RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
BAB 43. Kamu adalah Istri satu-satunya dan Aku akan mencari Istri Baru


__ADS_3

Mendengar jawaban Fransiska menurut begitu saja, Andreas ikutan tersenyum.


“Baiklah, saya akan pulang menyiapkan semua hak-hak yang akan saya berikan untukmu,” ucap Andreas sebelum melangkah pergi. Namun, langkahnya terhenti saat pintu ruangan terbuka. Anissa terlihat berjalan masuk ke dalam ruang rawat inap Fransiska.


“Kamu kenapa ke sini?” tanya Andreas melirik ke arah kedatangan Anissa.


“Tadi aku mendapat notif berita tentang kecelakan tunggal yang di alami oleh wanita mandul ini. Walaupun aku hanya sebagai istri kedua yang tidak kamu publikasikan. Sebagai seorang manusia dan wanita, aku juga masih memiliki hati nurani untuk melihat kondisinya,” sahut Anissa berbohong. Sebenarnya ia datang ke sini karena ia ingin mencari muka ke Andreas.


“Sekarang kamu bukan lagi istri kedua dari Mas Andreas. Sekarang kamu adalah istri satu-satunya milik konglomerat ternama ini,” jelas Fransiska tiba-tiba.


Anissa terkejut bukan main. Ingin rasanya ia melompat, bersorak, dan tersenyum selebar mungkin di hadapan Fransiska. Namun, ada satu hal membuat hatinya tidak merasa tenang untuk saat ini. Hal itu adalah ramai nya wartawan dan awak media lainnya telah menuggu di depan pintu ruangan dan di halaman rumah sakit.


Bagaimana jika awak media tahu bahwa Fransiska sudah di cerai oleh Andreas. Bisa-bisa semua rekan bisnis menarik investasi dan memutus kontrak kerja sama dengan Andreas. Dan Anissa tak ingin cepat-cepat jatuh miskin sebelum mendapatkan sebagian harta milik Andreas. Itulah yang ada di dalam pikiran Anissa saat ini.


“Maksudnya apa?” tanya Anissa pura-pura gusar.


“Kamu lihat saja kondisi Siska saat ini. Melihat sebelah tangan, kaki, dan lehernya patah, banyak bekas jahitan di wajah mulusnya membuatku sedikit mempertimbangkan posisinya untuk tetap menjadikannya sebagai seorang istri, sekaligus hoki di kehidupan saya,” sahut Andreas tenang.


“Iya, tapi kenapa kamu harus menceraikannya?” tanya Anissa terlihat tidak senang.


“Saya tidak bisa menerima dan mengeluarkan uang hanya untuk memulihkan seseorang dari cacat di tubuhnya. Yang saya butuhkan di dunia ini adalah sebuah kesempurnaan untuk dijadikan sebuah objek hoki di bisnis saya pegang. Jika orang itu sudah tidak memiliki hoki lagi buat apa saya menahannya untuk bersama dengan saya. Dan buat kamu Anissa! Saya tekankan kepada kamu. Saya akan mencari wanita yang lebih cantik dari kamu untuk menjadi objek baru sebagai hoki di perusahaan saya. Tapi, kamu tenang saja, saya masih tetap menjadikan kamu sebagai seorang istri sampai saya bisa mendapatkan wanita yang benar-benar lebih cantik dari Fransiska,” jelas Andreas mulai merencanakan tujuannya.


Lain dengan Fransiska terlihat tegar dan tenang. Anissa malah terlihat gelisah memikirkan Andreas akan mencari pengganti Fransiska, dan setelah itu Anissa akan di campakkan begitu saja setelah Andreas mendapatkan targetnya.


Benar-benar lelaki tak punya perasaan!


“Ka-kamu jangan berkata seperti itu. Vika saja belum di temukan, bagaimana bisa kamu mencari wanita lain!” protes Anissa.

__ADS_1


“Oh, tentang Vika. Sepertinya saya mulai bosan mengeluarkan banyak uang untuk mencari anak yang tidak bisa di atur. Jika saya menginginkan anak lagi, mungkin saya bisa membuatnya dengan wanita yang lebih cantik dari kamu. Kalau kamu mengkuatirkan Vika, maka cari dan urus saja sendiri. Saya sudah angkat tangan mengenai pencariannya. Oh satu lagi, saya juga sudah menutup kasus pencarian Vika. Karena selama pencarian anak itu, saya sudah menghabiskan uang sebesar 1 milliar untuk menyewa detektif, dan ini itu lainnya. Di tambah saat ini wanita buruk ini masuk rumah sakit dan saya akan memberikan hak mantan istri kepadanya. Sungguh tidak bisa saya pikirkan di otak kecil saya berapa kerugian besar saya selama 3 bulan ini,” cetus Andreas dengan wajah tenangnya.


Anissa semakin menggeram, kedua tangannya mencengkram kerah baju kemeja Andreas, nanar bola mata mulai di penuhi cairan bening.


“Dasar laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Bisa-bisanya kamu mengatakan hal seperti itu. Vika itu adalah anakmu, kenapa kau tega Andreas!” teriak Anissa sembari memukul bidang dada Andreas.


Dengan santainya Andreas menjawab, “Vika memang anak saya, dan saya juga sudah berusaha mencarinya hingga menghabiskan uang dengan jumlah cukup besar. Bukan tidak berusaha sama sekali. Tapi kalau memang Vika tidak di temukan, buat apa saya berusaha mencarinya lagi. Saya rasa anak itu juga sudah menjadi tulang belulang, atau daging sup buat manusia serakah.”


“Andreas, kamu…” teriakan Anissa terhenti saat Fransiska memegang tangan Anissa.


“Selama 10 tahun hidup bersama dengan Mas Andreas, seharusnya kamu sudah memahami gimana karakternya. Mas Andreas itu bukanlah tipe seorang pria yang tetap mau di sulitkan oleh wanitanya. Mas Andreas itu senang dengan keindahan. Sekalipun barang kesayangan dengan harga jutaan dollar itu rusak segaris, sudah pasti Mas Andreas membuangnya seperti sampah tanpa mau menunggunya untuk di perbaiki. Jadi, apalagi yang ingin kamu harapkan? Cukup diam menjadi istri satu-satunya di sisi Mas Andreas, sudah seharusnya kamu mulai berbenah diri, sebelum Mas Andreas mendapatkan wanita lain, lalu mencampakkanmu seperti aku saat ini,” ucap Fransiska memberi nasehat.


“Bagus, ternyata kamu sadar diri juga,” puji Andreas sembari membelai puncak kepala Fransiska. Anissa sendiri masih terdiam dengan segala kecemasannya memikirkan anaknya.


“Sungguh, KAU BUKAN MANUSIA BERA…”


Tangan Andreas dengan cepat melayang, menghentikan makian ingin di lontarkan Anissa.


“Jaga bicaramu jika kau masih ingin hidup bersamaku!” tegas Andreas mengancam Anissa.


Anissa terdiam dengan pandangan kosong menatap lantai kamar rawat inap Fransiska. Andreas sendiri mulai melangkah meninggalkan ruang rawat inap Fransiska.


“Pulanglah, aku ingin sendiri di ruangan ini,” usir Fransiska.


“Aku akan pulang untuk meminta Andreas membawamu kembali ke rumah. Meski dia sudah menceraikanmu, aku tetap tidak merelakan kau untuk bernafas lega tanpa siksaan dan tuntutan ini dan itu dari pria tanpa hati sepertinya,” sahut Anissa merencanakan sesuatu.


“Coba saja,” sahut Fransiska dengan santainya.

__ADS_1


“Baiklah. Tunggu saja penderitaan barumu!” gumam Anissa mulai melangkah pergi mengikuti langkah kaki Andreas.


1 menit setelah Andreas dan Anissa keluar dari ruangan rawat inap Fransiska. Daniel keluar dari dalam kamar mandi sedari tadi tertutup rapat.


“Nggak sia-sia, rencana kita berhasil,” puji Daniel sembari membantu Fransiska membuka penyanggah di lehernya.


“Terimakasih,” ucap Fransiska berbisik di telinga Daniel.


Daniel masih membantu Fransiska membuka penyanggah di lehernya mulai melirik ke wajah Fransiska. Wajah penuh noda itu terlihat begitu indah di kedua matanya. Tanpa ia sadari tubuhnya bergerak sendiri untuk mencium Fransiska hingga mereka dua saling kehabisan nafas.


“Daniel,” gumam Fransiska dengan nafas tersengal-sengal, wajahnya pun terlihat merona menahan malu karena mendapat serangan mendadak.


“Kini kamu sudah resmi bercerai. Aku sudah tidak sabar menantikan momen di mana kita akan bersama untuk bersamanya,” ucap Daniel menyatukan dahinya dengan dahi Fransiska.


“Tapi…gimana kalu Anissa berhasil membujuk Andreas untuk membawaku kembali pulang ke rumah?” tanya Fransiska polos.


“Seorang suami telah menjatuhkan talak 3 sudah tak wajib membawa istrinya kembali pulang ke rumah. Kecuali, mantan suaminya menikahkannya dengan pria lain. Lalu menyuruhnya kembali bercerai dengan suami barunya, dan kemudian mereka menikah kembali,” sahut Daniel menjelaskan.


“Gimana kalau Mas Andreas tidak melakukan hal itu, ia hanya membawaku demi pencitraan semata?” tanya Fransiska terlihat cemas.


“Maka kita akan membuat rencana baru untuk membuka kedoknya di depan banyak orang. Bukannya dia seorang pebisnis gila pencintraan? Maka kita akan buat nama baiknya hancur di depan banyak orang,” sahut Daniel menjelaskan.


“Kamu benar,” sahut Fransiska mengangguk.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2