RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
BAB 25. Aku Tidak Mau Wajah Kamu Keriput


__ADS_3

Tak terima mendengar aduan Fransiska. Andreas mulai melangkah besar menuju kamar Anissa di lantai itu juga.


“ANISSA, ANISSA!” teriak Andreas menggelegar, suaranya menggema di koridor kamar berada di lantai 2.


Anissa terlihat keluar dari dalam kamarnya, berdiri di depan pintu kamar.


“Ada apa ini?” Tanya Anissa menatap kedatangan Andreas dan Fransiska.


Plaaak!


Begitu Andreas sampai, tangannya dengan ringan menampar pipi Anissa.


Anissa terdiam, tangannya memegang sebelah pipinya memerah dan terasa pedas. Bingung kenapa dirinya mendapat tamparan keras dari Andreas, Anissa mulai mengangkat wajahnya, memandang wajah suram Andreas.


“Kenapa kamu menampar ku?” Tanya Anissa dengan suara lirih.


“Kamu tanya kenapa? Sadar diri kamu, kamu di sini hanya sebagai istri kedua, itupun karena saya terpaksa menikahi kamu. Tamparan ini buat kamu yang berani sekali mengganggu ketenangan Fransiska. Ucapanmu itu membuat Fransiska terus berpikir keras. Dan kamu tahu, karena Fransiska memikirkan ucapanmu itu, segaris keriput mulai muncul di wajah mulusnya. Apa kamu tahu berapa saya mengeluarkan uang untuk menghilangkan keriput di wajahnya itu? Apa kamu mau membayar semua biaya perawatan kecantikannya agar tetap awet muda?” cetus Andreas berlebihan mengungkit keegoisannya sendiri.


Itulah keegoisan dan keanehan seorang pria. Orang lain tidak boleh menyakiti bahkan menambah beban pikiran pasangannya. Padahal tanpa mereka sadari, bahwa beban terbesar di pikiran pasangannya adalah dari beban lelakinya sendiri.


Lelaki juga senang melihat pasangannya terlihat cantik dan rupawan. Tapi mereka lupa akan memberikan biaya atas perawatan pasangannya itu sendiri.


Miris sekali dompet lelaki itu, ya?


Sejenak Fransiska tersenyum melihat Anissa mendapatkan tamparan dari Andreas. Namun, Fransiska tidak ingin terbuai dan merasa senang begitu saja karena dirinya di bela oleh sang suami.


Fransiska mulai berakting dengan berpura-pura kasihan melihat Anissa mendapat tamparan dari Andreas, agar Andreas tetap berpikir jika dirinya masih seorang wanita berhati lembut dan penuh kasih sayang.


“Mas, kenapa kamu menampar Anissa seperti ini? Seharusnya Mas cukup bertanya, tak usah memberi kekerasan kepada seorang wanita. Kasihan Anissa,” omel Fransiska mendekati Anissa sendu.

__ADS_1


Anissa menatapnya sinis.


‘Cih, wanita lemah ini pintar juga berakting. Sungguh licik, ternyata kamu ingin bermain-main denganku. Awas saja kamu, Fransiska,’ batin Anissa mempunyai rencana buruk untuknya.


“Lihat, kamu lihat betapa lembut dan baiknya Siska kepada kamu. Lantas kenapa kamu bisa bersikap dan berucap jahat kepadanya, Anissa!” menarik Fransiska menjauh dari Anissa, melanjutkan ucapannya, “Awas, awas saja sampai saya mendengar kamu membahas atau berkata aneh dengan Fransiska. Kamu akan saya ceraikan dan saya usir dari rumah ini!” ancam Andreas tegas.


Puas sudah mengomeli serta mengancam Anissa, Andreas pergi membawa Fransiska dari kamar Anissa.


Kali ini ada hal berbeda tampak dari Fransiska. Kedua kakinya memang melangkah mengikuti Andreas. Namun, wajahnya menoleh ke belakang, memberikan segaris senyum kemenangan dirinya kepada Anissa. Hal itu membuat Anissa menggeram hingga berulang kali terlihat Anissa menarik nafasnya untuk meredakan amarahnya.


Pembalasan dari istri sah untuk seorang wanita yang berani merebut suami dan segala halnya baru saja di mulai.


Anissa masuk ke dalam kamarnya, ia pun berteriak di dalam kamar kedap suara itu.


“AAAA, dasar wanita licik. Tidak aku sangka jika sikap kamu lebih buruk daripada aku. Awas saja kamu Fransiska, akan aku pastikan kamu mendapatkan balasan atas semua yang kamu lakukan kepadaku. Aku tak terima mendapat perlakuan seperti ini. AWAS SAJA KAMU! Aku akan menyingkirkan kamu dengan cepat dari Andreas dan rumah ini!” teriak Anissa dengan rencana buruknya untuk Fransiska.


.


.


Fransiska duduk di kursi rias, Andreas berdiri di belakang Fransiska, tangannya memijat lembut pelipis, serta memijat lembut kedua pipi kenyal dan kencang Fransiska.


“Sayang, saya minta sama kamu jangan terlalu di pikirkan ucapan Anissa, ya. Mau dia itu mantan Daniel, ataupun dia mantan dari lelaki pria manapun. Saya juga minta kepada kamu untuk tidak memasukkan ke dalam hati serta pikiran jika Anissa ingin memamerkan sesuatu yang tak penting untuk di pamerkan. Kenapa saya meminta kamu untuk tidak memikirkan ucapannya? karena saya tidak ingin melihat segaris keriput atau melihat wajah cantik ini terlihat tua. Jika kamu terlihat tua, maka saya akan malu membawa kamu di pertemuan rekan bisnis, ataupun pertemuan lainnya. Ya, sayang,” cetus Andreas santai.


Fransiska hanya mengangguk dengan hati mengumpat kesal.


‘Kamu sungguh suami yang buruk. Aku pikir kamu benar-benar memikirkan diriku, ternyata kamu memikirkan diri kamu sendiri, Mas. Ini hanya segaris keriput, bagaimana jika suatu saat aku mengalami kecelakaan atau tubuhku mendapat luka yang lama di sembuhkan. Mungkin aku akan di buang seperti sampah,’ batin Fransiska.


“Air hangat di dalam bathub sudah kamu siapkan ‘kan? Saya mau berendam, mengeluarkan semua kelelahan terpendam di dalam tubuh saya,” tanya Andreas ingin merilekskan tubuhnya.

__ADS_1


“Sudah Mas, apa mau aku bantu gosokkan punggung Mas?” tawar Fransiska.


“Tidak perlu, saya tidak ingin kuku indah kamu itu terlalu lama berendam di dalam air sabun. Kamu cukup istirahat saja, saya mau mandi dulu,” pamit Andreas mulai melangkah menuju kamar mandi.


Baru saja Andreas masuk ke dalam kamar mandi, ponsel milik Fransiska berada di atas nakas bergetar. Fransiska segera mengambilnya, melihat pesan dari siapa. Setelah melihat isi pesan dari nomor tidak di ketahui, ternyata itu adalah pesan Daniel. Fransiska buru-buru menyepam nomor itu, dan ia pun asik membalas chat dari Daniel selama Andreas masih berada di dalam kamar mandi.


Segaris senyum terus terpancar di raut wajah Fransiska ketika ia terus membalas isi pesan Daniel. Fransiska benar-benar merasakan jatuh cinta untuk kedua kalinya, dan merasakan debaran jantung setiap menunggu balasan dari sang pujaan hati.


Pintu kamar mandi perlahan terbuka, Fransiska pun buru-buru mengakhiri pesannya kepada Daniel. Ia pun meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu pura-pura membaca sebuah novel.


“Loh, kamu belum tidur?” tanya Andreas sembari melangkah menuju lemari pakaiannya.


“Sebentar lagi pagi, lebih baik aku duduk di sini sambil menunggu Mas,” sahut Fransiska, tangannya menutup novel, ia pun turun dari ranjang mendekati Andreas sedang memakai baju rapih untuk pergi ke kantor.


“Kamu ‘kan pulang pagi setelah pergi ke pesta tadi malam. Lebih baik kamu tidur saja, jangan buat wajah cantik kamu itu mendapat lingkar panda,” ucap Andreas menyuruh Fransiska untuk tidur karena ia tak ingin melihat mata panda di wajah Fransiska.


“Bagaimana aku bisa tidur di saat suami baru saja pulang sudah bersiap akan pergi ke kantor lagi. Mas sendiri apa tidak lelah?” tanya Fransiska.


“Saya sudah terbiasa akan hal ini. Ini lah resiko seorang konglomerat ternama. Selalu sibuk dan tidak pernah memiliki waktu untuk di rumah,” mencium dahi Fransiska, “Maafkan saya, ya,” maaf Andreas.


Fransiska mengangguk dengan hati kembali mengumpat.


‘Iya, kamu memang sibuk dengan keluarga kamu sendiri. Kamu juga mengabaikan ku Mas. Salutnya aku kepada kamu, kamu tidak pernah mengatakan kamu sibuk dengan wanita di luar sana. Bahkan bisa di bilang kamu lebih menyukai melahap jajanan yang penuh dengan bakteri dan tidak terbungkus hingga lalat hijau terus hinggap di atas makanan itu, daripada makanan begitu higenis yang ada di rumah kamu sendiri.’


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2