
7 Hari telah berlalu.
Sesuai kesepakatan Andreas bersama dengan Fransiska. Setelah Fransiska dinyatakan bisa di bawa pergi keluar oleh pak dokter, kini ia sudah duduk di hadapan awak media. Di depan meja panjang berjejer rapih kamera, dan alat perekam suara.
“Sepertinya sangat ramai,” ucap Fransiska, pandangannya lurus ke depan, menatap satu persatu wartawan terus memotret dirinya masih memakaikan penyanggah leher, dan duduk di kursi roda.
“Tentu saja, memang itu tujuanku agar semua orang tahu kenapa saya menceraikan kamu. Meski hal ini hanya terjadi karena sebuah keterpaksaan, karena saya ingin memberikan aset untuk mantan istri yang cacat dan tak bisa melakukan apa pun lagi setelah berpisah dariku,” sahut Andreas berisik dengan bangganya.
Fransiska hanya terdiam, segaris senyum penuh makna tersimpan di wajah tertunduknya itu.
‘Iya-ia, kita lihat saja nanti. Apakah rencana kamu akan berhasil?’ gumam Fransiska dalam hatinya.
30 menit berlalu, akhirnya ruangan telah terisi penuh para karyawan awak media. Masing-masing kamera milik karyawan di hidupkan, membuat cahaya begitu silau menyinari wajah Fransiska dan Andreas.
Cekrek cekrek!
Alunan suara potret terus berkumandang di dalam gedung besar itu.
“Apa kamu sudah siap?” tanya Andreas menolehkan wajahnya ke Fransiska.
“Iya, lanjutkan saja,” sahut Fransiska tanpa ada rasa takut.
Andreas mengangkat separuh kedua tangannya ke atas, memberi isyarat jika dirinya ingin memulai pembicaraan. Semua awak media langsung terdiam, suara hiruk-pikuk dari seluruh manusia terhenti, di ganti dengan suara potret kamera.
“Selamat siang semua. Saya mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya karena kalian semua sudah hadir atas undangan saya. Maaf menunggu lama untuk kabar yang saya janjikan kepada kalian semua. Tanpa menunggu lama lagi, saya akan memberikan hak bicara kepada Fransiska,” menoleh ke sisi kiri, “Untuk Fransiska, silahkan!”
“Selamat siang semuanya. Di sini aku akan menyampaikan sebuah kabar penting mengenai hubunganku dengan Mas Andreas….”
Hiruk-pikuk suara terdengar kembali saat Fransiska baru saja hendak mengumumkan hubungan mereka.
“Maaf, apakah sudah bisa aku lanjutkan?” tanya Fransiska untuk menenangkan awak media.
Para awak media langsung terdiam, mereka menatap satu sama lain, lalu kembali fokus ke masing-masing kamera di hadapan mereka. Fransiska pun dengan tenang menyampaikan kabar perihal hubungannya dengan Andreas.
“Sebenarnya aku dan Mas Andreas sudah berpisah. Mas Andreas menjatuhkan talak padaku di hari pertama aku masuk rumah sakit,” jelas Fransiska lirih, hidung memerah menahan tangis buatannya.
Andreas langsung memicingkan matanya.
“Kamu harus berkata yang seperti saya katakan kepadamu. Kalau kamu tidak mengatakan yang seperti saya katakan, maka saya tidak akan memberikan hak yang kamu inginkan!” bisik Andreas mencoba mengancam Fransiska.
Semua awak media terkejut bukan main.
“Apa benar itu, tuan Andreas?”
“Kenapa anda sungguh tega melakukan hal seperti itu kepada istri Anda yang baru saja masuk rumah sakit?”
__ADS_1
Andreas menggeram, berulang kali ia menarik nafas dalam-dalam agar menenangkan hati dan pikirannya. Merasa sudah cukup tenang, Andreas menatap silau nya cahaya camera.
“Pria mana yang sanggup melihat istrinya berulang kali berselingkuh di belakang. Mengambil kesempataan untuk berduaan bersama dengan pria lain di saat suaminya bertugas di luar negeri. Fransiska mengalami kecelakaan karena sudah sepantasnya ia mendapatkan azab dari sang Pencipta. Dan Fransiska juga sudah sepantasnya saya ceraikan saat itu juga, agar dia tahu jika di dunia ini keluarga yang bisa merawat dan menyayanginya sudah tidak lagi bersamanya,” jelas Andreas dengan tenang, seolah benar Fransiska lah yang bersalah.
“Benarkah itu, nona Fransiska?” tanya salah satu awak media mewakili.
Fransiska menunduk, tangannya menyekak kasar bulir air mata buatan di kedua wajah mulusnya.
“Hahaha, tentang perselingkuhanku itu memang benar adanya. Tapi gimana tentang suami sekaligus Papa yang rela membiarkan anaknya meninggal tanpa di kebumikan oleh kedua tangannya sendiri?” tanya Fransiska mulai menyerang Andreas.
Andreas terdiam dengan bola mata membesar.
“Wah, sepertinya ini adalah berita besar yang tidak kami ketahui. Coba jelaskan secara rinci kepada kami nona Fransiska!” pinta awak media mulai bersorak.
“Baiklah, aku akan menjelaskan semuanya. Tapi, aku minta sama kalian ketika mencetaknya di koran atau menyiarkan berita ini, setiap kalimat yang aku lontarkan tidak boleh di tambahi ataupun di kurangi. Jika ketahuan menggunggah hal curang, maka siap-siap penerbit kalian akan aku hancurkan!” tegas Fransiska membuat awak media menelan kasar air ludahnya.
Andreas panik, belum sempat Fransiska membuka kedoknya, ia sudah lari terbirit-birit meninggalkan kursi panggung.
Para awak media langsung sigap mengangkat kamera mereka masing-masing, kedua kaki mereka pun dengan lincah berlari, mengejar Andreas.
“Kabur!”
“Mari kejar!”
“Yah, belum lagi aku menarik nafas panjang, Andreasnya sudah kabur. Kalau gitu aku pulang saja lah,” gumam Fransiska sembari memutar kursi rodanya sendiri.
“Perlu di bantu?” tanya seorang pria memakai masker scuba hitam, kaca mata hitam, topi hitam, dan jaket kulit hitam.
“Tidak perlu!” tolak Fransiska ketus.
“Rencananya gagal, ya?” tanya pria misterius itu kembali.
“Kamu!” gumam Fransiska menyadari jika suara pria misterius itu adalah suara Daniel.
“Iya, ini aku. Aku kuatir jadi dari tadi aku ikut berdiri di antara wartawan.”
“Rencana kita berhasil kok. Bedanya, aku belum sempat membuka semuanya di depan umum,” sahut Fransiska dengan wajah kecutnya.
“Tidak masalah, mari kita pulang,” ajak Daniel masih menyembunyikan wajahnya di dalam masker scuba dan kacamata, sembari membantu Fransiska turun dari panggung.
Baru beberapa langkah menuju koridor lobi, Fransiska di jegat beberapa wartawan masih penasaran dengan berita sesungguhnya.
“Maaf nona, boleh tidak kami bertanya langsung kepada Anda?” tanya salah satu wartawan di angguki wartawan lainnya.
“Boleh,” angguk Fransiska tak lupa tersenyum.
__ADS_1
“Apa maksud dari ucapan Anda tadi?” tanya awak media mulai mengarahkan alat rekaman suaranya.
Sekilas Fransiska melirik ke Daniel untuk meminta izin apakah boleh ia berbicara tentang fakta sesungguhnya. Daniel pun mengangguk, mengiyakan.
“Fakta sesungguhnya, siang itu aku hendak pergi ke rumah sakit untuk melakukan kontrol, karena aku mendapatkan kekerasan oleh wanita simpanan Mas Andreas,” tangannya menyibak poni menutupi dahinya, “Ini, ini adalah bekas jahitan lama. Kalian bisa lihat dengan jelas ‘kan jika ini bukan sebuah luka drama?” lanjut Fransiska memberitahu bekas jahitan di dahinya.
Para warta mendekat, tak lupa memotret bekas luka lama di dahi Fransiska. Sudah dapat gambar foto bekas jahitan di dahi Fransiska, wartawan langsung melontarkan sebuah pertanyaan mengenai wanita simpanan Andreas.
“Tadi Anda bilang tuan Andreas memiliki wanita simpanan? Bukannya dia begitu mencintai Anda, sehingga Anda tidak boleh pergi jauh dari tuan Andreas?”
“Bukannya kalian semua tahu jika seorang pria terlalu mencintai pasangannya, melarang kemanapun ia pergi, kecuali pergi bersamanya. Lelaki itu sedang menutupi kesalahannya. Haih, sepertinya aku tidak perlu menjelaskan terlalu panjang, karena kalian semua ‘kan seorang lelaki,” putus Fransiska tidak ingin melanjutkannya.
“Iya, sih. Tapi, masih ada yang membuat kami bingung. Apakah benar nona Fransiska ini selingkuh?”
“Oh, itu bukan selingkuh. Aku hanya menemukan teman hidup yang pas untuk saat ini. Menemukan seorang pria yang benar-benar menghargai ku, dan yang pasti pria itu mau mewujudkan keinginanku, memiliki seorang anak di dalam rumah tangga kami nantinya,” sahut Fransiska terliat begitu senang.
“Wah, kalau gitu selamat!” sorak wartawan memberikan selamat untuk Fransiska.
“Tentang terkena azab seperti yang di katakan tuan Andreas, soal kecelakaan nona Fransiska, apakah itu benar?” tanya wartawan berambut grondong penasaran.
Fransiska menunduk, tetesan air mata buatan perlahan membasahi pangkuannya.
“Hiks, kenapa Mas Andreas sekejam itu menyumpahi aku. Padahal hari itu aku kabur dari rumah karena aku di tuduh oleh Mas Andreas, dan wanita simpanannya yang saat ini sudah menjadi istrinya. Hiks…hiks!” sahut Fransiska lirih.
“Tuduhan seperti apa itu?” tanya wartawan lagi.
Fransiska mengangkat wajahnya, menatap satu persatu wajah wartawan.
“Apa kalian tidak tahu jika anak dari istri simpanan Mas Andreas telah meninggal dunia akibat penculikan?” cetus Fransiska membuat wartawan kembali heboh.
“Kami tidak tahu apa pun. Ke-kenapa rahasia sebesar ini tidak terekspos ke publik?” sahut wartawan lainnya bertanya dengan cepat.
“Loh, apa kejadian ini di buat rahasia juga oleh Mas Andreas?” membungkuk, “Kalau gitu aku minta maaf. Aku tidak bisa menjelaskan lebih banyak lagi tentang almarhum anak Mas Andreas. Jika kalian semua penasaran, lebih baik bertanya sendiri…” ucapan Fransiska terhenti saat Daniel mulai mendorong kursi roda Fransiska.
“Nona, tolong jangan kasih tahu kami setengah-setengah tentang hal ini!”
“Mohon maaf, aku sungguh tidak bisa. Lebih baik kalian segera kunjungi saja ke rumahnya. Aku rasa dia masih ada di rumah,” maaf Fransiska tulus.
Tidak ingin di buru kembali oleh wartawan, Daniel cepat-cepat membawa Fransiska masuk ke dalam mobil, tak jauh terpakir dari teras gedung. Dari mulai masuk, sampai mobil jalan, wartawan terus mengejar Fransiska, berharap bisa mendapatkan berita kelanjutannya. Namun, Fransiska sengaja menggantungnya agar semua awak media menyerbu rumah Andreas.
.
.
Bersambung
__ADS_1