dalam lingkungan sekolah sudah sepi.
Melihat Pak satpam menutup pintu gerbang, Anissa memanggil pak satpam tanpa turun dari dalam mobil.
“Pak, Pak satpam,” panggil Anissa sedikit meninggikan nada suaranya.
Pak satpam bergegas berlari menghampiri mobil Anissa.
“Ada apa ya, bu?” tanya Pak satpam berdiri di samping pintu mobil.
“Vika mana pak? Kok dia tidak ada?” tanya Anissa emosi.
“Loh, bukannya tadi sudah di jemput sama bodyguard ibu. Saya tadi melihat dari kejauhan jika bodyguard itu menunjukkan video call ibu waktu di SPA,” sahut Pak satpam mengingat saat dirinya tak sengaja melihat dan mendengar perbincangan Vika dengan pria bertubuh kekar dari kejauhan.
“Jadi hanya dengan melihat dan mendengar dari kejauhan bapak sudah percaya jika itu utusan ku! Akh, awas saja kalau Vika sampai hilang. Bapak akan saya tuntut begitu juga sekolah ini!” ancam Anissa sembari menaikkan kaca jendela mobilnya, lalu mobil melaju kencang menuju rumah.
Karena mendapatkan ancaman, Pak satpam menjadi ketakutan. “Duh, gimana nih. Lagian tadi saya juga sedang sibuk mengurus anak lainnya sedang menunggu kedua orang tuanya. Kalau sampai di pecat, anak dan istri saya mau makan apa,” gumam Pak satpam ketakutan.
Tak sampai 20 menit mobil di kendarai Anissa sudah terpakir rapih di teras rumah. Buru-buru ia turun dari mobil, berlari sembari berteriak memanggil nama putrinya itu.
“Vika, Vika!” teriakkan Anissa terhenti saat Fransiska berjalan di teras. “Dimana Vika kamu buat?” lanjut Anissa mulai menuduh Fransiska menyembunyikan Vika.
“Kalau matamu masih terasa gelap akibat kelamaan di luaran, sebaiknya kamu basuh dulu bola mata itu dengan air bersih, agar pikiran dan pandanganmu juga bersih,” cetus Fransiska, kemudian kembali berjalan.
“Aku tanya kemana Vika?” tanya Anissa kembali meninggikan nada suaranya, tangannya memegang sebelah bahu Fransiska.
Akang tukang kebun dan bibi ketepatan ada di halaman utama langsung melirik ke Anissa dan Fransiska.
“Aku nggak tahu, aku saja baru ingin keluar,” sahut Fransiska tenang.
__ADS_1
“Bohong, pasti kamu telah menyuruh seseorang untuk menjemput Vika. Kau juga telah memata-mataiku sampai ke SPA, mengambil secara sembunyi-sembunyi video tentang diriku, lalu menyuruh seseorang untuk menjemput Vika dengan cara menunjukkan bukti vidioku. Jujur aja kau!” tuduh Anissa membuat Fransiska sejenak terkejut, lalu dengan cepat Fransiska kembali ke mode tenangnya.
“Anakmu hilang?” tanya Fransiska di sela helaan nya.
“Iya, pasti kau dalang di balik ini semua. Aku masih ingat dengan ancamanmu tadi pagi. Tapi bukan Vika juga jadi korbannya,” sahut Anissa kembali menuduh Fransiska.
Fransiska hanya bisa menggeleng, kemudian menatap wajah panik Anissa. Bibi dan Akang kebun mendengar tuduhan palsu Anissa mulai melangkah mendekati teras rumah, mencoba membela nona rumah mereka.
“Mohon maaf, bukannya kami berdua ingin ikut campur. Tapi nona Fransiska dari tadi memang berada di rumah karena bekas jahitan di dahinya masih berdenyut,” ucap bibi mulai membela Fransiska. Akang kebun hanya mengangguk.
“Alah, bohong kalian berdua. Pasti kalian berdua telah sekongkol dengan wanita mandul ini!” elak Anissa sembari mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Fransiska.
Fransiska menatap wajah bibi dan akang tukang kebun. “Terimakasih atas pembelaannya, tapi aku ingin bibi dan akang kembali bekerja saja,” perintah Franisiska lembut dan sopan.
“Tapi nona…”
“Bi, sudah tidak apa kok. Aku pasti akan baik-baik saja,” sela Fransiska mencoba menenangkan bibi agar tidak kuatir.
Bibi dan akang tukang kebun tidak bisa berkata apapun lagi, mereka patuh, pergi meninggalkan Fransiska bersama dengan Anissa.
“Aku sudah menelepon Andreas. Siap-siap saja kamu!” cetus Anissa mengepal kedua tangannya berada di samping tubuhnya.
Fransiska menghela nafas, lalu segaris senyum terukir di wajah cantiknya.
“Jangan senyum-senyum dulu kamu,” ucap Anissa emosi melihat senyuman Fransiska.
“Baiklah, sambil menunggu Mas Andreas pulang, boleh tidak aku ke rumah sakit untuk membuka jahitan?” tanya Fransiska meminta izin.
“Tidak! Dalam kondisi seperti ini kau masih memikirkan tentang dirimu! Pantas saja kau mandul dan tidak bisa punya anak sampai sekarang!” celetuk Anissa, membuat sakit hati Fansiska bertambah parah kepada Anissa.
Fransiska perlahan melangkahkan kedua kakinya, nanar mata kebencian menatap lekat dan sangat dekat nanar mata panik Anissa.
“Ucapanmu seolah mengajakku terus ingin berperang denganmu. Bagaimana kamu bisa menilai aku adalah seorang wanita mandul? Oh, apakah penilaianmu hanya dengan dari keseharianku hidup bersama dengan Mas Andreas?” memegang pergelangan tangan Anissa, “Mari ikut aku ke rumah sakit agar mulutmu bisa berhenti menyinggung hatiku!” lanjut Fransiska menarik tangan Anissa. Namun tarikan tangan Fransiska terhenti saat ada tangan lelaki memegang bahunya dari belakang, memutar arah posisinya berdiri.
__ADS_1
PLAAAK!
Tamparan keras dari tangan tegap itu mendarat di sebelah pipi Fransiska.
Akang tukang kebun masih memantau dari kejauhan seketika tercengang, menutup mulut menganganya dengan kedua tangan penuh pasir. Bibi mengintip dari jendela rumah pun seketika terkejut, bola matanya membulat sempurna, hatinya ikutan sakit melihat Fransiska sering mendapatkan perlakuan kasar.
“Ada apa ini Mas, kenapa Mas tiba-tiba menamparku?” tanya Fransiska masih bisa tersenyum.
“Masih bisa bertanya kenapa saya menamparmu!”
“Iya, kenapa Mas. Apa salahku sama Mas?” tanya Fransiska ingin mengetahui kenapa suaminya itu menampar dirinya tiba-tiba.
“Semua itu karena kamu telah menculik Vika! Kamu pasti telah menyuruh seseorang untuk mengambil Vika dengan cara berbohong. Jujur saja kamu, Siska!” tuduh Andreas dengan suara menggelegar.
Kedua kaki Fransiska terasa lemah hingga tubuhnya ingin ambruk. Namun, Fransiska harus segera tersadar dan menguatkan dirinya agar tidak lemah di depan musuhnya.
Fransiska menunduk, lalu ia mengangkat wajahnya saat ini menggaris senyum tulus untuk suaminya.
“Bagaimana bisa Mas menuduhku tanpa bukti yang jelas. Dan apa keuntunganku menculik Vika?”
“Jelas ada keuntungannya. Bukannya kamu masih tidak merelakan Vika sebagai anakku!” cetus Andreas kembali meninggikan nada suaranya.
“Oh, jadi hanya itu alasan tuduhan untukku. Apakah tidak ada alasan dan tuduhan yang jelas sesuai dengan kondisi sekarang ini?” tanya Fransiska mulai sendu.
“Akh! Kau ini memang istri yang….ck, sudahlah. Capek saya berdebat denganmu!” gerutu Andreas terlihat kesal.
Langkah kaki Andreas menyerong, mendekati Anissa saat ini terlihat sedang menangis. Andreas terlihat memeluk Anissa, mencoba menenangkannya.
‘Bukan aku pelakunya Mas. Lagian untungnya bagiku itu apa? Kalian berdua benar-benar sudah menghancurkan hatiku, maka bersiaplah untuk kehancuran kalian berdua. Saat ini aku mengalah bukan aku ingin kalah. Saat ini aku sedang memikirkan strategi untuk menjatuhkan kamu, Mas Andreas,’ batin Fransiska.
Seolah tak peduli dengan apapun lagi. Fransiska kembali melangkah menuju mobil miliknya. Ia terus melajukan mobilnya meninggalkan rumah mewah bak istana tanpa memikirkan teriakan Andreas sedari tadi terus memanggilnya.
.
__ADS_1
.
Bersambung