RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU

RANJANG DUDA SEBELAH RUMAHKU
S2. 02. UCAPANMU ADALAH DOA


__ADS_3

Setelah membiarkan Fransiska dan Vika saling berpelukan demi memberikan kekuatan satu sama lain. Ezra, Brady dan Clay memutuskan untuk kembali masuk ke ruang tv.


Fransiska dan Vika segera menyeka kasar bekas air mata di kedua pipi mereka.


“Wah, apa ini semua buatan anak-anak Mami?” tanya Fransiska dengan suara seraknya.


“Iya, Mi,” sahut Brady di angguki Ezra dan Clay.


“Bukan hanya tampan, tapi kalian bertiga juga sangat pintar membuat teh dan makanan,” puji Vika sembari mencubit gemas kedua pipi Clay.


Mengingat Vika baru saja berduka karena kepergian Mamanya, Clay membiarkan Vika mencubit kedua pipinya hingga kedua pipinya terasa kebas.


Puas telah mencubit kedua pipi Clay, Vika kembali bertanya mengenai Andreas.


“Mama Siska. Gimana kabar Papa Andreas? Apakah dia baik-baik saja di dalam tahanan?” tanya Vika penasaran.


“Maaf, untuk Andreas. Sebenarnya, ia telah meninggal dunia karena…kamu pasti pahamkan gimana kerasnya hidup di dalam tahanan seperti apa. Di tambah lagi karena kasusnya,” sahut Fransiska memberi kode untuk tidak melanjutkan percakapan karena dihadapan mereka ada Ezra, Brady, dan Clay.


“Iya, aku paham kok, Ma,” angguk Vika.


Vika melirik satu persatu wajah ketiga putra kembar Fransiska. Kejahilan ia kembali terulang saat melihat Ezra menunduk dengan raut wajah terlihat bosan.


“Apa yang sedang kamu pikirkan. Apa kamu bisa melihat wajah kakak cantikmu ini?” tanya Vika sembari mencolek sebelah pipi Ezra, dan itu membuat Ezra kesal.


“Mami, Ezra permisi ke kamar dulu,” pamit Ezra menahan kesalnya karena ulah Vika.


“Kamu nggak mau mengobrol dengan Kak Vika?” tanya Fransiska.


Ezra hanya melirik sekilas ke Vika kemudian melangkah pergi. Melihat Ezra pergi begitu saja, Clay menarik pergelangan tangan Brady, membawanya berlari ikut pergi bersamanya menyusul Ezra.


“Andai aku bisa menikahi mereka bertiga. Pasti di rumah ku akan sangat ramai dengan wajah-wajah unik mereka bertiga nantinya,” gumam Vika di dengar Fransiska aneh.


“Huust! Ucapanmu adalah doa, loh! Jangan bercanda seperti itu kalau kamu masih menganggap mereka sebagai adik,” tegur Fransiska.


“Hem! Gimana... kalau ucapan saat aku berusia 10 tahun semuanya aku tarik Ma. Saat ini aku ingin mengatakan jika aku menginginkan ketiga putra kembar Mama untuk menjadi pendamping hidupku. Hem, hitung-hitung aku menjaga jodohku sendiri mulai dari kecil sampai dewasa agar tetap perjaka,” celetuk Vika dengan candaan ekstremnya.

__ADS_1


Sudah menganggap Vika seperti anak sendiri. Fransiska geram akan permintaan Vika, akhirnya mencubit hidung bangir nya.


“Kamu ini, Ezra, Brady, dan Clay itu masih kecil. Sebaiknya kamu cari lelaki lain di luar sana, bukan meminta mereka bertiga untuk menikahi kamu. Walau ucapan kamu itu hanya bercandaan. Bisa jadi suatu hari nanti akan menjadi doa, dan Mama pasti tidak akan merestui kamu sebagai calon menantu,” geram Fransiska.


Vika hanya mengeluh kesakitan sembari memukul-mukul pelan lengan Fransiska.


“Aduh, duh! Ampun Mama Siska. Sakit, sakit tahu!”


Fransiska akhirnya melepaskan cubitannya dari hidung bangir Vika.


“Belum jadi mertua saja sudah galak begini. Alasan Vika ingin menjadikan Ezra, Brady dan Clay menjadi calon suami itu karena Vika ingin mendapatkan yang perjaka. Masa ia gadis perawan seperti Vika mendapatkan pria tidak perjaka lagi. Apa Mama Siska nggak kasihan sama....”


Fransiska kembali menghujani Vika dengan cubitan pelan untuk menghentikan candaannya.


Candaan mereka terhenti saat James dan Daniel masuk bersamaan ke ruang tv.


“Assalamualaikum,” ucap salam Daniel membuat Fransiska menghentikan hukumannya untuk Vika.


Vika sendiri langsung beranjak dari duduknya, berlari memeluk sang Papa untuk meminta bantuan.


“Mama Siska sudah nggak sayang lagi, Pa, sama aku,” adu Vika sebelum Fransiska menjawab pertanyaan James.


Fransiska kembali menggertak Vika hingga Vika berpindah ke belakang tubuh kekar James.


“Vika sekarang mulai tumbuh menjadi gadis yang genit. Masa ia ketiga putraku ingin ia borong. 10 tahun lalu janjinya untuk menjadikan mereka sebagai adik, sekarang ingin menikahi mereka bertiga,” celetuk Fransiska memberitahu.


Bukannya marah pada Vika, James malah tersenyum, lirikan penuh arti menatap wajah polos sang putri.


“Kalau memang putri Papa ingin menjadikan ketiga putra Daniel dan Fransiska menjadi suami. Maka Papa akan mendukung kamu,” cetus James sembari menunjukkan kedua jempol tangannya ke Vika.


“Serius Pa. Berarti dari adek menjadi suami, dong!” gumam Vika senang.


Seolah sudah tahu jelas siapa James, Daniel hanya menggelengkan kepalanya sambil membuka satu persatu kancing baju kemejanya. Fransiska sendiri mendengus kesal, lalu menghempaskan tubuhnya di sofa kosong sebelah Daniel.


“Sayang, kamu dengar itu. Masa ketiga putra kecil kita akan dijadikan suami dan calon menantu oleh James. Aku nggak setuju, sayang. Katakan sesuatu untuk menolak ucapan mereka. Walaupun bercanda aku takut suatu hari menjadi kenyataan,” rengek Fransiska sembari menggoyang paha Daniel.

__ADS_1


“Tidak mungkin itu akan terjadi istriku. Ezra, Brady, dan Clay itu masih kecil, sedangkan Vika sudah berusia 20 tahun. Masa ia demi menikahi ketiga putra kita, Vika rela membuang waktunya sampai berumur 30 tahun. Sudah nenek-nenek nantinya dia. Lagian, Vika dan James itu hanya bercanda, masa ia kamu anggap serius,” ucap Daniel mencoba menenangkan Fransiska.


“Nggak, aku serius Om!” lanjut Vika terdengar cukup serius.


Daniel langsung melirik tajam ke James. Mengerti akan lirikan tersebut, James langsung turut berbicara.


“Vika, anak Papa yang cantik dan paling is the best. Papa mau bertanya, kenapa kamu bisa datang ke sini. Apa pekerjaan kamu di sana sudah selesai?” tanya James mulai mengalihkan pembicaraan.


“Hahaha! Itu…su-sudah selesai Pa. A-aku ke sini karena aku kangen ingin melihat Ezra, Brady dan Clay. Sa-sama kangen melihat Mama Siska,” sahut Vika sedikit berbohong.


“Yakin, Papa dapat e-mail dari sekrestaris kamu kalau saat ini kamu sedang kabur dari sana karena kamu menolak untuk berjumpa dengan klien baru. Apa kamu bisa menjelaskannya ke Papa?”


Akhirnya, Vika tidak bisa berkutik dan berbohong lagi. Vika akhirnya mejawab pertanyaan itu dengan jujur.


“Sebenarnya aku malas saja bertemu dengannya. Lelaki tua yang genit itu hanya tahunya menggobal saja. Aku jijik melihatnya, Pa. Jadi, aku serahkan semuanya kepada Sekretaris,” sahut Vika jujur.


James mendengar hal itu merasa bersalah.


“Kenapa kamu tidak memberitahu Papa kalau ada klien genit seperti itu?”


“Karena tidak ingin merepotkan Papa. Lagian itu Perusahaan milik ku, jadi sudah seharusnya aku tidak melibatkan Papa di sana. Papa tenang saja, aku bisa melakukan semuanya dengan baik,” sahut Vika tenang, kemudian memberikan senyuman manisnya.


“Apa karena ada masalah ini kamu jadi ingin meminta ketiga putra kembar Daniel dan Siska untuk kamu jadikan suami?” tanya James tepat sasaran.


“Hahaha!” Vika hanya terkekeh.


“Foto copy James. Benar-benar memiliki kelakuan random,” gumam Daniel sembari tersenyum sendiri.


Fransiska sudah paham menepuk dahinya sendiri.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2