
Mendengar jawaban dari Fransiska, Daniel diam sejenak. Sedikit rasa kecewa atas penolakan Fransiska membuat hatinya mendadak gundah. Namun, ia tetap akan berusaha sekuat mungkin untuk bisa membawa Fransiska menetap di sisinya.
Fransiska masih menunduk penuh penyesalan akan penolakannya sendiri. Sebenarnya bukan ia tidak ingin menerima lamaran Daniel. Fransiska masih ingat ucapan Andreas saat itu, sebuah ancaman yang akan menjatuhkan bisnis milik Daniel.
5 menit dalam diam dan saling memalingkan wajah. Daniel akhirnya membuka suara.
“Hem, begini. Ha ha ha, tadi itu aku hanya bercanda. Aku bicara seperti itu hanya ingin latihan melamar seseorang aja,” ucap Daniel berbohong.
“Kamu ini, aku kira kamu beneran,” memukul bidang dada Daniel, “Jangan katakan itu lagi, aku tidak ingin kamu ikut mengalami masalah sepertiku,” lanjut Fransiska dengan derai air mata.
Daniel terdiam, membiarkan Fransiska memukul bidang dadanya.
‘Ternyata Siska menolakku karena tidak ingin aku terlibat masalah dengan Andreas,’ gumam Daniel dalam hati.
“Siska,” panggil Daniel lembut.
“Iya,” sahut Fransiska sambil mengusap derai air mata di kedua pipinya.
“Apakah kamu mencintai Andreas?” tanya Daniel langsung.
Fransiska menunduk, kedua tangannya meremas rok gaun miliknya.
“Tidak,” sahut Fransiska, Daniel menarik nafas pendek, sejenak segaris senyum tercetak di wajahnya.
“Apakah kamu masih ingin kembali ke rumah besar itu?” tanya Daniel kembali.
Fransiska memandang Daniel, tatapan penuh tanda tanya tersirat jelas saat dirinya menatap wajah tenang Daniel.
“Kenapa dari tadi kamu terus bertanya hal aneh?” Fransiska balik bertanya.
“Jawab saja dulu, nanti akan aku kasih tahu arti semua jawabanku,” sahut Daniel.
“Sebenarnya aku ingin sekali membeli rumah dan tinggal sangat jauh dari Anissa dan Mas Andreas. Mengingat perlakuan mereka sangat buruk kepadaku, aku memutuskan masih ingin bertahan di rumah itu, membalaskan semua perbuatan mereka kepadaku,” sahut Fransiska menjelaskan tujuannya.
“Kamu tidak perlu membalas dendam kepada mereka berdua,” memegang kedua tangan Fransiska, dan mengelus punggung tangan halus itu. “Aku tidak ingin kedua tangan halus ini di lumuri oleh dosa. Siska, jika aku memintamu untuk mengikuti rencanaku, dan tetap diam di sampingku. Apakah kamu mau?”
“Kenapa kamu masih keras kepala ingin membantuku? Apakah kamu tidak takut dengan ancaman dan hal gila dari Mas Andreas suatu hari nanti?” tanya Fransiska menyakinkan ucapan Daniel.
“Alasanku untuk terus membantumu karena aku tulus mencintaimu. Tentang ancaman dan perbuatan jahat yang akan di lakukan Andreas kepadaku, kamu tenang aja. Aku pastikan tidak akan terjadi hal buruk apa pun kepadaku, atau Perusahaanku,” sahut Daniel menjelaskan agar Fransiska bisa tenang.
__ADS_1
“Jika suatu saat kamu jatuh miskin karena telah membawaku keluar dari jerat Andreas. Apakah kamu tidak akan menyesalinya?” tanya Fransiska kembali agar hatinya tenang.
“Aku tidak takut akan hal itu. Ketakutan terbesarku saat ini adalah membiarkanmu pergi untuk yang kedua kalinya,” sahut Daniel membuat cairan bening kembali menggenang di kedua mata indah Fransiska.
“Apakah kamu serius mencintaiku?” tanya Fransiska menyakinkan perasaan Daniel kepadanya.
“Serius,” Daniel memegang dagu Fransiska dan mencium bibir merah muda tanpa polesan lipstick itu.
Sudah cukup puas mencium bibir Fransiska sampai mereka saling kehabisan nafas. Barulah Daniel melepaskan ciumannya, menghirup sebanyak mungkin oksigen agar masuk ke dalam paru-paru dan mengalirkan ke kepalanya.
“Apa rencana yang akan kamu lakukan?” tanya Fransiska dalam kondisi malu karena mendapatkan serangan mendadak.
“Begini Siska….”
Daniel mulai menceritakan rencananya kepada Fransiska dengan sangat detail dan serius. Fransiska terlihat mengangguk, dan sesekali dahinya itu mengerut mendengar rencana di lakukan oleh Daniel.
.
.
Sementara itu di Vila besar milik James di kota B.
James melangkah masuk ke dalam Villa dengan semangat. Senyum bahagia terukir jelas di sepanjang jalan menuju Villa miliknya. Begitu sampai di ruang tamu, James menghentikan langkahnya, binar di kedua mata terpancar jelas saat melihat seorang gadis berusia 10 tahun sedang mengerjakan tugas sekolah dengan pelayan Villa miliknya.
James kembali melangkahkan kakinya mendekati Vika, tanpa rasa jijik ia ikutan duduk di lantai, membuat pelayan dan bodyguard miliknya memandang tak percaya.
‘Pemandangan apa ini? tu-tuan James mau duduk di lantai bersama dengan foto copy nya!’ gumam masing-masing pelayan, dan bodyguard dalam hati.
“Kamu sedang mengerjakan tugas sekolah?” tanya James berbasa-basi.
“Iya, Om,” sahut Vika mengangguk.
“Tulisan kamu rapih juga, ya,” puji James ingin membuat ia dan Vika tetap terus berkomunikasi.
“Jika tulisannya jelek dan acak-acakan, maka Mama akan memarahi Vika, menyuruh untuk mengulangi semua tulisan itu dengan benar,” sahut Vika menjelaskan dengan wajah polos.
James tersulut emosi saat mendengar putri kecilnya harus menampilkan hal sempurna di usia muda. Namun, masih bisa di tahannya.
Vika melirik ke sekeliling ruang tamu, seperti sedang mencari sesuatu.
__ADS_1
“Om, Mama mana?” sambung Vika bertanya saat tak melihat sosok ibunya di seluruh ruangan.
“Katanya pergi ke rumah teman, jadi untuk sementara waktu Vika di titipkan di rumah Om. Kamu tidak keberatan ‘kan?” sahut James berbohong, Vika melesu.
“Mau gimana lagi, Mama memang selalu seperti itu. Kalau pergi suka melupakan Vika. Saat ada Papa Andreas aja baru Mama ingat kalau Vika ada bersama di antara mereka,” Vika ngedumel.
James semakin mengerutkan dahinya mendengar ucapan dari putrinya itu.
‘Kurang ajar, ternyata seperti itu kelakuan kamu. Awa saja kamu, Anissa. Akan ku buat kau tak bisa melihat Vika lagi,’ janji James menahan amarahnya di depan putrinya.
“Heeeem, Om boleh bertanya tentang satu hal tidak?” tanya James.
“Boleh, tanyakan saja Om,” sahut Vika semangat.
“Sejak kapan Vika mengetahui jika Papa Andreas adalah Papa Vika?” tanya James mulai masuk ke inti permasalahan.
Vika melirik ke atas seolah sedang berpikir.
“Heeem, sejak umur 7 tahun. Kenapa Om?” sahut Vika balik bertanya.
“7 tahun? Berarti Vika baru-baru saja mengetahui jika Andreas adalah Papa Vika?”
“Iya, soalnya Papa Andreas jarang menemui Vika dan Mama. Kalau pun mereka bertemu, pasti mereka saling cekcok saat itu. Jadi, Vika selalu memutuskan untuk diam di dalam kamar daripada ikut duduk bersama dengan Papa dan Mama,” sahut Vika kembali menjelaskan.
“Kalau Om boleh tahu, apakah Vika yakin jika Papa Andreas adalah Papa Vika?”
“Vika bingung untuk menjawab hal itu Om. Soalnya sikap Papa Andreas itu kadang aneh. Kadang memanjakan Vika, kadang tidak pernah berduli sama sekali. Tapi……kebanyakan tidak perdulinya sih, kecuali Papa dan Mama sedang akur,” sahut Vika kembali menjelaskan.
“Siapa tahu nih, Vika bertemu dengan Papa kandung Vika. Apakah Vika akan marah mendengar kenyataan jika Vika sebenarnya bukan anak kandung dari Papa Andreas?”
“Eh, kok bisa seperti itu Om? Bagaimana mungkin ada seorang pria tiba-tiba muncul dan mengaku Papa Vika. Pasti pria itu adalah orang jahat Om. Iiihh, Vika nggak mau jadi anak dari pria jahat,” sahut Vika jujur.
James tertunduk suram.
‘Katanya dia tidak mau jadi anak dari pria jahat. Sedangkan aku adalah pria yang jahat. Bukan jahat aja, mesum pun ia, manipulatip dan semuanya ada pada diriku. Bagaimana jika dia menolakku sebagai Papa kandungnya? Apakah aku harus bunuh diri?’ gumam James bertanya-tanya dalam hatinya.
Pelayan, dan bodyguard bergidik ngeri melihat ekspresi tak bersahabat James.
.
__ADS_1
.
Bersambung....