
Andreas terus melangkah di koridor rumah sakit menuju lobi. Langkah kakinya harus terhenti saat panggilan telepon masuk.
Drrt drrtt
“Bukannya ini nomor telepon rumah sakit di kota S,” gumam Andreas melihat nomor panggilan dari luar Negeri.
Baru saja hendak mengangkat panggilan telepon Anissa menghampiri Andreas, sehingga panggilan telepon tersebut di abaikan.
“Apa kamu yakin menceraikan Siska di saat seperti ini. Kenapa kamu tidak berpikir dulu sebelum bertindak. Kamu pikir dengan kondisi Siska seperti ini…” ucapan Anissa harus terhenti saat benda pipih milik Andreas kembali berdering dengan nomor penelepon sama.
📲 [“Hallo!”] sapa Andreas setelah ia mengangkat panggilan telepon dari kota S.
📞 [“Apa benar ini dengan tuan Andreas, suami dari nona Fransiska?”] tanya seorang pria dari sebrang sana.
📲 [“Iya, ada apa, ya?”] tanya Andreas pura-pura mengakui.
📞 [“Begini, saya sudah mendengar bahwa istri Anda bernama Fransiska mengalami kecelakaan tunggal menyebabkan satu kaki patah, satu tangan patah, dan leher juga. Bukan itu saja, saya sebagai pemilik rumah sakit ingin mengajukan sebuah permintaan untuk Anda. Apakah boleh?”]
📲 [“Ajukan, maksud Anda apa?”] tanya Andreas tak paham.
📞 [“Saya ingin mengajukan sebuah operasi untuk menangani patah tulang di tubuh istri Anda. Bukan itu saja, ada salah satu dokter bedah di negeri sakura ingin mengajukan sebuah permintaan yang sama. Setelah melihat kondisi wajah istri Anda, dokter ahli beda di negeri itu ingin mengajak Anda melakukan kerja sama demi mengembalikan kecantikan wajah istri Anda. Apakah tuan berminat?”] tanya dokter tersebut menawarkan sebuah permintaan kontrak kerja sama tak biasa.
📲 [“Apa untungnya bagi saya? Dan apa untungnya bagi Anda?”] Andres balik bertanya.
📞 [“Untungnya bagi tuan, bisa mendapatkan perawatan, pengobatan sampai istri Anda sembuh dan kembali tanpa ada cacat di tubuh indahnya. Keuntungannya bagi pihak rumah sakit, heem…sudah pasti saya ingin rumah sakit saya terkenal karena pernah menangani pasien dengan kelas tinggi seperti Anda. Apakah tuan berminat?”]
📲 [“Maaf, saya tidak berminat.”] sahut Andreas langsung mematikan panggilan teleponnya.
Anissa tak sengaja mendengar percakapan Andreas langsung menggeram. Saking geramnya bibirnya tak sengaja melontarkan kata-kata kasar.
“Bodoh! Ada yang ingin memberikan pengobatan geratis sampai sembuh, kamu tidak mau?” celetuk Anissa sembari menatap tajam ke wajah Andreas.
__ADS_1
“Andai saja ini bukan di tempat publik, mungkin mulutmu itu akan saya jahit. Kenapa saya menolaknya itu bukan urusan kamu. Dan intinya saya tidak suka menunggu hal yang tak pasti seperti melakukan operasi berharap bisa utuh seperti ciptaan Tuhan dari lahir,” ucap Andreas menahan amarahnya.
“Tapi, bukannya ini adalah kesempatan emas buat menaikkan pamor kamu?” Anissa mengingatkan.
“Kamu pikir saya ini bodoh. Saya sudah tahu gimana caranya untuk menaikkan pamor dan status saya tetap di atas. Cara saya tidak murahan seperti kamu!” bisik Andreas di kalimat terakhirnya.
“Ka-kamu sedang merencanakan apa?” tanya Anissa gugup.
“Kamu lihat saja ketika Siska keluar dari rumah sakit nanti,” sahut Andreas mulai melangkahkan kedua kakinya menuju teras rumah sakit.
“Andreas, Andreas!” panggil Anissa mengikuti langkah kaki Andreas sampai di teras rumah sakit.
Langkah kaki Anissa harus berhenti di belakang Andreas, saat dari bawah teras rumah sakit telah berkumpul wartawan dan awak media dengan masing-masing tangan mengulurkan alat perekam suara.
“Tuan Andreas, gimana keadaan istri Anda sekarang?” tanya salah satu wartawan di sambung wartawan lainnya.
“Sudah sadar dan dalam perawatan,” sahut Andreas lirih.
“Kenapa saat kejadian itu istri Anda hanya mengendarai mobilnya sendirian? Kenapa tidak pergi bersama dengan Anda?” tanya wartawan lainnya.
“Sepertinya masalah ini sangat serius, apakah itu benar?” tanya wartawan lainnya.
“Iya, lebih dari berita panas yang tidak akan kalian dapatkan darimanapun,” angguk Andreas sembari perlahan melangkahkan kakinya meninggalkan kumpulan awak media bersama dengan bodyguard miliknya sudah menjaga ketat di sekitaran rumah sakit.
.
.
Sementara itu di ruang rawat inap Fransiska.
Terlihat Pak dokter dan 2 perawat tengah berdiri di samping ranjang. Daniel sendiri merebahkan tubuhnya dengan santai di sofa tamu di dalam ruang rawat inap Fransiska.
__ADS_1
“Maaf tuan Daniel, kenapa Anda masih di sini?” tanya Pak dokter menangani Fransiska.
“Aku hanya ingin memastikan apakah kau akan berkhianat kepadaku di belakang ku dengan mengatakan semua kecelakaan di alami Siska hanyalah ulahku semata,” sahut Daniel santai.
“Ti-tidak, itu tidak mungkin saya lakukan. Saya tahu tugas saya ini adalah sebuah tugas kebohongan terbesar yang mungkin akan berdampak buruk kepada karir saya ke depannya. Tapi, setelah tak sengaja ikut mendengar perbincangan tuan Andreas dan nona Fransiska dari penyadap di letakkan di bawah bantal. Saya menyadari jika pria seperti tuan Andreas tidak pantas mendapatkan kasih sayang ataupun kesempatan kedua untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. Saya juga sudah berjanji akan membantu nona Fransiska sampai mendapatkan kata talak dari tuan Andreas,” jelas Pak dokter panjang lebar.
“Terimakasih atas bantuannya, aku akan mentransfer uang atas kerja keras dokter untuk hari ini,” ucap Daniel hendak menghubungi seseorang. Namun, pak dokter langsung menahan tangan Daniel.
“Maaf, saya tidak bisa menerima uang tersebut. Saya ikhlas melakukannya untuk membantu nona Fransiska,” tolak Pak dokter halus.
“Kalau gitu terimakasih, Pak,” terimakasih Fransiska sembari membungkukkan sedikit tubuhnya.
“Oh ya, ada satu informasi yang harus tuan Daniel dan nona Fransiska ketahui,” ucap pak dokter menggantung.
“Apa itu dok?” tanya Fransiska dan Daniel serentak.
“Salah satu rumah sakit terbesar di kota S dan negeri sakura menelepon saya, menanyakan gimana kondisi nona di sini. Setelah saya berikan informasi mengenai nona Fransiska, pihak rumah sakit dari kota S dan negeri sakura meminta izin untuk membawa nona melakukan perawatan di rumah sakit mereka hingga sembuh. Saya menolaknya, saya katakan silahkan minta izin kepada tuan Andreas. Untuk kabar dari hasil jawaban saya selanjutnya, saya tidak tahu lagi. Saya harap tuan Daniel bisa membuat rencana baru jika memang tuan Andreas membawa nona Fransiska pergi ke sana,” jelas pak dokter.
“Baik, Pak dokter tenang saja. Untuk masalah seperti itu kecil bagi ku,” sahut Daniel tenang.
“Kamu yakin itu adalah masalah kecil?” tanya Fransiska tak yakin.
“Aku lebih tahu gimana karakter Andreas.
Kamu tenang saja, ya!” sahut Daniel tenang, tak lupa tangannya mengelus puncak kepala Fransiska dengan lembut.
“Karena kamu sudah berkata seperti itu, maka aku akan tenang. Semua aku serahkan kepadamu,” gumam Fransiska.
“Sudah tidak ada lagi yang harus saya sampaikan. Jadi, saya pamit pergi,” pamit Pak dokter lalu melangkah meninggalkan ruang rawat inap Fransiska.
.
__ADS_1
.
Bersambung....