
Suara hempasan air dan mesin kapal mengusik telinga Fransiska. Perlahan tubuhnya bergerak, kedua kelopak matanya terbuka, memandang lurus ke kain jendela masih tertutup rapat.
Fransiska ingin duduk. Namun, tubuhnya tertahan oleh pelukan erat dari Daniel.
'Ya ampun, lagi-lagi ia tidur dengan memelukku. Dan...kenapa aroma nafasnya tercium seperti bau tuak,' batin Fransiska hidung nya terusik dengan bauk tuak dari mulut Daniel.
"Huuaah!!" Daniel menguap, aroma tuak semakin merebak, menusuk penciuman Fransiska.
"Mulut mu bauk, Daniel!" tegur Fransiska sembari menutup hidungnya.
Daniel menggaruk kepalanya tak gatal, "He He, bau tuak, ya?"
"Iya, apa tadi malam minum tuak?" tanya Fransiska masih menutup hidungnya.
"Hem....habisnya Pak Xander membeli tuak cukup banyak. Kalau gitu aku mandi dulu," sahut Daniel sekalian pamit mandi.
"Sejak kapan Daniel suka minum tuak," gumam Fransiska setelah Daniel pergi.
Fransiska turun ranjang, membuka kain gorden jendela kamar. Matanya membulat sempurna saat melihat pemandangan alam, bentangan pulau danau Toba terlihat jelas dari jendela kamar. Matanya terus terpaku, hatinya mendadak damai, seolah rasa sakit akan pengkhianatan itu telah hilang.
20 menit sudah berlalu, Daniel sudah siap mandi. Namun, Fransiska masih berdiri di depan jendela kamar dengan mata yang masih terpaku.
"Indah?" tanya Daniel sudah berdiri di samping Fransiska.
"Sangat-sangat indah," sahut Fransiska tanpa melihat Daniel.
"Air hangat sudah aku siapkan di dalam bathtub. Kamu bisa langsung berendam di dalamnya," ucap Daniel memberitahu. Fransiska langsung menoleh.
"Kenapa kamu bersikap baik kepadaku?"
"Aku tidak bersikap baik, itu hanya kewajiban ku sebagai seorang pria untuk memanjakan wanita," sahut Daniel sembari mendekati lemari pakaian, mengambil baju kemeja miliknya.
"Mas Andreas...."
"Stop menyebut nama lelaki itu di hadapanku, Siska!" sela Daniel tegas, kakinya pun melangkah mendekati Fransiska.
"Sebagai seorang suami, dia tidak pernah berbuat seperti itu padaku. Bahkan jika aku ingin memintanya melakukan hal itu agar aku bisa hamil, ia selalu menolak keras dengan alasan takut badanku melar dan rusak," lanjut Fransiska kembali teringat dengan perlakuan suaminya, Andreas.
"Jika kamu berkenan, aku bisa memberikan apa yang tidak pernah Andreas berikan kepadamu," bisik Daniel ingin menenangkan Fransiska.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak bisa melakukan hal itu kepada kamu," tolak Fransiska, ia pun berjalan menuju kamar mandi dengan kepala tertunduk.
Daniel mengepal erat kedua tangannya, sorot matanya mengarah pada punggung Siska sudah menghilang di balik pintu, "Ck, buka matamu Siska. Lelaki itu adalah suami yang paling buruk. Akan aku pastikan, jika kamu akan menjadi milikku kembali. Aku janji akan membuatmu bahagia dengan menjadi milikku!" sumpah Daniel sungguh-sungguh.
Mengingat Fransiska tidak membawa baju ganti, Daniel buru-buru mencari baju kecil miliknya. Sedangkan Fransiska keluar dengan rambut basah menjuntai seperti hantu.
"Aku lupa, aku datang tidak membawa baju dan itu...gimana ini!" keluh Fransiska panik.
"Tenang, aku sudah menyiapkan pakaian untukmu. Pakaian milikku dulu, entar aku akan carikan perlengkapan pakaian untukmu," sahut Daniel mencoba menenangkan.
"Jadi aku pakai baju milikmu, sama itunya juga?" tanya Fransiska perlahan mendekat.
"I-iya, pakai ini saja," sahut Daniel memberikan baju kemeja dan boxer.
"Berarti 2 gunung kembarku akan nampak," gumam Fransiska di dengar Daniel.
"Se-sebaiknya kamu di dalam kamar saja sampai aku kembali. Ka-kamu tunggu dulu sini, ya!"
Daniel berlari keluar kamar dengan wajah memerah, ia malu saat mengingat Fransiska akan memakai pakaian miliknya, sudah pasti aroma tubuh Fransiska akan membekas di baju miliknya.
1 jam berlalu, Daniel kembali dengan wajah terlihat lelah, nafasnya juga terlihat memburu di dada. Daniel kini sudah berada di dalam kamar, matanya tertuju pada Fransiska sedang berdiri di depan jendela kamar.
"Baju kemejanya cukup besar juga saat kamu pakai," ucap Daniel sembari melangkah masuk.
Daniel tertegun saat bola matanya tak sengaja mengarah pada bagian dada. 2 cerry menonjol, 3 kancing kemeja dari atas tidak di kancing sehingga terlihat jelas belahan gunungnya.
'Kencang!' batin Daniel mulai jorok.
Ctak!
Fransiska langsung menjitak kepala Daniel saat melihat wajah Daniel mulai berubah menjadi mesum.
"Duh...duh...sakit!" keluh Daniel merasa saki karena di jitak pakai gagang telepon.
"Makanya punya pikiran jangan di pakai buat mesum!" omel Fransiska sembari mengambil kantung belanjaan berisi baju.
"Namanya juga punya mata!"
"Setelah pakai baju, aku ingin meminta kamu mengajakku berkeliling. Kamu mau 'kan?" pinta Fransiska penuh harap.
__ADS_1
"Apa kamu belum pernah datang ke sini?" tanya Daniel penasaran.
"Pernah, sewaktu aku kerja dulu. Tapi setelah menikah, Mas Andreas tidak pernah mengajakku jalan berduaan di tempat umum. Katanya ia tidak ingin aku..."
"Stop! aku akan mengajakmu berkeliling. Aku juga akan memberikan kepuasan yang belum pernah kamu rasakan suatu hari nanti," sela Daniel lelah mendengar Fransiska terus menyebut nama Andreas.
"Benarkah kamu akan memberikan aku kepuasan yang belum pernah aku rasakan?" tanya Fransiska polos.
"Benar, apa kamu tidak keberatan jika suatu saat aku melakukan hal itu kepadamu?" tanya Daniel datar. Fransiska mulai bingung.
"Maksudnya itu, apa ya?"
"Main kuda-kudaan," bisik Daniel dengan suara menggoda.
Bam bam bam!
Fransiska memukul bidang dada Daniel.
"Bodoh, bodoh, Bodoh! apa kamu tahu arti dari ucapanmu itu. Jika kita melakukan hal itu maka aku akan di anggap sebagai pengkhianat di dalam rumah tangga!"
Daniel memegang kedua lengan Fransiska agar tidak memukulnya lagi. Sorot mata mereka saling bertemu, debaran jantung dan gejolak aneh perlahan mulai terasa berputar di perut.
"Apa kamu lupa tentang perselingkuhan suami kamu? apa kamu lupa jika dia sudah mengkhianati kamu selama 10 tahun ini? Apa dulu dia pernah mengingat perasaanmu sewaktu dia bermain gila dengan wanita?" tanya Daniel kembali mengingatkan perbuatan Andreas kepadanya.
Fransiska tertunduk, "Aku berkata seperti itu karena aku ingin semua kejadian ini hanyalah mimpi buruk. Wanita mana yang mampu melupakan semua kejahatan suaminya. Meski aku berulang kali mencoba untuk melupakan kenyataan pahit ini, tapi tetap saja rasanya sungguh sakit. Rasanya aku ingin mengakhiri hidupku, Daniel!"
Tidak ingin melihat Fransiska kembali bersedih, Daniel spontan menangkap wajah Fransiska. Daniel mulai menciumi Fransiska dengan ciuman penuh cinta dan hasrat. Fransiska berusaha menolak perbuatan Daniel. Tapi tetap saja Daniel tidak mau melepaskan bibirnya dari bibir Fransiska.
Merasa oksigen telah habis, Daniel melepaskan ciumannya, menyatukan keningnya dengan kening Fransiska, kedua tangan masih memegang pipi Fransiska.
"Aku masih mencintaimu, Siska," bisik Daniel mengejutkannya.
"Kenapa bisa?"
"Karena kamu adalah cinta pertamaku. Siska, izinkan aku membuatmu merasakan apa yang belum pernah kamu rasakan selama dalam pernikahan," pinta Daniel berbisik, hembusan nafasnya menyapa telinga Fransiska, membuatnya bulu kuduknya meremang.
Karena gejolak hasrat terpendam selama 15 tahun tidak pernah tersalurkan secara benar. Sebuah kenyataan atas pengkhianatan Andreas kembali muncul, Fransiska mengangguk.
Daniel kembali menciumi Fransiska hingga ia pun tidak ingin kalah dengan Daniel. Daniel pun melucuti baju Fransiska dan bajunya. Kini 2 insan itu berdiri dengan tubuh polos.
__ADS_1
Rakusnya Fransiska saat bermain karoke seperti anak kecil yang sudah cukup lama tidak di perbolehkan makan es krim, coklat dan permen.
2 insan itu pun bergulat habis-habisan di dalam kamar, menjelajahi seisi kamar sesuatu gerakan dan ajakan tubuh Fransiska.