
Kini langkah kaki pria misterius itu terhenti di samping ranjang Fransiska. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya, lalu berbisik.
“Sa…yang!”
Jlub!
“Uuhuk!” Fransiska tadi terlelap tidur harus terbangun karena benda tajam telah tertancap di bawah rusuknya. Darah juga mengalir dari bibirnya.
“Gimana rasanya kehilangan apa yang sudah kamu impikan selama ini?” tanya pria misterius tersebut berpikir jika tusukannya mengenai sasaran, sembari menarik kembali pisaunya.
“AAAAAA!” teriak Fransiska spontan terduduk, kedua tangannya memegang perutnya.
Di tengah teriakan Fransiska, Daniel baru saja sampai di dalam kamar dengan 5 pihak berwajib bersamanya.
“Letakkan pisau itu!” tegas pihak berwajib menghentikan aksi pria misterius tersebut.
Tanpa melakukan penolakan pria misterius itu meletakkan pisau ke lantai, lalu berjalan perlahan mendekati pihak berwajib dengan kedua tangannya ia ulurkan ke depan.
“Terimakasih karena sudah datang terlambat. Karena lemahnya dan ketidak sempurnaan kalian semua, saya jadi bisa melancarkan aksi saya,” ucap pria misterius itu masih dalam balutan topengnya.
“Pak, aku serahkan pria ini kepada bapak. Aku akan segera datang ke kantor polisi setelah membawa istriku ke rumah sakit,” pesan Daniel buru-buru karena ia harus segera membawa Fransiska ke rumah sakit.
Daniel terus berlari menuju mobilnya terpakir di depan teras rumah. Cepat-cepat ia letakkan tubuh lemah Fransiska di kursi penumpang bagian depan, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Untuk bibi, akang tukang kebun, dan 2 pelayan lainnya sudah di tandu ke mobil ambulans dan akan segera menuju rumah sakit.
Di dalam mobil Daniel terus menekan bekas tusukan di bagian bawah rusuk Fransiska, berharap bisa mengurangi keluarnya darah.
“Maafkan aku, Siska, maafkan aku!” ucap Daniel lirih, bulir air mata terlihat mentes di pipinya.
Melihat Daniel menangis, tangan mungil penuh noda merah itu perlahan terangkat, menghapus bekas air mata di pipi Daniel, dan meninggalkan noda merah di sebelah pipi Daniel. Sekilas Fransiska masih bisa tersenyum di wajah pucat nya.
“Sayang, Aku baik-baik saja kok. Kamu jangan menangis seperti ini, kalau kamu menangis, aku jadi sedih,” ucap Fransiska lemah.
“Aku tidak menangis kok. Sudah, kamu jangan banyak bergerak dulu karena sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. Aku yakin, aku bisa menyelamatkan kamu dan calon bayi kita,” sahut Daniel dengan suara gemetar, menahan sesak di dada, dan emosi.
Fransiska tidak menjawab, kini tubuhnya melemah, perlahan kelopak mata itu turun dan tertutup.
“SISKA!” teriak Daniel, kakinya spontan menambah kecepatan laju mobilnya, menyisir jalan tidak terlalu padat.
10 menit kemudian, akhirnya mobil Daniel sampai di depan teras rumah sakit. Di depan teras sudah menunggu dokter dan beberapa perawat membawa ranjang perawatan. Daniel segera meletakkan tubuh Fransiska di ranjang, perawat dengan sigap langsung mendorong ranjang itu menuju ruang UGD.
__ADS_1
Daniel terus menunggu, dan menunggu selama kurang lebih 20 menit di depan ruang UGD.
“Siska, aku mohon bertahanlah. Aku yakin kamu bisa melewati ini semua!” gumam Daniel berdoa untuk Fransiska.
Melihat pintu UGD terbuka, Daniel segera mendekati pintu. Langsung bertanya kepada dokter mengenai kondisi sang istri.
“Dokter, gimana keadaan istriku?” tanya Daniel tenang, meski saat ini hatinya sangat gelisah.
“Syukurlah, luka tusuk di dapat nona Fransiska tidak mengenai janinnya, dan tidak terlalu dalam juga. Karena darah terlalu banyak keluar, kami sudah memberikan kantung darah untuk nona Fransiska, berharap calon bayi tuan dan nona bisa selamat. Saat ini nona Fransiska masih tidak sadarkan diri. Kalau tuan mau melihatnya silahkan tunggu di ruangan rawat inap, karena para perawat akan segera memindahkannya ke sana,” sahut Pak dokter.
Mendengar kabar itu Daniel bisa bernafas lega. Meski ada sedikit rasa cemas mengenai calon bayinya. Apakah mampu bertahan sampai Fransiska sadarkan diri, mengingat begitu banyaknya Fransiska mengeluarkan darah.
10 menit setelah Fransiska dipindahkan ke ruang rawat inap. Daniel duduk di samping ranjang dengan tangan terus menggenggam erat tangan Fransiska, bibirnya terus berdoa dalam hati agar sang Istri bisa kembali tersadar. Dan akhirnya doa Daniel di kabulkan, kelopak mata Fransiska perlahan bergerak.
“Siska!” gumam Daniel.
“Aku ada di mana ini?” tanya Fransiska lemah.
“Kamu di rumah sakit,” sahut Daniel.
Mendengar kata rumah sakit, Fransiska sontak membulatkan kedua matanya, kedua tangannya juga meraba perutnya berbalut perban.
“Jangan cemas dulu, tadi aku sudah menekan tombol darurat, dan sebentar lagi dokter akan datang untuk memastikan kondisi calon bayi kita apakah masih bisa diselamatkan,” ucap Daniel lembut agar Fransiska tidak cemas.
“Calon bayi? Apakah bayi di dalam kandunganku tidak kenapa-kenapa?” tanya Fransiska spontan.
Daniel tidak menjawab saat pintu ruangan terbuka. Daniel hanya beranjak dari duduknya, dan membiarkan pak dokter menjawab pertanyaan Fransiska.
“Maaf tuan Daniel. Sepertinya kami akan membawa nona Fransiska untuk melakukan USG agar mendapatkan hasil maksimal. Anda tunggullah di sini,” ucap pak dokter.
“Baiklah,” angguk Daniel.
Perawat pun membawa Fransiska meninggalkan ruangannya menuju ruang USG. Daniel terus menunggu dan menunggu sembari menelepon pihak berwajib, bertanya siapakah pria misterius sudah membantai asisten rumahnya, dan istri tercintannya.
Setelah mendapat jawaban dari pihak berwajib, raut wajah Daniel terlihat suram, sorot matanya terpancar aura ingin membunuh seseorang. Namun, sorot mata dan raut wajah suram itu berubah menjadi normal saat melihat Fransiska sudah kembali dari ruang USG.
“Dokter, gimana dengan keadaan istriku dan calon bayiku?” tanya Daniel setelah selesai membenarkan posisi tidur Fransiska.
“Luar biasa. Saya tidak menyangka dengan apa yang saya lihat. Keadaan calon-calon bayi tuan semuanya sehat. Bahkan terbilang cukup kuat untuk kehamilan kembar 3 ini. Apakah ini istilah dari Sang Pencipta yang mengatakan jika Ibu hamil dan calon bayinya selalu di lindungi oleh Sang Pencipta?” jelas Pak dokter seolah tak percaya mengingat kejadian buruk menimpa Fransiska.
__ADS_1
Daniel sendiri terkejut bukan main, kenapa bisa bayinya selamat sedangkan perut Fransiska tertusuk. Meski tusukan itu terkena di bagian rusuknya.
“Dokter pasti bercandakan? Setahuku perut Istriku tertusuk dan mengeluarkan banyak darah. Bagaimana bisa calon bayi kami sehat-sehat saja?” tanya Daniel seolah tak percaya akan keajaiban.
“Saya pun tadinya berpikir seperti itu. Tapi melihat luka tusuk yang di dapat istri tuan itu tidak mengenai calon bayi. Tapi luka tusuk itu mengenai perut bagian sini,” sahut Pak dokter sembari menunjuk ke bagian rusuk.
“Organ bagian dalam istriku gimana Pak dokter? Apakah baik-baik saja?” tanya Daniel kembali.
“Syukurnya baik. Luka tusuk itu tidak terlalu dalam, jadi hanya mengenai bagian lapis kulit saja. Menurut saya, mungkin saat penusukan itu terjadi perut nona Siska terhalang oleh benda, sehingga tidak mengenainya,” sahut Pak dokter mengingat tusukan itu hanya sedalam 5 cm. “Tapi, syukurnya ibu dan calon anaknya baik-baik saja,” lanjut Pak dokter.
“Iya dok, syukurlah,” lega Daniel.
“Kalau gitu saya permisi dulu,” pamit pak dokter setelah dapat anggukan dari Daniel.
Daniel terus memandangi wajah pucat Fransiska, tangannya membelai lembut puncak kepala Fransiska.
“Aku janji akan memberikan penjagaan ketat buat kamu,” janji Daniel tegas.
“Tidak perlu ketat juga nggak masalah. Anggap saja kejadian buruk ini hanya mimpi buruk,” sahut Fransiska.
“Iya,” sahut Daniel tidak ingin banyak berkomentar karena ia tak mau Fransiska terlalu banyak mengeluarkan suara.
“Aku sangat mengantuk, apakah aku boleh tidur?” tanya Fransiska meminta izin.
“Tentu saja boleh sayang! Tidurlah, aku akan menjagamu,” sahut Daniel dengan tangan masih membelai lembut puncak kepala Fransiska.
Fransiska pun tertidur. Setelah mendengar suara dengkuran halus menandakan jika Fransiska sudah terlelap. Daniel beranjak keluar dari ruangan rawat inap Fransiska. Di depan ruangan sudah berdiri 3 bodyguard bertubuh kekar dan berwajah sangar.
“Jaga istriku dengan benar. Pastikan jangan biarkan siapa pun masuk ke dalam sampai aku kembali!” tegas Daniel memberi perintah.
“Baik, BOS!” sahut ketiga bodyguard serentak.
Daniel pun mulai melangkah pergi menuju kantor pihak berwajib tak jauh dari rumah sakit tempat Fransiska di rawat.
.
.
Bersambung
__ADS_1